
Adira Winata tidak dapat berkata-kata, matanya tampak berkaca-kaca mendengar ucapan Meilink yang mendukungnya dengan penuh keyakinan bahwa dia adalah wanita baik-baik yang pantas mendampingi Samuel. Serasa kepercayaan diri Adira Winata tersedot habis tiada sisa ke dasar bumi. Karena dia tau betul wanita seperti apa dirinya. Dia hanyalah wanita kotor yang mengharapkan sedikit cinta dari seorang pria yang terlalu suci untuk diraih.
Adira pun tak kuasa menahan untuk mengungkapkan apa yang telah terjadi di antara Samuel dan dirinya, sehingga Samuel mengalami insiden ini. Namun sebelum Adira bisa mengungkapkannya, Meilink pamitan mau pulang secepatnya takut suaminya mencarinya.
" Adira, aku pamit pulang ya. Takut suamiku nyariin, akunya gak ada di rumah." Tersenyum manis dan melambaikan tangannya meninggalkan Adira Winata.
'Kamu salah menilaiku, Meilink. Aku bukan wanita baik-baik, aku hanya seorang wanita kotor yang tidak pantas mendampingi pria suci seperti samuel.' Gumam Adira Winata dalam hati.
Adira Winata kembali masuk ke dalam ruangan perawatan Samuel dengan ragu-ragu.
"Sam, mengapa kau berbohong kepada Meilink tentang luka di pahamu?" Adira Winata memilin ujung bajunya karena canggung bertanya pada Samuel.
"Aku hanya tidak ingin ada keretakan di antara kalian berdua. Bagaimana pun juga kita bertiga adalah teman mulai dari SMP sampai sekarang. Aku tidak ingin Meilink mengetahui temannya yang selalu dipuji-pujinya telah melakukan hal tak senonoh. Meilink selalu menganggapmu sebagai wanita yang baik, wanita yang selalu ada untukku di saat Meilink tidak dapat menemaniku. Kau dianggapnya sebagai teman sejatinya." Samuel berkata dengan suara datar.
"Sam, maafkan aku. Maafkan apa yang telah kualkukan padamu hari ini." Adira Winata menangis tersedu-sedu merayapi kebodohan yang dilakukannya.
__ADS_1
"Aku sudah memaafkanmu, Adira." Samuel menatap Adira dengan tak kalah sedih.
"Terima kasih, Sam. Kau telah memaafkan perbuatanku padamu, yang menjebakmu dengan keji." Adira Winata semakin menangis terisak-isak.
"Sudahlah, Adira. Kita lupakan saja semua yang telah terjadi hari ini. Kita anggap saja angin lalu."
Adira Winata hanya bisa menganggukkan kepalanya pertanda dia menyetujui saran Samuel. Agar dia pun menjadi tenang. Tapi masih ada yang mengganjal di benak Adira Winata. Adira Winata berniat untuk menanyakannya namun dia sangat takut.
Samuel yang memperhatikan ekspresi Adira Winata merasakan bahwa ada yang ingin diungkapkan Adira Winata kepadanya.
"Adakah sesuatu yang mengganjal di hatimu, Adira?" Samuel bertanya karena penasaran apa yang sedang dipikirkan oleh Adira Winata.
" Kau ingin bertanya apa?" Tidak sabar ingin mengetahui apa yang ingin ditanyakan Adira Winata.
"Aku ingin bertanya. Apakah kita dapat berteman baik lagi seperti dulu lagi, Sam?"
__ADS_1
Adira Winata memilin-milin ujung bajunya salah tingkah.
Samuel tersenyum melihat tingkah Adira Winata yang terlihat lucu.
""Tentu saja, Adira. Kita tetap dapat berteman baik sama seperti dahulu. Kan sudah kukatakan tadi, kita anggap saja kejadian hari ini sebagai angin lalu yang tidak perlu diingat-ingat lagi."
Adira Winata tersenyum karena merasa senang, dia masih bisa menjalin pertemanan dengan Samuel.
"Sam, tolong maafkan aku telah menghina Meilink juga ya!" Mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya.
Samuel hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajah Samuel tiba-tiba saja langsung berubah menjadi sedih. Samuel mengambil dompetnya dan mengeluarkan sebuah foto berukuran 3x4 dari dompetnya. Samuel menggertakkan ujung jari jempolnya untuk mengelus-elus foto itu.
'Foto siapa itu?' Gumam Adira Winata dalam hati.
Adira Winata mencoba untuk melirik ke arah foto yang dipegang Samuel dan mencoba melihat kira-kira foto siapakah itu.
__ADS_1
'Meilink.' Gumam Adira Winata dalam hati.
#Jangan lupa like, vote dan komentari setiap episodenya ya