
Terseret Masalah Besar
Satu jam kemudian, Jovan sudah bisa menarik napas lega. Upacara Bendera berjalan lancar, khidmat dan tertib. Tak ada sedikit pun kejadian aneh yang ditakutkannya. Angel dan semua teman-temannya tidak mengikuti upacara. Kemungkinan mereka sedang dijemur di depan Pos Keamanan karena terlambat.
Sang Pemimpin upacara berucap syukur. Kali ini dia tidak perlu lagi merasakan bagaimana merah dan panas wajahnya saat dipermalukan di depan umum. Walau menurut Angel, semua yang dilakukannya untuk menyanjung dirinya. Namun bagi Jovan, mengutarakan cinta dengan cara-cara seperti itu, bukan hanya norak dan memalukan, tapi sudah masuk kategori menginjak-injak harga diri lelaki.
Jovan tak pernah mau dipaksa melakukan sesuatu yang tidak nyaman baginya. Apalagi urusan perasaan hati dan cinta. Dia telah bersumpah dalam hati, hanya akan mengucapkan kata 'sakral' itu jika saatnya telah tiba. Tentu saja diucapkan dalam situasi yang indah, romantis dan pada orang yang tepat.
Sekali kata cinta terucap dari bibirnya, tak ingin menariknya lagi. Untuk itulah Jovan sangat berhati hati dengan cinta. Bagi dia, cinta bukanlah mainan yang bisa diucapkan di sembarangan situasi. Apalagi sampai diobral pada setiap wanita.
Ketenangan dan rasa bersyukur Jovan, tidak berlangsung lama. Beberapa menit setelah protokol memberikan menyampaiakan ucapar telah selesai dan pemimpin upacara diperintahkan untuk membubarkan pasukan, tiba-tiba terdengar sedikit keriuhan dan suara-suara tak jelas dari barisan siswa yang akan dibubarkannya.
Sang jejaka terkejut dan salah tingkah. Sekujur tubuhnya mendadak panas dingin. Kecurigaannya kembali membuncah pada Angel yang mungkin sedang membuat ulah kembali.
Mata Jovan melirik ke segala arah. Mencari Angel dan rombongannya, namun tidak ditemuinya. Keriuhan kecil makin nyaring dan bergemuruh memenuhi lapangan. Jovan segera bersikap tegas dan membubarkan pasukan upacara. Seluruh siswa bubar namun kehebohan makin riuh rendah tak jelas.
Jovan makin salah tingkah. Semua mata seolah menatapnya aneh seperti tadi pagi. Tak sedikit yang berbisik lalu mencibir dan tertawa geli cekikikan mengejeknya.
Setelah mengeringkan keringat dengan sapu tangan. Jovan segera berlari menuju toilet untuk membasuh muka sambil membuang air kecil yang sejak tadi sudah mendesaknya.
Jovan kembali ke kelasnya. Dia duduk canggung dan gelisah. Perasaannya tak enak dan jantungnya terus berdebar tak menentu. Merasa ada sesuatu yang tidak beres. Mata dan wajah semua teman sekelasnya seolah menyembunyikan sesuatu darinya.
"Gas, ada apa sih. Sepertinya gua jadi pusat perhatian semua orang?" tanya Jovan penasaran.
"Ada sesuatu, Bro. hehehehe," jawab Bagas misterius
"Menyangkut gua, kan?" Jovan makin penasaran.
"Salah satunya." Bagas diplomatis, persis para politisi yang pandai bersilat lidah dan berdiplomatis.
"Maksudnya gimana? Tadi waktu upacara gua melakukan kesalahan, bukan?" Jantung Jovan makin dag-dig-dug.
"No! Lu bertugas dengan sangat baik dan keren, seperti biasa. Tapi.." Bagas menggantungkan ucapannya.
"Tapi apa?" Jovan makin kepo tingkat dewa.
__ADS_1
"Nanti kalau istirahat, gua jelasin.." Bagas memutus obrolan karena pintu kelas terbuka.
Seorang wanita berusia 50 tahun dengan kerudung dan kaca mata bacanya yang khas, masuk kelas seraya menenteng tas yang cukup besar. Bu Rini, Guru Pendidikan Agama Islam, yang sangat terkenal tegas dan sedikit jutek terutama pada siswa yang ketahuan pacaran.
Kelas seketika sunyi senyap laksana kuburan. Bagas sang Ketua kelas segera memberikan instruksi untuk berdoa dan memberikan salam haormat pada Bu Rini.
Jovan menyandarkan punggung pada bangkunya. Lalu menarik napas panjang, berusaha menenangkan hati dan menguasai dirinya. Dia menunduk, menghindari tatapan horor gurunya yang sangat tak biasa.
Guru yang terkenal dengan jargon 'Pacaran itu haram', tak segan-segan menegur keras siswa yang kedapatan berpacaran.
‘Oh my God! apa yang telah dilakukan Angel sama gua, hingga semua orang jadi aneh begini. Tatapan Bu Rini pun bahkan mendadak horor begitu." desah Jovan dalam hati.
'Sepertinya cewek aneh dan arogan itu, benar-benar membalaskan dendamnya sama gua, Sialan! Dasar cewek brengsek!' Jovan terus memaki dalam hati.
"Jovan!" Suara Bu Rini memecah keheningan kelas.
"Ya, Bu!" Jovan menjawab sigap seraya mengangkat wajah dengan posisi duduk yang tegak.
"Kamu ditunggu Bunda Fahira di ruangannya.” Bu Rini melanjutkan ucapannya.
“Bunda Fahira?” Jovan tak percaya dengan pendengarannya.
Sontak tiga puluh enam pasang mata yang ada dalam kelas, tertuju pada Jovan yang berdiri kaku dengan wajah tegang pucat pasi.
“Cepetan!" bentak Bu Rini menyadarkan siswa didiknya dari keterkejutan.
“Kenapa saya dipanggil Bunda Fahira, Bu?” Jovan kembali bertanya setelah maju ke muka kelas.
“Mana ibu tahu? Makanya cepetan datang ke ruangannya, supaya kamu tahu, mengapa dipanggil beliau.” Bu Rini memberikan jawaban dengan perintah.
Bertemu dengan Bunda Fahira di ruangannya yang sangat dingin dan kaku, merupakan teror dan mimpi buruk untuk semua siswa SMA Garuda.
Siapapun akan menghindari berurusan dengan wanita yang ketegasannya melebihi kerasnya batu karang di lautan. Kiamat kecil melanda jiwa siswa yang terpaksa harus berhadapan dengan wanita yang terkenal dengan jargon 'Tak ada toleransi untuk sebuah pelanggaran disiplin sekolah.'
Fahira Andanty Wardana yang biasa disapa Bunda Fahira, bukan guru pengajar di SMA Garuda. Namun tak ada satu siswa pun yang tak mengenalnya. Dia istri kedua Pak Zulfikar Kurnaefi, pemilik Yayasan Garuda.
__ADS_1
Bunda Fahira memiliki kewenangan yang sangat absolute atas tumbuh kembangnya SMA Garuda. Sekolah paling elite di kotanya yang sangat terkenal dengan penerapan disiplin bagi seluruh guru dan siswanya.
Bunda Fahira, jarang datang ke sekolah. Namun sekalinya datang, dipastikan akan membuat Kepala Sekolah, para Guru dan semua siswa sedikit ketar ketir bahkan kalangan kabut. Terutama bagi mereka yang sudah terbiasa melakukan pelanggaran.
Wanita berusia 32 tahun, berdarah campuran Indonesia Turki itu, dianugerahi kecantikan yang luar biasa. Namun demikian, tak ada satu siswa pun yang berani menggodanya. Istri kedua politisi kenamaan Indonesia itu, memiliki aura horor yang menyengat, bak seorang Cleopatra, ratu cantik nan kharismatik.
Jovan tak menduga. Pagi ini dia harus mendapat sial bertubi-tubi, termasuk bertemu dengan bunda segala teror.
Sejatinya Jovan cukup dekat dengan Bunda Fahira. Terutama saat dia menjabat Ketua OSIS pada tahun lalu. Namun karena aura mistis dan horor yang kandung tersemat pada wanita itu. Kedekatannya masih sangat bersifat kaku formal dan tegang.
Beberapa kali Jovan berkesempatan ngobrol dengan Bunda Fahira. Berniat menjalin keakraban, namun justru kesan bengis, gila hormat dan ingin menang sendiri yang Jovan dapatkan dari wanita itu.
Dengan langkah ragu dan jantung berdebar Jovan meninggalkan kelas, menuju ruangan Bunda Fahira yang lokasinya di bagian depan kantor guru. Dia bahkan belum pernah sekalipun masuk ke ruangan yang katanya beraura intimidasi dan horor itu. Ruangan yang selalu dihindari oleh semua siswa dan guru.
Setelah mengetuk pintu dan dipersilakan masuk, Jovan mendorong pintu ruangan dingin itu dengan sangat pelan. Dia menoyorkan kepala diantara daun pintu yang terbuka. Sekedar mengintip keadaan di dalam ruangan yang didominasi warna cokelat kayu itu.
Deg!
Jantung Jovan beberapa saat berhenti memompa darahnya.
'Oh my God!' serunya dalam hati. 'Shit! ternyata kiamat datang lebih cepat' lanjutnya mengumpat dalam hati. Jantung Jovan semakin berdegup kencang. Jiwanya pasrah dan harus siap menerima segala kemungkinan buruk yang akan terjadi.
Apa yang ditakutkannya terjadi di lapangan, ternyata terjadi di ruangan angker ini. Angel yang sejak tadi pagi dicari-cari dan tidak menmpakan batang hidungnya, sedang duduk terpekur di depan Bunda Fahira.
Ini kejadian yang sangat langka. Angel satu-satunya siswa yang paling berani melawan sekaligus memiliki kedekatan yang cukup baik dengan Bunda Fahira. Namun duduk lesu dan tertunduk seperti seseorang yang sedang dalam masalah besar.
'Terus kenapa gua dipanggil juga ke sini? Hubungannya sama cewek trouble maker ini apa? wah jangan jangan nih cewek mau nyeret gua lagi pada masalah besar..' batin Jovan.
"Tunggu sebentar!" perintah Bunda Fahira dengan cukup keras, tegas dan sama sekali sangat tak enak didengar.
Kedua mata Jovan terfokus pada punggung Angel yang bergerak-gerak. Cewek tomboy ketua geng trouble maker di sekolah, sepertinya sedang menangis pilu.
'Gila!, kalau seorang Angel bisa sampai menangis tersedu-sedu, berarti dia memang sedang dalam masalah besar. Terus kenapa gua mesti diseret juga dalam masalahnya? Oh my God. Angel kenapa sih lu selalu bikin susah hidup gua?' Jovan pasrah. Kepala mendongak dengan punggung bersandar pada dinding.
Bersambung – Di Balik Celana Ketat
__ADS_1