
Bisikan Yang Berbisa
Dengan tubuh yang masih sedikit menggigil, dan berkeringat dingin, serta pikiran kosong, Jovan mengikuti Bunda Fahira yang berjalan dengan memegangi lengan kanannya dengan sangat lembut.
"Bu, ki..kita di di luar aja.." Jovan bicara sesaat setelah berdiri tepat di depan daun pintu samping yang lebar dan tinggi. Dia juga berusaha melepaskan tangan Bunda Fahira yang terus memegangi dan menariknya dengan lembut.
Wanita yang sudah dirasuki syahwat sampai ke ubun-ubunnya itu, menanggapinya dengan senyuman genit. Dua bola matanya yang hitam bening dan belo, menatap sendu wajah sang jantan yang dihiasi bulir-bulir bening keringat dingin.
"Kita di dalam Jo, gak enak di sini ada CCTV, nanti dicurigai Satpam." Bunda Fahira beralasan.
"Ta..ta..tapi Bu." Jovan mencoba mengumpulkan kesadaran untuk menolak dan menepis semua bisikan aneh yang mulai kembali menghantui pikirannya.
"Udah deh, kita di dalam aja, biar ngobrolnya lebih leluasa. Gak bakal terjadi apa-apa, kok." Bunda Fahira terus berusaha meyakinkan Jovan seraya memegangi kembali tangan dan bagian sensitif Jovan.
"Celana kamu kan kekecilan, kalau di dalam bisa dibuka dengan leluasa. Jadi pisang tanduknya bisa bebas dari himpitan celana sempit, oke!" lanjut Bunda Fahira dengan senyum yang main genit dan menggoda.....
Tangan lembut Bunda Fahira memegangi wajah tampan berhidung mancung, dengan rahang tegas dan alis tebalnya. "Kamu sangat tampan dan jantan, Jo," bisiknya lirih
Jovan sedikit menahan laju tubuhnya. Namun ulasan senyum dan wajah cantik Bunda Fahira yang terus menggodanya, kembali menggoyahkan pertahanan iman sang lelaki yang tak pernah meninggalkan kewajiban shalat lima waktunya. Perlahan namun pasti kakinya melangkah melewati daun pintu yang lebar dan tinggi.
Sesampai di dalam ruangan, jantung Jovan kian berdebar hebat. Sekujur tubuhnya terasa melayang dalam langkah yang kian melamban. Imajinasi dan khayalnya seketika melambung, terbang melampaui ketinggian awan. Membayangkan sesuatu yang belum pernah dia rasakan.
Jovan menelan ludahnya sendiri. Matanya sedikit liar menatap pinggul Bunda Fahira yang bergoyang erotis saat berjalan menaiki satu demi satu anak tangga tepat di depan matanya.
Tubuh remaja berusia 18 tahun itu kian panas. Sedikit lemas tak bertenaga, namun anehnya masih cukup kuat untuk terus melanjutkan langkahnya. Walau sedikit gontai dan sekujur tubuhnya bergetar seperti terkena demam.
Sesampainya di lantai dua, Bunda Fahira membalikan badan. Beberapa saat dia tertegun menatap sosok tinggi gagah dalam balutan kaus dan celana hitam ketat. Lekuk tubuhnya yang atletis, kekar berisi tercetak sempurna. Akal sehat dan logika Bunda Fahira tergerus pesonanya.
"Kenapa bengong lagi? duduk yu!" Bunda Fahira berucap manja seraya merapatkan tuuhnya sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Jovan.
Akal sehat Jovan seketika terhempas, terkena sihir sorot mata sayu nan menggairahkan wanita yang selama ini dianggap sebagai sosok wanita super hebat.
Beberapa saat mereka beradu pandang dari jarak yang sangat dekat. Kening dan beberapa bagian tubuh depannya merapat dan menyatu.
"Jo.." Panggilan manja nan menggoda meluncur merdu dari bibir wanita yang sedang diamuk birahinya.
"I..i..iya Bun," balas Jovan dengan getaran suara yang lebih hebat. Sekuat tenaga berusaha mengendalikan detak jantung dan desiran aneh yang berkecamuk dalam jiwanya.
Tangan kanan Bunda Fahira lepas dari leher Jovan, lalu mendarat lembut di bagian yang paling sensitif.
"Celananya makin sempit ya?" bisik Bunda Fahira.
__ADS_1
Jovan mengangguk. Darah mudanya bergolak hebat, bulu romanya berdiri. Entah setan mana yang mengajarinya, kedua tangan Jovan tiba-tiba bergerak memeluk pinggang yang menebarkan parfum lembut membakar gairahnya. Bulir-bulir keringat menghiasi kening dan pelipisnya. Wajah maskulin sang jantan memerah terbakar birahi.
"Jojo pernah tidur dengan perempuan?" tanya Bunda Fahira kemudian.
"Be..belum pernah," jawab Jovan tergagap.
"Hmmmm, sudah kuduga." Mata Bunda Fahira berkilat genit, "kamu benar-benar masih polos. Aku sangat mengagumimu dan malam ini kamu benar benar gagah dan tampan, Jo," rayu Bunda Fahira dengan senyum nakalnya.
"I...i.. iya.. Bunda juga cantik," balas Jovan kaku. Napasnya yang panas menyapu lembut wajah Bunda Fahira yang kian merapat ke wajahnya.
"Jo...." Bunda Fahira kembali memanggil lembut dengan tatapan nanar.
"Ya, Bun." balas Jovan.
"Bisa kan, malam ini kamu memberikan kehangatan yang sangat aku butuhkan? Ya, untuk sekedar mencairkan hatiku yang membeku dan melepas dahaga jiwaku yang gersang," ucap Bunda Fahira. Belaian tangannya pada bagian tubuh Jovan yang sensitif dan perkasa, kian intens dan lembut.
"Sa...sa..saya belum pernah, pa..pas..pasti ngecewain, Bun." Jovan makin gelagapan.
"Aku akan mengajarinya, sampai kamu benar-benar menjadi ahli," balas Bunda Fahira seraya mengecup bibir Jovan yang kaku.
Jovan tak menjawab. Gelombang tsunami birahi mulai menggulung jiwanya. Mengosongkan seluruh isi kepalanya dan menghempaskan akal sehatnya.
Jovan menyentuhkan bibirnya, membelah bibir Bunda Fahira yang dibalasnya dengan sejuta rasa yang dia sendiri tak sanggup mendefinisikannya.
Tubuh Jovan kembali merinding, panas dingin didera gelora nikmat yang tak terhingga. Sebuah rasa yang sangat dahsyat merasuki jiwanya. Rasa yang seumur hidupnya baru dirasakan.
Dua insan belainan jenis dan bukan muhrim itu, berpelukan mesra dalam gairah dan gelombang rasa yang bergelora. Satu demi satu anak tangga kenikmatan dunia, mereka tapaki bersama. Bunda Fahira dengan segala kemampuannya membimbing dan merubah remaja polos itu menjadi agresif dan mendominasi.
"Bu ini rahasia kita. Saya gak mau ada seorang pun yang curiga apalagi tahu hubungan kita," bisik Jovan di antara deru napasnya yang tersengal.
Bunda Fahira tersenyum, lalu mengangguk. "Selamanya akan tetap menjadi rahasia kita. Justru Jojo yang harus pandai menyimpan rahasia ini," balasnya seraya kembali melingkarkan kedua tangannya di leher sang lelaki.
"Sa...saya takut kalau sampai mama tahu, pasti saya diusirnya." Wajah Jovan seketika pucat pasi saat menyebut mamanya. Sekilas bayangan wajah Bu Anita tergambar sempurna di pikirannya.
"Tenang aja, Jo. Di rumah ini aman, gak bakal ada yang tahu. Aku juga baru pertama kali beginian dengan lelaki selain suamiku."
"Beneran, Bun?"
"Beneran, Sayang. Dari semua lelaki yang aku kenal, hanya kamu yang mampu membuatku terkesan dan menginginkannya." Bunda Fahira kembali tersenyum. Lalu menciumi wajah Jovan dengan mesra. Menyesap aroma tubuh lelaki yang sepanjang hidupnya belum pernah berciuman dengan wanita.
"Mending di kamar aja, yu!" ajak Bunda Fahira.
__ADS_1
"Ta,,tapi, sa...saya gak berani kalau di kamar, Bun." Wajah Jovan kembali tegang.
"Kenapa gak berani? Gak ada siapa-siapa dan gak ada yang akan tahu. Justru di kamar semua rahasia kita terjamin. Kita lebih leluasa melakukan segalanya, Sayang."
"I,..i..iya, ta...ta..tapi..." Jovan tak menyelesaikan ucapannya.
Deeeer, deeer, deeer, deeeer...
Tiba tiba benda pipih segi empat dalam kantong celana Jovan bergetar kuat.
"Aduh!" seru Jovan seraya menarik mundur tubuhnya. Tangannya reflek masuk ke dalam saku celana, mengambil ponselnya yang terus bergetar.
"Mama manggil!" serunya sambil mundur beberapa langkah dan menempelkan gawai di daun telinganya.
Bunda Fahira sedikit terkesima dengan tindakan Jovan yang tiba-tiba menghentikan kenikmatannya yang sedang menggulung dan membakarnya. Dia berjongkok bengong seraya menatap Jovan yang sibuk menerima panggilan mamanya.
"Iya, Ma. Iya. Sebentar lagi Jojo pulang. Ini udah di jalan. Iya ma, Wa'alaikum salam." Jovan menutup perbincangannya. Lalu dengan segera dia memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
Jovan berdiri kaku, menatap wanita yang kini sudah berdiri dengan senyum menggodanya.
"Ma..ma....maaf Bun, saya harus pulang. Mama udah nunggu. Dia sakit kepala dan sedikit demam. Saya harus segera membelikan obat." Jovan bicara tanpa jeda.
Dan tanpa menunda waktu, anak kesayangan Bu Anita itu membalikan badan. Berjalan setengah berlari menuruni anak tangga. Meninggalkan Bunda Fahira yang masih belum tersadar dari keterkejutannya.
"JOVAAAAAAAN BRENGSEEEEEK KAMU!"
Teriakan kesal membahana memenuhi seluruh ruangan. Namun tak mampu mengehentikan langkah Jovan yang sudah bertengger di atas matic tuanya. Siap melarikan diri. Kembali ke rumahnya, melepaskan diri dari cengkeraman godaan dan bisikan setan yang hampir saja menghempaskan dirinya ke lembah nista.
"Kamu pasti membayar mahal penghinaan ini, Jovan!!" bentak Bunda Fahira.
"Berani-beraninya bermain api dengan Fahira! Kamu belum tahu siapa aku sebenarnya!" lanjutnya dengan mata menyala.
"Jangan salahkan aku dan jangan menyesal, kalau nanti kamu hangus terbakar!" Bunda Fahira berdiri di ujung tangga. .
"Kamu jangan merasa menang. Aku akan membuat perhitungan untuk semua ini, Jovan!" geramnya kemudian seraya menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang membeku.
Bersambung – Demi Harga Diri
__ADS_1