
Kenyataan Yang Berbeda
Lagi-lagi semua pikiran negatif Jovan meleset.
Saat tiba di rumah, dia disambut Naufal dengan tawa riang sambil menunjukan sepeda barunya yang dibelikan Angel. Yang lebih mengejutkan lagi, saat masuk ke rumah, Jovan melihat banyak plastik belanjaan berisi aneka belanjaan dari makanan ringan hingga pakaian.
"Tadi Neng Angel maksa ngajak mama, Teteh dan Dede makan di mall, terus dibelanjain segini banyaknya." Bu Anita menjelaskan.
Jovan melongo. Mama dan adik-adiknya menunjukan beberapa potong pakaian yang dibelikan Angel.
"Angel ulang tahun bukan? neraktir sebegini banyaknya?" tanya Jovan ragu, karena dia tahu kapan Angel ulang tahun.
"Katanya salam perpisahan. Dia mau pindah sekolah ke Surbaya."
"Pindah?" Jovan kian melongo.
"Iya, mama juga kaget. Dia baru ngomong saat pamitan, setelah selesai jalan-jalan dan belanja ini." Bu Anita kembali menunjuk seluruh barang belanjaannya.
"Kok dia gak pamitan sama teman-teman di sekolah?" Jovan bertanya pada dirinya sendiri.
"Katanya ngedadak banget. Dia cuma pamitan sama mama aja. Malah dia pesan, jangan cerita sama siapa-siapa. Ya mama juga hanya bisa nangis. Sore ini Angel mau langsung terbang ke Surabaya." Wajah Bu Anita mendadak mendung.
"Kenapa ngedadak begitu?" gumam Jovan.
"Oh iya, dia juga nitip uang buat beli celana seragam, Jojo."
"Hah! buat beli celana seragam? maksudnya?"
"Kata Neng Angel, tadi di sekolah Jojo kena hukuman gara-gara pakai celana kekecilan."
Jovan kembali melongo, tak mengerti dengan Angel. Ketika semua orang di sekolah, heboh membicarakan dirinya yang dipecat karena hamil. Dia malah asik-asikan menghabiskan uang berbelanja di mall.
Mengapa Angel tahu kalau dirinya dihukum gara-gara celana ketat?
Siapa kamu sebenarnya, Angel?
Apa yang terjadi denganmu?
Benarkah kamu hamil dan dikeluarkan dari sekolah ini?
Atau jangan-jangan ini hanya modus melancarkan aksi balas dendam berikutnya?
__ADS_1
Kepala Jovan hampir pecah memikirkan semuanya.
Angel cewek paling aneh, susah ditebak dan sukses membuat Jovan pusing tujuh belas keliling, kini telah dikeluarkan dari sekolahnya.
Tak terasa seminggu telah berlalu.
Jovan melewati hari hari yang cukup berat. Dalam hitungan hari, gosip heboh insiden Upacara Bendera yang sempat membuatnya malu dan merasa bersalah memiliki senjata laras panjang yang katanya memalukan dan membuat risih kaum perempuan, hilang dari peredaran.
Namun, timbul gosip baru yang tak kalah mengerikan dan memalukannya.
'Angel hamil akibat perbuatan Alfin dan Jovan.'
Fitnah paling laknat dan biadab yang pernah menimpa Jovan. Sialnya lagi, dia tak bisa maksimal membela diri karena Angel dan Alfin tidak bisa dihubungi untuk sekedar kalrifikasi. Dua insan yang dikabarkan terciduk langsung oleh Bunda Fahira itu, hilang ditelan bumi. Bu Anita pun bahkan tak bisa lagi menghubungi Angel.
Jovan bukan tipe lelaki yang senang mencari keributan. Tetapi, ini menyangkut harga diri dan kehormatan. Dia wajib membela diri dan tak bisa tinggal diam. Berhari-hari Jovan mencari sumber fitnah yang sangat membuatnya gerah. Mendatangi langsung orang yang dicurigai sebagai otak dibalik semua fitnah terkutuk itu.
Namun, semua diam. Semua menggeleng dan semuanya menjawab tak mengerti. Jovan frustasi. Dia hanya bisa mengutuk kesal pada siapapun yang menghembuskan kebohongan publik paling biadab di muka bumi ini. Dalam kesedihan dan berpasrah diri pada yang Maha Kuasa, Jovan memohon agar semua badai fitnah segera berkahir dan berlalu.
"Ya, tapi gua gak pernah nemeuin si Angel, kalau dia main ke warung atau rumah gua!" Jovan bela diri.
"Hahaha, orang lain mana tahu. Yang mereka tahu, kalau si Angel main ke rumah lu, ya pastinya ketemu juga sama lu. Kenapa lu jadi **** begini, Jo?" Aldo mengernyitkan dahi.
"Do, coba pakai logika lu. Kenapa gua gak dipecat dari sekolah, kalau memang si Angel hamil karena perbuatan gua sama si Alfin. Kenapa hanya si Alfin yang harus bertanggung jawab?"
"Ini masih menurut gosip, Sob. Lu gak dikeluarin dari sekolah, karena Bunda Fahira, sayang dan masih penasaran sama lu." Aldo salah seorang teman akrab sekaligus tetangga dekat Jovan, menyampaikan jawaban yang didapatnya dari angin sepoi-sepoi.
"Bunda Fahira penasaran sama gua?. Maksudnya apa?" Mata belo Jovan hampir copot, saking terkejutnya.
"Ya, katanya sih masih penasaran dengan benjolan di balik celana lu." Aldo menjawab santai seraya memandang Jovan yang berdiri kaku. Saking kaku-nya celana Jovan seketika menyembul ikut-ikutan kaku. Untung saja lorong menuju toilet siswa itu sedang sepi. Jovan tidak menjadi bahan tontonan yang sangat memalukannya lagi.
"What? apa urusannya dengan isi celana gua, blog! Gua gak pernah pake celana ketat lagi. Gua udah punya tiga celana yang longgar. Masalahnya dimana?" Jovan makin ngotot dan makin tak mengerti dengan gosip baru yang dihembuskan mulut berbisa.
"Ya, gua gak tahu. Yang jelas gosip yang beredar seperti itu. Kenapa lu mesti kalap begitu? Syukuri aja, Bro! Gak semua siswa bisa ditaksir sama Bunda Fahira. Dia memang bukan guru di SMA kita, tapi kan pemilik kuasa atas segalanya. Istri pemiliki yayasan gitu loh, hehehehe," hibur Aldo dengan mata berkedip kedip laksana boneka Irlandia.
"Kampret! lu pikir gua cowok apakah? Bunda Fahira sudah punya suami. Lagian gak mungkin cewek secantik dan setajir beliau menyukai berondong kere model gua? Selera Bunda Fahira sekurang-kurangnya model iklan kopi, Bro!"
"Hehehe, lu kan brondong kere yang beda. Hidup lu boleh kere dan sederhana. Tapi penampilan lu kan kayak artis juga. Siapa yang bisa ngalahin ketampanan lu di sekolah ini? Si Angel aja sampai kaya cewek stres saking tergila-gilanya!" Aldo tetap dengan argumennya.
__ADS_1
"Oh my God! Setan apalagi yang nyebarin fitnah super gila itu." Jovan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Do, lu kebayang gak? Kalau Bunda Fahira sampai dengar fitnah ini, gimana? Gua yakin dia bakal ngamuk. Dan yang pasti, gua kena imbasnya. Modar, gua!" Jovan garuk-garuk kepala. Bingung dan pusing tujuh keliling. Tak mengerti, mengapa gosip dan fitnah yang biadab itu tak berhenti menimpa dirinya. Sedangkan dia sendiri tak merasa pernah memfitnah siapapun.
"Ya, begitulah gosip. Mudah beredar tapi susah dicari sumber utamanya." Aldo kembali menghibur untuk meredakan amarah Jovan yang sudah memerahkan wajahnya.
"Masalahnya, ini bukan cuma gosip biasa, Do? Tapi fitnah. Lu tahu kan kalau fitnah itu lebih kejam dari virus corona?" Jovan menyalak dengan gigi geraham yang gemeretak. Kedua tangannya mengepal bulat. Siap menghajar siapapun yang telah tega memfitnahnya.
"Ya, mau gimana lagi? Lu kan udah nyari-nyari sumber fitnah itu? Tapi gak ada hasilnya. Mau sampai kapan termakan fitnah itu? Habis waktu lu buat ngurusin yang begitu doang, hahahaha." Aldo tertawa lepas, maksud hati menghibur sahabatnya namun Jovan salah terima.
"Heh, Jing! Kok, lu malah ketawa? Jangan-jangan elu yang nyebarin fitnah super anjing itu?" Jovan menarik kerah seragam Aldo dengan kasar. Namun sahabatnya yang paling cuek itu, tetap tenang dengan senyum sok gantengnya.
"Otak gua gak sekerdil itu, Sob." Aldo melepaskan cengkeraman Jovan pada kerah kemejanya yang bersulamkan nama indah Aldo Surya Bersinar.
"Asal lu tahu! Dari sejak zaman Romeo and Juliet pacaran saling kirim SMS, gua gak pernah tertarik ngomongin rahasia pribadi orang lain. Najis amat gua ngegosipin bagian pribadi sesama lelaki."
"Iya sih, tapi.." Jovan tak meneruskan ucapannya. Dia kembali garuk-garuk kepala.
"Jo, lu gak curiga sama si Aflin?" Aldo menatap serius.
"Kenapa dengan si Alfin?" Jovan kembali cengo. Otaknya mulai sedikit lemot dengan segala gosip dan fitnah yang semakin hari semakin membuatnya pusing delapan belas keliling.
"Bukankah dia yang selalu iri sama rudal lu?" Aldo yang tak pernah bisa menghilangkan logat Solonya, selalu punya insting dan feeling yang sedikit berbeda.
"Shit! Kan si Alfin udah hilang, kenapa masih nuduh dia?" Jovan mengernyitkan dahi.
"Ya, dia memang sudah menghilang dari sekolah. Tapi kan bisa aja dia komunikasi dengan teman yang lain yang masih sekolah di sini, terus nyebarin gosip itu."
Jovan sedikit tertegun. Walau argumen Aldo terkadang sedikit nyeleneh,. Tetapi pada akhirnya sering mendekati kebenaran yang bisa dibuktikan secara ilmiah.
"Terus, untungnya buat si Alfin apa? sampai dia tega nyebarin fitnah, Bunda Fahira naksir dan berminat sama senjata gua? lu kadang kalau ngomong gak dipikir dulu, Do!" Jovan kembali menguji ketajaman prediksi Aldo.
Bersambung – “Banyak Kawan Menghilang”
__ADS_1