
Rekayasa Yang Sempurna
Lucky L Mase. Seantero SMA Garuda tak ada yang tak mengenalnya. Bukan karena dia seorang cowok most wanted. Bukan pula siswa yang gantengnya selangit, angkuh, cerdas, kaya raya dan sifatnya sedingin es. Bukan! Lucky bukan kulkas.
Lucky makhluk biasa yang berdarah panas. Bukan tokoh novel laki-laki sempurna yang maha dingin dan kaku. Lucky bukan ciptaan author yang beranggapan lelaki hebat itu harus seperti ikan, berdarah dingin. Lucky manusia normal seperti remaja pada umumnya.
Lucky berusia 2 tahun lebih tua dari semua teman sekelasnya. Dia berusia 20 tahun. Memiliki postur seperti pemuda berusia 23 tahunan. Seharusnya dia sudah semester empat salah satu universitas. Namun tertinggal dua tahun karena saat kelas tiga SD dan kelas delapan SMP, tidak naik kelas.
Lucky nakal sejak kecil. Namun di sekolah tidak menjadi bad student. Normal, seperti yang lain. Dia bisa tersenyum, tertawa, bercanda, marah, tersinggung, sedih, takut, malu dan kadang salah tingkah.
Kadang nakal, kadang juga baik. Tergantung angin yang sedang berhembus. Anak-anak dan remaja memang seharusnya begitu. Labil dan angin-anginan karena masih dalam taraf pencarian jati diri.
Sedikit aneh jika ada remaja yang tiba-tiba memiliki sifat konstan, ajeg dan tak bisa berubah. Kecuali dia terlahir dari batu. Binatang dan tumbuhan saja akan mengalami perubahan dalam perkembangannya, apalagi manusia yang dilengkapi akal, nafsu dan pengaruh lingkungan sekitar.
Lucky lahir dan dibesarkan di Bogor. Bapaknya Guru Olah Raga SMP dan SMA. Sedangkan mamanya, Guru SD. Keduanya asli kelahiran Maluku. Lucky memiliki seorang kakak dan dua orang adik. Semuanya laki-laik.
Kedua orang tua Lucky menetap di Jawa Barat, jauh sebelum dia dilahirkan. Remaja yang sering dijuluki si Ambon itu, lebih fasih berbahasa Sunda daripada bahasa ibunya. Dia bahkan hanya sempat dua kali menginjakan kaki di tanah leluhurnya.
Struktur wajah, rambut ikal dan kulit hitam manis sangat mencerminkan orang Indonesia Timur. Perawakannya tinggi tegap, gagah dan atletis diwariskan dari ibu dan bapaknya. Ciri fisik itulah yang memudahkan banyak orang mengingat dan mengenali seorang Lucky.
Dari kelas sepuluh sampai sekarang, Lucky dan Jovan selalu satu kelas. Walau tidak terlalu akrab, mereka juga tidak terlalu renggang. Keduanya sering terlibat obrolan hangat. Namun tak jarang saling diam-diaman. Mereka dekat dan akrab ketika sama-sama memiliki kepentingan.
Pergaulan Lucky sangat luas di luar sekolah. Dia sangat akrab dengan dunia jalanan dan premanisme. Dia manfaatkan kepandaian bergaulnya untuk melindungi sekolah dan teman-temannya dari serangan siswa sekolah lain yang hobinya tawuran. Selama ada Lucky, tak ada yang berani macam-macam pada semua siswa SMA Garuda
Beberapa saat setelah meninggalkan rumah sakit, Lucky memarkirkan motor sportnya di parkiran salah satu penginapan sekaligus rumah makan yang cukup representatif.
Walau bukan hotel berbintang, namun cukup bagus, luas dan asri. Berjarak kurang lebih tiga kilo meter dari tempat Bu Anita dirawat inap.
"Kelamaan ya nunggunya?" bisik Lucky seraya duduk santai di sebelah seorang wanita berusia 30 tahun yang menutup kepala dan sebagian wajahnya dengan pasmina warna gelap, senada dengan rok dan blazer kafenya.
__ADS_1
"Gak kok," balasnya seraya menggeser sedikit duduknya. Memberi sedikit tempat pada Lucky yang bersila di sampingnya.
Bunda Fahira sudah lebih dari setengah jam menunggu Lucky di gazebo penginapan itu. Tempat lesehan para pengunjung rumah makan dan penginapan Dua Mutiara. Rumah makan yang selalu sepi di atas jam 9 malam. Walau ada tulisan tutup pukul 24.00 WIB.
"Kamu yakin, teman-temannya Jovan gak ada yang lihat kamu?" tanya Bunda Fahira sambil menyesap secangkir kopi yang sudah dingin dan hampir habis.
"Aman, Sayang. Semua sesuai skenario. Aldo sudah mengatur dan menjalankan tugasnya sesuai yang direncanakan. Tenang aja. Seberat apapun, pasti akan aku jalankan dengan penuh kesungguhan. Semua demi kamu, percayalah!" Lucky meyakinkan Bunda Fahira seraya memegangi kedua tangannya dengan dengan mesra.
"Bukan gak percaya, sekedar memastikan. Pokoknya jangan sampai ada barang bukti dalam bentuk apapun, apalagi kalau ada saksi yang akan mengacaukan semuanya." Bunda Fahira membalas remasan tangan lelaki muda yang sudah lama menjadi seseorang yang sangat rahasia dan sedikit spesial di ranjangnya.
"Hahaha, sudah setahun kita hubungan. Hanya si Aldo yang tahu, itupun belum lama. Kalau kamu tidak ceroboh, mungkin juga gak bakal ada yang tahu sampai sekarang, hehehe." Lucky mengeluarkan sebungkus rokok dari saku kemejanya.
Dengan gaya yang khas dan terlatih, Lucky memantik api dan membakar sebatang rokok yang sudah terselip di bibirnya yang tebal dan menghitam akibat asap rokok yang sudah bertahun tahun.
"Kamu juga sangat jago berkelit dan bersandiwara di depan suamiku, hehehe." Bunda Fahira memuji Lucky seraya melingkarkan tangan kanannya di pinggang Lucky.
"Nah. Kurang apa lagi, Sayang?" Lucky memegangi dagu lancip Bunda Fahira, "suami kamu yang anggota dewan aja gak pernah curiga dengan hubungan kita. Apalagi sekelasnya si Jovan? Kecil!" Lucky pun membelai hidung mancung Bunda Fahira yang kembang kempis, bahagia.
"Sesuai dengan yang kamu inginkan." Lucky mengangkat tubuh bagian bawahnya seraya membetulkan posisi celananya yang mulai menyempit.
"Pokonya terserah kamu. Gimana pun caranya, yang penting Jovan harus diam. Jangan sampai dia membongkar insiden yang terjadi antar aku dan dia. Bahaya dan bisa mencemarkan nama baik Yayasan Garuda. Walau aku bukan guru, tetap aja sebagai pemilik. Apapun yang terjadi denganku, mau tidak mau akan berdampak pada citra sekolah." Mata nanar dua insan berlainan jenis itu saling bertatapan sayu, dalam kilatan birahi yang mulai membakar libido keduanya.
"Pastinya aman, Sayang. Jovan gak akan pernah ngebahas apapun yang terjadi antara kalian. Aku menjamin 100%. Apalagi saat ini dia sedang sangat pusing ngurusin keluarganya." Lucky meyakinkan.
"Terus uang yang dibawa Aldo sudah diterima Jovan?" Bunda Fahira memegangi wajah berahang tegas dan berkumis tipis, Si Ambon yang maskulin.
"Beres. 20 juta sudah aman dan diterima dengan senang hati oleh Jovan. Masa dengan uang segitu dia masih berani buka mulut. Gak mungkin kan?" Lucky mulai sedikit gelisah duduknya.
"Kamu tetap yang terbaik, Sayang," balas Bunda Fahira bangga.
__ADS_1
"Sayang, aku udah gak kuat. Kita ke kamar sekarang, yu! Malam ini, aku ingin yang spesial dari kamu." Lucky memegangi kedua tangan Bunda Fahira dengan sangat lembut. Tatapan matanya kian sayu, penuh harap.
Bunda Fahira tersenyum nakal. Dia pun sudah sangat berharap itu. Tak berselang lama, Lucky dan Bunda Fahira, berjalan bergandengan meninggalkan rumah makan lesehan yang masih dalam satu lingkungan dengan penginapan.
Tak ada yang aneh. Bukan yang pertama mereka mendatangi rumah makan sekaligus penginapan itu. Petugas keamanannya bahkan sudah kenal dekat dengan Lucky. Lucky dan Bunda Fahira biasanya hanya beberapa jam menyewa kamar di sana. Sekedar menghabiskan waktu setelah makan siang atau makan malam. Namun kali ini mereka sudah berniat akan menginap bersama.
Pasangan mesum itu, berjalan dengan sangat santai. Mereka bahkan tak menyadari ada dua pasang mata yang memperhatikan semua gerak geriknya sejak masih di gazebo.
Sesampainya di kamar, Lucky segera melucuti sepatu, kaos kaki, hoodie, kemeja dan celana panjangnya. Bunda Fahira pun segera melepas outer-nya. Hingga menyisakan lingerie ungu yang sudah dipakai sejak dari rumahnya tadi. Pakaian transparan yang super ketat itu sempurna membungkus tubuhnya yang proporsional, indah dan molek.
Bunda Fahira menatap nanar tubuh lelaki muda yang kekar dan sixpack dalam balutan kulit legam maskulin. Bulu-bulu halus keriting menghiasi bagian lengan, kaki, paha, perut, dada dan bermuara pada pinggang bagian depan dibalik celana dalam merah marun.
Lucky segera menarik tubuh seksi pemilik Yayasan Garuda itu, dalam pelukannya yang panas.
"Sayang, malam ini, aku gak mau lagi pakai pengaman. Sesuai janjimu, tahun ini aku boleh membuahi rahimmu dengan benih suburku," desah Lucky dengan napas yang kian memburu.
"Aaaaah.... Lucky..sssst." Bunda Fahira melenguh manja seraya mengalungkan kedua tangannya di leher lelaki muda selingkuhannya.
"Aku ingin segera lulus sekolah dan menikah denganmu, Sayang," bisik Lucky kemudian seraya mengecup kening dan kepala Bunda Fahira.
“Kenpa harus nikah? Bukankah lebih nayam begini. Kita bisa sama-sama saling menikmati dan tidak mengganggu hubungan dengan pasangang kita masing-masing.” Bunda Fahira mentap mata Lucky.
“Aku ingin jadi suami yang baik buat kamu dan punya anak-anak dari rahim kamu. Udah bosan hidup jadi anak jalanan, Sayang.”
‘Hah! Siapa elu? Gak sepadan kita berdampingan. Mana mungkin gue menikah dengan lelaki pengangguran dan anak ingusan model lu! Dasar gak punya otak! Elu itu hanya pemuas sementara. Bukan siapa-siapa! mendingan sama Aldo yang lebih ganteng! Lu gak punya kaca ya di rumah?’ maki Bunda Fahira dalam hati sambil melayani ciuman panas sang pejantan yang mulai tak terkendali...
Bersambung – Uang Milik Siapa
__ADS_1