
Tak Ada Tawar Menawar
Julia dan Nufal sibuk membongkar dan menyusun kembali seluruh belanjaannya dalam kulkas. Beberapa barang terpaksa mereka keluarkan dan dipindah ke lemari makan karena tidak muat.
Sementara Jovan pergi ke kamar mandi, untuk berwudhu dan selanjutnya melaksanakan empat rakaat kewajibannya. Dia tidak mengajak Naufal, karena yakin adiknya sudah melaksanakan shalat ashar berjamaah dengan Julia.
"Teh, si ibu itu udah lama gak?" Jovan berbisik pada Julia ketika dia sudah selesai melaksanakan shalatnya.
"Udah lama ya, De. Udah satu jam kali." Julia menjawab sambil menatap Naufal yang masih sibuk dengan aneka jajanannya.
"Heeh," Naufal menjawab tanpa menoleh.
"Kalau gitu, Teteh sama Dede main ke rumah Bu Surya dulu. Aa mau ngobrol sama Ibu Tamu itu, kasihan sudah lama nunggu. Nanti kalau tamunya udah pulang, kalian boleh balik lagi, oke." Jovan bicara sambil mengelus-elus rambut Naufal yang duduk bersila di lantai sambil menikmati cemilannya.
"A, hari Sabtu, Teteh sama Dede mau diajak berenang ke Jungle sama Teh Angel. Boleh ya?" Julia menatap Jovan.
Deg! Jantung Jovan seketika berhenti berdetak. Kilatan cahaya penuh harap dan kebahagian, terpancar kuat dari mata Julia yang sontak menusuk jantungnya. Kilatan bahagia yang sudah lama tidak dia temui dari mata dan wajah adik perawannya. Jovan tertegun. Tak mungkin memadamkan cahaya indah itu dengan menolak atau melarang kedua adiknya ikut ajakan Angel.
"Boleh ya, A?" Naufal ikut membuat hati Jovan makin bimbang dan senat senut.
‘Bangke nih si Barbar! Paling bisa ngebuat gua bingung! Kalau udah urusan kebahagiaan Julia sama Naufal, mana bisa gua nolak. Ah, kampret lu Angel! Gua nikahin baru tahu rasa, lu!’ Jovan mengumpat dalam hati seraya garuk-garuk kepala.
Walau ngeri-ngeri sedap, bibir Jovan tetap tersenyum dan kepalanya mengangguk. Menyetujui permintaan Julia dan Naufal walau hatinya tak rela. Senyuman dan rona kebahagiaan yang terpancar dari dua permatan hatinya tak boleh redup dan hancur seketika hanya karena keegoannya.
"Asiiiik, mau renang, asikkk mau ke jungle. Aa juga harus ikut. asiiik!!!!" Naufal tiba-tiba meloncat kegirangan masuk ke dalam pelukan Jovan.
‘Hah! gua harus ikut renang sama si Barbar! Alah, ni cewek paling bisa modusnya. Otak busuknya gak habis-habis! Lama-lama gua nikhin lu. Awas aja jangan mewek pas malam pertamanya! Siapa gak? punya gua kan...." Kembali Jovan mengutuki Angel di antara sorak gembira Julia dan Naufal.
Tak berapa lama, Julia dan Naufal sibuk memisahkan buah-buahan dan makanan kecil untuk dibawa ke rumah Bu Surya. Dan mereka pun berjalan beriringan keluar rumah melalui pintu samping.
“Gua harus nyari akal, gimana caranya supaya si barbar itu, gak jadi ngajak adik-adik gua berenang. Udah ketahuan lu pura-pura ngajak renang padahal mau nyulik. Dasar otak busuk lu, Gel!" Jovan kembali menggaruk-garuk kepalanya sambil berjalan menuju ruang tamu, untuk menemui Bunda Fahira.
Dengan masih bersarung dan berkemeja koko, Jovan malas-malasan mendatangi Bunda Fahira yang sudah hampir ubanan kelamaan menunggunya. Baru kali ini wanita super berkuasa itu, menjadi orang culun yang sukses dikerjain seorang siswa.
"Silakan diminum, Bu." Jovan membuka pembicaraan dengan basa yang super basi.
"Terima kasih, udah dari tadi kok," balas Bunda Fahira dengan wajah semringah, berusaha mencarikan suasana agar bisa mengubah ekspresi Jovan yang butek dan mendung tak berselera. Padahal baru saja dia mendengar keributan dan keceriaannya dari ruang dapur.
"Mohon maaf kalau airnya gak enak. Maklum masakan kami semuanya gak enak. Mungkin adik saya juga masak airnya gosong. Maafkan mama saya yang gak bisa ngajarin anak-anaknya masak dan menjaga kebersihan." Jovan menjawab seraya menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Kok jam segini baru sampai rumah. Dari mana dulu, Jo?" Bunda Fahira bertanya santai. Ekspresi dan rona wajahnya tak bisa menyembunyikan keterkejutan hatinya dengan ucapan Jovan yang seakan sengaja disindirkannya dengan cukup menohok.
__ADS_1
"Ada perlu dulu ke rumah teman," balas Jovan seraya menarik tubuhnya, duduk tegak seraya memandang wajah wanita yang hampir saja memperkosanya beberapa waktu yang lalu.
"Maaf ada perlu apa Bu? tumben mau datang ke rumah yang kotor dan menjijikan ini. Maklum para penghuninya tidak mampu menjaga kebersihan sesuai standar kesehatan yang disyaratkan yayasan ibu." Jovan kembali mengeluarkan sindiran kerasnya.
Dia sengaja mengeluarkan kalimat-kalimat yang sangat tidak enak untuk didengar. Menumpahkan segala dendam dan kekesalannya serta sebagai bentuk perlawanan terhadap wanita yang telah merendahkan, menghina dan memfitnah keluarganya.
Bunda Fahira salah tingkah. Wajahnya merah padam, dia sangat paham kemana arah pembicaraan Jovan. Tak menduga siswa kelas dua belas itu akan menyambutnya dengan sindiran-sindiran yang sangat menusuk jantungnya.
"Maaf Jo, saya datang ke sini tidak untuk berdebat." Bunda Fahira mencoba meredakan ketegangan dengan berbicara selembut dan seramah mungkin,
"Saya sudah tiga kali memanggil Jovan di sekolah, tetapi semua diabaikan. Mau tidak mau saya harus menemui di rumah. Kenapa tak mengindahkan panggilan saya?" Bunda Fahira berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Walau seratus kali pun saya tidak akan memenuhi panggilan ibu. Karena saya tidak merasa melakukan pelanggaran disiplin sekolah dalam bentuk apapun," jawab Jovan dengan nada dan ekspresi yang masih tetap datar.
"Betul, kamu tidak melakukan pelanggaran. Saya memanggilmu bukan untuk menghukum. Tapi, hanya ingin menanyakan kebenaran info dari guru-guru, kalau kamu tidak akan kuliah. Benarkah demikian? alasannya apa?" Bunda Fahira bicara dengan mata yang tak lepas menatap wajah Jovan yang tampak bercahaya dalam hiasan air wudhu yang belum batal.
"Gak ada alasan. Yang pasti saya bukan hanya tidak akan kuliah, tapi juga tidak akan melanjutkan sekolah. Mulai hari Rabu ini dan seterusnya saya keluar dari SMA Garuda," tegas Jovan.
Deg! Jantung Bunda Fahira seketika berhenti berdetak, bahkan waktu yang berputar seakan berhenti tiba-tiba.
"Maksudnya?" seru Bunda Fahira. Kedua matanya makin fokus menatap wajah Jovan yang sama sekali tak berubah ekspresinya. Ringan, santai dan datar tanpa beban. Tatapan lurus ke depan, tak sedikit pun memalingkan wajah untuk menatap dirinya yang pucat pasi.
"Jo, kamu bercanda kan? Bagaimana dengan masa depanmu?" Bunda Fahira sedikit menggeser duduknya mendekati Jovan.
"Mengapa ibu harus peduli dengan masa depan saya? Bukankah ibu sudah sukses menghancurkan masa depan saya dan kedua adik saya?" Sebuah pernyataan yang sangat tak terduga, kembali menohok Bunda Fahira.
"Oh my God! Maksudnya gimana, Jo? Saya tidak mengerti. Kenapa jadi saya yang menghancurkan masa depan kalian?" Roan wajah Bunda Fahira makin memerah.
"Ibu wanita cerdas dan kaya raya. Mungkin tidak akan mengerti bagaimana menjadi seorang wanita sederhana yang telah hancur masa depan anak-anaknya, karena dipermalukan, direndahkan dan difitnah sebagai wanita yang tidak bisa memasak dan menjaga kebersihan hingga dia harus diberhentikan dari kantin sekolah." Bicara Jovan makin tak terkendali.
"Oh my God!" Bunda Fahira mendengus, malu hati.
"Mama saya wanita sederhana dan bodoh. Sangat wajar trauma dan tertekan jiwanya. Dia tak kuasa menanggung malu, hingga akhirnya harus mengalami gangguan mental." Suara Jovan makin tinggi.
"Masya Allah, Jo. Kamu bicara serius?" Bunda Fahira kembali menggeser duduknya dengan ekspresi wajah tak karuan.
Jovan bangkit dari tempat duduknya. Lalu berdiri di dekat pintu yang masih terbuka.
"Mama saya wanita sederhana, yang disia-siakan suaminya hampir dua tahun. Dia tidak diakui sebagai menantu hampir 20 tahun. Dan selama itu pula dianggap sebagai wanita pembawa sial oleh keluarga ayah saya. Mama saya hanya mengandalkan kepandaian memasak untuk menghidupi anak-anaknya. Dan tak disangka, justru mama mendapatkan perlakuan dan hinaan yang teramat berat dari memasaknya itu." Jovan menatap Bunda Fahira yang melongo dan menganga tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun menyangkal ucapan Jovan.
"Sekarang semua telah terjadi. Saya dan kedua adik saya telah kehilangan masa depan. Karena tidak tahu, bagaimana nasib mama sebagai tulang punggung keluarga saya untuk selanjutnya." Jovan berucap lirih, matanya sedikit berkaca-kaca.
__ADS_1
"Jovan, kamu serius?" Bunda Fahira berdiri dari duduknya.
"Saya harap, mulai saat ini. Ibu tidak perlu lagi menjadi malaikat yang berpura-pura memikirkan masa depan saya. Doakan saja mama saya segera sembuh seperti sedia kala dan bisa menghidupi kami lagi anak-anaknya." Suara Jovan sedikit tersedak.
"Kami sekeluarga tidak bersalah apapun pada ibu. Kalau saya menolak diajak maksiat, itu bukan sebuah kesalahan."
"Jovan, dengar dulu penjelasan saya." Bunda Fahira mendatangi Jovan, namun lelaki muda yang sedang bergemuruh dadanya itu segera keluar dari rumah menghindarinya.
"Tadinya, besok saya akan menemui ibu untuk berpamitan. Tapi karena ibu datang sendiri, maka sekalian saja. Ibu tidak perlu repot-repot mencari alasan untuk mengeluarkan saya dari sekolah, bahkan tak perlu sibuk menyuruh Tata Usaha mengetik suratnya. Pakai surat atau tidak, saya tetap berhenti dari SMA Garuda atas keinginan sendiri, titik."
"Jovan kenapa jadi begini?" Bunda Fahira menahan langkahnya. Dia tidak mungkin berdebat di luar rumah karena bisa menjadi perhatian banyak orang yang lalu lalang di luar sana.
"Mohon maaf bila selama ini saya dan keluarga banyak melakukan kesalahan. Dan silakan ibu tinggalkan rumah ini, atau saya yang akan pergi sekarang juga." Jovan menggeser tubuhnya memberi jalan pada tamunya untuk segera keluar dan meninggalkan rumahnya.
"Jo, sabar dulu, kita bicarakan baik-baik semuanya." Bunda Fahira meminta Jovan untuk kembali masuk ke rumah.
"Cukup, Bu! Tak ada yang perlu kita perdebatkan. Mulai detik ini kita lupakan segalanya. Anggap saja tak pernah mengenal. Biarkan saya hidup tenang dengan keluarga saya."
"Terima kasih atas segala kebaikan ibu. Mohon doanya, semoga mama saya segera sembuh seperti sedia kala, karena masih ada Julia dan Naufal yang sangat membutuhkan bimbingan dan kasih sayangnya." Jovan bicara dengan wajah tetap tengadah menatap langit-langit teras rumahnya.
"Jovan dengarkan dulu penjelasan saya. Kamu masuk dulu!" Bunda Fahira makin salah tingkah, suaranya bergetar menahan tangis yang juga hampir pecah dari kerongkongannya.
Jovan terdiam. Wajahnya mendongak menahan genangan air yang hampir menetes dan mengalir dari kelopak matanya...
"Cukup. Silakan ibu keluar dari gubuk kotor ini, assalamualaikum," pungkas Jovan seraya membalikan badan dan melangkah pergi meninggalkan Bunda Fahira yang melongo salah tingkah.
Tak menduga di sore yang cerah, menjadi bagian dari drama yang super dramatis.
"Waalaikumsalam," balasnya lirih sambil bergegas keluar rumah.
Seorang Fahira, wanita super cantik yang memiliki segala kekayaan dan kekuasaan, mendapatkan kenyataan yang tak bisa dihindari. Terusir dari rumah orang yang kastanya jauh lebih rendah darinya dengan cara yang sangat santun dan halus. Namun malunya tak mungkin bisa dilupakan.
"Ternyata malu itu menyakitkan, saudara-saudara!" bisik Bunda Fahira seraya berjalan tergopoh gopoh menuju rumah Bagas.
Bersambung – Tabir Yang Terungkap
__ADS_1