Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga

Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga
Bagian Empat Tujuh


__ADS_3

Jovan Yang Tersisih


Lain piring lain pula nasinya. Lain orang lain pula maskernya. Lain Bunda Fahira, tentu lain pula dengan Jovan. Begitu kira-kira pepatah yang tepat untuk menggambarkan keadaan Bunda Fahira dengan Jovan.


Siswa kelas 12 yang berniat istirahat dulu dari sekolahnya, saat ini sedang sangat galau.


Merasa tersisih ditinggal kedua jantung hatinya, Julia dan Naufal yang jalan-jalan dengan Angel, bahkan berencana akan menginap.


Melarang mereka tidak bisa. Namun ikut serta pun tidak mungkin.


Tidak diajak, tapi kalaupun diajak pasti Jovan akan menolaknya.


Hatinya masih belum siap menerima Angel kembali dalam kehidupannya.


Apalagi kalau harus jalan-jalan bereng.


Hati kecil Jovan masih berharap dapat kembali menjalin kasih dengan Elva.


Untuk membunuh segala kegalauannya. Setelah melaksanakan Shalat Maghrib dan ngobrol via telpon dengan Bi Ratna,


Jovan segera menyingsingkan kain sarung dan kemeja kokonya.


Berganti penampilan dengan berpakaian yang sedikit berbeda.


Selama ini, dia jarang sekali memakai celana pendek. Namun kali ini berani tampil beda dengan celana jeans di atas lutut, kaos ketat serta jaket boomber kesayangannya.


Dia pun menutup kepala dengan topi hitam. Masker kain hitam pun ikut menutupi sebagian wajahnya.


Tak lupa sneaker hitam juga terpasang rapi di kedua kakinya.


Jovan berencana menghabiskan malam dengan menelusuri tempat-tempat yang mungkin bisa jadi pertanda keberadaan ayahnya.


Jika memungkinkan, dia pun akan masuk ke Baracuda kafe.


Andai bisa menemukan ayahnya sebelum hari Sabtu,tentu akan lebih baik. Karena itu artinya tidak perlu memberikan apapun pada Selvy, sang wanita penghibur.


Setelah semua siap dan lampu seluruh ruangan sudah off, Jovan segera mengeluarkan matic tua kesayangannya.


"Jojo mau kemana?" Suara Bu Surya kembali mengejutkan Jovan yang baru saja duduk di atas motor yang hendak distarternya.


"Eh ibu, mau jalan aja, bete di rumah sendirian, hehehe," jawab Jovan seraya menatap Bu Surya yang berpakaian sangat berbeda dari biasanya.


Celana lagging hitam membungkus tubuh bawahnya, sementara atasannya memakai kaos lengan pendek yang tak kalah ketat dengan celananya.


"Kok dandanannya beda banget, Jo?" Bu Surya memandangi Jovan secara seksama.


'Sumpah Jo, kamu ganteng banget dengan celana pendek itu, dandanan kamu bener-bener brondong kekinian. Gue banget Jo! oh my God! pasti semua orang akan terpesona dan ngiler lihat kamu kaya gini, oh Jojo aku makin sayang sama kamu.'


"Aneh gimana, Bu? Kan sekarang emang lagi musim pake masker, hehehe." Jovan menarik masker ke bawah, hingga hidung dan mulutnya kembali terlihat.


"Bukan masker yang aneh. Tumben aja pake celana pendek gitu. Jadi kaya brondong banget, hehehe." Bu Surya tak kuasa menahan pujiannya.


"Kan emang masih brondong Bu, hehehe. Ibu juga kaya gadis remaja dengan dandanan kaya gitu. Cantik dan seksi banget." Jovan balas memuji.


"Ah Jojo bisa aja, mana ada gadis wajahnya udah keriput." Bu Surya tersipu malu.


"Yang bilang ibu sudah keriput, berarti matanya katarak. Penampilan dan kecantikan ibu udah kaya gadis 20 tahunan. Beruntung banget, Aldo punya ibu secantik ini, hehehe." Jovan basa-basa, sambil turun kembali dari motornya.


"Dede sama Teteh kemana? Kok belum pada ke rumah ibu?" tanya Bu Surya dengan rona wajah yang masih tersipu.


"Oh iya lupa, belum ngasih tahu." Jojo menepuk jidatnya. "Mereka diajak jalan-jalan sama Angel, katanya sih mau langsung nginep di rumah Angel, sampai hari Minggu." Jojo melebarkan tawanya.


"Hah! sampai minggu? lama amat!" Bu Surya melongo, "terus kalau ibu kangen sama si Dede gimana?" Bu Surya mendekati Jovan yang berdiri kurang lebih dua meteran darinya.

__ADS_1


"Hehehe, kan masih ada Jojo, sama aja kan?" canda Jovan seraya memeluk pundak belakang Bu Surya yang berdiri di sampingnya.


"Oh, jadi sekarang Jojo juga mau ikut jalan-jalan, nyusul mereka?" tanya Bu Surya sambil melingkarkan tangannya di pinggang belakang Jovan.


"Enggak, Bu. Jojo mau jalan-jalan aja sendirian. Cari angin aja gak jelas mau kemana. Intinya pengen menikmati kota di waktu malam, hehehe." Jojo menjawab santai.


Setelah ngobrol tadi siang, Jovan merasakan kenyaman dan kedamai saat bicara dengan Bu Surya.


Tak ada rasa canggung walau harus memeluk atau menciumi kening Bu Surya.


Seperti yang biasa dia lakukan pada mamanya.


Semua orang tahu, Jovan begitu menghormati, menyayangi dan memanjakan mamanya.


Banyak tetangga yang merasa cemburu melihat sikap Jovan yang begitu hangat, mesra, santun dan lemah lembut pada mamanya.


"Ibu sendiri mau kemana? Kok tumben dandanan seksi banget, hehehe." Jovan menatap Bu Surya yang sedikit mendongak menatapnya.


"Tadinya ibu mau ngobrol sama Jojo. Ada beberapa hal penting yang mau ibu sampaikan. Masih bisa ngobrol gak? sebentar aja." Bu Surya makin lembut dan mesra memeluk pinggang kekar Jovan.


"Boleh, masalah apa, Bu?"


"Perihal mama Jojo."


"Ada apa lagi dengan mama?"


"Mungkin kalau menurut Jojo gak penting-penting amat, tapi kalau menurut ibu penting banget."


"Bagi Jojo, apapun yang menyangkut mama, gak ada yang gak penting, Bu."


"Oh gitu, gimana kalau kita ngobrolnya di bangku, Jo?"


"Boleh."


Tangan Bu Surya tak lepas dari pinggang Jovan, begitu pun tangan Jovan, tetap hangat memeluk pundak kanan Bu Surya.


"Gini Jo, ibu kok sedikit curiga dengan penyakit mama Jojo," lanjut Bu Surya saat sudah duduk rapat di samping Jovan yang tetap tidak melepaskan pelukan di bahunya.


Sekilar mereka tampak seperti sepasang kekasih yang sedang memadu asmara dalam keremangan malam di bawah pohon yang rindang.


"Maksudnya?" Jovan menatap lekat wajah Bu Surya yang sedikit mendung.


"Ibu curiga, penyakit mama bukan penyakit biasa, sepertinya ada campur tangan manusia." Bu Surya bicara setengah berbisik.


"Saya kurang paham, Bu. Ibu bicara terbuka aja, biar jelas." Jovan pun bicara setengah berbisik sambil mendekatkan telinganya ke wajah Bu Surya.


"Sepertinya mama terkena guna-guna. Mungkin dari orang yang ngiri atau gak seneng sama mama. Kalau menurut Jojo gimana?" Bu Surya bicara dengan sedikit mendesah.


Jojo sedikit menarik kembali wajahnya. Lalu meluruskan pandangan menatap kosong ke depan.


"Jojo gak percaya, bukan?" Kini Bu Surya yang mendekatkan wajahnya ke wajah samping Jovan.


"Bukan gitu. Tapi saya juga pernah dengan dari kakek. Jujur Bu, saya tidak terlalu ngerti hal mistis begitu. Makanya ibu dirawat di Bandung itu, karena mau dibawa ke pengobatan alternatif sama kakek." Jojo menolehkan wajah, menatap Bu Surya yang jaraknya hanya beberapa senti.


"Nah, berati Kakek Jojo sama pemikirannya dengan ibu."


"Iya, terus Jojo harus gimana agar bisa dengan segera menolong mama?"


"Gini Jo, ibu punya guru namanya Mbah Mukidien. Beliau orang pinter yang sudah terkenal bisa mengobati orang dari segala penyakit non medis. Termasuk yang kena guna-guna."


"Terus?" Jovan masih melongo menatap wajah Bu Surya yang seketika berubah semringah.


"Maksudnya, gimana kalau Jojo menemui si Mbah? Dia bisa meneropong penyakit dari jarak jauh, yang penting bawa foto pasien aja."

__ADS_1


"Saya gak tahu dimana Pak Mukidien itu, Bu."


"Hmmm, tenang aja. Ibu bisa nganter Jojo ke sana. Kapan saja boleh. Kalau menurut ibu sih lebih cepat lebih baik. Ibu juga sangat khawatir, kalau dibiarkan, nanti penyakit mama malah berlarut larut dan susah diobatinya." Bu Surya mengelus pipi dan wajah Jovan yang redup cahayanya.


"Oh boleh Bu. Di daerah mana? Jauh gak?" Jovan antusias.


"Jauh deket sih, kalau dari sini paling dua jam perjalanan. Kalau mau malam ini juga bisa Jo, mumpung Pak Surya lagi gak ada di rumah, jadi ibu bisa nganter Jojo untuk ke sana."


"Hah, emang malam-malam bisa?"


"Justru harus malam, Jo. Jadi nanti subuh kita udah bisa balik lagi. Kalau siang kan gak enak di jalannya juga panas, terus di sananya juga kadang banyak pasien."


"Oh gitu, tapi..." Jovan ragu.


"Hmmm, tapi apa? Jojo jangan mikirin apa-apa. urusan biaya dan lain-lain, semua urusan ibu. Jojo nganter aja. Masa ibu harus sewa ojek, kan takut kalau sama yang gak kenal."


"Harus malam ini ya, Bu?" Jovan memastikan.


"Ibu sih maunya lebih cepat lebih baik, supaya mama Jojo segera sembuh. Ibu sudah kasihan sama dia, udah kangen juga pengen ngumpul lagi." Bu Surya memeluk Jovan dengan mesra.


"Bu, terima kasih. Ibu baik banget sama kami." Jovan pun membalas pelukannya.


Lalu keduanya bangkit dari duduk dan berdiri dengan tetap berpelukan.


"Kan ibu udah bilang. Apapun akan ibu lakukan demi kalian. Ibu sayang sama kalian, terutama sama Dede dan Teteh." Bu Surya mencium mesra pipi Jovan.


"Iya Bu, kalau gitu saya ganti baju dulu, biar gak kedinginan di jalan," balas Jovan sambil mencium kening Bu Surya.


"Iya, ibu juga mau siap-siap dulu, Jo."


Bu Surya menyandarkan kepalanya dengan mesra di dada bidang Jojo.


Matanya terpejam dan bibirnya tersenyum.


'Hmmm malam ini, kita bisa tidur berdua, Jo. Kamu pasti punya pengalaman yang mendebarkan di sana.'


"Sekali lagi makasih ya, Bu." Jovan mencium kepala dan rambut Bu Surya.


"Sama-sama, Sayang. Mulai sekarang kalau Jojo punya kebutuhan apapun, bicara aja sama Ibu."


Bu Surya kembali mengangkat kepalanya, lalu menatap Jojo dengan penuh rasa cinta.


"Jojo, jangan sungkan-sungkan. Apapun maunya Jojo, selagi ibu mampu, pasti akan ibu turuti." Bu Surya mencium mesra pipi kanan Jovan untuk yang kesekian kalinya.


"Iya Bu. Ibu wanita terbaik yang pernah Jojo kenal. Jojo juga siap mengabdi pada Ibu, Insya Allah, selagi Jojo mampu, apapun saran dari Ibu, akan Jojo turuti." Jovan makin memperat pelukannya.


Gunung kembar di dada Bu Surya, menekan hangat di dadanya, menimbulkan sedikit getaran rasa yang aneh.


"Ibu hanya ingin Jojo menganggap Ibu bukan siapa-siapa. Kita sudah satu hati. Ibu sayang sama Jojo melebihi pada siapapun. Jojo juga ragu kalau mau nganggap ibu lebih dari ibu sendiri, ya."


"Siap Bu, Jojo juga Sayang banget sama Ibu."


Setelah berpelukan beberapa saat, keduanya pun berpisah untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatannya.


Hati Jovan berbunga-bunga.


Secercah harapan untuk kesembuhan mamanya, menghiasi sanubarinya yang sedang bimbang dan resah dengan penyakit mamanya.


Sampai saat ini, mamanya belum menunjukan perkembangan yang menggembirakan.


'Jojo kamu brondong paling hangat, romantis dan mesra. Pantes aja banyak cewek yang tergila gila sama kamu. Oh malam ini akan jadi malam terindah buat kita, sayangku...'


Bersambung – Malam Penuh Kejutan.

__ADS_1


__ADS_2