
Tak Perlu Basa Basi
Seperti hari yang lalu. Setelah mengantar adik-adiknya ke sekolah, Jovan langsung berangkat ke tempatnya menuntut Ilmu. Wajahnya tampak mulai sedikit ceria dan semringah. Berita dari Bi Ratna tentang mama tercinta yang semakin baik, sanggup membuat tidurnya nyenyak dan bangun dengan penuh semangat.
Walau saat ini mamanya belum diizinkan kembali ke Bogor atau saling bertegur sapa via telepon. Namun, kesehatan fisik dan mental mamanya yang membaik menjadi vitamin untuk mereka bertiga. Apalagi ketika Bi Ratna mengirimkan video mamanya yang sedang memetik daun singkong di kebun kakeknya, sontak membuat Julia dan Naufal main kuda lumping. Walau setelah itu mereka menangis meraung-raung karena rindu.
"Bro, lu dipanggil lagi sama Bunda Fahira, waktunya kapan aja lu sempatnya." Bagas sang ketua kelas sekaligus teman sebangku Jovan berbisik. Tampaknya dia mendapat kembali pesan berantai dari Bunda Fahira. Bagas baru saja kembali dari Kantor Guru, menyusul Pak Yudha, Guru Pelajaran Sejarah Indonesia.
"Ya. Bilangin aja sama dia, gua sempatnya nanti kalau udah lebaran kuda," jawab Jovan sekenanya.
Sedikit pun Jovan tak memiliki minat untuk bertemu dengan wanita yang telah membuat mamanya kehilangan muka, karena tuduhan masakannya yang tak enak dan tak bisa menjaga kebersihan kantin. Fitnah yang sangat keju dan tak termaafkan.
"Maksudnya hari ini, terserah mau sekarang atau sepulang sekolah, gutu." Bagas memperjelas.
“Gua udah gak bisa lagi basa-basi sama si Fahira, Gas,” ketus Jovan tanpa ekspresi. Mata Bagas seketika terbelalak dengan mulut menganga.
Ini panggilan yang ketiga kalinya dalam dua minggu terkahir. Istri pemilik Yayasan Garuda itu telah kebakaran bulu hidungnya, karena ada siswa yang berani mengabaikan dan tak mengindahkan titahnya.
Namun dia juga tak bisa berbuat apa-apa. Gelagat Jovan yang akhir-akhir ini mulai membangkang, mulai sedikit membuat jantungnya cenat-cenut. Bunda Fahira tak mungkin menggertak Jovan, karena dia sedang memegang kartu as yang akan mempermalukan dirinya jika terbuka.
Sebaliknya Jovan sudah kehilangan respect dan simpatinya pada wanita yang merasa paling berkuasa sedunia itu. Pasca mamanya diberhentikan dengan paksa dari kantin sekolah, bahkan sejak dia dipaksa untuk melayani nafsu bejatnya.
Kini kebencian Jovan pada Bunda Fahira semakin bertambah setelah mengetahui kenyataan bahwa ternyata wanita itu tak lebih dari seorang tante girang pemburu daun-daun muda.
Jovan fokus mengikuti pelajaran Sejarah dari Pak Yudha yang terkenal sangat detail menghapal tanggal lahir hingga meninggalnya para Pahlawan Kesuma Bangsa.
Sesuai dengan prinsipnya, Tak kenal maka tak sayang. Dan jangan sekali-kali melupakan sejarah, agar hidupmu makin bergairah. Para mantan boleh kamu lupakan, namun para Pahlawan haruslah tetap dikenang.
"Jo, lu ditunggu Bunda Fahira di ruangannya." Kali ini, Aldo yang datang tergopoh gopoh menyampaikan pesan, sesaat sebelum Jovan meninggalkan kelasnya.
"Hah, tadi si Bagas, sekarang lu. Gak sekalian aja nyuruh si Lucky buat nyeret gua?" Jovan menjawab sinis. "Gua sendirian atau sama elu dipanggilnya?" Jovan balik tanya.
"Ya, lu sendirian dong, Bro!" Aldo menjawab pelan. Wajahnya sedikit mengkerut, ada rasa ngeri dan takut dengan sikap Jovan yang akhir-akhir ini sedikit garang.
Aldo sudah sangat tahu bagaimana kemampuan Jovan dalam ilmu bela diri. Melumpuhkan dua atau tiga orang yang badannya sekekar Lucky, bukan perkara susah baginya. Apalagi hanya seorang Aldo yang kerempeng cenderung kurus kerontang dan tanpa sedikitpun menguasai ilmu bela diri.
__ADS_1
"Sampaikan sama Bunda Fahira lu itu, gua gak punya waktu!" Jovan menjawab setelah beberapa saat memandangi tubuh Aldo dari ujung sepatu hingga ujung rambutnya.
"Jo, tolong hargai Bunda Fahira. Biar bagaimanapun dia istri pemilik yayasan ini?" Aldo mengingatkan. Suaranya sedikit bergetar dan kedua matanya fokus memandangi kedua kaki dan tangan Jovan. Dia khawatir tiba-tiba salah satunya melayang dan merobohkannya dalam waktu singkat.
"Hah! perlu berapa duit gua ngehargai dia? Oke gua tahu dia punya kuasa. Bahkan ngeluarin gua dari sekolah ini pun bisa. Katakan pada dia, hari ini juga gua tunggu surat pemberhentiannya, bye!" tegas Jovan seraya melangkah meninggalkan Aldo.
"Jo, please denger gua dulu." Aldo mengejar.
"Sorry Do, gua ada janji ketemu Selvy, dia udah nunggu gua di kosannya," balas Jovan tanpa menoleh atau menghentikan langkahnya.
"Jo! Lu serius sudah menghubungi si Selvy?" Aldo refleks menarik dan menahan tangan Jovan, saking kagetnya.
"Yes. Sorry gua cabut dulu." Jovan bicara setelah menarik napas panjang. Hampir saja tangan kekar yang digenggam Aldo melayang memukul wajah tetangga sebelahnya itu. Namun bayangan Bapak dan Ibu Surya yang baik hari, seketika amrahnya reda.
Aldo terdiam beberapa saat. Bingung harus berkata apa.
"Lu mau balik sekarang tau nanti?” tanya Jovan kemudian.
"Nanti aja, masih ada perlu sama Bunda Fahira," balas Aldo ragu-ragu.
Jovan pun melihat sekilas Bunda Fahira ada di sana. Namun sama sekali tak berpengaruh baginya. Dia segera bergegas ke parkiran, menyalakan mesin motor maticnya dan berhamburan keluar bareng dengan hampir semua siswa yang sudah tak sabar untuk segera kembali ke rumahnya masing-masing.
Setelah memacu motornya kurang lebih sejauh dua kilo meter, Jovan memarkirkan kuda besinya di halaman sebuah kedai bakso yang sangat sepi pengunjung walau tempatnya bersebelahan dengan mini market tersohor Ndramaret.
"Wow, beneran tepat waktu!" Selvy yang berdandan sangat rapi dan sopan menyambut Jovan yang langsung duduk lesehan di sampingnya.
"Gua udah lapar, tadi gak sempet ke kantin dulu," balas Jovan seraya menyeruput juice alpukat dari gelas tinggu yang sedang di pegang Selvy.
"Yaolooh tolong, sabar dikit napa.? Ya udah, lu mau bakso atau mie ayam?" tanya Selvy kemudian
"Terserah, mau dua-duanya juga boleh, hehehe," balas Jovan seraya menarik sebungkus rokok putih yang tergeletak di meja depan Selvy.
"Wow, ternyata Jojo sudah merokok sekarang, hehehe." Selvy berseru kegirangan.
"Nyoba-nyoba. Iseng aja mumpung ada yang gratis, hehehe."
__ADS_1
Selvy berjalan mendatangi penjual bakso yang duduk santai dekat gerobak besarnya. Tak lama kemudian dia kembali ke tempat semula.
"Oh iya selanjutnya, gimana Sel?" Jovan mengepulkan asap dari mulutnya yang kaku dan wajahnya meringis menahan batuk.
"Aduh santai aja, Jo, kenapa sih mesti buru-buru. Belanda masih jauh, hehehe," balas Selvy seraya tersenyum geli menatap Jovan yang sedang memaksakan diri mengisap rokok yang belum familiar dengan bibir dan mulutnya.
"Iya sih, Belanda emang masih jauh, tapi ade gua udah pada nunggu di rumah."
"Lah terus sekarang mereka sama siapa?"
"Sama nyokapnya si Aldo."
"Jadi ceritanya jadi single parent nih, hehehe."
"Lebih malah, gua kan jadi kakaknya juga, hehehe."
"Luar biasa. Gue salut sama lu, Jo. Laki-laki, usia masih muda, tapi tetap tegar dengan segala cobaan hidup yang cukup berat.“
“Ya dipaksakan tegar Sel.”
“Gak semua orang bisa setenang lu, ngadepin masalah yang seberat itu.”
“Hahaha, kata anak-anak gua sekarang mulai sedikit berubah.”
“Wajar ada sedikit perubahan. Jujur aja, gua ngedenger dari si Aldo keadaan keluarga lu yang sekarang, gue ikut nangis and prihatin." Ucapan Selvy terpotong pedagang yang menyuguhkan mie ayam bakso dan dua botol teh dingin.
“Gua makan dulu, lapar banget! Ceritanya lanjut sambil makan ya, hehehe.” Jovan memelas.
Bersambung - Nakal Tapi Baik
__ADS_1