
Terperangkap Dalam Dosa
Segunung penyesalan yang sangat dalam seketika merasuki jiwa Aldo. Menyesal telah mengenal Bunda Fahira lebih dekat. Menyesal telah mudah terbius bujuk rayunya. Menyesal telah menjadi pemuas nafsu wanita aneh itu, dan dia pun sangat menyesal telah menjadi bagian penghancur keluarga Jovan, sahabat sejatinya.
Dua bulan yang lalu, Aldo hanyalah seorang remaja yang sangat polos. Di sekolah dia mendapat julukan playboy cap kupu-kupu karena biasa hinggap di mana-mana, nemplok sana nemplok sini. Tetapi, tak ada satu pun gadis yang menjadi pacar tetapnya. Aldo selalu bersikap baik, manis dan romantis pada semua cewek tapi bukan perusak anak perawan orang.
Sebagai remaja yang sedang tumbuh dan memasuki masa pubertas, Aldo pun tidak terlepas dari pergaulan remaja pada umumnya. Tetapi tak pernah sampai terlalu jauh apalagi melampaui batas. Sekedar berpelukan mesra atau berciuman dengan lawan jenis, sudah sering Aldo lakukan. Walau bukan dengan pacar.
Pengalaman dunia yang jungkir balik, baru Aldo rasakan setelah mengenal Bunda Fahira lebih dekat dengan cara yang sangat tak terduga.
Sesaat setelah peristiwa itu terjadi, dia bahkan masih belum mempercayainya.
Pada suatu malam, Aldo sedang nongkrong rame-rame dengan sejumlah temannya dari kompleks sebelah yang seluruhnya bukan siswa SMA Garuda. Aldo sangat luas pergaulannya, sahabat-sahabat di lingkungannya lebih banyak dari sekolah-sekolah yang berbeda.
Keasikan dan kegembiraan Aldo dengan teman-temannya malam itu, sedikit terganggu oleh sebuah mobil yang datang dan berhenti dekat mereka.
Seorang wanita yang mengendarai mobil itu, melambaikan tangan sambil memanggil nama Aldo.
Aldo sedikit terkejut. Segera dia mendatangi mobil itu dan terbelalak. Wanita dalam mobil dan memanggilnya ternyata Bunda Fahira.
Beberapa kali Aldo mengucek matanya. Tak percaya dan hatinya bertanya-tanya.
'Ada apa dengan Bunda? Mengapa malam-malam begini masih gentayangan di mobil sendirian?'
"Do, antar bunda ke apotik. Kamu bisa bawa mobil kan?" Bunda Fahira bicara setelah beberapa saat Aldo hanya berdiri tertegun di samping mobilnya.
"Siap, Bunda!" Aldo menjawab antusias setengah sadar.
"Saya pamit dulu sama teman-teman, Bun," lanjut Aldo seraya berlari kecil kembali ke kumpulan teman-temannya yang berjarak kurang lebih 20 meter dari mobil itu.
'Yes, ini kesempatan emas yang sangat langka. Gua gak boleh menyia-nyiakannya. Kenal dekat dengan Bunda adalah sebuah anugerah terindah buat cowok manapun. Kalau si Jojo bisa, mengapa gua kagak? Gua akan bikin Bunda sayang setengah mati sama gua. Yes yes yes!'
Aldo tak henti-hentinya bersorak kegirangan dalam hati.
Lebih bahagia dari saat dia mendapat door prize kaos kaki hitam saat acara pensi di sekolahnya.
Setelah berpamitan dan tertawa riang dengan teman-temannya. Aldo segera masuk mobil, duduk di belakang kemudi.
Jantungnya seketika berdetak hebat, sekujur tubuhnya kaku bahkan nyaris tak bisa digerakkan.
Bunda Fahira yang selama ini dikenal sebagai wanita yang selalu menutup auratnya, duduk santai di samping kirinya dengan hanya memakai piyama lengan dan celana pendek.
Walau tidak transparan dan sedikit longgar. Namun paha, kaki, lengan dan gunung kembang di dadanya terekspose sempurna.
Beberapa kali Aldo menelan saliva. Matanya sesekali menatap spion depan. Sudut matanya pun ikut melirik ke samping kiri. Memastikan wanita yang duduk di sebelahnya benar-benar Bunda Fahira.
Bukan penculik brondong yang sedang menyamar.
Aldo didera nervous, grogi dan salah tingkah tak karuan. Sekujur tubuhnya panas dingin dan juniornya tiba-tiba beraksi. Mengeras, memanjang dan membesar di balik kolor sepak bolanya.
Aldo terkesima, bahkan tak sanggup memutarkan kunci kontak untuk menghidupkan mesin mobil.
__ADS_1
Bunda Fahira tersenyum kecil. Dia sangat paham apa yang sedang dialami remaja tinggi kurus dengan wajah tirus hitam manis yang masuk dalam 6 besar cowok terganteng dan termanis SMA Garuda.
Sudut mata sang bunda bahkan dengan sangat jelas melihat perubahan celana bola Aldo yang tiba-tiba menyembul.
"Aldo kenapa, kok malah bengong?" tanya Bunda Fahira seraya menyampirkan tangan kirinya di paha Aldo yang terbalut celana bola berbahan spandek.
"Tii eeh iii iya, Iii bu eh, bunda mau kemana?" Aldo bertanya gugup. Sentuhan lembut di pahanya kian mengacaukan pikiran dan mendidihkan darah mudahnya.
"Terserah Aldo aja, bunda juga bingung mau kemana!" jawab Bunda Fahira tak bersemangat.
"Kok terserah saya, Bun? katanya tadi mau ke apotik, apotik mana?" Aldo menatap heran Bunda Fahira yang sibuk dengan ponselnya.
"Bunda baru pulang dari apotik. Sekarang lagi pengen cari angin. Terserah Aldo mau jalan kemana, kalau bisa sih ke tempat yang sepi dan berudara segar. Bunda lagi pengen cari angin, Do."
"Oh gitu, siap, Bunda!" Aldo yang sudah meyakini wanita di sebelahnya, bukan penculik brondong menjawab antusias.
Dengan semangat '58 dan harapan besar yang tak terkira serta suhu tubuh yang semakin meningkat tajam, Aldo mengendarai mobil. Sesekali matanya melirik ke samping kiri, mengintip Bunda Fahira yang masih sibuk dengan ponselnya.
Aldo tidak tahu jika saat ini hati bunda Fahira sedang sangat marah dan kecewa. Brondong idamannya tidak tahu berterima kasih dan tega menghempaskan dirinya dengan sangat hina. Dia pergi meninggalkan dirinya dalam keadaan tidak berdaya digulung gairah dan gelora birahi yang belum tertuntaskan.
Hasrat yang sudah sekian lama dipendamnya, terpaksa harus kandas pada saat tinggal beberapa langkah lagi.
Dering telepon dari Bu Anita, telah menghancurkan segalanya.
Wanita yang selama ini sudah banyak mendapat keuntungan darinya itu, telah sukses menjadi pengganggu yang menorehkan dendam di hatinya.
Aldo menghidupkan musik, menghangatkan suasana dan mengendurkan urat syarafnya yang makin tegang.
Apalagi setelah Bunda Fahira mengangkat sebelah kakinya. Duduk bersila di atas jok, hingga paha dan pakaian dalamnya jelas terekspose.
Tak berapa lama kemudian, Bunda Fahira duduk bersandar seraya memejamkan matanya. Menikmati angin malam yang sejuk dan sedikit mendinginkan hatinya yang panas.
Seketika itu juga, pikiran Aldo langsung tertuju pada sebuah kawasan perbukitan di kaki Gunung Salak.
Dari ketinggian hampir 2000 meter di atas permukaan laut itu, akan terhampar pemandangan malam yang sangat indah.
Bahkan gemerlapnya kota Bogor dan Jakarta terlihat nyata dan sangat menakjubkan.
'Yes, apapun yang terjadi, gua harus bisa menaklukan Bunda. Gua ajak dia ke tempat romantis, sepi nan indah. Dari gesturnya, dia sedang sangat butuh kehangatan. Dan gua wajib memberikannya, agar bisa mendapat fasilitas seperti si Jojo. Yes, gua bakal jadi bintang Garuda.'
Aldo senyum-senyum sendiri sambil berdendang Paint My Love bersama Mickael Learn To Rock..
Dua lagu terputar sempurna dan Aldo memarkirkan mobil di salah satu bahu jalan perbukitan yang sangat sepi.
"Do, dimana ini?" tanya Bunda Fahira dengan nada terkejut. Matanya seketika mengitari sekeliling mobil dengan sesekali menatap Aldo yang tersenyum teduh, santai, mesum dan menenangkan.
"Bukankah Bunda ingin cari angin yang segar?"
"Yes."
"Di kaki bukit ini, Bunda bisa mendapatkan angin segar dan bersih, sepuasnya. Bisa juga menyaksikan pemandangan malam yang sangat indah tanpa terganggu oleh siapapun."
__ADS_1
"Oh my God, wonderful" balas Bunda Fahira dengan mata sedikit terbelalak menatap lurus ke dapan.
Aldo tersenyum puas. Debaran jantungnya kian membuncah. Kecantikan dan keindahan tubuh istri sang pemilik yayasan yang duduk di sampingnya, kian memesona dan menggairahkan bermandikan cahaya lampu mobil yang sedikit temaram.
"Kalau gitu kita turun aja, Do." balas Bunda Fahira seraya memakai jaket boomber kegemarannya.
Tak berapa lama kemudian dia membuka pintu mobil dan turun.
"Wow... udaranya sejuk dan segar sekali, Do!" Bunda Fahira berseru sesaat setelah berdiri menginjakan kakinya di samping mobil.
Mulut dan hidungnya menarik napas dalam-dalam dengan kepala mendongak. Mengisi rongga dadanya dengan udara yang sangat bersih menyegarkan.
Setelah mematikan mesin mobil, Aldo keluar lalu berdiri mematung di sebelah kiri mobil. Matanya tak berkedip memandangi Bunda Fahira yang berjalan kecil ke sana ke mari mengitari daerah sekitar. Kedua tangannya terbentang dengan wajah yang mendongak.
Di bawah cahaya sinar rembulan dan taburan bintang di langit, Bunda Fahira memamerkan seluruh lekuk tubuhnya pada Aldo yang bengong. Dua gunung kembarnya yang terbungkus boomber tampak membusung indah membentuk siluet yang menggetarkan hati sang brondong.
Cukup lama Aldo menikmati pemandangan yang super menakjubkan itu.
Bunda Fahira pun demikian. Dia sangat terpesona dengan taburan bintang dan cahaya malam yang menentramkan hatinya.
Ingatannya pada Jovan yang sudah menghina dirinya beberapa jam yang lalu, sementara hilang sirna.
'Gua harus merayu dan membuai wanita tajir ini habis-habisan. Agar Posisi Jovan tergeser. Bukankah senjata gua juga tak kalah panjang dan besarnya? Good bye Jo, wanita simpanan lu, selangkah lagi ada dalam penguasaan gua, hahaha,' batin Aldo bersorak gembira seraya membuang puntung rokoknya.
Setelah itu, Aldo berjalan mendekati Bunda Fahira yang berdiri bersandar pada kap depan mobil. Dia pun berdiri di sampingnya, lalu bersandar. Membiarkan celana bolanya menyembul dan terpampang nyata tanpa penghalang.
"Bunda, kenapa tadi di mobil sepertinya galau banget" Aldo basa-basi. Tangannya lembut mengelus celananya yang menyembul.
"Aldo kenal dekat dengan Jovan, kan?" Bunda Fahira balik bertanya.
Matanya sontak tertuju pada tangan Aldo yang sedang mengelus-elus juniornya.
"Pastinya, kan dia tetangga sebelah saya, Bun." Tangan Aldo makin lembut naik turun.
"Oke, menurut Aldo, kurang apa lagi Bunda sama dia dan keluarganya?" Bunda Fahira tak bisa mengalihkan pandangannya dari tangan Aldo.
"Kalau menurut saya, tak ada lagi orang yang lebih baik pada Jovan dan keluarganya, selain Bunda. Ayahnya sendiri bahkan sudah tidak peduli." Aldo menjawab seraya menggeser tubuhnya lebih rapat dengan tubuh Bunda Fahira yang sedikit menyamping.
"Iya, tapi Jovan tidak mengaggap begitu. Dia malah merendahkan Bunda, Do." Suara Bunda Fahira mulai bergetar, sentuhan junior Aldo pada pinggang kanannya mulai membuyarkan konsentrasinya.
Gairah yang semula sempat padam, tiba-tiba mulai menyala dan membakarnya libidonya lagi.
"Bun, ngobrolnya dalam mobil aja, di luar anginnya kencang, takutnya Bunda masuk angin." Aldo mengambil tangan kanan Bunda Fahira dan meletakkan pada celana bolanya yang menyembul.
Bunda Fahira terbelalak.
"Bo.. bo.. boleh, Do. Kita di dalam aja." Bunda Fahira menjawab gagap, isi kepalanya kosong melompong.
"Iyes, akhirnya bunda menyerah. Gua gak peduli harus terperangkap dalam dosa, yang penting bisa hidup aman, nyaman dan puas dengan full fasilitas dari si cantik. Yes, yes iyeeees!"
Bersambung – Mobil Yang Bergoyang
__ADS_1