Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga

Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga
Bagian Dua Tujuh


__ADS_3

Kedatangan Tamu Istimewa


Salah satu terobosan yang diterapkan Jovan saat menjadi Ketua OSIS ialah membuka 'Dompet Bersama'. Khusus dibuka pada saat ada siswa atau orang tua siswa yang mengalami musibah, kemalangan atau sakit. Bukan hanya siswa, guru-guru dan siapapun dipersilakan menyumbang tanpa batasan dan tanpa ikatan. Bukan hanya dalam bentuk uang cash, Dompet Bersama juga membuka transfer rekening dan pulsa.


Lukman, anak salah seorang pemilik counter yang cukup besar, selalu bersedia menjadi pengumpul semua sumbangan dalam bentuk apa pun. Selanjutnya dia akan mengkonversinya ke dalam bentuk uang cash, kemudian melaporkan rinciannya.


Budaya yang sangat baik dan sampai kini masih dipertahankan. Biasanya tidak kurang 4-5 juta rupiah, dana terkumpul, selama pembukaan 'Dompet Bersama' yang dibatasi 1 sampai 3 hari. Elva dan Nadya selalu kebagian menyerahkan semua sumbangan itu mewakili Pengurus OSIS. Dan untuk tahun ini tentu saja akan disalurkan oleh pengurus OSIS yang baru.


"Oh iya Jo. Ini ada titipan dari Elva." Nadya membuka tas soren kecil. Lalu mengeluarkan amplop putih dan menyodorkan pada Jovan.


"Itu dari aku sama Elva. Khusus buat mama, guru masak kami, hehehe," lanjut Nadya dengan senyum semringah.


"Oh iya terima kasih Nad, tolong sampaikan terima kasih juga buat Elva." Jovan menerima amplop dan memasukannya ke dalam saku celana panjangnya.


"Hmmm bilang aja besok langsung sama orangnya. Elva pasti kesini kok., dia udah kangen berat sama Jojo-nya, hehehe." Nadya kembali terkekeh. Dia senang melihat Jovan yang sama sekali tidak murung.


"Hmmm." Jovan melebarkan kedua tangannya seraya tersenyum bahagia. .


"Gak percaya ya? Elva nyesel tingkat dewa, udah bicara kasar and buruk sangka sama Jojo-nya. Biasa pengen balikan lagi, hehehe. Udah dua minggu dia gak mau ngapa-ngapain di rumahnya." Nadya bicara serius.


"Alay ah Nadya. Buktinya di sekolah Elva biasa aja, malah makin ceria."


"Hmmm, ceria dari Hongkong. Liat kamu ngobrol sama cewek lain aja mewek. Terus marah-marah deh sampai rumahnya, hahahaha."


"Hehehe, ada-ada aja."


"Emang Jojo gak kangen sama Elvanya?"


"Hehehe, ya udah bilangin sama dia jangan nangis lagi. Besok bakal Jojo peluk sampai gak susah napas, hahahaha." Jovan benar-benar melupakan segala kesedihannya.


Tak berapa lama Lukman dan Akmal kembali. Kini Bagas dan Nadya gantian uang besuk. Lukman dan Akmal pergi ke warung hendak membeli kopi dan rokok untuk persiapan begadang.


Tak lama kemudian datang Lucky seorang diri, dengan motor sportnya. Tanpa banyak basa-basi, brondong Ambon Sunda itu langsung mengajak Jovan ke belakang mobil Bagas untuk bicara empat mata.


"Jo, lu bisa jelasin lebih detail gak, apa sebenarnya yang terjadi antara lu sama Bunda Fahira?" Lucky bertanya serius.


"Hah, kenapa nanyain gituan? gua udah melupakannya, Bro." Jovan mengelak.

__ADS_1


"No. Gua yakin sakitnya nyokap lu ada sangkut pautnya sama cewek aneh itu."


"Hahaha, Kenapa lu berburuk sangka sama Bunda Fahira?"


"Bro, kata si Aldo, nyokap lu depresi. Bisa jadi dia memendam beban pikiran karena malu diperlakukan tidak manusiawi sama Bunda Fahira. Diberhentikan dari kantin secara mendadak, dan lu difitnah sebegitu kejinyanya. Nyokap lu gak bisa melawan, dia sakit hati dan ditahan-tahan, akhirnya depresi."


"Bro, sepertinya bukan itu. Sejujurnya hubungan bokap sama nyokap gua udah hampir dua tahun ini gak beres. Nyokap menderita batin karena bokap. Makanya gua sekarang mau fokus ngeberesin urusan sama bokap gua."


"No! Bukan cuma itu. Bro. Gua sama Aldo mau nyusun rencana buat nyelesain masalah lu dengan Bunda Fahira. Gua denger dia sedang menyusun rencana buat nge-DO lu dari sekolah."


"Oh ya?"


"Yes. Sebenarnya gua mantau dia, sejak Angel dan si Alfin di DO. Gua ngerasa ada kejanggalan. Soalnya si Angel sama si Alfin, masih baik-baik saja sekolah di tempat lain."


"Hah! Lu pernah ketemu Angel?" Jovan terperanjat.


"Sering."


"Kenapa lu gak pernah ngomong sama gua?"


"Yaelah buat apa? Sejak dulu lu ngebenci si Angel. Lagian lu kan udah punya hubungan sama si Elva."


"Oke. Gua yakin, si Angel diberhentikan karena Bunda Fahira cemburu sama lu. Dia cari alasan dan merekayasa kasus. Nah ini yang sedang gua pelajari sama si Aldo. Jujur aja gua kemarin malam ke rumah Bunda Fahira sama si Aldo."


"Oh! Jadi si Aldo sama elu ke rumah ibu cantik itu?"


"Ya, Pokonya gua sama Aldo, udah banyak ngantongin fakta. Banyak kejanggalan  tentang kasus Angel, Alfin, keluarga lu juga bokap lu."


"Bokap gua? lu pernah ngeliat bokap gua, Luck?"


"Bro, lu kenal gua bukan sehari. Lucky si Ambon anak jalanan. Jadi udah sering gua ngeliat bokap lu. Kita sama-sama anak rantau. Gua turut prihatin dengan semua yang menimpa lu."


"Tapi jujur aja, gua kadang ragu sama Aldo. Dia masih suka nyeleneh." Jovan sedikit mengernyitkan dahi.


"Hahaha, kaya baru kenal si Aldo aja. Tapi jangan ragukan kesetiakawanan dia. Walau otaknya kadang sengklek bin mesum, tapi urusan ngebela teman gak usah diragukan lagi. Gak ada yang bisa nyaingin dia."


"Bener sih."

__ADS_1


"Gini aja, Bro, mulai besok, gua yang urus Bunda Fahira. Lu tenang dan fokus urusin keluarga lu. Kalau sampai Fahira bikin ulah, gua udah siap ngeluarin kartu As-nya. Lu santai santai aja, setuju?"


"Terserah lu aja. Yang penting jangan sampai mencelakakan lu sendiri. Gua gak mau ada korban lagi. Gua mikirin keluarga aja udah pusing setengah mati. Jujur aja mikirin buat biaya rumah sakit aja gua masih bingung. Gak tahu nyokap gua punya tabungan apa kagak. Bokap gua gak bisa diandalkan."


"Udah deh, urusan biaya, biar si Lukan sama Elva yang urus. Berapa sih biaya rumah sakit, nyokap lu punya BPJS juga kan?"


"Ada."


"Ya udah, santai aja. Gua akan bantu, sampai beres. Tapi malam ini, gua gak bisa nemenin lu begadang. Kalau besok nyokap lu masih di rawat, gua gantian sama anak-anak begadang di sini, oke!"


"Thank you, Sob. Gua salut sama kalian semua."


"Hahaha, berkat lu juga. Siapa menanam pasti menuai. Lu selama ini baik sama semua orang, wajar kalau kita membalasnya."


"Ingat Sob. Lu gak sendirian. Masih ada si Lucky Larat Mase, anak Ambon yang siap membantai siapapun yang berbuat sewenang wenang sama siapapun."


Lucky dan Jovan berpelukan.


"Gua percaya sama lu, Sob. Gua percaya!" Jovan nyaris meneteskan air matanya karena terharu memiliki sahabat-sahabat yang sangat bisa diandalkan dalam segala situasi.


Jovan dan Lucky kembali berpelukan.


"Sob, gua cabut dulu." Lucky memegangi punggung dan bahu Jovan dengan hangat. Laksana seorang kakak yang menguatkan adiknya, karena postur tubuh Lucky lebih besar dan tinggi dari Jovan.


"Gak nunggu anak-anak dulu? Lukman sama Akmal lagi beli kopi. Terus Bagas, Nadya sama Aldo masih besuk nyokap. Bentar lagi mereka keluar, Luck." Jovan berusaha menahan Lucky agar mau sedikit bersabar.


"Sorry Bro, gua masih ada kerjaan lain. Oh iya, gua minta, lu jangan cerita sama anak-anak, kalau gua udah datang nemuin, lu." Lucky berpesan setengah berbisik.


"Kenapa?" Jovan menjawab dengan bisikan juga, dan seketika keningnya mengernyit menatap Lucky yang matanya jelalatan melirik ke segala arah. Seperti sedang mencari seseorang.


"Gak papa. Gua yakin besok anak-anak bakal negur gua, karena gak ke sini. Hehehe. Udah ya Sob, gua buruan cabut nih," balas Lucky tegesa-gesa.


Tak sampai lima menit, Lucky dan motor sportnya sudah menghilang dari pelataran parkir dan wilayah sekitar rumah sakit.


Meninggalkan Jovan yang masih melongo. Heran dan tak mengerti dengan sikap Lucky yang seperti orang ketakutan atau dikejar-kejar sesuatu.


Bersambung – “Rekayasa Yang Sempurna”

__ADS_1


 


 


__ADS_2