
Sibuk Akibat Terciduk
Jovan tak pernah menduga. Peristiwa memalukan insiden Upacara Bendera beberapa bulan yang lalu, membawa kesibukan dan perubahan alur hidup yang sangat menakjubkan.
"Itu namanya terciduk membawa sibuk!" canda Aldo saat mereka ngobrol sambil nongkrong di salah satu warung kopi yang tak jauh dari sekolahnya.
"Rizki anak soleh, mudah-mudah varokah, hehehe." Seperti biasa, Jovan menanggapinya santai.
"Gimana gak varokah, yang backing Bunda Fahira, Sang istri pemilik yayasan sekaligus pengusaha kondang. Gila aja kalau sampai kantinnya gak lancar jaya dan laris manis, hahaha," timpal Yudis salah seorang di antara lima siswa yang sedang duduk-duduk santai.
"Itu salah satu hikmah terciduk. Makanya jangan berprasangka buruk kalau dipanggil ke ruangan si cantik bak bidadari itu. Di balik celana yang ketat, pasti ada peluang yang hebat, bener gak Jo? hahaha," tawa Rizal yang postur tubuhnya paling kerempeng seketika membahana.
"Maybe yes, maybe no, hahaha." Jovan kembali membalas santai.
"Kapan ya gua bisa jadi cogan kesayangannya Bunda Fahira?" Aldo merenung sejenak seraya menatap Jovan penuh harap, "Jo, kalau gua jadi lu, gak bakal minta dispensasi buat ngisi kantin segala. Capek! Mending langsung aja minta motor atawa uang jatah bulanan. Gua yakin Bunda Fahira bakal ngasih berapa pun yang lu minta," lanjut Aldo seraya nyengir kuda.
"Itulah bedanya lu sama si Jovan. Sekarang lu sadar kan, kenapa Allah gak ngebukain pintu hati Bunda Fahira buat menyayangi lu? Karena otak lu mesum penuh modus, hahahaha." Bagas membela Jovan yang hanya manggut-manggut kalem.
Hati Jovan miris. Tak mengerti, mengapa teman-temannya selalu beranggapan miring atas kedekatan dirinya dengan Bunda Fahira.
"Van, lu gak niat ngadain pergantian pemain gitu? Gua selalu berdoa lu segera putus dengan Bunda Fahira. Dan gua siap jadi penggantinya, hahaha" Akmal tak mau kalah.
"Gedein dulu tuh barang, baru bisa gantiin si Jovan. iya gak, Sob?" Yudis menimpali.
"Serius Jo? Emang itu rahasianya?" Akmal mulai membuka celah.
Semua wajah cengo menatap Jovan. Sesungguhnya bukan hanya Akmal yang penasaran. Para sahabat terdekat Jovan, sejak lama selalu kepo dengan isu yang menyebutkan kalau Jovan menaklukan Bunda Fahira, dengan senjata laras panjangnya yang aduhai.
"Kalian mau tahu rahasianya?" tanya Jovan dengan mata jelalatan memandangi satu per satu wajah temannya yang cengo dan melongo.
"Bangeeet, Sob!" Mereka menjawab kompak.
__ADS_1
"Dari semua rahasia gua yang biasa diceritakan sama kalian..." Jovan menahan ucapannya seraya mengelus-elus dagunya yang mulai ditumbuhi janggut tipis.
"Mungkin hanya rahasia ini yang gak bakal kalian dapatkan, hahahaha." Jovan tertawa puas seraya menunjuk-nunjuk wajah teman-temannya yang kecewa berat.
"Wadaaaau pedaaaaas!!! Hahahahahaha." Akmal, Bagas, Aldo, Yudis dan Rizal kembali melantunkan koor kebangsaan SMA Garuda, diiringi tawa yang menggelegar menyemarakkan warung kopi yang kebetulan sedang sepi.
Seiring dengan berputranya waktu, perkembangan mental Jovan makin membaik. Kini dia tak mudah baper dalam merespon semua gosip atau candaan teman-temannya yang menyangkut hal paling privacy sekalipun.
Sikap Bunda Fahira yang super manis dan mempercayakan semua penanganan siswa bermasalah pada Pak Yudha dan Jovan, makin membuat anak sulung Bu Anita itu tampak berwibawa dan dewasa.
Pelanggaran disiplin sekolah oleh siswi nyaris tidak ada. Sementara para siswa pembangkang, satu per satu menjadi sahabat dekat Jovan dan mulai melunak.
Terobosan yang sangat luar dari dari sang empunya yayasan, sukses diaplikasikan dengan sangat baik oleh Jovan dengan didukung seluruh elemen sekolah yang berkepentingan.
Hampir bisa dipastikan. Di balik segala kesuksesan pasti ada angin yang mulai berhembus kencang.
Gosip hubungan Jovan dengan Bunda Fahira, makin merajalela. Walau Jovan menanggapinya jauh dingin, santai dan bersahaja.
Popularitas Jovan makin melambung. Dia kian bersemangat menata hidup keluarganya yang sudah memasuki taraf sejahtera. Punya banyak waktu mengasuh dan membimbing kedua adiknya. Sambil berusaha melupakan ayahnya yang makin tak jelas.
Jovan hanya sehari pergi ke Bandung, mengantar Julia dan Naufal berlibur di rumah neneknya. Dia tak bisa berlama-lama libur menemani adik-adiknya seperti masa-masa yang lalu.
Setumpuk tugas sudah menantinya. Daftar pesanan kue dan masakan dari para pelanggan, sudah memenuhi kalender mamanya yang terpasang di dinding dapur.
Jovan berkewajiban membantu mamanya, mulai dari belanja barang bahan, mengolah hingga mengantar seluruh pesanan sampai ke tangan pelanggan.
Semua sudah disepakati sejak semula. Bu Anita menerima pesanan kue dan masakan saat libur, berdasarkan persetujuan Jovan yang siap membantu secara penuh.
Jovan sangat bersyukur liburan kali ini bisa diisi dengan kegiatan yang sangat produktif dan bernilai ekonomis tinggi. Dia sering mendapat uang jajan tambahan. Beberapa pelanggan rela memberikan uang tips yang lumayan besar, saat pesanannya diantar.
"Jo, kalau saja Neng Angel masih sekolah di Garuda, pasti kantin kita lebih rame lagi, ya." Bu Anita membuka kembali obrolan tentang Angel.
__ADS_1
Tangannya yang lincah dan terlatih, tak berhenti memasukkan sedikit demi sedikit kue ke dalam loyang cetakan untuk selanjutnya dimasukan dalam microwave.
Jovan tak menjawab. Pikiran, mata dan tangannya sedang fokus mengukur terigu dan bahan lainnya pada timbangan ukur. Lalu memisahkan sesuai list resep yang diberikan mamanya.
"Kalau menurut Jojo, malah jadi sepi." Jovan menjawab beberapa saat kemudian, "kan yang mau jajan pada kabur kalau ada Angel, hehehe" lanjutnya seraya berdiri meluruskan kaki dan pinggangnya yang pegal.
"Hmmm mama sih gak percaya sama omongan teman-teman Jojo. Neng Angel gak sejahat dan seburuk yang mereka tuduhkan. Itu sih mereka aja yang pada ngiri." Bu Anita tetap teguh dengan pembelaannya pada Angel. Kekaguman mamanya Jovan, tak pernah pudar.
"Semua orang bebas menilai. Kita, gak bisa memaksa mereka untuk memberikan penilaian baik pada Angel. Toh kenyataannya hampir semua siswa dan guru, memberi cap kurang bagus sama dia. Apalagi dengan adanya kasus itu. Tambah buruk deh reputasinya." Jovan mencoba bijaksana. Berusaha terus menyadarkan mamanya yang masih tidak percaya kalau Angel diberhentikan dari sekolah karena kasus kehamilan.
"Jojo kenapa masih benci sama Neng Angel?" Bu Anita bertanya dengan nada yang terdengar kurang senang.
"Sejak dulu, Jojo gak pernah membenci Angel. Jojo hanya gak suka dengan kelakuannya yang terkadang kelewat batas. Masa sih Jojo harus membenci cewek secantik dan sebaik Angel?" Jovan berusaha mengibur dan menyenangkan mamanya yang mulai cemberut.
"Sekarang kan liburan, siapa tahu Neng Angel main ke sini. Mama udah kangen banget sama dia. Kalau dia main ke sini, Jojo mau nerima gak?" Bu Anita bertanya seraya menghentikan sejenak aktifitasnya mengocok telor, lalu menatap Jovan penuh harap.
"Emang kapan Jojo pernah ngusir Angel dari rumah ini?" Jovan balas menatap mamanya.
"Bukan ngusir sih. Cuma kalau Neng Angel kesini Jojo gak pernah mau nemenin. Malah suka kabur ngehindar gitu, hehehe." Bu Anita menatap wajah anaknya. Untuk mengetahui bagaimana ekspresinya. Hatinya masih tetap berharap antara Jovan dan Angel ada ikatan batin yang spesial.
"Kalau gak kabur, nanti kaya si Alfin, dimintai tanggung jawab menikahinya. Emang mama yakin, Angel sekolahnya pindah ke Surabaya? Bukannya kalau hamil gak bisa melanjutkan sekolah?" Jovan memancing feeling mamanya.
"Sedikit pun mama gak percaya kalau Neng Angel hamil. Soalnya waktu terakhir ke sini, mama gak liat ada tanda-tanda orang hamil. Mama ini sudah tiga kali hamil, jadi tahu mana orang yang hamil mana yang enggak. Emangnya Jojo percaya kalau Neng Angel hamil?" Bu Anita balik tanya.
"Gimana ya bingung, Jojo juga gak bisa bedain cewek hamil atau sama yang enggak. Kecuali kalau perutnya udah buncit. Waktu terakhir ngeliat Angel di ruangan Bunda Fahira, perut dia biasa-biasa aja, belum gendut." Jovan menatap mata mamanya yang tiba-tiba sayu dengan raut wajah yang mendung.
Bersambung – “Bukan Cinta Rahasia”
__ADS_1