
Like Father Like Son
Ketika Jovan sedang mandi. Bu Surya, justru sedang berdiri mematung depan cermin besar meja rias di kamarnya. Celana jeans ketat, kaos dan celana dalam sudah terlepas. Tubuhnya yang putih mulus hanya tertutup bra hitam berenda. Rona wajahnya memerah, napas memburu dan jantung berdegup kencang tak beraturan. Istri Pak Surya itu, sedang dilanda birahi tingkat tinggi.
Tangan kanan mengelus dan meremas gunung kembarnya di balik bra. Sementara tangan kirinya memegangi ponsel yang sedang memutar video adegan mesum antara Pak Fuad dengan seorang wanita yang tak dikenalnya.
Bu Surya begitu penasaran dan sangat terobsesi dengan video yang hampir setiap hari ditontonnya. Dia tak menduga, Pak Fuad, suaminya Bu Anita, memiliki rudal yang sangat besar, panjang dan menggairahkan. Selama ini dia tak pernah memperhatikan karena Pak Fuad tak pernah memasukan kemeja atau kaosnya ke dalam celana, sehingga tak pernah terlihat dari luar.
"Jojo... oooh Jojo, ternyata bentuk tubuhmu saat telanjang begitu sama persis dengan ayahmu," lenguh Bu Surya, seraya memejamkan mata dan mendongak. Tak lama kemudian kembali menunduk dan pandangannya fokus menatap adegan demi adegan yang terus bergerak pada layar ponselnya.
"Oh Fuad, oh Jovan...., bulu-bulu di sekujur tubuh kalian bahkan hampir sama. Kalian benar benar luar bisa. Ayah dan anak, sama-sama ganteng, sama gagahnya dan sama-sama menggairahkan. Aku tak bisa lagi membayangkan bagaimana indahnya bisa tidur dengan kalian berdua, ooooh..." Bu Surya memasukan jari jemarinya ke dalam mulut dan menjilatinya dengan gerakan lambat.
"Tapi, oooh... Jojo lebih menggilakan lagi, dia sangat segar dan gantengnya kebangetan, bahkan bau keringatnya masih menempel di hidungku, ooohsss Jojo aku rela merawat dan mengurumu, Sayang." Bu Surya tersenyum aneh.
Lidahnya melet-melet menjilati bibirnya sendiri. Kedua matanya merem melek dan tangan kanannya mulai bergerilya disekitar area kewanitaannya yang sudah sedikit basah.
"Oooh, Jojo, aku yakin bentuk dan ukuran rudalmu tidak akan jauh berbeda dengan ayahmu. Tadi aja boxermu sampai menyembul besar begitu. Apalagi kalau sedang bangun. Oooh bisa jadi akan mengalahkan punya ayahmu, oh... Jojo... kamu ganteng sekali, Sayaaaang." Mata Bu Surya kembali memutih dan merem melek.
Fantasinya melayang, sekujur tubuhnya mengejang panas membara. Gairah yang sudah meletup letup sejak pertama ngobrol dengan Jovan, mendesak minta untuk dituntasakan.
"Tunggu aja, Sayang. Aku akan menjadi ibu yang terbaik buat kedua adikmu dan aku akan menjadi yang terbaik juga buat dirimu. Sudah setengah tahun, aku tidak mendapatkannya dari Mas Surya yang sudah loyo. Ooooh... betapa bahagianya hidup ini, jika bisa tidur bersamamu, Jo. Cowok muda yang ganteng dan perkasa." Rintihan dan desahan Bu Surya makin liar.
Tiba-tiba tubuh Bu Surya meliuk-liuk lincah. Jari jemarinya makin menggila memainkan area kewanitaannya, hingga sebuah lenguhan panjang, memanggil naman Jovan mengakhiri kegiatannya pada tengah hari yang sangat panas itu.
Beberapa saat kemudian, wanita yang itu tergeletak di atas kasur, setelah dihempas kenikmatan yang maha dahsyat.
Sekujur tubuhnya lemas. Senyum genit penuh kepuasan tersunggging di bibirnya.
Bu Surya sudah tergeletak lemas, saat video mesum Pak Fuad dengan dua orang wanita muda, masih belum selesai terputar.
4 foto Pak Fuad sudah dihapusnya di depan Jovan. Namun dia masih memiliki foto vulgar Pak Fuad yang lainnya. Bahkan memiliki 2 video mesumnya, yang sering jadi fantasi dan teman masturbasinya. Jovan pasti tidak tahu, apa yang disembunyikan Bu Surya.
"Bagaimanapun caranya, aku harus bisa merasakan kejantanan dan keperkasaan Jojo. Cepat atau lambat. Mulai sekarang aku harus segera menyusun strategi dan memasang jerat. Jangan sampai dia keburu kuliah atau pindah ke Bandung, bisa-bisa aku dapat Zonk!." Bu Surya mengelap keringat di wajahnya.
"Nanti, kamu yang harus menguras keringatku, dan kamu juga yang harus mengelapnya, ya Jo."
__ADS_1
Tak lama kemudian dia bangkit dan bergegas masuk kamar mandi.
Sementara itu di tempat berbeda. Dengan hati yang sangat bahagia. Jovan membawa Naufal pulang dari sekolah. Bocah yang selalu ingin duduk di depan saat dibonceng itu, tak berhenti berceloteh tentang segala kegiatannya di sekolah.
Naufal selalu sukses menjadi cahaya penerang hati Jovan, dalam keadaan apapun.
Saat melewati toko alat tulis dan mainan, Jovan memarkirkan motornya. Untuk mengabulkan permintaan Naufal tadi pagi. Membeli buku dan peralatan gambar.
Si bungsu sangat gemar menggambar dan mewarnai. Dia bahkan telah mampu melukis pemandangan, jauh lebih baik dari kakaknya, Julia. Setelah membayar belanjaan, Jovan keluar seraya menuntun Naufal yang wajahnya semringah menenteng belanjaan yang dipilihnya sendiri.
Sesaat setelah menyalakan mesin motor, tiba-tiba ponsel Jovan bergetar dan berdering. Sejak mamanya sakit dan dirawat, Jovan memasang ponselnya dalam mode bergetar dan berdering kencang 24 jam.
Dia tak ingin ketinggalan sekecil apapun info tentang mamanya. Walau jantungnya selalu berdebar setiap mendengar dering ponselnya. Khawatir mendapat berita buruk perihal mamanya.
Jovan menarik napas panjang, setelah membaca nama pemanggil, Selvy Barcud.
"Haloo, Jojo ganteng lagi dimana?" Suara renyah dan genit menyapa Jovan di sebrang telepon.
"Lagi di toko, nganter ade gue yang paling ganteng, beli buku gambar dan lain-lain. Ada info apa cantik? Hehehe" Jovan bertanya ramah.
"Ashiyaaap cantik. Apa perlu gua bayar dimuka, biar lu gak waswas?"
"Hmmm sombongnya yang lagi banyak duit, hahaha."
"Ya, kali aja ragu. Gua juga udah gak sabar pengen segera ketemu, Sel. Tenang aja, gue pasti datang, kok. Kecuali ada kepentingan mendadak yang gak bisa ditinggalin."
"Yes! Aku percaya kok sama kamu, manusia paling tepat janji. Duuuh, makin gak sabar deh kalau dengar suara kamu yang super seksi itu. Sampe-sampe aku susah tidur loh Jo, pengen segera hari sabtu, hahahaha."
"Dua hari lagi, sabar honey. Tapi, lu bisa ngejamin kan gua bisa ketemu bokap?"
"Aku menjamin 100%, Jo. Buat kamu apa sih yang gak? Apapun bakal aku lakuin."
"Oke, udah dulu ya Sel, kasihan nih ade gua udah lapar, hehehe."
"Oke ganteng, jangan lupa salam buat Julia, ade kesayanganku, muuuach, i love you, asalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam,"
Belum sampai 200 meter Jovan melaju. Tiba-tiba sebuah mobil memberikan kode sen.
Sekian detik kemudian mobil itu menyalip perlahan. Aldo melambaikan tangan meminta Jovan menepikan motornya.
Jovan turun, sementara Naufal tetap duduk di motor sambil membuka kembali plastik belanjaanya. Memeriksa dan memastikan apa yang dipilihnya tadi, tidak ada yang ketinggalan.
Aldo dan Bagas turun dari mobil. Mendatangi Jovan yang berdiri di bawah pohon palm pinggir lapangan sepak bola, berjarak 10 meteran dari mobil Bagas.
"Kebetulan ketemu di sini, tadinya gua mau ke rumah lu, Jo." Bagas memulai percakapannya.
"Ada apa nyari nyari gua? Kangen apa mau minta tanda tangan? Gua lagi sibuk, Bro, hahaha." Jovan menatap wajah Bagas dan Aldo bergantian.
"Hah, bisa jadi. Tapi yang jelas, kepsek gak nerima surat pengunduran diri lu. Jadi besok dan seterusnya, lu wajib datang lagi ke sekolah." Bagas menatap Jovan yang seketika ekspresi wajahnya berubah.
"Oh ya udah. Kalau gitu anggap aja gua berhenti tanpa surat pengunduran diri, simple kan?" Jovan memalingkan pandangan menatap adiknya yang masih asik dengan barang belanjaanya.
"Maksudnya?" Aldo meminta penjelasan.
"Kepsek gak nerima surat pengunduran diri gua. Ya udah anggap aja gua ini si Burhan. Waktu kelas sebelas, dia berhenti dari Garuda. Tanpa ngomong apa-apa, tanpa surat pengunduran diri, tiba-tiba ngilang aja dari sekolah. Beres kan?" Jovan menatap Bagas.
"Ya gak gitu juga kali, Jo. Lu kan beda sama si Burhan. Kalau si Burhan emang udah jarang masuk sejak kelas sepuluh juga. Semua orang juga udah nebak kalau dia bakal berhenti. Jadi udah gak kehilangan. Tapi, kalau lu kan mendadak dan gak ada masalah, jelas dong bikin bingung semua orang." Bagas meluruskan argumen Jovan.
"Udah lah Gas, ga usah terlalu didramatisir. Gua bikin surat, buat ngehargai kepsek dan semua guru. Itu cara gua berpamitan dengan baik-baik. Kepsek nerima atau enggak, gua tetep berhenti dari SMA Garuda, Titik."
Bersambung – Gadis Kerudung Putih
__ADS_1