Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga

Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga
Bagian Dua Tiga


__ADS_3

Kiriman Uang Damai


Dengan jantung makin berdebar debar, Jovan membuka surat dalam amplop kecil yang diselipkan diantara tumpukan uang itu.


Teruntuk


Jovan, anak sekaligus adik Bunda yang tercinta.


Bunda mohon maaf atas segala kekhilafan. Bunda sangat menyesal dan merasa berdosa telah mengganggu hidupmu. Bunda berharap kamu memaafkan dan melupakan semua peristiwa memalukan yang pernah terjadi antara kita.


Jovan boleh membenci dan tidak berkomunikasi dengan Bunda, tapi jangan menurunkan semangat belajarmu. Tetap konsentarasi belajar dan semangat mengejar cita-cita, seperti yang telah sering kamu ceritakan. Bunda akan terus mendukungmu.


Uang dalam amplop ini bukan sebagai penghinaan, namun wujud penyesalan Bunda. Jika Jovan membutuhkan apa-apa, bicara saja langsung dengan Bunda. Semoga bisa bermanfaat dan kamu tetap melanjutkan sekolah seperti biasa.


Wasallam.


Fahira.


Beberapa saat Jovan terdiam lalu menatap Aldi dengan tatapn yang lebih teduh dan santai.


"Do, sorry. Sampaikan pada Bunda Fahira. Gua udah memafkan dan melupakan segala yang telah terjadi. Namun gua tidak bisa menerima uang ini. Permintaan maaf dan penyesalan tidak harus dinilai dengan sejumlah uang. Ada banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan uang."


Dengan jantung berdebar, Jovan merapikan kembali uang tersebut dan memasukkannya kemabli  dalam amplop. Sementara suratnya dia masukan ke dalam saku celana, untuk diberikan pada ibunya.


Pikiran buruk menghantui Jovan. Walau surat itu mengatakan Bunda Fahira sudah menyesali segala perbuatannya. Namun dia tak pernah bisa menduga-menduga. modus apa lagi yang sedang dirancang oleh istri kedua anggota dewan yang terhormat itu.


Cukup sekali Jovan menjadi korban kebusukan hati wanita yang sudah bersahabat dengan iblis itu.


"Lu serius menolak uang sepuluh juta?" Aldo masih belum yakin.


"Serius. bahkan mungkin jika lebih dari itu pun, akan tetap gua tolak." Jovan menjawab mantap.


"Lu tahu kan konsekuensinya menolak uang dari Bunda Fahira?" Aldo kembali bertanya.


"Gua juga tahu, apa konsekuensinya kalau menerima uang itu. Dua-duanya akan berdampak tidak baik buat gua. Dan gua siap menerima apapun yang akan dilakukan Bunda Fahira terhadap gua. Mungkin ini saatnya gua melawan." Jovan seketika bicara dengan nada menggeram.


"Serius lu, Jo?" Aldo masih belum percaya.


"Sangat serius. Gua udah bosan mengalah dan mengalah. Masih ada langit di atas langit!" pungkas Jovan dengan sinar mata yang mulai menyala, menahan kegeramannya.


Cukup berani dan sedikit mengejutkan. Walau Aldo telah sangat lama mengenal Jovan, namun dia tak menduga keputusan kakak Julia dan Naufal akan seekstrim itu.


Menolak uang damai sepuluh juta dari Bunda Fahira, sama artinya dengan membuka front perlawanan pada wanita berotak mafia itu. Atau bahkan bisa jadi hidup Jovan kedepannya lebih rumit lagi karena dibayang-bayangi ancaman dan bahaya yang mungkin saja sedang dipersiapkan Bunda Fahira.


Jovan bukan tanpa alasan menolak uang itu. Dia mengambil langkah demikian karena sudah tak mau lagi dipusingkan dengan segala urusan yang ada sangkut pautnya dengan Bunda Fahira, hubungan baik atau hubungan buruk. Jovan ingin segera menghapus semuanya. Hidup tenang dan berkonsentrasi membuat mama dan adik-adiknya tersenyum.


Mungkin peristiwa dengan Bunda Fahira semestinya tak perlu terjadi, andai saja Jovan sedikit mendengar pesan Elva. Sesaat sebelum dia pulang dari belajar membuat kue dan masak pada mamanya waktu itu.


"Jo, nanti malam mau ke rumah Bunda Fahira ya? Hati-hati dan jangan lama-lama di sana." Elva memegangi pinggang Jovan yang hendak mengantar ke mobil yang sudah siap menunggunya.


"Emang kenapa? nganterin pesanan doang, masa harus berlama-lama, hehehe." Jovan membalas seraya mencubit hidung bangir Elva yang sedikit kembang kempis mau nangis karena malas pulang.

__ADS_1


"Gak tahu, yang pasti aku gak suka aja kalau kamu berlama-lama ngobrol sama dia." Balas Elva seraya mengelap cream putih di sudut bibir Jovan, sisa kue tart yang mereka buat dan makan berdua.


"Yes! Akhirnya aku dicemburui juga sama kamu, hehehe," balas Jovan kegirangan.


"Gak juga. sebenarnya bukan cemburu sih, tapi apa ya namanya. Pokoknya aku gak suka aja kalau kamu lagi dekat sama dia. Perhatiannya agak lebay dan gak wajar. Apalagi kalau liat matanya. Hmmm jelalatan kayak predator yang sedang mengincar mangsa." Elva memutarkan kedua matanya, jengah.


"Wah, si Cantik Jojo, ternyata teliti juga ya. Sampai segitunya merhatiin mata Bunda Fahira." Jovan kembali mencubit dan memencet pipi serta hidung Elva.


"Bukan aku aja kali. Semua orang juga merhatiin. Anak-anak Garuda juga tahu kalau si killer gatel itu naksir berat sama kamu. Masa sih kamu gak ngerasa?" Elva sedikit merajuk.


"Enggak tuh. Atau lebih tepatnya, aku gak peduli dengan dia. Yang aku pedulikan cuma sinar cinta di matamu, yang menusuk hatiku dan menggetarkan seluruh jiwaku, hehehe." Jovan mencubit gemas kedua pipi Elva dengan kedua tangannya.


"Hmmm gombalnya jadul amat sih, hihihi." Elva balas memegangi kedua pipi Jovan. "Pokoknya hati-hati, aku gak mau kalau Jojo sampai tergoda oleh wanita aneh itu, titik!" Elva menyilangkan telunjuknya di bibir Jovan, tanda peringatan.


"Ahsyiaaap cintaku!" balas Jovan.


Dan kini semua kecemasan Elva terbukti. Gadis cantik anak Ketua Fraksi DPRD itu pun perlahan-lahan menjauh dan memutuskan hubungan, karena dia termakan isyu dan gosip yang biadab.


Jovan masih bisa memaklumi dan menerima keputusan Elva walau ada sedikit kecewa dan sakit hati. Namun dia tidak bisa menerima dalam beberapa hari terkahir mamanya terlihat sangat murung dan cenderung menutup diri.


Jovan bahkan hampir tiap malam mendapati mamanya menangis tersedu-sedu di dapur, ketika Julia dan Naufal sudah tertidur pulas.


Beberapa kali Jovan menanyakan ada apa dengan mamanya? Derita batin seberat apa yang ditanggung mamanya? Namun wanita berhati selembut sutra itu, selalu berkilah dan tak mau membagi beban deritanya.


Jovan sangat mengerti mamanya sedang gelisah dengan status pernikahannya yang digantung.


Pada bulan ini, ayahnya sudah tiga kali pulang ke rumah dan berakhir dengan pertengkaran hebat dengan mamanya. Namun setiap kali Jovan akan membantu melawan ayahnya, Bu Anita selalu melerai dan melarangnya.


Jovan akan mencari dan menyelidiki ayahnya secara diam-diam. Namun dengan tetap tidak meninggalkan kewajibannya sebagai pelajar.


"Bro serius nih uangnya gak mau lu ambil?" Aldo menyadarkan Jovan dari melongo dan lamunan panjangnya.


"Ya, kalau lu butuh ambil saja, Do, hehehe." Jovan menjawab santai untuk memastikan dia memang serius tidak akan menerima uang itu.


"Gila nih anak Sultan! Udah gak butuh duit ternyata." Aldo terbelalak, bibirnya tersenyum lebar.


"Justru anak Sultan paling butuh duit. Kan biaya hidup mereka lebih mahal. Jadi lebih banyak butuh duit, iya gak?" Jovan menggerakkan alis besarnya beberapa kali.


"Iya juga ya. Terus kalau duit ini gua pake semua, gimana Sob?" Aldo menatap Jovan dengan tingkat keseriusan yang lebih tinggi.


"Konsekuensinya berarti lu yang nanggung," balas Jovan santai.


"Alah payah nih! Gimana kalau kita 50:50 aja. Entar gua bilangin sama Bunda Fahira kalau uang itu sudah lu terima semua. Terus kita habiskan buat belanja. Anggap saja dapat jackpot casino, gimana, Bro?" Aldo menawarkan win-win solution.


"Terserah lu. Gua gak mau ikut campur. Lu mau pake belanja, mau disantunkan ke pakir miskin, mau dibuang atau dibakar, terserah. Hanya lu juga wajib siap dengan segala konsekuensi logisnya. Jangan mau makan jengkolnya tapi gak mau kena baunya, hahahaha." Jovan tertawa riang.


"Ini duit, Bro! Bukan jengkol. Sepuluh jeti lagi. Bisa buat ngajak si Nova dua hari dua malam nginep di hotel berbintang, hahahaha." Mata Aldo berkedip kedip membayangkan indahnya menginap dua hari dua malam dengan gadis incarannya.


"Cari penginapan biasa aja, biar bisa lima hari lima malam, hahahaha." Jovan menanggapi santai.


"Oh iya, Bro. Hubungan lu sama Elva beneran bubar?" Aldo kembali memasang wajah serius.

__ADS_1


"Yes. Semua cinta pada akhirnya akan diuji. Elva tidak kuat dengan gosip yang berhembus. Dia termakan isyu dan menuduh gua melakukan hubungan intim dengan Bunda Fahira. Padahal sudah gua jelasin." Jovan masih tetap dengan wajah tenang dan kalemnya.


"Terus?" Aldo kepo.


"Ya dia tetap percaya gosip. Dan gua gak punya waktu buat menghiba atau mengemis cinta. yang pertama nembak dia, kalau sekarang dia juga yang ninggalin gua. Ya mau gimana lagi?" Jovan membentangkan kedua tangan seraya mengedikkan bahunya, pasrah.


"Berarti misi Bunda Fahira berhasil, Bro. Menjauhkan dan memutuskan hubungan lu dengan semua cewek yang naksir lu." Aldo manggut manggut seraya mengelus dagunya yang ditumbuhi 16 lembar janggut muda.


"Nah! Gua seneng nih kalau otak lu udah balik lagi. Gua rasa bukan hanya menjauhkan gua dari para cewek, tapi dari semua orang. Makanya gua ragu, apa maksud dia ngasih uang sebanyak itu. Jangan-jangan malah untuk melenyapkan gua dari muka bumi ini. Gua curiga Bunda Fahira cewek sakit jiwa yang psikopat, Bro!" Jovan bicara sangat serius.


"Mantap! Lu masih tetap yang terbaik, Bro. mestinya elu yang jadi detektif bukan gua. Sumpah gua sendiri berpikir begitu. Tu cewek kayaknya psikopat abis! Hihihi, seraaaam.!" Wajah Aldo seketika pucat pasi.


"Mudah-mudahan saja perkiraan kita meleset, walau gua berkeyakinan 60% persen dia sakit jiwa!" pungkas Jovan, seraya berdiri dengan sedikit tegang.


Matanya tertuju pada Julia adik tercintanya, yang berjalan setengah berlari menuju ke arahnya.


Beberapa kali Jovan melihat Julia menyeka wajahnya tampaknya dia menangis.


"Ada apa, Teh?" Jovan segera bertanya sesaat setelah Julia berdiri tepat di dekatnya.


"Mama...Hiks..... mama...Hiks. Mama...hiks hiks hiks." Julia menangis dan bicara tak jelas.


"Mama kenapa, Teh?" Aldo ikut bertanya cemas.


Julia bukan menjawab, dia malah menangis semakin keras.


"Bro, cepetan balik. Ada apa dengan nyokap lu?" Aldo setengah berteriak memerintah Jovan


"Ada apa, Teh? Coba bicara yang jelas, ada apa dengan mama?" Jovan memeluk Julia yang menumpahkan air matanya dalam pelukannya.


"Mama di ru ru rumaaaah, hiks hiks hiks." Julia kembali meraung raung.


"Bro! sudah jangan banyak tanya! Cepetan pulang, payah lu!" Aldo berteriak sambil berlari lebih dulu menuju rumah Jovan.


"Astagfirallah ada-ada aja! Yu pulang, Teh!" Jovan segera memegangi tangan adiknya dan berjalan setengah berlari menuju rumahnya.


Saat sampai di rumahnya, Jovan benar-benar melongo dan terkejut. Rumahnya sudah dikerumuni banyak tetangganya.


Suara tangisan dan jeritan Naufal yang memanggil manggil mamanya terdengar sangat keras.


Bu Surya, ibunya Aldo menggendong Naufal yang meronta ronta dan membawanya keluar rumah.


Jovan segera menerobos kerumunan orang-orang, masuk ke rumahnya.


"ALLAHU AKBAR, MAMAAAAAAAAA!!!!" Jovan berteriak kencang mentulikan telinga semua orang yang ada di sana...


Bersambung – Badai Datang Menghadang


 


 

__ADS_1


__ADS_2