Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga

Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga
Bagian Delapan Belas


__ADS_3

Bukan Cinta Rahasia


Bu Anita kembali sibuk melanjutkan pekerjaannya. Jovan merapikan beberapa perabotan dan peralatan yang berserakan di lantai dapur.


"Nanti jam sembilan malam, tolong anterin kue brownis pesanan Bunda Fahira, ya Jo. Tadi pagi dia ngedadak pesan dua brownis talas kukus."


"Jam sembilan malam? Tumben malam amat?" Jovan mengernyitkan dahinya.


Bunda Fahira hampir setiap minggu memesan macam-macam kue dari Bu Anita. Biasanya diantar pagi-pagi atau sore, atau dia ambil sendiri di kantin.


"Iya, sekarang dia lagi kondangan dulu ke saudaranya di Karawang. Balik lagi ke rumahnya, nanti jam delapan malam."


"Bukannya dia mau ke Jepang sama suaminya. Emang belum berangkat?"


"Rencana ke Jepangnya, lusa."


"Oh."


"Kalau Jojo diajak liburan sama Bunda Fahira, mau gak? hehehe." Bu Anita bertanya malu-malu.


"Gak ah. Waktu itu juga dia pernah ngajak libur. Bukan ke Jepang sih tapi ke Bali. Hmmm tapi mungkin hanya bercanda. Lagian kalau serius juga gak mau. Takut naik pesawatnya, kecuali mama, teteh dan dede diajak. Jadi liburannya rame-rame, hahaha." Jovan tertawa riang.


"Hmmm payah! coba Bunda Fahira ngajak mama, pasti langung dijawab, oke! Lumayan kan bisa jalan-jalan gratis ke Bali, hari gini gitu loh, hehehe." Bu Anita membelalakan mata. Semakin yakin jika Bunda Fahira memiliki perasaan yang berbeda pada anaknya.


Bu Anita sudah sering mendengar bisik-bisik siswa yang bergosip, tentang Ibu cantik nan killer itu naksir berat pada anak sulungnya. Dan sejak dia mendapat tawaran mengisi kantin sekolah, sudah sedikit curiga.


Sikap Bunda Fahira pada Jovan sangat jauh berbeda dengan sikapnya kepada siswa-siswa yang lain.


"Katanya Neng Elva sama Neng Nadya hari ini mau belajar bikin kue. Kok belum pada datang?" Bu Anita mengalihkan pembicaraan sambil mengangkat kuenya dari pengukusan.


"Lagi ngobrol dulu di rumah Bagas." Jovan menjawab seraya menyusun kue-kue untuk dikemas dan diantarkannya nanti.


"Aneh ya, anak Ketua DPRD dan anaknya pengusaha kaya raya, mau belajar bikin kue sama mama, hihihi," Bu Anita terkekeh, bangga.


"Siapa dulu anaknya. Kalau bukan Jojo, mana mau mereka belajar ke sini, hahaha."


"Hmmm sombongnye anak mama ni, hahaha."


Suasana hangat, akrab dan saling mendukung jadi budaya keseharian keluarga Bu Anita. Semaksimal mungkin dia mengambil peran single parent.


Dia bersumpah untuk terus merawat dan membesarkan ketiga anaknya walau tanpa campur tangan suaminya yang entah dimana saat ini berada.


‘Enak juga punya kekasih yang tak perlu dirahasiakan lagi,’ bisik Jovan.


Bu Anita sudah sering mendengar dan melihat jika anak sulungnya menjalin hubungan mesra dengan Elva. Walau Jovan belum bicara secara terbuka, namun naluri seorang ibu, tak mungkin bisa dibohongi.


Jauh di lubuk hatinya, Bu Anita tidak terlalu menyukai hubungan Jovan dengan Elva.


Sikap dan pribadi Elva yang berbeda jauh dengan Angel, selalu jadi pembandingnya.

__ADS_1


Angel terkesan urakan namun sangat gesit dan cekatan dalam bertindak. Angel juga bersikap sangat baik dan menyayangi Naufal dan Julia sepenuh hati.


Berbanding terbalik dengan Elva yang lemah lembut dan tekesan anak manja. Kasih sayang pada kedua adik Jovan pun belum terlihat.


Kalau masalah cantik dan kekayaan, Angel dan Elva, tak jauh berbeda. Tetapi, apapun keputusan Jovan, Bu Anita akan tetap mendukungnya.


Tak sampai setengah jam sejak ditanyakan Bu Anita. Elva, Bagas dan Nadya datang diantar sopir pribadi Elva. Setelah menurunkan penumpangnya, sopir itu kembali ke kantor bapaknya Elva. Dan rencananya nanti sore dia akan menjemput kembali anak majikannya yang akan belajar masak memasak.


Sudah sejak beberapa hari sebelum liburan, Elva dan Nadya berencana mengisi liburan dengan belajar membuat kue pada Bu Anita. Dan semuanya telah mendapat izin. Bu Anita tidak pernah mematok biaya, namun Elva sudah lebih dulu memberikan uang jajan yang sangat besar untuk bekal Julia dan Naufal berlibur di rumah neneknya.


Elva dan Nadya, sudah sangat akrab dengan Bu Anita. Hampir setiap hari keduanya jajan dan makan di kantin Bu Anita. Dua gadis kalangan atas itu kini dengan tidak canggung sama sekali berbaur dan kotor-kotoran membantu Bu Anita membuat kue. Mereka bahkan tidak memakai celemek.


Hari ini, Bu Anita dikelilingi dua pasangan remaja tampan dan cantik yang sedang berbahagia dan jatuh cinta.


Pasangan Bagas dengan Nadya, serta Jovan dan Elva.


Mereka tampak asik menikmati kebersamaan dengan Bu Anita. Wanita yang sedikit bawel, super kepo dan kadang bicara polos menggemaskan menjadi pusat kegembiraan semua orang. Tak jarang Bu Anita membuat semua tertawa terpingkal-pingkal.


Bagas dan Nadya, sibuk membantu Bu Anita di dapur. Sementara di ruang tengah, Jovan sedang asik mengajari Elva membuat saus vla puding pesanan Bu Rohayati, Guru Sejarah.


Hati Jovan berbunga-bunga. Rumah sederhananya kedatangan dua bidadari SMA Garuda, yang salah satunya pacar rahasianya.


Dia juga senang, mamanya tidak keceplosan menyebut atau memuji-muji Angel di depan dua tamu istimewanya. Padahal, Bagas sengaja memancing-mancing ngobrol tentang Angel.


Sontak saja Jovan kelabakan dan terpaksa mengajak Elva memisahkan diri. Bagas tersenyum puas dan mengejek Jovan yang kebakaran jenggot, mati kutu di depan Elva.


"Angel pasti udah jago banget ya bikin kue-nya." Elva menatap Jovan yang tersenyum indah.


"Kata mama kamu, Angel dulu sering belajar masak di sini."


"Ya kale. Kan kamu juga tahu, aku gak pernah di rumah kalau ada Angel."


"Hmm masa sih? bukannya kamu juga suka ngajarin dia." Elva menyolekkan jari telunjuk ke hidung Jovan. Sontak saja hidung mancung si ganteng itu terkena noda putih susu cair full cream dari jari Elva.


"Alah, mama didengerin. Lagian waktu itu aku belum bisa bikin kue, kan mama belum ngajarin."


"Oh kirain, hmmm." Elva mengelap lembut hidung Jovan dengan tisu.


"Kok pake tisu sih ngelapnya? hehehe."


"Emang maunya pake apa?"


"Pake apa ya, hmmm." Jovan menatap bibir Elva yang mungil sambil menggerakkan alisnya.


"Hmmm, enak aja. Ketahuan mama kamu, bahaya, hihi," Elva menolak, tapi dia mendekatkan wajahnya ke wajah Jovan. Sontak saja hidung mancung Jovan seketika menyentuh pipinya.


"Ih, nakal," balas Elva seraya mencubit tangan Jovan.


Jovan tak menjawab, matanya sayu menatap wajah gadis berambut hitam berkilau panjang sebahu, yang bersemu merah menggemaskan.

__ADS_1


"Kalau Aldo, rumahnya dekat sini juga, kan? Kemana dia, kok gak keliatan." Elva mengalihkan pembicaraan dengan wajah sedikit menunduk.


"Rumahnya di sebelah yang cat hijau. Dia lagi ke Solo sama mamanya," balas Jovan.


"Jo, Angel beneran nikah sama Alfin, ya?" Elva kembali memegangi pipi Jovan dengan tangannya yang penuh dengan tepung maizena.


"Ssst udah ah jangan bahas Angel. Katanya mood kamu suka down kalau bahas Angel, mending bersihin pipi aku, tapi jangan pake tisu, hehehe." Jovan memejamkan mata dan mendekatkan wajahnya ke wajah Elva.


"Hmmm, segitunya. Habis manis sepah dibuang, ternyata," balas Elva sambil membersihkan noda tepung di pipi Jovan dengan hidungnya.


"Lah, kok malah nuduh gitu?" Jovan terbelalak. Kedua tangannya yang sudah dicelupkan pada tepung maizena, memegang kedua pipi Elva.


"Elvah..., yang kamu tuduhkan padaku itu sangat jahat, Ter la lu.!" lanjut Jovan menirukan suara penyanyi Seriosa legendaris Indonesia.


"Iiih, dasar pemuda penggemar dangdut, hahahaha," Elva tak kuasa menahan tawanya. Lalu kembali mencoret coret wajah Jovan dengan tepung maizena yang berhamburan kemana-mana. Jovan pun tak mau kalah, membalasnya lebih agresif.


Ruang tengah yang adem, seketika berubah gaduh dan heboh. Bu Anita hanya geleng-geleng kepala, karena saus vla yang dibuat Jovan dan Elva dari tadi gak kelar-kelar.


Jovan dan Elva melanjutkan duel tepungnya di halaman belakang. suasana semakin heboh dan tak karuan ketika Bagas dan Nadya bergabung.


"Sudah kuduga! Ter la luh..." Bu Anita menggerutu saat merapikan dan membersihkan dapur, ruang keluarga dan ruang tamu yang acak-acak dan kotor dengan tepung maizena.


Elva Faradiany Wijaya, putri kedua keluarga Bapak Hasan Subrata Wijaya. Seorang politisi papan atas yang menjabat Ketua Fraksi DPRD Kabupaten. Ibu Subrata, mamanya Elva sukses dengan online shop barang-barang branded khusus kalangan atas dan terbatas.


Elva masuk dalam jajaran dua besar siswa paling tajir se SMA Garuda. Kali ini rela bersusah-susah dan berjibaku di dapur Bu Anita yang sederhana namun sangat rapi dan bersih, hanya untuk belajar membuat kue.


Jovan dan Elva menjalin hubungan rahasia sejak kelas sebelas. Lebih tepatnya saat Jovan diangkat jadi ketua OSIS dan Elva jadi bendaharanya.


Secara diam-diam mereka menjalin komunikasi intensif melalui jejaring sosial.


Di sekolah hanya Nadya dan Bagas yang tahu hubungan mereka. Apalagi ketika Angel masih berjaya. Elva sangat merahasiakannya. Dia tak mau ada urusan dengan Angel. Namun demikian,  Elva sudah tahu bagaimana perasaan Jovan.


Setiap malam, Jovan dan Elva hanya bisa bercengkrama dan mesra-mesraan di balik layar ponsel. Tak ubahnya seperti pasangan kekasih yang menjalin hubungan jalur belakang - backstreet.


Setelah Angel menghilang dari bumi Garuda, Elva dan Jovan mulai sedikit terbuka. Beberapa teman dekat dan Bu Anita sudah mulai mengetahuinya.


Jam lima sore, Elva dan Nadya, dijemput kembali sopir pribadinya. Walau terlihat sangat berat karena masih betah, namun keduanya terpaksa pulang.


Mereka berjanji besok dan seterusnya akan kembali datang untuk belajar membuat kue.


Sampai liburan berakhir.


Bu Anita senyum-senyum sendiri. Melihat tingkah Jovan dengan Elva yang sedang jatuh cinta.  Walau dalam hati berharap Angel yang jadi kekasih Jovan, namun Bu Anita telah bersumpah tidak akan mengintervensi pilihan anaknya. Siapapun yang nantinya dipilih Jovan, mamanya akan mendukung sejuta persen. Dia tak ingin kenyataan pahit yang dialaminya, dirasakan juga oleh anak-anaknya.


Namun yang pasti hubungan Jovan dengan Elva, Bukan lagi cinta rahasia


Bersambung – “Antar Pesanan Terakhir”


 

__ADS_1


 


__ADS_2