
Kapal Mulai Oleng
Bunda Fahira sudah sangat lama menunggu waktu yang tepat untuk menaklukan Jovan. Siswa yang sejak kelas sebelas telah sukses menawan hatinya. Setelah insiden upacara bendera, dia semakin tergila-gila dan terobsesi dengan isi celana Jovan.
Sebagai seorang wanita yang memiliki reputasi baik di lingkungan, tentu dia harus sangat berhati-hati. Walau banyak peluang dan kesempatan, dia sengaja mengambil moment saat liburan. Ternyata bukan hal yang terlalu sulit baginya untuk membawa Jovan terhanyut dalam obrolan hangat dan menarik. Sang brondong bahkan tak menyadari, jika obrolannya lambat laun masuk dalam wilayah khusus dewasa.
Jovan terbuai dan nyaman. Nyaris tak menyadari, Bunda Fahira kini telah duduk rapat di sampingnya. Obrolan mereka makin hangat cenderung panas. Bunda Fahira bahkan meminta Jovan untuk mengganti panggilan jadi 'aku dan' kamu'.
Namun Jovan menolaknya. Dia masih sungkan dan menghormati wanita kaya raya yang telah banyak membantu keluarganya.
"Jo, aku mau cerita hal yang paling pribadi, boleh gak?" Bunda Fahira melingkarkan tangan kanan di pinggang Jovan yang duduk bersandar pada sofa.
"Boleh," balas Jovan seraya mengangkat punggungnya memberi space pada tangan Bunda Fahira, "Asal jangan yang rahasia aja. Saya takut gak bisa pegang amanah, Bun," lanjut Jovan dengan mata sedikit menyipit. Menatap nanar wajah cantik yang jaraknya makin dekat.
"Hmm, makanya aku berani cerita sama kamu, karena ini sangat rahasia. Dan hanya kamu yang bisa aku percaya." Bunda Fahira berbisik.
"Oh ya, rahasia apa, Bun?" Jovan balik tanya dengan suara yang pelan juga. Kedua matanya kian lekat menatap wajah Bunda Fahira yang jaraknya hanya tinggal beberapa senti.
"Rahasia ranjangku dengan suamiku." Bunda Fahira berucap lirih.
"Maksudnya?" Jovan balas berbisik, seraya mencondongkan kepala mendekatkan mulutnya ke daun telinga Bunda Fahira.
"Menurut kamu, aku masih cantik apa tidak? atau sudah tak menarik lagi?" Bunda Fahira bertanya malu-malu, rona wajahnya bersemu merah jambu.
Beberapa saat Jovan terdiam. Matanya kian lekat menatap wajah Turki Indonesia yang terlihat sangat sempurna dalam jarak yang lebih dekat. Dengus napas yang sangat harum, menyapu lembut wajah tampan brondong Arab-Indonesia yang juga sedikit memerah terbakar gairah.
"Bunda selalu cantik dalam segala kesempatan. Siapa yang ragu dengan itu? Dan lelaki manapun akan sangat tertarik." Jovan tersenyum tipis, "Suami Bunda, orang yang paling beruntung sedunia, telah mampu memiliki Bunda seutuhnya," lanjut Jovan dengan suara bergetar.
"Hmmm, itu menurut kamu, Jo. Tapi tidak menurut suamiku." Raut wajah Bunda Fahira berubah mendung dan sorot matanya mendadak sayu dan sendu.
Jovan terdiam. Mencoba mencerna kalimat yang didengarnya. Pandangannya tertuju pada area sensitif tubuh bagian depan Bunda Fahira yang menonjol dan menggairahkan. "Maksudnya, Bun?" tanya Jovan kemudian.
"Mungkin semua orang, menduga hidupku bahagia bersuamikan seorang petinggi. Bergelimang harta dan kemewahan tak kurang sesuatu apapun." Suara Bunda Fahira makin lirih dan sendu. Pandangannya turun ke bagian paling sensitif dari tubuh lelaki muda yang sedang dipeluknya.
__ADS_1
Jovan terdiam, dia belum sepenuhnya mengerti dengan kalimat bersayap yang dilontarkan wanita yang makin lama makin mesra dan hangat memeluk pinggangnya.
"Mungkin kamu gak akan menduga. Kenyataan hidupku tak seindah yang dibayangkan orang." Bunda Fahira kian lirih, "aku hampir menyerah, bahkan putus asa. Sudah sangat lelah dan capek hidup penuh dengan kepura-puraan dan sandiwara.” Bunda Fahira mengelus-elus paha brondong yang duduknya makin gelisah.
“Setiap waktu aku bergelut dengan kegersangan dan kehampaan jiwa. Dan setiap malam aku hanya tidur bertemankan sepi dalam kesendirian." Bunda Fahira menghela napas sambil sedikit mendongak. Menatap mata Jovan yang bening, di bawah dua alisnya yang sangat tebal dan indah.
"Mungkin Bapak sangat sibuk, yang sabar ya, Bun!" Jovan berusaha menghibur. Walau dia sendiri ragu dengan kalimat yang diucapkannya.
"Sibuk bukan alasan untuk pembenaran. Kalau sekali dua kali mungkin masih wajar. Tapi ini sudah hampir dua tahun, Jo. Aku bahkan seperti wanita yang tak bersuami." Bunda Fahira menunduk, suaranya terdengar lemah.
"Bukankah Bapak masih sering ke sini, walau tak pernah menginap?" Jovan memegangi bahu kanan wanita yang kini sudah menyandarkan kepalanya di bahu kirinya. Rambut indahnya menyentuh pipi Jovan yang panas terbakar darah muda yang terpompa sempurna.
"Wanita manapun tidak akan sanggup jika diperlakukan seperti ini. Hanya jadi hiasan dan pemanis sangkar madu. Tak ubahnya seperti boneka yang tak bernyawa, tak pernah disentuh, dibiarkan merana, gersang dan tandus."
"Bukankah pernikahan Bunda, atas dasar suka sama suka?"
"Bukan Jo, aku terpaksa menikah dengan dia karena keluargaku banyak berhutang budi padanya. Dan aku tak menduga kalau suamiku yang tua itu, ternyata sudah tak mampu menjalankan kewajibannya sebagaimana layaknya seorang suami."
Jovan kembali terdiam. Tubuh Bunda Fahira masuk dalam pelukannya. Istri pemilik Yayasan Garuda itu menyandarkan kepalanya dengan tenang di dada bidang remaja yang masih belum sepenuhnya mengerti bagaimana kewajiban suami di atas ranjang. Napas mereka mulai memburu tak beraturan.
"Jo," bisik Bunda Fahira.
"Hmmmm," balas Jovan seraya menatap wajah istri orang lain yang mendongak.
"Salahkah bila aku merindukan dan mencari seseorang yang bisa mengerti aku?" tanya Bunda Fahira.
Jovan membisu. Bibirnya bergetar ingin mengucapkan sesuatu, namun ragu. Dia makin bimbang dan tak tahu harus berbuat apa. Tak menduga rumah tangga Bunda Fahira hanyalah topeng yang penuh rekayasa dan kepalsuan.
"Jo, aku juga wanita normal seperti yang lain. Memiliki hasrat untuk merasakan nikmatnya jadi seorang istri. Saat ini aku sedang sangat membutuhkan seorang lelaki sepertimu yang bisa memahami diriku. Aku berharap kamu bisa melakukan sesuatu untukku dan hanya kita berdua yang tahu." Wanita yang sudah sangat berpengalaman itu kian gencar melontarkan sejuta rayuan dan alasan.
"Saya harus melakukan apa, Bu?" Jovan bertanya dengan suara bergetar.
“Kamu pasti ngerti, Jo," bisik Bunda Fahira seraya memeluk tubuh Jovan dengan hangat. Lalu mencium wajah tampannya yang panas terbakar birahi.
__ADS_1
Deg!
Jantung Jovan seketika tersentak. Sekujur tubuhnya merinding panas dingin. Sebuah sentuhan lembut mendarat sempurna pada pisang tanduk, yang sejak tadi sudah meronta ingin dikeluarkan dari sarangnya yang terus menyempit.
"Pindah ke dalam aja, yu,” bisik Bunda Fahira dalam desahan manja. Sorot matanya sayu namun mengandung magnit yang menyedot segenap kekuatan sang jantan.
“Kita ngobrolnya di kamar aja, biar lebih aman dan leluasa," ajak Bunda Fahira dengan senyum yang kian genit dan menggoda.
Bunda Fahira melepaskan pelukan lalu berdiri tepat di depan Jovan yang bengong. Jovan mendongak, menatap wajah Bunda Fahira yang sedikit menunduk dan tersenyum.
Seeeeer
Darah Jovan berdesir hebat. Tercekat memandangi dua gunung kembar yang tercetak nyata di balik baju tidurnya.
Bunda Fahira menarik dagu sang jantan, hingga tak sadar Jovan yang sudah diliputi birahi itu berdiri sejajar. Degup jantungnya makin tak karuan.
Deg! Jantung Jovan kembali berhenti berdetak. Setelah itu detaknya berlari kencang meloncat loncat laksana kijang yang sedang dikejar maling.
Tangan halus lembut tiba-tiba menyentuh dan memegangi batang pisang tanduk di balik celananya. Benda yang berdiri tegak dalam posisi menyamping itu seolah mengerti dan merespon cukup senitif sentuhan tangan lawan jenisnya.
"Kenapa masih pakai celana kekecilan?" bisik Bunda Fahira dengan suara yang makin menggoda, tangannya makin lembut menekan dan mengelus benda dibalik celana sempit itu.
"Ti...tii, tidak Bun, tadi cukup longgar kok..." balas Jovan dengan desahan yang tak sanggup lagi ditahan.
"Ya sekarang jadi kekecilan, kan?"
"I... i,, iya gak tahu ke.. ke... kenapa jadi ke.. ke.. kecilan, Bun?"
"Ya udah kita di dalam aja. Kasihan, sangkarnya sudah sempit. Kalau di dalam kan bisa dilepaskan dengan bebas, hehehe." Bunda Fahira menarik tangan Jovan.
Besambung – Bisikan Yang Berbisa”
__ADS_1