
Gadis Kerudung Putih
Jovan memutar kedua matanya jengah. Andai saja dua lelaki seusianya yang berdiri di depan bukan sahabat sekaligus tetangganya, tentu tendangan sakti dan pukulan mautnya sudah melayang-layang melumpuhkan keduanya.
Namun nurani dan akal sehat Jovan masih bekerja sempurna, Walau hatinya sedang panas membara dia masih bisa sedikit menahan darahnya yang mendidih. Bagaimana mungkin dua sahabat yang sudah dia anggap saudara sendiri, tiba-tiba menjadi para pengkhianat yang akan menikamnya dari belakang.
Jovan pun masih sedikit mengelus dada. Biar bagaimana pun kebaikan Bagas dan terutama Aldo, memang tidak bisa dipungkiri. Kedua orang tua Bagas pun, walau tidak sebaik bapak dan ibunya Aldo, tetapi mereka tak pernah menunjukan raut wajah tak bersahabat setiap kali Jovan main ke rumah Bagas.
Sebuah dilema dan tanda tanya besar kembali melanda batin Jovan. Tak habis pikir, apa yang sudah meracuni otak dua sahabatnya, hingga rela menjadi kacungnya Bunda Fahira. Kalau Aldo mungkin masih bisa ditebak. Uang pasti jadi segaanya buat dia. Tapi kalau Bagas? Apa yang dia cari? Uang? Gak mungkin, Bunda Fahira bahkan bisa jadi lebih miskin darinya.
"Jo, pikir lagi lah. Gua juga gak setuju. Gua mikirin masa depan lu. Please kurangi ego sedikit aja." Bagas memelas.
"Gas, dengan selembar ijazah SMA Garuda, emang lu bisa menjamin masa depan gua? enggak kan?" Jovan melebarkan kedua tangannya.
"Ya setidaknya Jo, kalau lu ada ijazah, lu bisa ngelanjutin kuliah atau mungkin ngelamar kerja atau apa saja." Aldo menimpali.
"Kuliah? buat sekolah SMA aja gua udah gak minat, apalagi kuliah." Jovan menatap Aldo dengan pandangan yang sangat malas.
"Tapi Jo..."
"Stop! jangan berdebat." Jovan memotong pembicaraan Bagas. "Sorry, bukannya gua gak ngehargai kalian. Please jangan usik hidup gua dalam bentuk apapun. Gua sedang gak butuh saran dari lu berdua."
"Jo, dengar dulu." Bagas mencoba meredakan suara Jovan yang mulai meninggi.
"No. Yang pasti, gua udah tahu siapa lu berdua. Bagian kaki tangan Bunda Fahira. Ratu segala tirani, istri pemilik Yayasan Garuda, yang merasa paling berkuasa di muka bumi ini. jelas kan?"
"Oke..oke.. dengar dulu Jo." Aldo memegangi tangan Jovan. "Jo, gua akui. Gua emang dekat dengan Bunda Fahira, tapi apa yang gua lakukan saat ini, bukan demi Bunda Fahira, tapi demi masa lu dan ade-ade lu." Aldo berdiplomasi.
"Gitu ya. Lu serius ngomong gitu, Do?" Jovan balas memegangi pundak Aldo.
"Allahu Akbar, masa gua mesti nangis dan memeluk lu, supaya lu percaya, Jo!" Aldo berusaha meyakinkan.
"Do, lu gak perlu sampai segitunya juga kali. Walau pun lu sampai nangis darah, gua gak bisa lagi percaya sama omongan lu. Aldo, Lucky dan Bagas, sama saja. Tiga serangkai, cowok dengan satu misi jahat buat keluarga gua." Jovan menatap wajah Aldo dan Bagas bergantian. Seraya memasang kuda-kuda bersiap menangakis serangan atau menedangi lebih dulu dua tetangganya.
__ADS_1
"Jo, gua gak pernah punya niat jahat sama lu atau keluarga lu!" Aldo tak terima.
"Gua mau tanya. Waktu nyokap gua sakit dan dirawat. Subuh-subuh lu bilang mau pulang, bener kan? Lu pulang kemana?" Jovan mulai memasang wajah bengis dengan sinar mata yang menyala.
"Gu..a gua... gua pulang ke rumah Bagas, Jo." Aldo gelagapan.
"Sejak kapan rumah Bagas jadi penginapan Dua Mutiara? Gua tahu siapa orang yang menunggu lu di penginapan itu. Bunda Fahira kan?" Ucapan Jovan seketika membuat wajah Aldo pucat pasi. Mulutnya terkunci tak mampu lagi untuk menyangkal.
"Tapi, gua gak gitu, Jo." Bagas mencoba bela diri.
"Gas, udah ya. Gua males debat dengan manusia-manusia munafik model lu berdua. Gua balik dulu. Kasihan ade gua udah kelaparan."
"Jo, gua gak ikut-ikutan. Kan lu juga tahu waktu itu, gua sama Nadya datang ke rumah sakit." Bagas menarik tangan Jovan yang hendak beranjak pergi.
"Ya gua tahu. tapi tolong jawab dengan jujur. Kemarin sore Bunda Fahira datang ke rumah gua. Dia datang dan pergi diantar lu kan?" Jovan mendekatakan wajahnya ke wajah Bagas.
"Iya, karena dia minta diantar. Setelah dari rumah lu, gua cuma nganter dia ke pulang ke rumahnya. Cuma segitu doang. Apakah gua salah?" Bagas menyangkal dengan pertanyaan.
"Oke, sejak kapan rumah Bunda Fahira di hotel Pajajaran Indah?"
"Gini sob, apapun yang kalian lakukan dengan Bunda Fahira, itu bukan urusan gua. Gua gak mau tahu dan gak mau mengusiknya. Tapi, mulai saat ini berhentilah mengganggu hidup gua. Gua udah gak ada urusan dengan SMA Garuda, dengan Bunda Fahira atau mungkin dengan kalian berdua." Jovan makin tegas berbicara, sinar matanya makin garang dan pancaran kemarahan tergambar jelas di wajahnya.
"Kita bersahabat sekaligus bertetangga. Kalau kalian udah gak mau bersahabat sama gua, no problem. Tapi gua harap lu gak usah usik hidup gua dan keluarga gua. Sampai detik ini gua gak pernah ngerugiin kalian berdua!" pungkas Jovan seraya berlalu dan kembali ke motornya.
Beberapa saat kemudian, Jovan sudah melaju kencang membawa Naufal yang sudah meringis menahan lapar.
Bagas dan Aldo masih terbengong-bengong. Secuil pun mereka tak menduga, kalau diam-diam Jovan sudah mengetahui semua rencana yang akan mereka lakukan dengan Bunda Fahira.
"Gas, kenapa si Jovan jadi tahu semuanya?" Aldo kebingungan.
"Gua yakin, ini pasti ulahnya si Lukman atau si Akmal." Bagas garuk-garuk kepala.
"Gak mungkin. Si Lukman sama si Akmal kan gak akrab sama si Jojo. Lagian dari mana mereka tahu rencana kita. Mereka gak pernah gabung atau nongkrong bareng geng kita!" Aldo tetap tak yakin.
__ADS_1
"Gak tahu. Tapi jujur aja, gua jadi malu sama si Jovan. Dan mulai detik ini. Gua memutuskan tidak mau lagi ikut campur dalam permainan gila ini. Gua gak mau kehilangan sahabat sebaik dan seganteng si Jojo." Bagas menjawab dengan mata yang tetap tertuju ke jalan walau Jovan dan motornya sudah menghilang di belokan.
"Emang lu siap dikeluarin dari sekolah?" Aldo menarik tangan Bagas, untuk menyadarkan dari bengongnya.
"Hahaha, si Jovan aja berani. Kenapa gua kagak? Hari ini pun gua bisa nyari sekolah yang lebih elite dari SMA Garuda. Dan besok pagi, gua sudah pindah sekolah. Simple kan?"
"Iya kalau elu orang kaya, Gas. Bisa berbuat apa aja. Horang kaya mah bebas. Nah gua gimana?" Aldo meringis.
"Terserah lu. Lanjutin aja dengan Bunda Fahira. Lumayan kan dapat uang jajan, sekaligus dapat kepuasan. Gua sih males tidur lagi sama cewek hyper itu. Dan yang pasti gua juga gak butuh duit recehnya. Oke kita kembali ke sekolah dan gua mau melaporkan semuanya pada kepsek."
Dengan berat hati dan pikiran tak menentu, Aldo terpaksa masuk ke mobil Bagas dan kembali ke sekolah.
Dalam waktu yang bersamaan, Jovan pun sedang bengon dan melongo. Matanya tak berkedip memandangi dua gadis cantik dengan kerudung putih yang duduk santai di teras depan rumanya.
Ketika Jovan masih tertegun dan terkesima tingkat dewa. Tiba-tiba Naufal meloncat dari motor yang sudah terparkir.
"Teh Angeeeeeeeel!" teriaknya sambil berlari kencang.
"Dede sayaaaaang...!" seorang gadis berseragam SMA, menyambut Naufal dengan teriakan yang sama.
Julia yang ternyata sudah pulang lebih dulu, senyum-senyum gak jelas sambil mengedipkan sebelah matanya. Mengejek kakaknya yang masih melongo memandangi Naufal yang tanpa malu-malu, tanpa ragu ragu nemplok dalam pelukan Angel yang berjongkok.
Seperti itulah gaya Naufal, kalau sedang sedih atau bahagia. Memeluk mamanya dengan erat dan biasanya meneteskan air mata. Hingga susah membedakan sedang sedih, haru atau bahagia.
"Angel...kamu cantik banget dengan kerudung putih itu..." Jovan hanya bisa memuji dalam hati. Ekspresinya mode on cengo-secengo cengonya.
Dia bahkan belum mampu turun dari motornya.
Bersambung – Mulai Bisa Dikalahkan
__ADS_1