Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga

Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga
Bagian Lima Belas


__ADS_3

Banyak Kawan Menghilang


"Bro, si Alfin atau mungkin juga si Angel, keduanya pasti sangat dendam sama Bunda Fahira. Si Angel apalagi, dia masih dendam sama lu. Tujuan nyebarin fitnah itu bisa aja buat balas dendam. mereka"


"Hmmm, iya juga, ya." Jovan mendengus frustasi.


"Makanya, kalau mau jadi penyelidik, jangan main hati dan emosi, cool and calm. Segala kemungkinan bisa terjadi. Gak bisa ujug-ujug menarik kesimpulan tanpa observasi yang mendalam. Makanya sekali-kali lu belajar sama gua, Putra Asli Solo, tempat kelahirannya Ir. Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia yang tercinta." Aldo makin berkibar.


"Do, gua bingung. Terkadang lu itu begonya gak ketulungan. Tapi kalau udah begini, otak lu malah mengalahkan gua. Sebenarnya kalau makan, lu pake lauk apaan sih?" Jovan nyengir kuda kelemesan.


"Bunglon!" Jawab Aldo singkat.


"Hahahaha, gua mau nyoba juga ah, enak ya daging bunglon?"


"Coba aja. Yu ah ke kantin. lapar gua!" Aldo bicara sambil jalan. Jovan terpaksa membuntutinya.


"Gosip laknat tak berperike-senjataan. Salahnya rudal gua apa coba?" maki Jovan dalam hati.


Kaki kanannya menendang anak kodok yang tak sengaja melintas di depannya.


"Anjiiir, salahnya gua apa, Van?" bentak anak kodok sambil menyeka air mata yang tiba-tiba meleleh membasahi pipinya yang sedikit kerodok.


"Sorry dok, kita sama-sama korban ketidak-adilan, peace!" balas Jovan seraya melenggang kangkung menuju kantin yang sudah penuh sesak dengan para penggila gosip, ghibah, bakso, mie tektek dan segala macam jajanan receh lainnya.


 


Berita tentang Angel, lambat laun mulai mereda. Walau belum sepenuhnya menghilang dari percaturan SMA Garuda, namun setidaknya Jovan mulai terbebas dari fitnah dan gosip. Tak ada lagi yang membawa-bawa namanya dalam kasus Angel. Semua berkat anjuran sederhana dari mamanya


'Jangan bersedih jika ada yang merendahkan, itu tandanya kamu lebih tinggi. Hadapi dengan senyuman karena musim selalu berganti. Jangan pernah meradang, yakinlah badai pasti berlalu.'


Jovan tak pernah menantang badai. Namun banyak kejanggalan yang mengusik jiwa detektifnya. Pemberhentian Angel dan Alfin yang serba dadakan jadi tanda tanya besar. Juga, pihak sekolah yang tidak pernah memberikan keterangan resmi, seolah membiarkan gosip dan fitnah tentang Angel, berkembang liar.


Diam-diam Jovan mendatangi Alfin. Namun tak mendapatkan apapun. Kecuali mengakui jika dia sudah menikah dengan Angel namun tidak tinggal serumah. Alfin sangat tertutup dan ketakutan. Seperti seseorang yang berada dalam tekanan dan ancaman.

__ADS_1


"Sejujurnya, gue gak tahu gimana keadaan mereka sekarang. Angel kabarnya tinggal dengan neneknya di Surbaya. Si Alfin gak tahu dimana. Semua nomor dan medsos mereka gak ada yang aktif." Niken menerangkan saat dia bicara empat mata dengan Jovan di salah satu kantin, belakang sekolah.


"Kalian kan sepupuan, masa sih gak tahu?" Jovan tak percaya.


"Sebenarnya kita hanya teman biasa. Kebetulan dari SMP gue emang udah temenan sama Angel." Niken mengklarifikasi.


Jovan mengernyitkan dahi, matanya lekat menatap mata Niken. Mencoba membaca sesuatu yang sedang disembunyikan cewek yang dulu mengakui sebagai sepupunya Angel. "Tapi, lu kenal kan sama keluarga Angel?" Jovan masih ingin menggali info lebih dalam.


"Hanya sebatas tahu, tapi tidak terlalu kenal." Niken balas menatap mata lelaki yang sudah lama dikaguminya. Bahkan jauh sebelum Angel menyatakan cintanya.


"Jadi selama ini, lu gak pernah ke rumah Angel?" tanya Jovan selanjutnya.


"Waktu sama Angel sering. Tapi cuma main gitu aja. Jarang ketemu keluarganya. Dua Kakak laki-lakinya udah pada nikah dan tinggal di kota lain. Bokap sama nyokap nya sibuk, kalau siang mereka gak pernah ada di rumah. Mungkin itu yang ngebuat Angel betah di rumah lu, karena ada mama dan adik-adik lu yang sayang sama dia." Niken menjelaskan panjang lebar.


"Oh gitu." Jovan sedikit melongo, "Nik, tolong ceritain, gimana kronologisnya sampai Angel dan Alfin dikeluarin dari sekolah. Emangnya mereka pacaran? Kok bisa sampai hamil gitu? " Jovan tak bisa lagi menyembunyikan kepenasarannya.


"Maaf, gue gak bisa jelasin itu. Lagian ngapain lu, pengen tahu segala. Bukannya lu senang kalau Angel terpental dari sekolah ini?"


"Bukan nganggap musuh kali, cuma berusaha melupakan apapun yang berkaitan dengan dia. Siapa juga yang mau ikut-ikutan kena masalah?" Niken mengedikkan kedua bahunya.


"Hahaha, jadi gitu ya. Kalau temen lagi jaya dianggap putri raja. Sementara kalau kena masalah dianggap sampah. Dulu ngambek kalau gak diajak hura-hura, sekarang gak mau ikut-ikutan takut kena perkara. Dulu semua kaya dayang-dayang, sekarang rame-rame sembunyi dan menghilang. Gua heran sama orang-orang yang pikirannya sempit kaya gitu." Jovan mengernyitkan dahi.


"Jo, kok lu ngomong gitu sih? Kan sama, lu juga begitu. Dulu sok jaim, jual mahal nolak cintanya, eh sekarang malah sibuk nyari dan ngebela dia. Jadi berasa baca novel zaman now! Dulu benci sekarang jatuh cinta, hahaha." Niken tertawa garing menyembunyikan hatinya yang malu karena tersinggung.


"Dan asal lu tahu, gue gak pernah nganggap Angel, sampah! Kenapa lu jadi cowok nyebelin gini, Jo?" Niken menatap sinis.


"Haha, kenapa lu jadi sensi? Gua kan bilang mereka, bukan elu."


"Secara tidak langsung, lu nyinggung gue. soalnya gue temen paling deket sama Angel."


"Lu teman paling deket. Tapi, kalau ada yang nanya soal Angel, pasti lu jawab 'Gue gak tahu menahu soal Angel. Sorry ya jangan tanyakan sesuatu yang bukan urusan gue.' Dulu ngakunya sepupu, sekarang teman biasa, besok-besok bilang gak kenal. Kenapa mesti lari dari kenyataan begitu?" Jovan bertanya menohok.


"Gue gak lari. Siapa pun akan menahan diri untuk tidak terlibat dalam masalah orang lain. Walau orang itu teman dekat, bahkan mungkin saudara." Niken bela diri.

__ADS_1


"Oh jadi gitu ya, cara berteman yang baik? kalau begitu apa bedanya lu  dengan orang munafik?"


"Jo, yang munafik itu elu! Dulu sok jual mahal sekarang malah ngejar-ngejar. Emang lu ada hubungan apa sama Angel, sampe segitunya nyari-nyari info tentang dia?" Niken beranjak dari duduk, perasaanya mulai tak nyaman.


"Apakah harus ada hubungan khusus untuk menanyakan kabar teman yang pernah berbuat baik sama keluarga gua? Wajar juga gua nyari info sama lu, karena lu ngakunya sepupu, dan lu juga yang dulu sering ke rumah gua sama Angel. Bener kan?" Jovan membungkam ucapan Niken.


"Hahaha, gak usah munafik, bilang aja lu memang suka sama Angel. Dulu aja sok cool, sok gak butuh, sok nolak. Basi tahu! Gue denger sekarang lu udah punya cewek, ngapain masih ngejar-ngejar Angel?" Niken sedikit nyolot.


"Ken, gua emang punya cewek, udah lama, dari kelas sebelas. Sekarang dia juga tahu kita lagi ngobrol di sini ngebahas Angel. Cewek gua tahu kok, kalau gua nyari info Angel disuruh nyokap gua. Jadi masalahnya dimana? Dan gua gak ngejar-ngejar Angel." Jovan terpancing.


"Oh jadi lu punya cewek udah lama? Dan itu alasan lu nolak Angel? Kenapa gak terbuka dari dulu, kalau lu udah punya cewek. Jadinya Angel gak bakal ngejar-ngejar lu." Niken makin nyolot.


"Emang perlunya apa gua mesti ngasih tahu kalau gua punya cewek? Kecuali dia udah jadi istri gua. Lagian kalau Angel tahu gua punya cewek, lu yakin dia gak bakal ngejar-ngejar gua? Gua nolak Angel bukan karena udah punya cewek, tapu karena gua gak nyaman sama dia. Gua lebih nyaman sama Elva."


"Hah! Jadi cewek lu itu, si Elva?" Niken terbelalak.


"Ya, kenapa? Salah kalau gua hubungan sama Elva?" Mata Jovan balik mendelik.


"Ooooh si Elva. Gue kira lu hubungan sama Bunda Fahira, hahahaha." Niken tertawa jahat.


"Maksud lu apa? Bunda Fahira punya suami. Jangan sembarangan kalau ngomong! Hati-hati, lu bisa berperkara sama dia, kalau sampai nyebarin fitnah gitu." Jovan mengingatkan Niken dengan keras.


"Oke sorry, gue keceplosan. Jo, gue pulang dulu, kasihan sopir gue udah kelamaan nunggu, bye." Niken tergesa-gesa meninggalkan Jovan, tanpa menunggu jawaban.


"Oke thanks, bye," balas Jovan, setelah Niken menghilang dari pandangannya.


Selalu begitu. Semua orang seolah menyembunyikan segala hal tentang Angel.


Bersambung – “Ratu Yang Dimiskinkan”


 


 

__ADS_1


__ADS_2