Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga

Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga
Bagian Enam Belas


__ADS_3

Ratu Yang Dimiskinkan


Jovan dan Hayati sama-sama lelah. Akhirnya dia berterus terang pada mamanya. Tak sanggup lagi mencari Angel, bahkan info yang dia dapat semakin simpang siur. Semua upaya telah dijalankan dan hasilnya nihil.  Jovan bahkan pernah nekat datang ke sekitar rumah Angel, namun tak menemukan apapun. Angel hilang ditelan bumi dan Bu Anita pun pasrah.


Tak disangka dan tak diduga minggu berikutnya, Jovan kembali dipanggil ke ruangan Bunda Fahira. Walau suasananya tidak menegangkan, namun tetap saja jantung Jovan dagdigdug tak karuan.


Gosip yang menyebutkan dirinya ada hubungan khusus dengan istri pemilik yayasan itu, belum sepenuhnya hilang.


"Gini Jo, kamu kan pernah jadi ketua OSIS, pihak sekolah menilai kamu sangat berhasil waktu itu." Bunda Fahira membuka obrolan, sesaat setelah Jovan duduk manis di depannya.


"Iya, Bun, terima kasih penilaiannya," balas Jovan santun.


"Dan saat ini saya. Atau lebih tepatnya yayasan sedang butuh bantuan kamu."


"Butuh bantuan saya? Insya Allah kalau saya mampu. Maaf, bantu apa, Bun?"


"Bantu penegakkan disiplin sekolah. Kamu tahu sendiri, saya sangat sibuk dengan kerjaan di luar. Jarang bisa datang ke sekolah. Untuk itu, saya minta kamu membantu guru-guru, mengkampanyekan pada siswa perihal kesadaran taat aturan. Terutama yang masih membandel."


"Bukannya ada Pak Yudha, Bun?"


"Betul. Maksud saya, kamu bantu Pak Yudha. Sekarang yayasan akan menerapkan disiplin dengan cara pendekatan yang lebih humanis. Lebih ke arah pencegahan bukan penindakkan. Tugas kamu, mendekati siswa yang sering bermasalah. Ajak mereka diskusi dan arahkan agar tidak melanggar aturan lagi. Gimana, bersedia?" Bunda Fahira menatap Jovan yang masih melongo, tak menduga akan dapat tugas berat dan mulia.


"Kalau kamu bersedia, seluruh kebutuhan dan biaya pendidikan kamu ditanggung oleh Yayasan." Bunda Fahira mengedipkan sebelah matanya seraya tersenyum.


"Bersedia Bu!" Jovan menjawab cepat. "tapi, saya gak punya banyak waktu. Soalnya pulang sekolah harus segera pulang untuk ngebantu ibu," lanjut Jovan dengan nada yang sedikit kecewa.  Dia sangat tertarik dengan tugas berat itu karena akan meringankan bebas mamanya. Tetapi dia juga tak mungkin meninggalkan tugasnya membantu mamanya berjualan.


"Gak masalah. Tugas kamu gak terikat waktu. Boleh dilakukan kapan saja. Namanya juga berdiskusi. Oh iya, emang mama dimana jualannya?"


"Di kios pinggir jalan, masih nyewa, Bun."


"Jualan masakan dan kue basah, kan?" tanya Bunda Fahira.


"Betul, Bun."


"Kenapa gak jualan di kantin sekolah aja?"

__ADS_1


"Hehe, kami belum mampu sewa kantinnya. Jualannya juga masih kecil-kecilan."


"Oke, kalau gitu, gimana kalau mamanya diajak ke sini, ketemu saya. Biar kita diskusikan gimana baiknya. Yang penting kamu bantu sekolah, dan Yayasan akan bantu juga." Bunda Fahira semringah.


"Alhamdulillah." Jovan menengadahkan kedua tangannya ke atas. "Saya siap bantu sekolah, Bun. Insya Allah kapan pun ibu ada waktu, mama dan saya, siap bertemu," lanjut Jovan antusias.


"Kalau gitu, nanti malam aja jam tujuh, sebelum saya berangkat ke Korea. Kamu tahu kan rumah saya?"


"Tahu Bun. Dekat rumahnya Kirana, kan?"


"Yes, Kirana di F-11, kalau saya G-8."


"Siap Bunda! Alhamdulillah, saya sangat berterima kasih atas segala kebaikan ibu. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang setimpal."


"Amin. Saya juga berterima kasih, kamu sudah bersedia membantu sekolah. Saya yakin, kamu bisa melaksanakan tugas itu dengan baik. Semua guru merekomendasikan kamu, Jo." Bunda Fahira menutup obrolan ceria siang itu.


 


 


Selalu ada hikmah dalam setiap peristiwa. Suka dan duka silih berganti. Cobaan dan ujian berganti dengan kebahagiaan dan pujian. Setelah sekian lama Jovan berjibaku sendiri melawan gosip dan fitnah yang hampir merontokkan kesabarannya. Akhirnya dia bisa bernapas lega dan menikmati hidup dengan tenang.


Setidaknya lebih tenang. Walau semua gosip dan fitnah sudah reda. Namun keadaan di rumahnya sering membuat Jovan menangis dalam hati. Semakin hari ayahnya semakin berani menunjukan tabiat buruknya. Tanda-tanda keretakan rumah tangga kedua orang tuanya mulai terlihat.


Hubungan kedua orang tuanya makin memburuk. Beberapa kali mama-nya meminta cerai namun ayahnya yang kini jadi suami temperamental, tak mau mengabulkannya. Alasannya sangat klise. Masih sayang sama anak-anak. Padahal dalam kenyataannya, dia tidak punya lagi kepedulian pada ketiga darah dagingnya.


Naufal dan Julia bahkan menjadi ketakutan jika ayahnya pulang. Bisa dipastikan akan ada keributan antara mama dan ayahnya.


Jovan pernah berniat untuk melawan. Diukur dari postur tubuh dan tenaga, Jovan jauh lebih unggul. Selain faktor usia, kebiasaan berolah raga dan menjalankan pola hidup sehat, menjadikan ia tumbuh gagah perkasa. Ketika berpakaian bebas, tak ada yang menduga jika Jovan masih SMA.


Bu Anita selalu melarangnya dan meminta Jovan, agar tidak berbuat kasar atau melakukan kekerasan pada ayahnya yang kini terlihat lebih kurus dan kucel.


"Ma, izinkan Jojo untuk menyelidiki dan mencari ayah. Dimana sebenarnya dia selama ini?" Pada suatu hari, Jovan meminta restu pada mamanya.


"Jangan Jo, biarkan ayahmu menjalani hidupnya sendiri. Kita berdoa saja semoga Allah segera memberikan hidayah. Dan ayah insyaf serta kembali ke jalan yang lurus." Bu Anita menasihati anaknya untuk tetap hormat dan berprilaku baik pada ayahnya.

__ADS_1


"Tapi ayah sudah keterlaluan, Ma!" Jovan masih ngotot.


"Ssssst, jangan menyalahkan ayah. Lebih baik kita syukuri segala anugrah yang kita dapatkan. Bukankah saat ini kehidupan kita jauh lebih baik?" Bu Anita tetap tidak mengizinkan anaknya berbuat gegabah.


Apa yang disampaikan Bu Anita, tidak salah. Kehidupan dan taraf ekonomi keluarganya saat ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Walau suaminya tidak pernah memberikan nafkah yang memadai. Namun Bu Anita mampu menghidupi ketiga anaknya, jauh lebih layak dari sebelumnya.


Berkat tangan dingin Bunda Fahira, serta kerja keras Bu Anita dan ketiga anaknya, kini keluarganya banyak mendapatkan kemudahan dan kemajuan yang sangat signifikan. Lebih tepatnya sejak Bu Anita diberikan rekomendasi dan izin berjualan di kantin sekolah secara gratis.


Bu Anita yang memiliki keahlian memasak dan membuat kue, tidak menemui kendala dan kesulitan dalam menjalankan usahanya. Dalam waktu tidak lebih dari satu bulan, kantin Bu Anita menjadi kantin yang paling rame.


Saat istirahat, Jovan pun berubah menjadi pelayan kantin. Sontak saja semua siswi rela berebut dan antri untuk jajan di kantin Bu Anita.


"Hanya di kantin Bu Anita, kita mendapat pelayanan yang special dari cogan nomor wahid di Garuda, hehehe." Tasya selalu paling depan untuk urusan jajan.


"Yes, masakannya lezat, harganya tidak menjerat dan yang pasti pelayannya sangat memikat," timpal Nunik yang tak pernah lagi jajan di kantin lain.


"Pokoknya di sini paket lengkap, tidak bikin megap-megap, hahaha." Yurike pastinya tak mau kalah.


"Untung saja Nenek Sihir, sudah terusir dari sindang! Coba kalau masih adegan diana? Hmm aqiqah tinta tahu goreng, apa jedongnye. Mungkin kita gak bakal bisa makasar di kantinnya Jovivan cogan idaman semua insan sepanjang zaman, a hahahaha," Agung siswa bertulang lunak, bicara ngakak dengan gaya centilnya.


"Kalau ada Angel, kalian justru bisa makan gratis, soalnya, dibayarin semua sama dia, hehehe." Jovan menimpali celoteh para penikmat masakan mamanya, dengan canda riang.


"Woooow Pedasss!!!" Seruan khas anak-anak SMA Garuda kembali menggelegar.


Kelezatan masakan wanita yang pernah bekerja di salah satu rumah makan ternama itu, tidak hanya diakui oleh para siswa. Tetapi hampir semua guru pun mengakuinya. Mereka bahkan sering memesan masakan untuk keluarganya di rumah. termasuk jika mereka memiliki perayaan lainnya.


Semua berjalan normal. Seperti yang Jovan harapkan. Tak ada lagi gosip murahan. Dan tak ada pula insiden yang menggemparkan sekaligus merontokkan urat malunya. Cogan yang masih tetap memegang teguh budaya tak mau memakai celana dalam segi tiga itu, kini bisa belajar tenang tanpa bayang-bayang frank atau kejutan gila dari Angel and geng.


Nama Angel telah lenyap dari percaturan SMA Garuda. Sang selebriti dikabarkan telah dimiskinkan oleh keluarganya sendiri.


Seluruh fasilitas dan kemewahan yang selama ini dinikmatinya, ditarik dan diblokir. Angel bahkan dikabarkan kini kerja part time jadi SPG.


Bersambung – “Sibuk Akibat Terciduk”


 

__ADS_1


 


__ADS_2