Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga

Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga
Bagian Dua Empat


__ADS_3

Badai Datang Menghadang


"Astagfirallah, kenapa mama saya?" Jovan bertanya pada seorang lelaki dewasa yang sedang membacakan doa-doa sambil membasuhkan air bening ke muka Bu Anita.


"Tidak tahu, tiba-tiba tadi dia teriak-teriak histeris, lalu pingsan dan dari mulutnya keluar busa." Seorang wanita yang juga tetangga dekatnya menjawab.


"Masya Allah, kita bawa ke rumah sakit!" Jovan berteriak setengah tak sadar semua orang yang berkerumun memalingkan pandangan ke arahnya. Jovan sangat panik melihat mamanya dalam kondisi seperti itu.


"Bro, urusin dulu nyokap. Gua nyari mobil." Aldo berinisiatif.


Aldo berlari ke luar hendak mencari mobil. Semua orang yang ada di rumah ikut sibuk. Julia dan Naufal yang menangis meraung-raung dibujuk dan dirayu beberapa tangga. Beberapa menit kemudian, Aldo datang dengan Bagas yang membawa mobil. Bu Anita segera dibopong rame-rame dan dibawa ke rumah sakit.


Setelah mendatangi dua rumah sakit yang sedang penuh, akhirnya pada sekitar jam setengah tujuah malam, Bu Anita bisa ditangani di salah satu IGD Rumah Sakit Umum Daerah dan sekita jam 8 malam. Pasien sudah ditempatkan di kamar kelas 2.


Julia dan Naufal tak sedikitpun beranjak dari samping mamanya yang terbaring lemah tak berdaya dengan infus dan alat bantuan pernapasan yang terpasang di mulut dan hidungnya. Mata Julia dan Naufal sembab akibat menangis berkepanjangan. Diurusi oleh Bapak dan ibu Surya. Sementara Aldo dan Jovan sibuk mengurusi segala administrasi.


Setelah semua tenang dan teratasi Jovan bisa duduk tenang di parkiran sambil memeluk Julia dan Naufal yang belum sepenuhnya berhenti menangis dan bingung dengan keadaan. Jantung Jovan terasa ditusuk seribu duri. Bahkan dalam keadaan yang sulit begini ayahnya sama sekali tak bisa dihubungi. Untung saja ada keluarga Aldo yang sudah dia anggap saudara sendiri.


Tak terasa air mata Jovan pun sedikit demi sedikit menetes, walau dia sudah berusaha untuk menahannya agar kedua adiknya tak melihat dia rapuh. Jovan mengais karena dia sendiri tak tahu harus berbuat. Dan belum tahu penyakit apa yang diderita mamanya.


"Bro, ade lu ajak makan dulu. Gua liat mereka dari tadi belum pada makan apa-apa." Aldo mendekati Jovan seraya menyodorkan amplop pemberian Bunda Fahira.


"Gua masih ada uang Do," balas Jovan seraya mendorong kembali amplop yang disodorkan Aldo.


"Oke, tapi gua akan menyimpan dulu uang ini. kita gak tahu berapa banyak kebutuhan biaya untuk perawan nyokap lu."


"Gua masih ada tabungan, Do."


"Bro, buanglah sedikit ego lu, ini keadaan darurat dan sangat mendesak."


"Ya, terserah lu aja, Do. Gua makan dulu, titip nyokap gua ya."

__ADS_1


"Yoi, di dalam ada bokap sama nyokap gua, tenang aja."


"Bro!" Aldo memanggil Jovan. lalu menariknya sedikit menjauh dari Julia dan Naufal.


"Bro, gua rasa lu mesti nurunin ego sedikit saja. Uang tabungan lu simpan saja. Kita gak tahu berapa besar kebutuhan buat pengobatan nyokap lu. Sedangkan bokap lu sendiri gak tahu dimana. Jadi uang ini mau gua simpen dan gua pakai buat nebus obat-obat, please, Bro," Aldo kembali merayu Jovan.


"Ya terserah lu Do. Gua ngikutin." Jovan pasrah dan memang apa yang disampikan Aldo tak terlalu salah.


Jovan bersahabat dekat dengan Aldo sudah lima tahun. Tepatnya sejak keluarga Aldo pindah dan bertetangga dengan keluarganya. Kedua orang tua Aldo berasal dari Solo, namun sudah bertahun tahun tinggal dan menetap di Jawa Barat. Aldo anak tunggal keluarga Surya.


Pak Surya bekerja di salah satu BUMN yang mengelola listrik. Sementara Bu Surya selain ibu rumah tangga dia juga aktif dalam banyak kegiatan dan memiliki usaha sampingan. Menjual alat-alat rumah tangga dengan cara kredit.


Kehidupan keluarga Aldo sedikit lebih mapan dan makmur dibanding Jovan. karena kedua orang tuanya memiliki penghasilan tetap yang lumayan besar. Walau Pak Surya hanya pegawai biasa. Namun omset penjualan Bu Surya lumayan cukup besar.


Namun demikian, Bu Surya sangat terkenal manusia paling pelit sedunia. Bahkan kepada anaknya sendiri. Walau Aldo anak satu-satunya, namun dia tak pernah dimanjakan dengan segala fasilitas, atau lebih tepatnya Aldo tak terlalu menikmati kemakmuran kedua orang taunya. Bu Surya sangat perhitungan dengan siapapun.


Hubungan Bu Surya dengan Bu Anita cukup dekat. Mereka sudah seperti saudara kandung. Saling mendukung dan saling bantu. Hanya kepada keluarga Bu Anita,  Bu Surya tidak pelit. Walau Bu Anita sendiri tidak pernah meminta apa-apa. Naufal dan Julia sudah menganggap Bu Surya seperti ibu sendiri. Mereka juga sering menginap di rumahnya.


Setelah selesai makan dengan kedua adiknya, Jovan dikejutkan oleh Aldo yang menyusulnya ke warteg depan rumah sakit.  Dia meminta Jovan dan kedua adiknya untuk segera ke ruangan tempat mamanya dirawat.


Bu Anita meronta-ronta sekuat tenaga seolah ingin kabur dan turun dari tempat tidurnya.


"Fuaaaad Insyaf, Fuaaaad, Masya Allah hiks hik hiks hiks... Ayah...," Bu Anita meronta ronta terus Jovan ikut membantu petugas menenangkan Bu Anita yang terus meronta dan Naufal tiba-tiba ikut menangis histeris menjerit melihat mamanya demikian.


"Mama... mama jangan tinggalkan dede, dede mau sama mama...!" Suara Naufal sangat memilukan.  Jovan segera memeluk dan merengkuh tubuh adiknya yang meronta menangis.


Jovan memelu tubuh Naufal yang mungil dan memegangi tangannya yang terus menggapai-gapai ingin memeluk mamanya yang histeris


"Fuaaad, Allahu Akbar, Insyaf kamu Fauaad ingat anak-anakmu... insyaaaaaaaaaf." Suara Bu Anita semakin membuat Jovan panik. Naufal makin histeris memukul dan menjambak rambutnya, kedua kakinya pun menendang kesan kemari tak beraturan.


Sementara Aldo pun tak kalah sibuknya, menenangkan Julia yang juga menangis histeris, walau tidak sampai meronta seperti Naufal.

__ADS_1


Keadaan semakin kacau, air mata Jovan sedikit menetes. Dia menangis bukan karena Naufal memukul, menjambak dan mencakar wajahnya, namun pilu hati serasa tersayat sejuta duri mendengar jeritan dan rontaan mamanya yang kesakitan. Memanggil dan memaki ayahnya. Jeritan Naufal dan Julia kian membuat hatinya pedih.


Keadaan kamar 82 makin riuh dan kacau. Beberapa petugas kesehatan dan petugas keamanan berdatangan. Beberapa orang yang menunggu pasien dari kamar lain pun ikut berdatangan. Petugas keamanan, dokter dan perawat pun meminta kepada yang tidak berkepentingan untuk keluar. Jovan serta Aldo diminta untuk membawa keluar Julia dan Naufal yang terus menangis dan meronta-ronta.


Dengan sekuat tenaga Jovan segera menggendong Naufal yang semakin hebat meronta, menjerit dan menangis. Jovan membawa adiknya dengan setengah berlari menjauh dari kamar agar Nuafal tidak semakin shock melihat kerumunan orang yang makin banyak.


"Fuaaaad Insyaaaaaaf kamu, hahahahahahaha." Samar-samar suara Bu Anita masih terdengar menjerit-jerit histeris dan seketika bulu roma Jovan berdiri.


Jovan dan Aldo membawa Julia dan Naufal ke parkiran. Tangisan dan rontaan Naufal semakin menjadi. Sekuat tenaga Jovan berusaha merayu dan menenangkan adik bungsunya. Salah seorang petugas keamanan bahkan ikut membantunya.


Jovan semakin kalut karena banyak pula beberapa pengunjung yang mengerumuninya di lahan parkir. Mereka semua berusaha membantu menenangkan Naufal dan Julia, namun kedua anak itu makin panik dan histeris.


"Ya Allah, cobaan apa lagi ini? Berilah kami ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi semua ujian dariMu." Jovan berdoa dalam hati seraya memeluk adiknya yang mulai sedikit reda tangisannya.


Julia yang tangisnya sudah reda, membantu merayu dan menenangkan Naufal. Tak sampai lima menit, Naufal segera tenang dan damai dalam pelukan Julia. Ternyata hati hanya bisa disentuh dengan hati.


Julia yang berhati selembut embun pagi persis Bu Anita, mampu bicara dengan bahasa kalbu. Hingga Naufal dengan mudah dapat tenang dan nyaman. Bahkan kini sudah mau mengeluarkan suara. Berbicara kecil walau masih sedikit terbata-bata.


Setelah keadaan tenang dan terkendali, Naufal pun makin nyaman dalam pelukan Julia. Jovan menitipkan kedua adiknya pada Aldo. Dia ingin segera masuk ke toilet untuk membuang air kecil sekaligus menumpahkan air matanya yang terus menerus mendesak minta keluar, hingga dadanya sesak dan sakit.


Jovan tak ingin Julia dan Naufal yang sudah tenang kembali panik melihat dirinya menangis dan rapuh. Walau jiwanya sedang teramat rapuh dan terguncang.


Pedih dan pilu menyaksikan dua adik tercintanya yang terpaksa harus mengalami kenyataan hidup yang sangat berat. Diabaikan ayahnya dan kini mamanya histeris tak sadarkan diri memanggil lelaki yang semestinya jadi pelindung dan pengayom seluruh anggota keluarganya.


"Ayah, dimana dirimu? Apa yang sudah kamu lakukan pada mama, hingga dia menjadi begitu? Mengapa kamu menjadi lelaki yang dzolim pada keluargamu? Tidak kah takut dengan azab untuk suami yang dzolim" Jovan menyeka air matanya dengan basuhan air bening yang mengalir dari kran wastafel.


"Segeralah datang ke rumah sakit, Yah. Lihatlah istri dan anak-anakmu. Kami sangat membutuhkanmu. Berilah kami ketenangan dan kekuatan. Mama itu istrimu yang sah, dan kami anak-anakmu, darah dagingmu sendiri. Mengapa kamu sia-siakan kami?"


Jovan mengeringkan wajahnya dengan ujung kausnya. Namun air matanya kembali meleleh seolah tak mau berhenti dan matanya sudah memerah.


Bersambung – Keluarga Berhati Malaikat

__ADS_1


 


 


__ADS_2