Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga

Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga
Bagian Dua Sembilan


__ADS_3

Uang Milik Siapa?


Ketika pasangan mesum Lucky dan Bunda Fahira berjalan santai bergandengan mesra menuju penginapan. Dari jarak sekitar tiga puluh meter. Tepatnya di balik sebuah pohon besar depan penginapan. Ada dua pasang mata, yang sangat teliti dan fokus memperhatikan. Bahkan ketika dua sejoli yang sedang dimabuk syahwat itu duduk mesra di gazebo.


Setengah jam lalu. Beberapa saat setelah Lucky pergi dari halaman rumah sakit. Jovan segera mencari Lukman dan mengajaknya pergi mengendarai motor.


"Antar gua ke ATM setor tunai yang dekat kampus," jawab Jovan ketika Lukman bertanya hendak kemana.


Jovan tidak terlalu berniat ke ATM Setor Tunai, karena bisa dilakukan kapan saja. Namun rasa penasaran dan kecurigaannya pada Lucky, tak bisa ditahannya. Ada kejanggalan sesuatu yang jangan dan tak biasa.


Kedatangan Lucky ke rumah sakit yang harus dirahasiakan serta topik pembicaraannya tentang Bunda Fahira sangat tidak biasa. Selama ini, Lucky tidak peduli dan tak pernah ikut campur terlalu jauh urusan Jovan dengan Bunda Fahira. Termasuk pada gosip yang sempat beredar, dia nyaris tak menunjukan respon apapun.


Tanpa banyak tanya lagi Lukman pun membonceng Jovan. Dia sedikit tersentak dan kaget saat Jovan memintanya untuk membuntuti motor sport yang masuk ke halaman penginapan.


"Itu si Lucky. Barusan dia nemui gua di rumah sakit, tapi gua curiga, sepertinya dia datang bukan atas keinginannya sendiri." Jovan menunjuk Lucky yang datang menemui Bunda Fahira di salah satu gazebo yang lampunya tidak terlalu terang.


"Hah!" Lukman sedikit terperangah, "ternyata sesuai dugaan, mereka memang punya hubungan khusus. Ini sih bukan gosip lagi," bisik Lukman dengan mata yang tertuju pada Bunda Fahira dan Lucky duduk mesra di gazebo.


"Ya udah kita liatin aja, mau kemana mereka setelah ini." balas Jovan.


Tidak sampai setengah jam, Lukman dan Jovan bersembunyi di balik pohon beringin yang besar dan rindang. Lucky dan Bunda Fahira keluar dari gazebo. Keduanya berjalan santai bergandengan masuk ke loby penginapan.


"Hak, ternyata ujung-ujungnya ngamar!" Lukman sedikit berseru.


"Gak terlalu aneh sih," balas Jovan, "gua pernah dengar dari si Bagas. Tapi, gua masih ragu. Pas tadi si Lucky nemuin gua di rumah sakit, tiba-tiba gua jadi curiga. Ternyata feeling gua gak meleset." Mata Jovan tertuju pada penginapan yang menyatu dengan rumah makan. Sekilas bangunannya mirip rumah tinggal biasa bergaya arsitektur Belanda.


"Yes! Gua makin yakin. Mereka sudah lama menjalin hubungan gelap. Lu bisa perhatikan, sejak kelas sebelas, si Ambon gak pernah kena hukuman si Killer. Padahal sering bikin ulah." Mata Lukman pun tetap fokus menatap penginapan yang tampak sepi dan sedikit seram.

__ADS_1


Penginapan yang awalnya rumah tinggal biasa. Peninggan orang kaya pada zaman Penjajahan Belanda dan kini disulap menjadi penginapan dan rumah makan oleh pemilik atau ahli warisnya.


"Jadi sekarang lu percaya, kalau gua gak pernah macam-macam sama Bunda Fahira?" Jovan bertanya iseng.


"Sejak gosip itu merebak. Yang ada di otak gua malah sebaliknya. Gua yakin cewek gatel itu yang mau merkosa lu, tapi gagal. Dia nyebar gosip hanya untuk mengalihkan isyu saja. Jangan sampai keduluan sama lu, hehehe"


"Hahaha, memang cerdas teman gua yang satu ini. Tapi, gimana kalau lu ditaksir sama Bunda Fahira, mau gak?" Jovan bertanya iseng.


"Gua masih waras! Si Aldo, pernah ngajak gua main ke rumah Bunda Fahira. Tapi, gua rasa sampai saat ini, Lukman masih laku keras sama ciwi-ciwi yang levelnya sesuai selera dan usia gua, hahaha." Lukman tertawa ngakak.


"Yoi. Si Lucky sama si Aldo, 11-12, penggila tante-tante berduit. Gak peduli dari kalangan apa, yang penting jadi duit pasti disikat. Hah! Dasar manusia-manusia edan, terlalu murah menjual harga dirinya." Pungkas Jovan.


Kini hati Jovan mulai menebak-nebak. Benarkah Angel menjalin hubungan dengan Lucky? Atau semua hanya kamuflase? Angel tak jauh beda dengan Bunda Fahira. Memanfaatkan Lucky untuk membalas dendam dan sakit hatinya.


Tak berapa lama, mereka pun pergi menuju salah satu gerai ATM Setor Tunai.


Setelah setor tunai sukses, Jovan tertegun beberapa lama. Tangannya memegangi struk setoran dan matanya terbelalak membaca angka saldo terkahir tabungan mamanya. Tak percaya karena jumlahnya sangat fantastis. Lebih dari 45 juta rupiah.


"Kenapa, Bro? ada masalah bukan?" Lukman bertanya saat melihat Jovan yang masih melongo dan tertegun di depan mesin ATM.


"Gak ada. Alhamdulillah, semua lancar dan udah masuk," jawab Jovan seraya memasukan struk setor tunai ke dalam dompetnya.


Lukman pun kembali membonceng Jovan kembali di rumah sakit. Aldo dan Akmal sedang asik menikmati rokok dan kopi di parkiran. Jovan dan Lukman ikut bergabung. Wajah Jivan seketika semringah saat mendengar kabar dari Aldo, kalau mamanya sudah sadar dan dalam keadaan baik-baik saja.


Obrolan mereka terus beelanjut membahas segala macam, seperti biasanya. Namun Jovan tak bisa konsentrasi. Pikirannya terus melayang mencari jawaban, dari mana mamanya punya uang sebanyak itu.


Kartu ATM mamanya, selalu anteng dalam dompet Jovan. Nyaris tak pernah digunakan, karena selalu tak ada isinya. Dalam keadaan ekonomi yang serba sulit, mamanya belum mampu menyisishkan uang harian untuk menabung.

__ADS_1


"Mungkinkah ayah mengirimkan uang? Kapan mengirimnya? Hanya dia yang tahu nomor rekening mama? Tapu benarkan ayah memiliki uang sebesar itu? Bukankah setiap pulang dia justru sering memaksa minta uang dari mama?" Hati Jovan terus bertanya-tanya.


Karena masih sangat penasaran, Jovan akhirnya kembali berlama-lama dalam toilet. Hanya untuk memastikan dan mengeja satu demi satu angka yang tertera pada struk stor tunainya. Jumlahnya tetap tidak berubah. Struknya pun sah dan meyakinkan.


"Mau tidak mau, besok aku harus tanyakan pada mama. Siapa yang telah mengirmkan uang sebanyak itu, dan untuk keperluan apa?" Jovan terus berpikir keras hingga keningnya mengekrut kuat.


"Apakah ini yang disebut uang siluman? atau memang rizki anak soleh?" tanya Jovan pada dirinya sendiri seraya keluar dari toilet.


Kepenasaran Jovan tentang uang yang ada di rekening mamanya, tak terjawab. Bahkan hingga dia dan Lukman tidur pulas di mushola, setelah melaksanakan shalat Subuh.


Niat Jovan untuk bertanya pada mamanya pun tidak kesampaian. Saat bangun dari tidur dia justru dikejutkan dengan keadaan mamanya yang kembali mengamuk dan histeris. Karena Bu Surya mengajak Naufal dan Julia masuk ke ruang perawatan. Keadaan kembali kacau.


Jovan yang baru bangun tidur sangat panik dan kebingungan. Semakin tak mengerti dengan keadaan mamanya yang bisa kembali drop padahal semalam sudah sangat stabil menurut Aldo. Beuntung ditengah kepanikan itu Kakek, Nenek dan Bi Ratna, adik bungsu mamanya, datang dari Bandung.


Dengan sangat berat hati, terpaksa Jovan membawa Julia dan Naufal pulang. Dokter dan perawat meminta Jovan untuk tidak menjenguk mamanya sebalum bisa dipastikan mamanya benar-benar stabil. Jovan kembali berjibaku meredakan Naufal yang nangis, ngamuk dan meronta ronta karena tak mau dipisahkan dari mamanya.


Hari ini Jovan tak bisa ke rumah sakit menjenguk mamanya. Dia hanya mendapat kabar dari Aldo jika teman-teman sekolahnya datang menjenguk mamanya. Elva bahkan mengirim fotonya saat sedang menjenguk mamanya. Tampak Bu Anita segar dan semringah dikelilingi teman-teman Jovan.


Namun, sekujur tubuh Jovan seketika lemas tak bertenanga, saat Aldo mengabarkan kalau Angel pun datang menjenguk mamanya ditemani Lucky. Foto-foto Angel dan Lucky, terlihat sangat mesra saat berada di rumah sakit.


Jovan berpikiran buruk tentang Lucky dan Angel. Mereka bukan hanya sekedar datang menjenguk mamanya, namun sedang merancang sesuatu untuk mencelakakannya.


Bersambung – “Berpisah Dengan Mama”


 


 

__ADS_1


__ADS_2