
Hamil Anak Siapa?
Lucky kembali tersenyum sinis melihat dan mendengar keterkejutan Bunda Fahira yang sangat menjijikan dan menggelikan.
"Bukankah Bunda juga tadi mau melenyapkan gua, Jovan, Aldo dan si Bagas?" Lucky mendekati Bunda Fahira lalu memegangi dagunya dengan sangat lembut. "Dengar Bunda yang tidak tahu diri! Kita gak perlu berdebat lagi tentang video dan hidup mati. Kalau lu masih ingin hidup enak dan status lu sebagai istri anggota dewan yang terhormat, tidak terganggu juga yayasan lu aman-aman saja, segera transfer uang 500 juta ke rekening gua." Lucky menunjukan powernya yang maksimal.
"HAH!" seru Bunda Fahira dengan mata melotot.
"Kamu sudah gila, Lucky?" lanjutnya setelah sedikit tersadar dari terperanjatnya yang bagaikan terkena setrum ribuan volt.
"Hahahaha yang gila dan bejat itu elu, Fahira. Berapa brondong yang lu jual dan eksploitasi laksana sapi perahan. Berapa orang yang lu tipu termasuk suami dan teman-teman lu sendiri. Apa salah dan dosa Pak Zulfikar hingga memiliki istri seorang pendosa seperti lu, Fahira?" Suara Lucky makin lantang dan berani dan dia pun menjambak rambut Bunda Fahira. Melampiaskan kemarahan atas segala kelicikan, kesombongan dan kearoganannya yang selalu merendahkan semua orang.
Sejak beberapa minggu terkahir ini, Lucky sudah tak sabar ingin segera menampar dan melampiaskan segala amarahnya dengan meludahi wajah cantik istri pendosa yang tak tahu bersyukur itu.
Bunda Fahira terdiam. Tak pernah dia merasakan hatinya sesakit ini. Dia benar-benar telah dinistakan sebegitu rendah dan hina oleh lelaki yang selama ini dianggapnya hanya mainan yang bodoh, kampungan dan naif.
Wajah Bunda Fahira pucat pasi, tegang. Kedua kelopak matanya mulai berkaca-kaca, pandangannya sedikit berkunang-kunang.
"Gimana nih, Fahira! Kemana gua mesti kirim video mesum lu dengan Pak Fuad dan brondong-brondong lainnya. Ke suami lu atau ke YouTube?" Lucky menantang, tak sabar.
"Lucky lima ratus juta itu uang tak sedikit, Sayang." Bunda Fahira mencoba merayu. "Sa..sa..saya tidak punya uang sebanyak itu, Luck!" Suara Bunda Fahira makin lemah, air matanya tak bisa dibendung lagi dan sekujur tubuhnya bergetar hebat, menggigil seperti orang yang tiba-tiba terserang demam atau malaria. Bunda Fahira bahkan sedang merasa berada di bibir neraka jahanam yang mengerikan.
"Hah! Alasan saja lu! Suami lu pejabat. Lu juga pengusaha merangkap mucikari. Masa gak punya duit segitu?" Lucky mengangkat wajah Bunda Fahira yang tertunduk.
"Luck, kasihanilah saya. Kita bisa bicara baik-baik. Kalau hanya lima puluh juta mungkin malam ini juga bisa saya transfer." Bunda Fahira bernegosiasi dan menyerah.
"Oke, kalau gitu sekarang juga gua kirim video ini ke medsos dan suami lu!" Lucky menutup mata hatinya. Tak iba melihat wajah Bunda Fahira yang mengiba dan bercucuran air mata dalam tangis yang tanpa suara.
"Tunggu saja, seluruh keluarga besar lu, bakal menanggung malu seumur hidup akibat perbuatan lu ini, hahaha." lanjut Lucky makin renyah dan jahat tawanya.
"No!!!" Tiba-tiba Bunda Fahira berteriak. "Iya.. iya...saya pasti kirim semua uang permintaanmu, tapi tidak malam ini, . Saya harus nyari dulu uangnya, Luck!" Bunda Fahira frustasi dalam tekanan.
__ADS_1
"Oke. Kalau begitu, mobil lu gua bawa, sebagai jaminan." Lucky memegangi kunci mobil Bunda Fahira yang sejak tadi tergeletak di meja rias setengah lingkaran.
"No!" Kembali Bunda Fahira berteriak seraya mencoba merebut kunci mobilnya dari tangan Lucky namin sia-sia.
"Luck, Please jangan, Sayang. itu mobil suamiku." Bunda Fahira sedikit histeris.
"Hahaha, terserah ini mobil siapa. yang jelas masa depan lu ditentukan ini." Lucky melepaskan cengkraman tangannya di dagu Bunda Fahira.
"Gua tunggu dua atau tiga hari. Dan ingat! lapor polisi berarti semuanya hancur berantakan. Bukan cuma gua yang akan dibui. Tapi lu juga bakal membusuk di penjara. Gua bisa melaporkan lu telah melakukan perzinahan dan prostitusi serta perdagangan orang. Semua bukti-bukti sudah sangat jelas." Lucky bicara kalem namun sangat mengintimidasi.
"Luck, please. Kamu pasti gak tahu, saat ini Bunda sedang mengandung anak kita, Sayang." Bunda Fahira mencoba menurunkan amarah Lucky, dia tahu sang brondong sangat ingin mengandung anak dari rahimnya.
"What? anak kita? Anak kita rame-reme ya, hahahaha. Berapa batang jantan yang sudah membuahi induk telor lu, Fahira? Lu yakin itu anak gua, hahahahaha. Dasar wanita murahan, enak saja lu ngaku-ngaku itu anak gua!" Lucky tertawa terbahak bahak.
"Iya, tapi hanya dengan kamu Bunda tak pernah memakai pengaman, Sayang. Bukankah kamu yang menginginkan anak dalam kandungan Bunda?" Bunda Fahira terus mencoba melunakkan hati Lucky yang sudah mengeras.
"Hahaha, lu gak lihat di video tadi itu? Setiap lu berhubungan badan dengan Pak Fuad, lu juga gak pernah pakai pengaman. Dasar murahan. Minta aja tanggung jawab sama si Fuad, kebanggaan lu itu. Kasihan dia sudah jadi gembel sekarang, udah miskin dan terusir dari keluarganya yang kaya raya. Hahaha, lumayan kan, dia masih ganteng sama dengan si Jovan anaknya." Lucky makin puas menumpahkan segala sumpah serapahnya.
Bunda Fahira terdiam dan tak mampu lagi bicara walau sepatah katapun.
Tangannya memegang pegangan pintu kamar. "Ingat Fahira! Pembalasan bisa datang kapan saja. Lu masih terlambat, sepertinya masih bisa bertobat. Terlalu lama lu hidup dalam kesombongan yang menjijikan. Ingat masih ada gerbong di depan gerbong lain!" Lucky kembali menyeringai seraya membuka pintu.
"Tunggu saja besok atau lusa. Kalau malam ini lu gak memberikan kepastian tentang uang itu, gua yakin lu bakal mati berdiri atau setidaknya gila, bahkan bunuh diri. Good night!" pungkas Lucky seraya keluar dari kamar hotel tanpa menutup kembali pintunya.
Lucky pergi dengan sangat gagahnya, meninggalkan Bunda Fahira yang belum percaya jika azab hidupnya sudah semakin dekat. Dia bahkan tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi hari esok. Sementara janin dalam kandungannya tidak mungkin diakui oleh suaminya. Karena sudah hampir setengah tahun Pak Zulfikar tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai suami.
Otak Bunda Fahira kosong, tak sanggup lagi berpikir. Dia hanya mampu menangis dan berdiri sambil kencing di celananya yang super mahal.
Sementara di luar hotel, Aldo yang sudah menuggu dengan jantung berdebar-debar, segera mendatangi Lucky yang masuk ke mobil Bunda Fahira seorang diri.
"Gimana Sob, beres?" Aldo yang baru saja duduk di jok depan, langsung bertanya dengan semringah.
__ADS_1
"Akting lu keren, Do. Hahahaha. Sepertinya si Angel bisa kalah sama lu," balas Lucky sambil menyampirkan kedua tangannya di atas kemudi.
"Ya elah bahas akting segala. Gimana Bunda udah bertekuk lutut belum?" Aldo makin kepo.
"Gua gak butuh persembahan atau tekuk lututnya. Yang pasti malam ini, lu mesti kumpulin semua anak-anak kita yang udah jadi korbannya si mucikari brengsek itu." Lucky menatap Aldo dengan senyum ambonnya yang sangat manise.
"Yes, kita party dong, Bro?" Aldo mengangkat tangan memberikan toas pada sahabatnya. "Yoi" balas Lucky sambil menerima toas Aldo.
"Gua harap lu juga segera temui si Jovan. Minta maaf sama dia, terus ajak dia kembali ke sekolah. Gua gak tega lihat kehidupannya yang terlalu dibuat sengsara oleh ulah si ****** gila itu!" Lucky menggeram gemas.
"Pasti, Sob. Gua akan segera menemui si Jojo dan meminta maaf, kalau urusan kita dengan bunda penipu itu udah selesai."
"Semua udah beres. Tinggal tunggu aja satu atau dua hari ke depan. Kalau dia ingkar janji, maka semua rencana yang telah di susun si Lukman, segera laksanakan."
"Oke, siap Komandan!"
"Sekarang lu telponin semua anak-anak, kita kumpul di puncak. Gua udah booking villa, hahahaha."
"Gila,nih si ambon! Lu bisa dapat duit dengan segitu entengnya? Nah gua, pisang tanduk gua yang super jumbo ini cuma dihargai 200 rebu, itupun mesti beberapa kali putaran sampai benar-benar gempor dan habis oli putihnya, hahahaha."
"Makanya, jadi cowok itu jangan cuma barang doang yang gede. Otak juga harus lebih gede. Barang gua standar aja, tapi otak gua bisa mengalahkan permainannya, hahahah."
"Yoi, siap Suhu. Mulai sekarang gua mau belajar dari Suhu, caranya cari duit dengan gampang, hahahaha."
"Hahaha, terus nanti pelampiasan lu sama siapa kalau si Fahira udah jadi gembel? Jangan-jangan sama nyokap tiri lu. Dia kan pemain brondong juga, hahahaha."
"Hahaha, gua mau insyaf, mau balik lagi jadi akan baik-baik, kaya si Jojo. Pokonya gua mau berguru sama si Jojo tentang hidup baik. nyokap tiri gua yang pelit itu, abaikan, hahahaha."
"Good, saatnya kita fokus UN yang sudah di depan mata. Nanti malam sambil party kita bahas ulang dengan anak-anak, bagaimana selanjutnya agar si Fahira jera dan kapok tujuh turunan, hahahaha."
"Siap komandan!"
__ADS_1
"Cabuuut Party, Brooooooooo, puncaaaaaaak kitaaaaa hahahaha!!" seru Aldo kegirangan.
Bersambung – Jovan Yang Tersisih