
Lelaki Berpikiran Sempit
Cukup banyak hal sederhana yang bisa diteladani dari seorang Jovan. Selain kesederhanaannya itu sendiri, dia juga dikenal sebagai remaja yang miliki kepribadian cukup baik. Cerdas, penyayang dan cukup taat beribah, walau belum pernah jadi santri mondok.
Pesona dan ketampanan putra sulung pasangan Fuad Alarkam dan Anita Rahayu ini, sudah terpancar sejak kecil. Bahkan sejak lahir. Darah Sunda-Arab yang mengalir di tubuhnya, tercampur sempurna dari mama dan ayahnya.
Tak ada gading yang tak retak. Tak pernah tercipta makhluk sempurna di dunia ini, begitu pun dengan Jovan.
Di antara sederet kelebihan bentuk fisik dan keindahan pribadinya, Jovan pun dilengkapi banyak kelemahan dan kekurangan. Minder, mudah panik, pemalu, mudah terharu dan tidak suka memakai celana dalam, menjadi kelemahan yang sangat melekat dalam dirinya.
Kebiasaannya yang tidak pernah memakai celana dalam bentuk segi tiga ketat, sering dianggap kelemahan oleh sebagian orang. Namun Jovan sendiri belum mengakuinya. Banyak yang memuji. Ada pula yang mencaci. Jovan bahkan tak pernah menyadari, jika kebiasaannya itu, memiliki andil besar dalam mengubah jalan hidupnya kelak.
Unik dan menggelikan.
"Kampret lu! dicari-cari sampai rambut gue menguning, eh ternyata di sini. WA gua dikacangin lagi!" bentak Wildan sambil duduk di samping Jovan yang baru saja keluar dari mushola, setelah melaksanakan shalat Ashar.
"Mana rambut lu yang kuning? Semua masih item, Sob." Jovan mengernyitkan dahi seraya menatap sahabatnya. .
"Jo, please help me, this is very urgent and very very important!" Sorot mata Wildan seketika sendu dan sayu.
"Bantu apaan?" Jovan tak acuh. Kepalanya menunduk dengan mata dan tangan fokus mengikatkan tali sepatu kanan.
"Obat pembesar yang biasa lu pake, mereknya apa?" Wildan setengah berbisik.
Jovan, sontak menolehkan wajah. Menatap heran sahabatnya yang sudah sekian kali bertanya hal yang sangat tidak berfaedah.
"Apa gak ada pertanyaan lain, Sob? Basi tahu gak, sih!" Jovan menaikan alisnya. Memastikan, teman beda kelasnya itu tidak sedang mengigau.
"Ah payah. Lu selalu aja mengelak. Sob, gua tahu, rudal lu pasti pake obat pembesar. Bener kan?" Wildan memaksakan prediksinya yang absurd.
Jovan tak merespon. Wajahnya lurus memandangi beberapa temannya yang sedang asik main basket di lapangan sekolahnya.
Ada keinginan untuk mengusir Fadlan dari sisinya, namun dia butuh info tentang Angel dan Alfin. Wildan sahabat dekat Alfin, pasti banyak memiliki info tentangnya.
"Ayolah, Sob! gua butuh banget bantuan lu. Ingat kata Bu Rini! Berbagi itu indah dan bagian dari ibadah." Siswa yang gantengnya dua level di bawah Jovan, memasang wajah super memelas.
__ADS_1
"Wani piro?" tantang Jovan.
"Matre lu!" sergah Wildan.
"Gua bisa bantu lu, asal lu ceritakan. Apa dan bagaimana sebenarnya kasus yang menimpa Angel dan Alfin itu?" Jovan memandang serius wajah Fadlan yang tiba-tiba pucat pasi.
"Bukannya tadi lu dipanggil juga sama Bunda Fahira? Pasti udah tahu dong gimana jalan ceritanya." Wildan sedikit berbisik.
"Gua dipanggil dalam kasus lain. Gak ada hubungannya dengan kasus mereka." Jovan makin heran melihat sikap Wildan yang tiba-tiba salah tingkah dan gelisah.
"Serius lu gak tahu, Jo? Masa Bunda Fahira gak ngejelasin?" Wildan balik bertanya.
"Oh God! Kalau gua tahu ngapain nanya sama lu. Gua cuma tahu mereka dikeluarin karena Angel hamil dan si Alfin harus menikahinya. Yang mau gua tahu, emang sejak kapan mereka punya hubungan khusus?" Jovan lebih menjelaskan maksud pertanyaannya.
"Wah kalau itu gua gak bisa ngejelasinnya Sob. Sorry, gua gak punya kapasitas buat menyampaikan hal yang paling pribadi itu. Maaf itu rahasia mereka, kalau pun gua tahu, gak berhak menceritakannya pada siapapun." Wildan bicara tegas dan formil.
"Lu kenapa sih, kaya ketakutan gitu. Gua cuma mau tahu aja. Kalau gak bisa, ya sudah. Mungkin gua mesti cari info dari sumber lain."
"Iya, sorry Sob, khusus yang satu itu gua gak bisa. Intinya gua nyari lu, cuma mau minta tolong, dan gua harap lu bisa bantu."
"Jo, please! kasihanilah sahabatmu ini. Gua punya masalah serius dengan ukuran kejantanan gua yang terlalu kecil dan pendek. Gua selalu dilecehkan cewek-cewek gua. Mereka gak puas kalau berhubungan intim sama gua."
"What! Are you crazy?" Jovan terbelalak.
"Serius, Sob!"
"Oh my God! Usia kita bahkan baru beberapa masuk usia 18 tahun. Jangankan melakukan hubungan intim, ngebahasnya aja masih belum layak. Kecuali untuk tujuan pendidikan. Itu pun harus dibimbing ahlinya. Untuk menambah ilmu dan wawasan, dan diparkatekan nanti kalau sudah cukup umur."
"Gua udah banyak belajar, juga udah mempraktekannya, tapi, selalu gagal."
"Wah, kacau nih. Lu kebanyakan belajar dari internet dan bacaan-bacaan yang gak jelas sih. Sorry Bro, gua gak bisa bantu, titik."
"Sob, please help me! Gua bakal jaga rahasia. Lu tinggal nyebutin merek sama nama olshop-nya doang. Bantu gua bebas dari hinaan-hinaan cewek yang selalu merendahkan keperkasaan gua, please." Wildan memelas habis habisan.
"No way!" bentak Jovan.
__ADS_1
"Why? Masa, lu tega sama sahabat sendiri. Gua jamin, kalau punya gua udah besar dan panjang, gua gak bakal gangguin cewek-cewek lu."
"Wil sorry, Gua gak pernah pake gitu-gituan. Semua yang gua miliki, alami! Murni pemberian Tuhan, tanpa rekayasa. Sumpah!" Jovan bicara serius, namun dalam hati tertawa. Geli melihat wajah sahabatnya yang imut kala memelas. Di lain sisi dia sangat miris dengan pemikiran Wildan yang sangat kerdil.
"Wil, coba lu memelas tiap hari, bisa-bisa gua jatuh cinta. Ternyata lu lumayan imut dan menggemaskan kalau lagi memelas." Jovan mencolek dagu Wildan, agar tidak tegang dan serius.
"Anjaaay!" Wildan menepiskan tangan Jovan dengan kasar.
"Hahaha, lagian lu, aneh. Apa sih yang membuat lu sampai segitu yakinnya kalau ukuran kejantanan itu segala-galanya bagi kaum laki-laki?" Jovan mengernyitkan dahinya.
"Lu sih gak merasakan, soalnya punya lu besar dan panjang. Pasti semua cewek puas kalau main sama lu. Buktinya si Angel sama Bunda Fahira sampai tergila-gila sama lu. Nah, gua yang punya barang kecil begini, selalu ditinggalkan dan dilecehkan cewek-cewek. Mereka gak puas dengan permainan gua dan langsung minta putus."
"Otak lu mesum, Sob! mengatasnamakan cinta hanya sebatas nafsu. Mengumbar syahwat. Payah luh! Nikmatilah keindahan cinta, bukan hanya sekedar nafsu semata. Nafsu akan hilang sesaat setelah dilampiaskan. Tapi, cinta beda! Dia akan tetap bersemayam dalam hati. Dan mampu menerima pasangan kita apa adanya. Baik kelebihan mauapun kekurangannya. Jadi gak ada tuh putus gara-gara yang gituan kalau memang benar-benar saling mencintai. Basi lu!" Jovan benar-benar terpancing amarahnya.
"Suatu saat lu pasti butuh gua, Jo. Dan gua gak bakal bantu lu,"
"Hahaha, udah deh mending kita pulang, lapar gua!”
Wildan, satu dari sekian banyak lelaki yang terdoktrin salah. Mereka hanya berkeyakinan bahwa kepuasan hubungan seksual hanya berdasarkan ukuran alat kelamin pria. Pemikiran yang sangat naif. Mereka melupakan hubungan intim spiritual yang lebih menitik beratkan pada hati dan perasaan untuk mencapai kepuasan bersama.
Wildan selalu antusias berbicara yang sedikit nyerempet mesum. Sebaliknya, Jovan sangat anti dan tabu dengan hal itu. Jovan berkeyakinan, apapun yang dianugerahkan Tuhan pada dirinya, hanya tinggal dijaga, dirawat dan dipelihara dengan baik, tanpa perlu rekayasa berlebihan. Sangat wajar jika dia lebih bersikap santai dan tak pernah terobsesi dengan hal-hal yang demikian.
Jovan lebih antusias dan bersemangat membantu mamanya berjualan di warung. Atau membimbing kedua adiknya belajar di rumah. Dia cowok masa kini yang pemikirannya sederhana dan sangat mencintai keluarga.
Jovan bukan cowok kulkas, tapi juga bukan cowok kompor. Tidak semesum Wildan, tapi juga tak sedingin Yosan. Tidak senakal Angga, tapi tidak terlalu kalem seperti Rusman. Tak setertutup Akmal, namun tidak seterbuka Agung. Tidak tajir namun tidak miskin-miskin amat. Yang pasti dia lelaki biasa yang mudah untuk diingat namun susah dilupakan.
Jovan selalu jadi sasaran tebar pesona para cewek. Tetapi, dia tidak mencari kesempatan dalam kesempitan. Apalagi sampai mengobralnya dengan murahan.
Jovan terlahir dan dididik dalam keluarga sederhana yang cukup taat menjalankan ibadah. Senantiasa menjunjung tinggi harga diri dan kehormatan seluruh keluarganya. Dia selalu bersyukur atas segala nikmat dan anugerah Yang Maha Kuasa.
Bersambung – “Kenyataan Yang Berbeda”
__ADS_1