
Hanya Sebatas Nafsu
'Dasar cewek sinting! Sudah putus urat malunya.' Jovan mengumpat dalam hati saat Angel mengemukakan alasannya mengapa dia begitu tergila gila pada dirinya. Sebuah alasan yang sangat tak masuk akal dan memalukan. Apalagi diucapkan oleh seorang wanita..
"Jadi lu mau pacaran sama gua, cuma karena itu doang? Gila amat ya, lu!" Jovan terbelalak.
"Gak sih. Semua cewek juga pasti bangga dong, punya cowok yang tampangnya Arab Sunda seganteng lo. Tapi, sejujurnya, gue lebih terobsesi dengan apa yang ada di balik celana lo. Seksi banget, tahu!" Angel menjawab santai seraya tersenyum tanpa malu-malu.
Jovan melongo. Sepanjang hidupnya baru kali ini mendapati cewek senekat dan sesableng ini. Membicarakan hal yang sangat tabu, nyaris tanpa beban. Untung saja mereka bicara di belakang sekolah. Tak ada seorang pun yang melihat atau mendengar obrolannya.
"Gue yakin. Bukan cuma gue yang tertarik dengan anumu. Banyak juga cewek lain yang suka ngomongin punya lo itu, hanya saja, mereka munafik. Sok suci dan sok jaga image." Angel memonyongkan bibir menunjuk bagian tubuh Jovan yang paling pribadi.
"Hihihi.. sinting banget lu jadi cewek!" Jovan bergidik seraya berlalu meninggalkan Angel yang tertawa renyah. dia bahagia dan puasnya hati, telah membuat lelaki alim yang digandrungi banyak cewek itu salah tingkah dan kesal.
Dari pertemuan dan kejadian-kajian ajaib lainnya. Tak salah kalau jantung Jovan sering dag-dig-dug tak keruan. Bukan dia sok munafik, tetapi menghadapi cewek aneh yang demikian, tentu saja membuat Jovan ketar ketir. Dia sama sekali belum siap untuk hubungan yang seekstrim itu.
Jovan berusaha tidak memberi kesempatan pada Angel untuk bisa dekat dengan dirinya. Namun, ternyata Angel memiliki cara yang lebih halus dengan membeli hati orang-orang yang paling dicintai sang incaran.
Hampir dua hari sekali, Angel mendatangi warung Bu Anita. Sekedar makan siang dan ngobrol-ngobrol santai. Kebiasaan yang sangat langka dan tidak pernah dilakukan dia sebelumnya.
Seorang Angel bersedia makan di warung kaki lima, sesuatu yang sangat mengejutkan.
Jovan terpaksa menghindar. Dia tak pernah datang ke warung untuk membantu mamanya, terutama jika Angel dan gengs-nya sedang di sana. Bu Anita tentu saja menyambut Angel dengan antusias. Selain warungnya jadi rame karena banyak didatangi gadis-gadis cantik, Angel pun tak segan mentraktir teman-temannya dan memborong makanan dengan harga yang sangat pantas. .
Sikap Angel di sekolah berubah 180 derajat. Dia cuek dan tak acuh bahkan cenderung dingin pada Jovan. Namun demikian, dia tidak pernah memberi ruang pada cewek manapun untuk mendekati Jovan. Kecuali siap dilabrak atau ditantang duel oleh ketua trouble maker girls.
'Edan! Si Angel bener-bener mau ngebikin gua jomblo di sekolah. Masa sih cowok seganteng gua harus jomblo? Hahaha gak juga sih. Biarin amat orang lain nganggap gua jomblo, yang penting gebetan gua aman, dan cinta kita mulus and lancar jaya. Walau kayak yang pacaran back street aja, hahaha."
Nasi sudah jadi rengginang.
Jovan hanya bisa pasrah dan bersiap menerima atau menangkis segala serangan yang mungkin akan Angel lakukan untuk membalaskan dendamnya. Mama dan kedua adiknya sudah membuka pintu lebar-lebar untuk Angel.
Jovan hanya bisa mengambil hikmahnya dari keadaan saat ini. Gara-gara Angel sering ke warungnya, dia jadi punya banyak waktu untuk bermain futsal atau jalan-jalan sore mengajak Naufal menikmati kebersamaan di luar rumah.
Setelah Shalat Maghrib, Jovan menemani kedua adiknya belajar. Lalu mengajak keduanya untuk Shalat Isya berjamaah. Setelah Julia masuk ke kamarnya dan Naufal pun tidur di kamar mamanya, Jovan kembali bercengkerama dengan ponselnya, sambil tiduran di kamar.
__ADS_1
Tak berapa lama, Bu Anita masuk ke kamar Jovan dan duduk di pinggir ranjang. Di samping Jovan yang sedang telentang masih dalam balutan baju koko dan kain sarung.
"Mama mau nanya, tapi tolong jawab dengan serius. Sebenarnya gimana sih perasaan Jojo sama Neng Angel?" Bu Anita menatap serius kedua mata Jovan yang berputar malas.
Bukan tanpa alasan. Bu Anita mempertanyakan itu karena tadi siang, Angel terang-terangan mengadu, kalau Jovan membencinya tanpa alasan.
"Hmmm, harus dijawab berapa kali lagi nih?" Jovan menjawab sekaligus bertanya, malas.
Andai saja yang bertanya bukan wanita yang dulu menyusuinya, tentu buku kamus tebal yang sedang dibacanya sudah mendarat di wajah atau mulut sang penanya. Jovan sering mengernyitkan dahi, berpikir keras mencoba mencerna dan memahami, mengapa mamanya begitu mengagumi Angel.
"Iya, Jojo kok cuek gitu sama Neng Angel. Padahal dia sangat berharap, loh. Emang Jojo udah punya pacar? Kok belum dikenalin sama mama." Bu Anita makin lekat menatap wajah anaknya, yang bibir atasnya mulai ditumbuhi kumis tipis.
'Ternyata selain alisnya yang tebal, anakku kini makin ganteng dengan kumis tipisnya, persis ayahnya. Pantes aja Neng Angel tergila-gila,' Bu Anita memuji dalam hati.
"Hmmm, UN, Ma, UN, kok malah bahas pacaran sih?" Jovan makin jengah dan gusar.
"UN masih lama, masih sembilan bulan lagi." Bu Anita tak mau kalah.
"Iya, tapi, kan mulai sekarang harus udah fokus persiapan, kali." Jovan merengut.
"Gimana sih kok malah kebalik, harusnya mama yang ngotot nyuruh Jojo belajar, hahahaha." Jovan akhirnya tak kuasa menahan tawa. Geli dan gemas dengan kegigihan mamanya memperjuangkan Angel.
"Iya, mama ngerti. Tapi coba Jojo pikir baik-baik. Neng Angel itu cantik, sopan, baik budi dan..."
"Tajir, anak orang kaya, banyak duitnya dan royal. Hmmmm ternyata, mama matre juga ya, hahaha." Jovan memotong, sekaligus melanjutkan ucapan mamanya dengan diiringi tawa renyah. Mau guling-guling tapi takut dosa.
"Hehehe, bukan matre. Mama cuma heran aja, emang kurangnya Angel itu apa?" Bu Anita tetap tak menyerah.
"Angel gak ada kurangnya, Ma. Malah banyak lebihannya." Jovan bangkit dari tiduran. Duduk bersila, lalu menyimpan kamus di atas nakas.
"Nah, udah tahu banyak kelebihannya, kenapa atuh Jojo masih nolak cinta Neng Angel?" Bu Anita mulai antusias. dia menangkap sedikit cahaya terang dari ucapan anaknya yang memuji Angel.
"Iya, banyak kelebihannya." Jovan turun dari ranjang. Lalu berdiri sejenak, menatap mamanya yang senyum-senyum.
"Neng Angel gadis kesayangan mama itu, lebih seksi, lebih terbuka pakaiannya, lebih bebas pergaulannya, mungkin juga lebih nakal. Emang mama mau punya menantu yang banyak kelebihannya seperti itu?" Jovan akhirnya mengeluarkan ajian pamungkasnya untuk membuka mata hati mamanya yang sudah dibutakan sandiwara Angel.
__ADS_1
"Hehehe Jojo bisa aja." Bu Anita tersipu. Lalu berdiri sejajar dengan Jovan yang hendak keluar dari kamarnya.
"Oh iya Jo. Tadi Neng Angel nawarin sepeda buat si Dede, gimana?"
"Hah! kenapa gak sekalian aja beliin motor baru buat Jojo, jangan cuma sepeda, hahaha." Jovan tertawa hambar.
"Beneran Jojo mau ganti motor? Nanti mama bilangin sama Neng Angel." Wajah Bu Anita seketika berbinar penuh harapan. Sudah beberapa kali Angel mengatakn kasihan melihat Jovan yang masih mengendarai motor yang sudah ketinggalan zaman. Gak kekinian.
"No!" sergah Jovan
"Terus gimana sepeda itu? Kasihan si Dede udah kepengen banget punya sepeda." Raut wajah Bu Anita seketika berubah mendung.
"Gak usah. Nanti Jojo nyari duit buat beli sepeda si Dede," pungkas Jovan seraya keluar kamar..
"Hmmm." Bu Anita tidak bisa memaksa.
Jovan masuk dapur lalu ke kamar mandi. Beberapa saat dia berjongkok merenung di atas closet. Perutnya tidak ada tanda-tanda ingin buang air besar.
Jovan sengaja melakukan itu, sebagai cara paling efektif dan sopan untuk menghindari mamanya yang akhir-akhir ini makin getol memberondong dirinya dengan segala pertanyaan dan cerita tentang cantik dan baiknya Angel.
Jovan tak ingin beradu argumen dengan mamanya. Takut bicara kelepasan dan melukai hatinya. Dia teramat takut berbuat dosa pada wanita pemegang kunci surganya. Apapun adanya Bu Anita, Jovan wajib menjunjung tinggi kehormatan dan kemuliaannya.
Setelah anaknya keluar kamar, Bu Anita pun menyusulnya dengan senyuman penuh rasa bangga.
Jauh di lubuk hatinya, dia sangat kagum dengan keteguhan hati anaknya yang tak mudah goyah oleh hiruk pikuk godaan dari para gadis pemujanya.
Bukan hanya Angel, masih banyak gadis tetangga yang terang-terangan mengaku siap menjadi calon menantu Bu Anita. Beberapa ibu-ibu teman pengajiannya pun terutama yang punya perawan, sering bisik-bisik mengajaknya besanan.
Bukan hanya wajah dan penampilan yang menarik perhatian emak-emak rempong itu, namun sikap dan kepribadian Jovan membuat mereka ingin menjadikannya menantu.
‘Zaman sudah berubah, sekarang banyak gadis yang lebih berani dan bebas menentukan calon suaminya. Iya sih, sekarang kan cewek juga udah setara dengan cowok, why not? Cewek cowok sama aja haknya, dicintai dan mencintai.’ bisik Bu Anita seraya tersenyum.
Bersambung - “Kepanikan Sebelum Upacara”
__ADS_1