Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga

Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga
Bagian Tiga Sembilan


__ADS_3

Tetangga Lebih Menggairahkan


Jovan garuk garuk kepala. Kali ini memang benar-benar gatal. Sepertinya ada beberapa ekor semut yang mencoba berwisata di rimbunan rambutnya yang hitam tebal dan sedikit ikal.


"Gini aja deh. Biar ade-ade lo gak ngambek, mending turunin ego lo. Gua akan tetap ngajak Julia sama Naufal, jalan hari Sabtu nanti. Dan lo wajib ikut ngajak Elva. Bagas sama Nadya juga mau ikut. Lo, mesti kenalan juga sama pacar gue, kebetulan dia juga mau ikut." Angel memberikan pilihan dan solusi namun seketika membuat kuping Jovan mendadak panas.


"Eh, ngapain juga gua mesti kenalin sama pacar lu?" Jovan mencibir.


"Biar lo gak curiga and gak kegeeran terus. Yang pasti, pacar gue gak punya  adik. Dia anak tunggal.  Jadi, posisi Julia dan Naufal tetap aman di hati gue,  hahahaha." Dengan entengnya Angel  berlalu meninggalkan Jovan yang benar-benar mati gaya.


Deal! Jovan kalah telak 7-0.


‘Bagaimana mungkin gua ngajak Elva? Hubungan gua sama dia kan gak jelas? Dasar trouble maker! Bisa aja bikin gua mati berdiri, ***** lu!’ umpat Jovan dalam hati.


Setelah berpikir beberapa jenak. Akhirnya Jovan bersedia menurunkan egosentrisnya, berdamai dengan hatinya tapi bukan dengan Angel.


Dengan wajah memelas dan sedikit merah padam, Jovan meminta dengan sangat pada Angel untuk bicara langsung pada Julia dan Naufal, kalau kakaknya sudah mengizinkan mereka jalan-jalan pada hari Sabtu nanti.


Angel menyanggupinya. Memang itu yang dia harapkan. Janjinya pada Julia dan Naufal harus ditepati. Tidak boleh ada lagi yang menghalanginya karena janji itu sudah dia ucapkan beberapa hari sebelum dirinya pindah sekolah.


Julia dan Naufal pun berhamburan keluar dari kamar. Wajahnya semringah penuh suka cita walau sisa-sisa tangisan masih terdapat di setiap sudut matanya. Naufal yang air matanya belum sepenuhnya kering, segera berhambur ke dalam pelukan Angel dan membasuh air matanya dengan seragam kakak angkatnya yang paling dia cintai.


Naufal dan Julia, bahkan tidak mempedulikan Jovan yang sedang melongo.


"Teh Angel jangan pulang dulu, kita makan bareng-bareng, ya!" Julia memotong ucapan Angel saat berpamitan pada Jovan.


"Teteh makannya di rumah aja, kasihan mama teteh udah masak, nanti gak ada yang makan." Angel menjawab seraya membelai rambut Julia dan Naufal bergantian.


"Dede, mau makan disuapin Teh Angel, kayak waktu itu." Naufal yang matanya masih sembap tengadah menatap Angel yang tersenyum sendu.

__ADS_1


Suara Naufal yang sedikit parau, tatapan matanya yang sayu, seketika meluluh dan melelehkan hati Angel yang mulai bergetar. Tak kuasa menolak keinginan si ganteng yang sangat disayanginya.


Beberapa saat kemudian, Jovan dan Angel saling bertatapan. "Dasar, emang Keong Racun, lu!” Jovan menggerakkan bibirnya tanpa suara. Bahagia bercampur kesal dan sedikit cemburu. Dia belum sepenuhnya menerima sikap adik-adiknya yang terlalu manis dan indah pada Angel.


‘Hadeh, susah kalau horang kaya mah, pasti dia beli pelet online, masa ade-ade gua sampai segitu lengketnya? Ini sudah makin gak beres. Gawat surawat tidak boleh dibiarkan. Gua harus mengambil tindakan tegas. Si Anggel udah pake cara-cara gak bener. Walau pake online, tetep aja yang namanya pelet ya, mistik!” gerutu Jovan dalam hati.


Angel tersenyum simpul menahan geli dan tawa dalam hati. Dia tahu, hati Jovan sedang sangat kesal dan marah. 'Wajar, lo kan gak pernah lihat gue sama ade-ade lo. Mereka itu udah kaya prangko sama suratnya, ditambah lem korea lagi.  Jangankan mereka, gue aja gak bisa jauh dari mereka, wew!' Angel bermonolog dalam hatinya  seraya menyiuk nasi dan lauk pauk untuk Naufal.


Sementara Julia sibuk mempersiapkan untuk dirinya sendiri. Kedua kakak beradik itu bahkan tak mengajak kakak sulungnya bicara apapun, apalagi menawarinya makan. Mereka masih sangat kesal pada orang  yang seenaknya mau menghancurkan harapan yang sudah diimpi-impikan sejak lama.


“Beuh, gua sampe gak diajak makan? Keong Racun, Keong Racun, racun lu bener-bener berbisa, Gel!” Kekesalan Jovan hanya bisa diluapkan dalam hatinya.


Jovan yang hatinya sedang mangkel,  terpaksa kembali mengalah, walau sangat tak rela. Sungguh menyakitkan bisa kalah telak hingga kedudukan 11-0. Sangat kecil harapannya untuk bisa membalasnya.


Dengan sedikit menunduk dan tanpa bicara, akhirnya Jovan pun mengambil makannya. Lalu menikmatinya seorang diri di bawah pohon Jambu Air. Kini dia sedang tersisih dengan sangat menyakitkan.


"Hah! si Keong Racun, mau ngenalin gua sama pacarnya? Suaminya kali bukan pacar. Palingan juga si Alfin. Dasar norak! ngapain juga gua mesti kenalan sama si Alfin! Dia pikir gua bakalan panas gitu? Preeet!" Gerutuan Jovan masih belum habis, bahkan ketika mulutnya sibuk mengunyah makan.


"Kenapa dia pakai jilbab gitu sih? Kan jantung gua jadi degdegan terus. Dasar Keong Racun, udah mah cantik makin kinclong aja dengan hijabnya. Heran!  Bisa aja bikin gua makin sa.... eh enggak! Sorry gua gak sayang sama lu Gel! No way!!" dengus Jovan seraya menyereput teh tawar dinginnya.


"Terus, kata anak-anak dia udah dimiskinkan sama keluarganya, tapi malah bawa mobil baru. Apa dia punya tuyul baru juga, ya? Ngipri kali ni anak!" Jovan terus bersungut-sungut dengan mulut  penuh makanan.


Matanya menyipit, otaknya terus berputar mencari jawaban atas segala pertanyaannya sendiri.


"Adaw! Ini makanan rasanya gini amat ya? Cumi sama udang, kalau mama yang masak beuh gak bakal ada sisanya, dijamin ludes sampai ke tulang tulangnya. Bu Surya kayaknya pengen kawin lagi ni. Masakannya gak jelas gini rasanya, kebanyakan garam sama asam, jadi gak karu-karuan!" Jovan memuntahkan sedikit makanannya.


Angel, Julia dan Naufal makin seru bercerita sambil menikmati makan siangnya. Hampir semua menu yang tersaji, dilahapnya sampai habis. Julia dan Naufal yang biasanya malas-malasan makan siang,  bahkan telah menghabiskan dua piring. Cumi dn udang bahkan sampai ludes dengan sambal-sambalnya.


"Bu Surya pinter banget ya masaknya, sampai-sampai kita lupa berhenti, hehehe." Angel menatap Julia dan Naufal dengan wajah yang sedikit memerah karena kepedasan.

__ADS_1


Dan kedua adik Jovan itu pun langsung mengacungkan jempol memberikan persetujuan.


Sementara di dapur tetangga sebelah, ada seseorang yang sedang ngedumel habis-habisan. Geram! Hatinya marah dan kesal namun tak mampu berbuat apa-apa.


"Brengsek! itukan si Angel jablay! ngapain dia kesini lagi. Bukannya kata Bu Anita, dia udah pindah ke Surabaya?" Bu Surya meninju dinding dapurnya.


"Mana akrab lagi sama Julia dan Naufal. Kenapa jadi rapi gitu pakaiannya. Kalau Bu Anita lihat bisa bahaya ini. Pasti dia makin sayang sama si jablay! Bisa-bisa Jojo langsung dinikahin sama si pelakor itu." Bu Surya mengumpat kesal.


"Aku yang capek-capek masak, malah dia yang kebagian enaknya. Dasar sialan! Cuih!" Bu Surya meludahi wastafel.


"Tapi gak papa. Jojo pacarannya sama si jablay, tapi tidurnya sama si akyuuuu, hihihi. Sebenarnya aku atau si jablay itu sih yang pelakor? Oh my God, hihihi." Bu Surya menghibur diri.


"Mana Jojo makin ganteng lagi. Pantesan, kata Bu Anita, dia paling disukai guru-gurunya. Aku yakin, bukan karena juara umum, tapi karena ganteng dan gedongnya hihihi. Oh my God pakai celana jeans ketat gitu, uuuuh bikin melayang. Oh Jojoku.... kenapa aku baru nyadar sekarang, ya?" Bu Surya tersenyum mesum dan genit. Menatap bayangannya di balik cermin dapur.


"Coba kalau Jojo udah ditaklukan dari dulu, aku gak perlu repot-repot cari brondong di mall atau di GOR. Tetangga sebelah malah jauh lebih menggoda dan menggairahkan, hahay, kalau jodoh emang gak kemana!" Bu Surya mengelus pipinya dengan lembut, merasakan kembali ciuman Jovan tadi pagi.


"Mudah-mudahan Bu Anita jangan sembuh lagi, biar aku bebas ngurus Jojo tiap hari. Oh my God, kenapa aku jadi jahat begini sih, hihihi." Bu Surya makin menjadi.


"Mulai hari ini, aku harus tampil beda, kalau perlu berjilbab kayak si jablay itu. Tentu saja berjilbab yang super seksi, hihihi. Gak ada brondong yang gak bisa jatuh dalam pelukanku. Semua teman si Aldo udah aku cicipi, masa Jojo gak bisa? hahaha. Aku kan punya Mbah Mukidien." Mata Bu Surya merem melek, lidahnya melet-melet laksana ratu ular dari kebun pisang tetangga.


"Biar si Mbah Mukidien yang menyingkirkan dan menghempaskan si jablay itu atau siapapun yang menganggu hubunganku dengan Jojo. Aku tidak mau tahu, Jojo harus jadi milikku atau setidaknya menjadi budak nafsuku, hahahaha." Bu Surya menghempaskan kembali seluruh pakaian di tubuhnya. Lalu masuk ke kamar mandi dengan gerakan slow motion.


“Oooh, mengapa setiap kali mengenangkan Jojo, aku selalu ingin mandi basah, Jojo I love you honey....” Bu Surya memulai kembali gaya erotisnya...


 


 


Bersambung – Angel Yang Angel

__ADS_1


 


 


__ADS_2