Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga

Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga
Bagian Sebelas


__ADS_3

Di Balik Celana Ketat


Jovan berdiri tertegun beberapa saat.


"Ya, sudah silakan kamu boleh pulang." Bunda Fahira memerintah Angel.


Tanpa membuang waktu, Angel langsung beranjak dari duduknya. Lalu membalikkan badan dengan tetap menundukkan kepala. Dia berjalan sedikit tersentak, setelah beberapa sesaat menatap Jovan yang melongo.


Sekilas Jovan melihat wajah Angel yang kusut dan sembap seperti habis menangis. Dia bahkan  hampir menabraknya yang berdiri di depan pintu. Angel sepertinya ingin segera keluar dari ruangan itu, dan tak mau lagi melihat wajah Jovan.


Jantung Jovan makin tak menentu. Seorang Angel keluar dengan menunduk dan menangis, berarti bukan sembarangan hukuman yang diberikan Bunda Fahira padanya. Kesalahan apa yang sudah dilakukan Angel?


"Silakan duduk!" Bunda Fahira kembali mengejutkan. Segera Jovan membalikan badan. Namun baru saja dia hendak melangkah maju menuju meja wanita yang raut wajahnya dingin,  tiba-tiba Bunda Fahira berdiri.


Jovan kembali mematung menatap takut wanita cantik yang berjalan lambat mendekatinya. Dua tangan Bunda Fahira melingkar di dadanya. Sorot matanya super horor.  Gaya khasnya ketika menghukum siswa yang melanggar disiplin sekolah.


Beberapa saat Bunda Fahira berdiri tegap seraya memperhatikan secara seksama sekujur tubuh siswa berbalut kemeja putih dan celana abu-abu itu dari ujung rambut hingga ujung sepatu.


Jovan mendadak salah tingkah tak keruan.  Perutnya mendadak sakit, seperti ingin buang air besar namun tak  jelas. Sekujur tubuhnya pun lemas, tenaganya tersedot sihir mata Bunda Fahira yang menyala.


Jovan menunduk perlahan. Kedua tangannya refleks menyilang tepat di bagian tubuhnya yang paling pribadi.


"Kamu tahu kenapa dipanggil ke sini?" tanya Bunda Fahira. Wanita  yang baru dua tahun berstatus istri kedua seorang anggota DPR-RI berusia 63 tahun, mengintimidasi.


"Ti tii tidak, Bun." Jovan menjawab dengan kepala yang tertunduk.


"Angkat kepalamu seperti tadi saat upacara! Kamu itu cowok, harus gagah dan tegak kalau sedang berdiri dan berbicara!" Bunda Fahira setengah membentak.


Jovan mengangkat kepala, berdiri dalam sikap sempurna. Kedua matanya lurus memandang mata wanita yang terlihat sangat bening dan berbinar.


Saat pandangannya beradu, Jovan merasakan kengerian yang menjalar di sekujur tubuhnya.


'Hihihi' Hati Jovan bergidik.


'Andai saja kamu tidak secantik bidadari, gua pastikan, saat ini masih jadi perawan tua. Lelaki mana yang berani tidur dengan wanita segarang dan se-arogan kamu.  Mengerikan!' Hati Jovan mengutuk wanita yang berdiri berjarak tak lebih dari dua meter di depannya.


"Kamu tidak tahu? atau pura-pura merasa tidak bersalah?" Bunda Fahira menatap mata Jovan yang bening.

__ADS_1


Alis tebal berondong Sunda-Arab yang selama ini mampu membuat banyak wanita klepek klepek, sepertinya tak memberi efek apapun pada wanita yang aura bengis dan wibawanya nyaris melampaui Tugu Monas.


"Saya benar-benar tidak tahu, Bun." Jovan berusaha menenangkan jantungnya yang makin meloncat-loncat. Pikirannya kembali mengutuk Angel yang telah berhasil menyeretnya pada masalah yang tidak sederhana. Berurusan dengan wanita paling mengerikan sedunia, bukanlah main-main.


"Jovan! tolong jawab dengan jujur. Ada apa dengan celanamu?" Bunda Fahira menurunkan intonasi suaranya.


"Celana saya?" Jovan melongo balik bertanya seraya membentangkan kedua tangannya.


"Ya! Coba kamu perhatikan celana seragamu!" perintah Bunda Fahira.


Deg!


Jantung Jovan seketika berhenti berdetak. Kedua tangannya refleks menyilang kembali depan tubuh bagian depannya. Kepalanya kembali menunduk memandangi bagian celananya yang ditutup kedua tangannya.


Dia baru menyadari, ternyata  memakai celana seragam yang sudah lama tidak dipakai karena sudah sempit. Jika pun dipaksakan, maka harus dikeluarkan kemejanya agar bagian tubuhnya yang paling pribadi tidak terekspose. Bahkan cetakan bentuknya terlihat jelas.


"Sudah tahu kesalahan kamu?" tanya Bunda Fahira dengan suara yang lebih pelan.


Jovan mengangguk. "Maaf Bun, saya salah pakai celana. Ini celana saya waktu kelas sebelas." Jovan beralibi, suaranya sedikit bergetar.


Bunda Fahira maju satu langkah mendekati Jovan. "Apakah kamu sengaja memamerkan keperkasaan mu?" lanjutnya dengan suara yang lebih pelan namun terdengar sinis dan mengejek.


Jovan mengangkat wajah. Melawan tatapan Bunda Fahira yang tersenyum aneh.


"Demi Tuhan! Saya tidak ada niat untuk berbuat norak begitu. Saya baru menyadarinya sekarang. Tadi pagi saya tergesa-gesa berangkat sekolah, Bun." Jovan mulai berani bicara panjang dan sedikit tegas. Emosinya sedikit tersulut. Tersinggung dengan kalimat 'sengaja pamer keperkasaan'. Kalimat yang cenderung merendahkan harga dirinya.


"Hah! alasan saja. Memangnya celana seragam kamu cuma satu?" Bunda Fahira melebarkan kedua tangannya. Tak percaya dengan alibi siswa yang mulai berani berdiri tegak dan melawan tatapannya.


"Ya!" balas Jovan tegas, "untuk celana abu-abu saya hanya punya satu yang masih belum kekecilan" lanjutnya. "Salahnya dimana Bun? Sedangkan saya baru menyadarinya saat ini!" Keberanian Jovan mulai timbul. Dalam keadaan terdesak dia tidak mau berpura-pura mengalah atau berlagak santun. Seorang wanita yang gila hormat, cenderung ngotot dan ingin menang sendiri, tak layak diberi penghormatan yang berlebihan. Demikian prinsip Jovan.


"Aneh! masa baru menyadari? Apakah kamu tidak punya perasaan?" Mata Bunda Fahira sedikit jelalatan menatap bagian tubuh Jovan yang menonjol dan sedang diperdebatkan.


"Saya tadi subuh kesiangan, terus menyiapkan barang untuk jualan. Tak terasa waktu sudah siang, saya bergegas berangkat ke sekolah karena harus melaksanakan upacara. Bahkan saya tidak sarapan.” Jovan sedikit menahan bicaranya.


“Kalau menurut bunda saya melanggar aturan sekolah. Silakan mau dikeluarkan dari sekolah ini atau gimana?" Jovan menantang dan melebarkan kedua tangannya.


Jovan bahkan tak perduli lagi dengan benjolan di celananya yang terlihat makin  menyembul. Yang ada dipikirannya hanya ingin melawan kesewenang-wenangan istri pemilik yayasan itu.

__ADS_1


Bunda Fahira sedikit tersentak sekaligus girang. Hatinya memuji keberanian Jovan. Sudah lima tahun dia menangani segala bentuk pelanggaran disiplin sekolah. Bertemu dengan berbagai karakter siswa, namun baru kali ini ada yang benar-benar berani melawannya secara gentle, tegas, baik dan benar.


Wanita berpenghasilan sangat besar itu dari bisnis jual beli permata dan perhiasan itu, telah mendapat gambaran lengkap tentang Jovan. Sangat sesuai dengan yang selama ini jadi bahan perbincangan para guru.


Jovan, selain tampan, cerdas, dia juga memiliki keberanian dan jiwa ksatria dan kepemimpinan yang sangat baik. Dia bukan siswa norak yang mencari perhatian dengan menjadi badboy atau sok cool dan sejenisnya.


Jovan sepertinya tumbuh dengan kepribadian alami dan normal. Nilai positif yang langsung terbenam di hati Bunda Fahira.


"Kamu telah mengeksploitasi kesusilaan di depan umum. Dan itu pelanggaran berat,  Jovan!" bentak Bunda Fahira, untuk terus menyelami, sejauh mana siswa yang berdiri gagah di depannya memiliki keberanian dalam membela dirinya.


"Kalau memang saya masuk dalam kategori pelanggaran berat. Saya minta maaf. Demi Allah ini murni kecerobohan. Terserah ibu mau menjatuhkan hukuman seperti  apa?" Jovan akhirnya menurunkan tensi suaranya seraya menata emosi. Berusaha berdamai dengan hati, merasa tak ada guna berdebat panjang dengan manusia yang selalu merasa dirinya paling benar dan paling berkuasa sedunia.


"Ya, kali ini masih saya maafkan. Tapi jika terulang lagi, maka nasib kamu mungkin gak jauh beda dengan si Angel." Bunda Fahira kembali menekankan suara pada kata 'Angel'


"Angel? Kenapa dengan dia?" Wajah Jovan melongo dipenuhi rasa penasaran.


"Dia sudah dikeluarkan dengan tidak hormat atau lebih tepatnya dipecat!"


"Dipecat? Atas kesalahan apa?" Jovan makin ternganga.


"Nanti juga kamu akan tahu. Silakan duduk dulu, kita bicara lebih lanjut." Bunda Fahira menunjuk kursi yang tadi ditempati Angel.


Wajah Bunda Fahira seketika berubah lembut dan bersahabat. Ruangan yang kaku, dingin dan membeku, seketika terasa hangat dan bersahabat.


Jovan duduk tenang berhadapan dengan Bunda Fahira yang sudah berubah menjadi seorang bidadari dengan senyum dan wajah yang sangat menawan.


Dengan suasana yang terlah berbalik 180 derajat, Bunda Fahira memulai obrolan ringan bertanya tentang keluarga dan kegiatan keseharian Jovan setelah pulang sekolah.


Jovan yang hatinya sudah sangat nyaman dan terbiasa berkata jujur, menceritakan kondisi keluarganya dengan apa adanya.


Bunda Fahira mendukung Jovan untuk terus berjuang membantu mamanya merawat dan membesarkan adik-adiknya, walau ayahnya sudah tidak peduli.


Bersambung – “Mengapa Dia Dikeluarkan”


 


 

__ADS_1


__ADS_2