
Demi Harga Diri
Apa yang diperkirakan dan ditakutkan Jovan akhirnya benar-benar terjadi.
Dua minggu setelah insiden dengan Bunda Fahira. Tepatnya seminggu setelah Kegiatan Belajar Mengajar di SMA Garuda aktif kembali serta Bunda Fahira sudah kembali dari berliburnya. Bu Anita mendapat surat pencabutan rekomendasi dari pihak yayasan.
Wanita yang memiliki keahlian memasak dan membuat kue itu tidak diizinkan berdagang di kantin sekolah. Dengan alasan masakan dan pemeliharaan kebersihan kantinnya tidak memenuhi syarat dan ketentuan yang ditetapkan yayasan.
Alasan yang terlalu mengada-ada dan tak masuk akal.
Semua guru dan siswa sangat mengakui bagaimana lezat dan higienisnya masakan Bu Anita. Kerapian, kebersihan kantin dan sekitarnya senantiasa terjaga. Sering mendapat apresiasi baik dari semua guru dan siswa, termasuk Bunda Fahira.
Bunda Fahira, wanita yang terkenal paling apik dan ketat menjaga pola makannya, bahkan pernah mengajak makan beberapa koleganya di kantin Bu Anita. Padahal sebelumnya dia sendiri belum pernah makan di kantin siapapun yang ada di sekolah itu. Apalagi sampai membawa kerabat atau rekan bisnis.
Semua orang merasa aneh dan tak mengerti dengan keputusan yayasan. Bu Anita menangis, mohan maaf dan menghiba meminta pihak yayasan untuk memberikan alasan yang jelas. Dia sangat terpukul dan tak bisa menerima keputusan yang sangat mendadak dan melukai hatinya itu.
Jovan akhirnya terpaksa menjelaskan dan membuka aib yang terjadi antara dirinya dengan Bunda Fahira. Bu Anita shock, namun berlapang dada. Dia menerima semua keputusan Bunda Fahira dengan ikhlas setelah tahu apa yang terjadi.
Bu Anita sangat bersyukur dan mendukung sikap Jovan yang sangat ksatria dan hebat. Tak henti-hentinya dia memuji dan mengagumi keteguhan hati dan keimanan anak sulungnya dalam menjaga harga diri dan kehormatan keluarga.
"Ingat Ma, ini rahasia tingkat tinggi. Cukup Allah, Malaikat, Mama, Jojo, Bunda Fahira dan setan aja yang tahu kejadian ini." Pesan Jovan setelah mamanya tersenyum bangga dengan keputusannya.
"Sekarang mama ikhlas dan rela menerima semuanya. Sampai kapan pun mama akan selalu mendukung apapun keputusan Jojo. Mama percaya, Jojo selalu memiliki alasan yang baik dalam setiap mengambil keputusan." Bu Anita menjawab seraya mencium anak kesayangannya.
Seminggu kemudian, Bu Anita kembali berjualan di kios pinggir jalan. Untungnya tempat tersebut belum ada yang menempatinya lagi, karena dianggap terlalu kecil dan kurang strategis oleh para peminat lain.
"Mama lebih bahagia hidup begini, daripada anak mama menjual harga diri dan kehormatannya," Bu Anita tersenyum saat Jovan kembali meminta maaf pada mamanya yang harus kena imbas akibat penolakan dirinya pada segala keinginan wanita yang merasa paling berkuasa sedunia.
"Ya, seperti yang sering mama pesankan. Demi kehormatan dan keimanan, kita boleh miskin dan lapar. Jojo hanya berharap mama tetap sabar dan ikhlas menerima semua ini." Jovan balas memeluk dan menciumi mamanya.
"Mama sangat bangga dengan Jojo. Inilah cara Allah menyelamatkan keluarga kita dari keburukan sifat Bunda Fahira. Yang penting Jojo masih bisa sekolah. Kalau urusan rizki, kita serahkan saja sama Allah. Yang penting kita sudah berikhtiar, dengan cara apapun dan bagaimanapun, yang penting halal."
__ADS_1
Jovan bersyukur memiliki seorang ibu, yang walaupun dia wanita sederhana hanya lulusan Madrasah Tsanawiyah, namun memiliki keluasan jiwa seluas bumi dan dunia. Semua kemelut yang terjadi mungkin akan berubah arah andai saja Bu Anita memaksakan Jovan untuk menuruti kemauan Bunda Fahira. Bahkan fasilitas lainnya akan mereka terima. Bu Anita satu dari sekian wanita yang masih mempunyai mata hati dan tidak dibutakan dengan kemewahan duniawi.
Jovan tidak lagi memiliki kewajiban membantu sekolah dalam menyelesaikan persoalan para siswa yang bermasalah. Dia juga diwajibkan membayar kembali semua biaya pendidikannya seperti siswa lainnya. Jovan tak keberatan. Dia siap melaksanakan semua keputusan Bunda Fahira selaku pemilik dan penguasa Yayasan Garuda.
Jovan pun tidak beraksi keras ketika fitnah yang menyebut dirinya telah melalukan pelecehan seksual pada Bunda Fahira, tersebar luas di sekolahnya. Dia hanya pasrah dan tersenyum. Membiarkan badai itu berlalu dengan sendirinya. Karena dia tahu siapa di balik fitnah yang sangat keji itu.
"Bro, yang nyebarin fitnah itu memang gak punya otak ya. Seandainya bener lu melakukan pelecehan sama Bunda Fahira. Pastinya si killer udah melaporkan lu pada pihak yang berwajib. Atau setidaknya lu dikeluarkan dari sekolah. Seperti si Angel dan si Alfin." Aldo kembali berargumen atas merebaknya fitnah keji itu.
"No komen. Gua udah capek dan bosan dengan yang begitu. Sekarang gua mendingan fokus belajar, ujian nasional sudah di depan mata. Gua juga mau fokus ngebantu nyokap buat menghidupi adik-adik gua. Anggap saja fitnah itu sebagai penebus segala dosa-dosa gua."
Namun ternyata Aldo bukanlah sahabat yang biasa-biasa. Dia berbeda dengan teman kebanyakan. Secara diam-diam Aldo mencari kebenaran dan kepastian atas segala kejanggalan yang menimpa sahabat sekaligus tetangga dekatnya.
"Bro, sorry kalau gua terlalu jauh ikut campur dalam urusan lu dengan Bunda Fahira," ucap Aldo suatu sore ketika mereka sedang duduk santai di sebuah gardu bekas pos ronda di kompleknya.
Jovan memandangi Aldi dengan kening yang mengkerut. "Maksudnya gimana?" Jovan pura-pura tak mengerti.
"Gua sudah tahu apa yang sesungguhnya terjadi antara lu dengan Bunda Fahira malam itu," balas Aldo santai.
"Intinya gua tahu. Tapi tak penting bagaimana caranya, gua bisa tahu semuanya."
Aldo tersenyum tipis sementara Jovan makin melongo menatap sahabat sablengnya, yang sejak lama bercita-cita ingin menjadi seorang detektif yang hebat.
"Ya kalau lu udah tahu, gua harap gak usah menyebarkannya, Do. Gua sedang berusaha bertahan, minimal sampai lulus. Itu pun kalau tidak keburu di DO oleh sang penguasa." Jovan bicara lirih seraya menundukkan kepala.
"Gua rasa, Bunda Fahira gak segila itu sampai tega nge-DO lu. Gua yakin kepsek, guru dan sebagian besar siswa akan banyak yang protes kalau lu diberhentikan tanpa alasan yang masuk akal." Aldo menghibur.
"Lu kaya gak tahu aja gimana Bunda Fahira. Dia merasa lebih berkuasa dari Tuhan. Sejujurnya, gua juga udah gak betah sekolah di Garuda. Mungkin gua keluar lebih dulu, sebelum dikeluarkan dengan tidak hormat." Jovan pasrah dan frustasi.
"Jo, gua datang sebagai sahabat. Boleh gak gua menjadi teman lu buat menyelesaikan masalah ini?" Aldo beralih tempat. Berjongkok tepat di depan Jovan yang juga sedang berjongkok memegangi kedua lututnya.
"Gak usah, Sob! lu jangan coba-coba bermain api dengan Bunda Fahira. Nanti bisa hangus kaya gua," sergah Jovan. Dia tak berharap ada korban Bunda Fahira berikutnya.
__ADS_1
"Ya, kalau itu sudah keputusan lu, gua sih bisa apa? Cuma gua sangat menyayangkan kalau lu sampai keluar dari sekolah ini. itu artinya lu sudah mempertaruhkan masa depan lu sendiri, hanya karena seorang Fahira."
"Ya, mungkin itu sudah jadi suratan takdir gua."
"Jo, sejujurnya gua sudah bicara empat mata dengan Bunda Fahira dan dia sangat menyesal dengan segala keputusannya," ucap Aldo seraya menatap Jovan dengan tatapan yang sangat serius.
Jovan terdiam beberapa saat. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Secara pribadi dia sangat percaya dengan Aldo. Namun di sisi lain dia sudah tak mau lagi berhubungan dalam bentuk apapun dengan Bunda Fahira. Setidaknya sampai lulus sekolah.
Aldo berdiri seraya menarik tangan Jovan, mengajanya berdiri sejajar. Aldo juga menarik keluar sesuatu dari saku celananya.
"Sob, ini ada titipan dari Bunda Fahira, buat lu," ucap Aldo seraya menyodorkan amplop cokelat besar dan tebal yang terlipat rapi.
"Apaan itu, Do?" tanya Jovan seraya memandangi amplop dan wajah Aldo bergantian.
"Tadi malam Bunda Fahira menitipkan ini sama gua, sesaat setelah gua datang ke rumahnya dan bicara empat mata dari hati ke hati dengan dia. Intinya dia sangat menyesal dan meminta maaf atas semua kesalahannya." Aldo memaksakan amplop dalam genggamannya untuk diterima Jovan.
Setelah menatap Aldo beberapa saat, Jovan membuka amplop yang mendadak menjadi benda paling menakutkan yang pernah dia pegang.
Mata Jovan tiba-tiba terbelalak.
"Masya Allah! Apaan ini?" seru Jovan seraya memperlihatkan isi amplop tersebut pada Aldo.
"Uang dan surat." Jawab Aldo santai.
Beberapa saat Aldo dan Jovan saling bertatapan tanpa suara tanpa kata-kata. Sesekali mata mereka pun kompak memandangi amplop, secarik kertas dan sejumlah uang kertas merah dalam genggaman Jovan.
"Baca aja dulu suratnya, Jo," perintah Aldo menyadarkan Jovan.
Bersambung – “Kiriman Uang Damai”
__ADS_1