Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga

Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga
Bagian Tujuh


__ADS_3

The Best Girl


"Sejujurnya, gua sedikit kurang suka dengan cara-cara lu, Jo." Aldo merespon saat Jovan mengeluhkan kelakuan Angel yang mulai meresahkannya.


"Katakanlah Ki Sanak! Hamba siap menerima saran dan kritik membangun dari Baginda." Jovan berusaha bercanda, namun sepertinya Aldo sedang tidak ingin tertawa malam itu.


"Cara lu merespon si Angel, menurut gua terlalu lebay dan terlalu drama. Ingat, Bro! Kita hidup di alam nyata. Ini bukan cerita novel yang makin dramatis dan lebay, makin banyak penggemarnya. Di alam nyata, tidak semua orang suka dengan gaya yang sok jual mahal kayak lu, gitu." Aldo bicara super serius.


"Yes!" Jovan mengangkat jempol, "gua yakin itu. Tapi, lu tahu kan, gimana sikap gua sama Angel waktu kelas sepuluh? Hubungan gua sama dia baik-baik saja. Gua yakin lu ngomong gitu, karena posisinya beda sama gua." Jovan bela diri.


"Gua paham. Sekarang gua tanya. Apa ruginya dicintai sama si Angel? dia kurang apa dimata lu? Angel itu cewek paling cantik sekaligus paling tajir di sekolah ini. Kenapa lu takut dicintai dia?" Aldo mengernyitkan dahi. "Padahal dia hanya seorang cewek. Kalau lu gak suka atau gak mau nerima cintanya, cukup ngomong baik-baik. Gak perlu musuhan juga kali!" Aldo tak menerima pembelaan Jovan.


"Oh my God." Dua tangan Jovan menarik rambutnya ke belakang. "Do, sejak pertama dia menyatakan cintanya, gua udah nolak dengan cara yang sangat halus. Semua alasan gua kemukakan. Gua bicara baik-baik supaya dia gak tersinggung. Dan, yang pasti sikap gua sama dia, gak berubah setelah itu." Jovan menjelaskan dengan nada kesal dan sedikit frustasi.


"Apa karena lu udah punya cewek lain?" Aldo menatap curiga.


"Jujur aja, Ya!" Jovan menjawab tegas, "Tapi, gak mungkin gua nyebutin siapa cewek gua itu. Masalahnya lu tahu sendiri, si Angel pasti mati-matian ngerjain tuh cewek. Jangankan pacar, orang baru dekat aja sama gua, langsung disikat. Ngeri gak?" Jovan menatap tajam mata Aldo yang sedikit melebar.


"Hmmm, susah juga ya." Aldo garuk-garuk kepala tak gatal.


"Makanya. Gua aja baru nemuin cewek gila model si Angel. Ya, intinya sih bukan hanya masalah gua punya cewek atau tidak. Tapi, seandainya, gua jadian sama Angel, jujur saja, gua gak bakal sanggup ngikutin gaya hidupnya yang gelamour itu." Jovan duduk seraya memalingkan wajah ke samping kanan, seperti sedang menunggu kedatangan seseorang.


"Kenapa gak sanggup? Kan, semua ditanggung si Angel kali." Aldo kembali berargumen, kedua matanya pun mengikuti arah pandangan Jovan.


"Mungkin. Tapi, kalau tiap hari gua mesti nongkrong di mall atau jalan nemenin dia, ya tetep aka gak mungkin. Gua orang miskin! punya tugas ngebantu nyokap buat jualan dan ngurus ade-ade gua. Lu tahu sendiri bokap gua udah gak jelas juntrungannya." Jovan terus menyangkal.


"Masuk akal juga, tapi, kalau lu pacaran sama si Angel, setidaknya hidup lu akan sedikit berubah, bro. Ya, minimal dia bisa sedikit ngebantu perekonomian keluarga lu." Aldo mencoba menyelami hati Jovan.


"Maaf Do, gua gak akan pernah menjual harga diri dan kehormatan keluarga. Hidup  gua memang miskin dan mungkin bisa juga minta bantuan sama Angel. Tapi, akhirnya gua gak bisa jadi diri sendiri. Semua akan diaturnya. Gua gak mau seperti itu. Lebih nyaman jadi orang biasa, tapi merdeka. Bisa menentukan dan mengatur hidup sendiri." Jovan menatap Aldo yang semringah.


"Hahay, gua suka gaya, lo!" timpal Aldo seraya mengacungkan dua jempolnya.

__ADS_1


"Yang bikin gua males sama si Angel, lu liat sendiri. Si Angel yang sekarang beda banget dengan yang dulu. Reputasinya di sekolah sangat buruk dan hancur hancuran. Sebenarnya gua gak ngerti, mengapa dia jadi begitu. Siapa yang ngerusaknya hingga bisa separah itu?" Jovan menatap wajah hitam manis lelaki kurus di sampingnya.


"Lu, udah tanya sama si Alfin?" Aldo menggeser duduknya.


"Udah bosen! Jawabannya selalu sama. 'Si Angel emang dari dulu cewek nakal, jadi ya wajar aja kalau sekarang dia nakal', gitu jawaban si Alfin. Gua kan gak tahu gimana si Angel dulu waktu di SMP. Sedangkan si Alfin, udah temanan dari zaman SD sama Angel. Jadi, mau gak mau, gua percaya aja sama omongannya si Alfin." Jovan pasrah.


"Apa karena cintanya ditolak sama lu, akhirnya dia jadi aneh gitu?" Aldo berasumsi.


"Do, udah berapa, cewek yang gua tolak baik-baik. Mereka biasa aja, masih bisa temenan sama gua!" sangkal Jovan.


"Iya sih. Tapi, sekarang gua lihat si Angel mulai cuek sama lu, bener gak?."


"Betul. Semestinya gua senang, kan? Kenyataan malah sebaliknya." Jovan melebarkan dua tangan seraya mengangkat bahunya.


"Lah, kok bisa gitu?" Aldo melongo menatap Jovan.


"Gimana enggak! Di sekolah gua memang bebas dari gangguannya, tapi di rumah gak bisa gerak. Hampir tiap hari si Angel main ke warung atau rumah gua. Dia akrab banget sama nyokap and ade-ade gua!" Jovan mulai meninggi nada bicaranya.


"Lu jarang ada di rumah sih, jadi gak tahu. Dan, ajaibnya, Angel itu depan nyokap gua udah kaya malaikat tak bersayap. Baiiiiik banget dan gak pernah ganggu gua. Pokoknya dia bisa banget ngebeli hati keluarga gua. Dia itu udah kaya anak nyokap gua yang paling gede. Lama-lama gua yang tersisih, hahahaha." Jovan tertawa sumbang.


"Aneh juga sih. Terus apa maksudnya si Angel bersikap begitu?" Aldo balik bertanya.


"Itu yang gua gak ngerti. Sikap dia berubah 180 derajat, kalau di rumah gua begini, tpi kalau di sekolah begitu. Makanya nyokap gua gak percaya banget kalau si Angel itu bad girl. Yang nyokap gua tahu, Angel itu cewek super baik-baik, titik." Jovan makin frustasi.


"Dia emang layak jadi pemain sinetron. Udah cantik, pinter berakting lagi, hahahaha." Aldo akhirnya bingung sendiri.


"Dan yang pastinya lagi, tiap hari gua parno!" sambung Jovan.


"Parno kenapa?"


"Lu tahu sendiri, dia pernah ngancam gua. Nah yang gua takutkan itu, dia pura-pura baik sama keluarga gua, padahal lagi nyusun strategi atau rencana jahat buat balas dendam sama gua. Mungkin aja kan?" Raut wajah Jovan berubah serius.

__ADS_1


"Iya sih, tapi daripada parno, mendingan lu jadian aja sama dia, simpel kan?" Aldo menawarkan solusi.


"Hehehe, gua gak sampai hati nyakitin cewek gua. Gua gak bakalan pindah ke lain hati, kalau hanya untuk pura-pura. Kasian, nanti yang ada malah dua-duanya terluka. Gua gak bisa mainin perasaan cewek, soalnya punya adik cewek, takut kena karma, hehehehe."


"Gua makin suka gaya, lo!" Bagas lagi-lagi mengangkat jempolnya sebagai penutup diskusinya.


Jovan mengenal Angel sejak hari pertama masuk SMA. Mereka satu kelompok saat Masa Orientasi Sekolah-MOS. Selanjutnya menjadi teman sekelas. Jovan mendapat kepercayaan menjadi Ketua Kelas dan Angel menjadi sekretarisnya.


Hubungan Jovan dan Angel di kelas sepuluh, normal dan baik-baik saja. Jovan mengagumi kecerdasan dan keaktifan Angel dalam segala kegiatan ekstra kulikuler sekolah. Sebaliknya Angel pun sangat mengagumi sikap kepemimpinan dan kedewasaan Jovan yang menonjol. Saat naik ke kelas sebelas, mereka jadi bintang kelas. Angel The Winner and Jovan Runner Up.


Di kelas sebelas mereka pisah ruangan. Komunikasi tetap berjalan baik. Jovan jadi ketua OSIS sedangkan Angel jadi ketua kelas. Dia tidak aktif dalam kepengurusan OSIS.


Ketika semester dua kelas sebelas, Jovan mulai merasakan gelagat kurang asik. Sikap Angel berubah. Cewek cerdas dan tegas itu mulai menjadi lebay dan possessive gak jelas. Padahal antara Jovan dengan Angel tak pernah ada komitmen apapun.


Sikap protektif dan possessive Angel mulai mengusik ketenangan Jovan. Angel menyatakan cintanya pada Jovan, namun terlambat. Di hati sang jejaka sudah ada yang bercokol, sang Bendahara OSIS. Jovan menolak cinta Angel dengan sangat halus dan baik-baik.


Namun Angel makin menjadi/ Dia berubah menjadi gadis agresif, urakan dan cenderung nekat. Jovan yang awalnya bersimpati, berubah menjadi antipati.


Sikap Angel makin tak karuan. Bukan cuma nakal di sekolah, tapi masuk dalam pergaulan bebas. Berubah liar dan hedonis di luar lingkungan sekolah. Puncaknya, Angel memimpin geng anak-anak trouble maker yang beranggotakan teman-temannya semasa SMP dulu.


Mendapati Jovan yang antipati, Angel bukannya instrospeksi. Sang bintang pelajar yang menjadi ketua badstudent itu, menteror semua cewek yang berani mendekati Jovan. Imbasnya tak ada yang berani nekat mendekati Jovan, bahkan kekasih rahasianya pun terus bersembunyi. Tak ingin berurusan dengan Angel and geng yang mulai sedikit barbar.


Dari sekian milyar wanita yang ada di dunia. Angel satu-satunya cewek yang sukses membuat Jovan gelagapan dan pusing sekian ribu keliling.


Siswi berprestasi itu, kini telah menjadikan sekolah sebagai ajang pamer kecantikan dan kekayaan. Segudang reputasi buruk dan jelek, telah Angel sandang. Namun di mata Bu Anita, Angel tetaplah Angel. Malaikat tak bersayap yang super the best girl.


 


Bersambung -  “Hanya Sebatas Nafsu”


 

__ADS_1


 


__ADS_2