Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga

Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga
Bagian Empat Dua


__ADS_3

Mobil Yang Bergoyang


"Supaya lebih leluasa, ngobrolnya di bangku belakang aja, Bun." Aldo yang sudah berhasil memperdayai Bunda Fahira memberikan instruksi dengan sangat enteng.


Bunda Fahira yang semula akan menarik dan membuka pintu depan, langsung memindahkan tujuannya. Setelah mengangguk dan tersenyum penuh misteri Bunda Fahira pun masuk ke mobil melalui pintu samping belakang.


'Ternyata Aldo selain ganteng dan menarik, mengasyikan juga anaknya yang pasti gak munafik. Kenapa aku mesti pusing-pusing memikirkan si Jovan? jika Aldo bisa memberikan apa yang aku inginkan, why not?" Bunda Fahira bergumam kecil.


'Pisang tanduknya juga lumayan besar dan panjang. Siapa tahu lebih perkasa dari si Jovan. Good bye Jovan, I hate you. Aku bersumpah, semua teman-temanmu akan menjadi musuh utamamu, hehehe.' Cibiran yang bernada ancaman untuk seseorang yang telah menghinanya, bergema dalam hati istri sang senator.


'Hah! tidak sesulit yang dibayangkan. Pantas aja si Jojo sangat mudah menaklukan wanita sok tegas dan sok berwibawa ini. Ternyata imanmu sangat lemah, Bun. Lebih lemah dari wanita biasa-biasa.' Aldo pun menyeringai seraya membatin.


'Gua bahkan gak perlu repot-repot memakai banyak rayuan dan basa basi yang tak perlu. Cukup diberi sentuhan pisang tanduk, langsung saja meleleh, kan udah gua bilang senjataku sama panjang dan besarnya dengan milik si Jojo, hehehe," batin Aldo sambil menatap Bunda Fahira yang baru masuk ke mobil.


Bunda Fahira yang fantasi dan pikirannya sudah melayang kemana-mana menuruti perintah Aldo dengan suka rela. Bayangan pisang tanduk yang besar dan panjang yang baru saja disentuhnya telah mengalahkan sedikit ego-nya. Dia bahkan telah melupakan jika yang memerintahnya adalah siswa SMA Garuda yang biasanya selalu dia anggap kecil dan rendahan.


Aldo belum berpengalaman dalam beradegan dewasa. Namun, beberapa film dan video yang sering ditontonnya, sedikit banyak akan menginspirasi dan memberikan tutorial gratis tentang apa yang semestinya dia lakukan untuk lebih bisa menaklukan mangsanya yang sudah menyerah, pasrah dan tak berdaya.


Bunda Fahira duduk di pojok kanan, Aldo masuk menyusul. Sebelum duduk, dengan santainya Aldo membuka celana kolornya. Lalu menyimpan di jok depan, tepat di bawah kemudi. Seketika Bunda Fahira terbelalak. Dalam cahaya rembulan yang remang-remang, dia masih bisa melihat bentuk dan cetakan senjata laras panjang Aldo, yang sangat luar biasa.


Sejurus kemudian, tanpa basa-basi dan tanpa meminta izin, Aldo pun melepaskan kaos jersey dari tubuhnya.


Jantung bunda Fahira semakin berdegup kencang. Tubuh Aldo yang kerempeng. Perut datar dengan tulang rusuknya yang terlihat nyata, justru menambah sensasi dan gairah yang belum pernah dia dapatkan sebelumnya.


Sejauh ini hanya brondong-brondong bertubuh kekar, sixpack dan atletis yang jadi incarannya. Jovan, Lucky, Bagas, Fadlan atau lainnya yang selalu masuk dalam fantasinya.


Sementara Aldo, sama sekali belum pernah diperhitungkannya. Walau wajah manis dan tampangnya cukup memesona. Namun postur tubuhnya yang kerempeng cenderung lembek sama sekali bukan seleranya.


Kini Bunda Fahira benar-benar terkesima. Tak menduga Aldo bisa bersikap sangat gentle, berani dan jantan. Bunda Fahira pernah menduga jika Aldo sorang lelaki yang memiliki orientasi sedikit belok, karena sikapnya yang terkadang terlalu lemah lembut. Di juga tidak aktif dalam kegiatan olah raga maskulin di sekolahnya.


Sangat jauh berbeda dengan teman-teman lelaki lainnya. Bagas, Fadlan, Lucky dan Jovan sangat menggilai dan menguasai berbagai olah raga yang relatif keras. Bela diri, sepak bola, futsal, basket hingga panjat tebing.


"Boleh saya nanya, Bun?" Aldo bertanya sesaat setelah menjatuhkan bokongnya yang hanya hanya terhalang celana dalam di atas. Rapat dengan istri pemilik yayasan yang kini berubah menjadi wanita yang sangat lemah tak berdaya dirasuki gairah menggebu karena pesona Aldo yang menakjubkan.

__ADS_1


"Boleh Do, asal jangan tanya yang aneh-aneh aja." Bunda Fahira menjawab dengan suara yang makin bergetar. Jantungnya berdebar hebat. Dia sedikit tak mengerti dengan dirinya yang tiba-tiba seolah menyerah kalah dan bisa dikendalikan oleh seorang Aldo. Brondong biasa-biasa yang selama ini tidak pernah masuk targetnya.


"Maaf, apakah Bunda menjalin hubungan serius dengan Jovan?" Aldo memegangi kedua tangan Bunda Fahira dan meletakkannya pada bagian rudalnya yang berdiri tercetak nyata di balik celana dalam sempitnya.


"I..iii iya Do." Bunda Fahira menjawab gugup. "Bahkan sejak Jovan kelas sebelas, Bunda sama dia diam-diam menjalin hubungan serius." Walau degup jantungnya makin tak beraturan, Bunda Fahira masih sempat mengarang cerita.


"Luar biasa," desah Aldo seraya mendekatkan wajahnya ke wajah mangsanya yang sudah makin pasrah dalam penguasaan birahinya.


"Tapi mulai malam ini sudah putus, Do." Bunda Fahira sedikit memajukan badannya, hingga dadanya nyaris menyentuh tubuh Aldo dalam posisi hampir menindihnya.


"Wow, kenapa harus putus, Bun?" Aldo bicara seraya memegangi salah satu gunung kembar di dada Bunda Fahira yang kenyal dan sangat keras.


"Bunda udah capek dan gak suka. Jovan selalu maksa minta berhubungan badan setiap hari. Dan selalu minta uang besar setelah itu. Kan Bunda juga kewalahan kalau setiap hari harus ngasih uang. Katanya buat jajan adik-adiknya. Malahan tadi siang, dia maksa minta uang 20 juta untuk biaya ngebangun rumah kakeknya di kampung." Karangan bebas ala Bunda Fahira makin halu dan menggila.


"Wow! Dasar cowok kere tak tahu diri! Sudah diberi segala fasilitas dan kemewahan, masih saja banyak nuntut." Aldo semakin merapatkan tubuhnya, dia bahkan telah melepaskan celana dalamnya, tergeletak di jok depan menyatu dengan kolor bolanya.


"I..iya Do. Selain itu, si Jovan kan masih suka berhubungan intim dengan si Angel dan si Elva. Bunda minta dia untuk memilih salah satu, tetapi gak mau. Sampai-sampai dia meminta Bunda untuk menyingkirkan Angel."


"Oh jadi Angel itu disingkirkan dari Garuda, atas permintaan si Jojo?" Aldo sedikit menarik kembali tubuhnya, terkejut dan tak percaya.


"Kalau gitu, Bunda udah sering dong berhubungan badan dengan Jovan?" Aldo makin penasaran dengan kemunafikan sahabatnya. Selama ini Jovan selalu menghindar jika diajak bicara yang sedikit berbau porno, alasannya belum dewasa. Namun ternyata dia sudah sangat jauh melangkah dan berpengalaman.


"Ketika Angel sudah keluar, Jovan hampir tiap malam nginap di rumah Bunda. Eh ternyata itu akal bulusnya agar Bunda mengizinkan mamanya berjualan di kantin. Nah bunda kalah lagi sama dia." Bunda Fahira mengangkat tubuhnya, memberikan kelonggaran pada Aldo yang sedang menarik celana piyamanya.


"Hmmm, luar biasa si otak mafia. Ternyata diam-diam menghanyutkan." Aldo berucap seraya menyimpan celana piyama dan celana dalam Bunda Fahira pada jok depan.


"Dan yang paling menyakitkan lagi, ternyata Jovan masih berhubungan dengan Elva. Dia mau memutuskan Elva kalau Elva dikeluarkan juga seperti Angel, ooooh ssssst." Bunda Fahira mendesah seraya mengangkat kedua tangannya. Aldo menarik baju piyamanya hingga terlepas.


"Hmmm, kenapa Elva belum dikeluarkan?" tanya Aldo sesaat sebelum menciumi leher dan dada Bunda Fahira.


"Sssssst, Aldooooo aaaah, Elva sudah bunda dipanggil baik-baik. Dia bersedia meninggalkan Jovan pelan-prlan., ooooh Aldo ssst geli, Sayang, aaah ssst Aldoooo." Bunda Fahira bergidik saat Aldo menjilati ketiaknya.


"Aah Aldooooo ssssttt." Bunda Fahira melenguh panjang berbarengan dengan tangan kerempeng yang meremas dan memainkan buah dadanya yang keras.

__ADS_1


"Terus sekarang gimana? Apakah Bunda mau menerima saya jadi pengganti Jovan? saya jamin bisa memberikan service yang lebih baik dari dia. Silakan bunda periksa senjata laras panjang saya. Lebih panjang dari punya Jovan."


"Iya, Do. Bunda maunya sama yang tidak berhubungan dengan wanita lain. Aldo punya pacar gak?" Bunda Fahira yang birahinya sudah membakar sekujur tubuhnya, kian mendesah dan gelagapan. Tangannya bahkan tak mau lepas dari pisang tanduk Aldo yang berukuran luar biasa.


"Aman bunda ayang, Aldo tak pernah punya pacar." Jawaban Aldo makin memburu.


"Masa sih cowok seganteng dan semanis kamu belum punya pacar?" Bunda Fahira mendongak ke belakang.


"Iya Bun, karena saya hanya ingin pacaran dengan wanita secantik dan seseksi Bunda. Jujur aja, sejak pertama melihat bunda, saya tidak memiliki gairah pada wanita manapun. Cita-cita terbesar saya hanya ingin jadi lelaki yang mampu membahagiakan Bunda lahir dan batin." Rayuan maut Aldo mulai meluncur sempurna dari mulutnya yang megap-megap menahan napasnya yang memburu.


"Kamu serius, Do?" Bunda Fahira menghentikan semua aktifitasnya, lalu memegangi wajah tirus Aldo yang hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya.


"Serius, Sayang. Untuk apa kita sudah sampai di sini kalau hanya sekedar main-main. Aldo bukan Jovan, Bun. Tidak akan banyak menuntut. Justri akan mengabdi sepenuhnya pada Bunda. Yang penting Bunda bahagia lahir batin."


"Oooh Aldo, please bahagiakan Bunda, Sayang. Jika malam ini kamu benar-benar mampu memberikan kepuasan, maka kita resmi menjalin hubungan. Kamu sah menjadi brondong simpanan Bunda, tapi..."


"Tapi apa, Sayang?"


"Mau kah nanti kamu melakukan apapun untuk Bunda?"


"Apapun akan Aldo lakukan demi Bunda, Sayang."


"Ooooh Aldo, aaaa aaaah sssst."


"Oh, Cantikku sudah siap belum untuk merasakan gempuran pisang tanduk Aldo yang super ini"


"Iya Sayang, Bunda sudah sangat siap, bahkan sejak kamu naik ke mobil tadi."


"Oh my God! I love you honey, nikmatilah senjataku yang akan membawamu melayang dalam surga duniamu."


"Aldooooo aaah, kamu jantan sekali ternyataaaa.... aaaah ssst"


Mobil sedan Corolla Altis silver itu pun bergoyang hebat seiring lenguhan, desahan dan rintihan dua insan beda usia, beda jenis kelamin, beda status dan beda kepentingan.

__ADS_1


Mereka menyatu dalam balutan api birahi yang membara, hingga malam yang sejuk sunyi dan sepi itu menjadi malam yang sangat basah dengan keringat....


Bersambung – Menjadi Budak Nafsu


__ADS_2