
Kepanikan Sebelum Upacara
Setelah memastikan mamanya keluar dari kamar, Jovan segera kembali ke kamarnya melanjutkan lamunannya. Pikirannya mengalir deras laksana banjir bandang yang menyapu semua benda yang dilewatinya. Mengenangkan kembali masa-masa bahagia saat ayahnya masih menjadi seseorang yang sangat bertanggung jawab dan menyayangi keluarga.
Dan kini sudah hampir dua tahun, Fuad menjadi seorang ayah yang hampir tidak dikenali oleh anak-anaknya. Jarang pulang, kehilangan kasih sayang dan tidak pernah lagi bertanggung jawab memberikan nafkah layak dan memadai pada keluarganya.
Tiga hari setelah Jovan diusir dengan hina dari rumah Nenek Soraya, Fuad kembali pulang dan disambut dengan suka cita oleh seluruh keluarga. Terutama si bungsu yang sedang sangat merindukannya. Naufal benar-benar sembuh dari sakitnya, setelah lebih dari seminggu Fuad berada di rumahnya.
Setelah Naufal sehat seperti sedia kala. Fuad kembali berangkat usaha, melanjutkan bisnis dengan para partnernya yang sempat tertunda. Dan seminggu berikutnya dia datang kembali dengan membawa segudang masalah.
Bukan uang dan nafkah yang dibawa, namun setumpuk catatan utang piutang dan tagihan yang sudah jatuh tempo. Akhirnya seluruh tabungan dan perhiasan istrinya harus direlakan untuk melunasi sebagai utang-utangnya.
Ketika Fuad, bekerja di salah satu perusahaan ternama milik saudara tertuanya. Keadaan ekonomi keluarganya jauh lebih sejahtera dan makmur. Dia sanggup memenuhi segala kebutuhan keluarga. Bisa menabung dan membeli rumah, yang sampai kini menjadi tempat tinggal istri dan anak-anaknya.
Namun sejak Fuad, memutuskan merintis usaha sendiri yang bergerak dibidang kontraktor proyek pembangunan. Keadaan ekonomi keluarganya justru memburuk dan morat-marit. Modal usaha yang dipinjam dari keluarga besarnya tak mampu mengembangkan usahanya.
Alih-alih bisa mengembangkan usaha dan mendapatakan keuntungan besar yang bisa mensejahterkan keluarga. Bisnis yang dirintis Fuad malah pailit dan menimbulkan utang yang melilit. Akibat gali lobang tutup lobang. Pinjam uang untuk membayar utang.
Sampai akhirnya dia sudah tak berani lagi menampkan batang hidungnya di depan umum. Dan kini dia tak lebih hanya menjadi kacung dari salah seorang pengusaha yang memiliki modal besar.
Bu Anita memutar otak, mencari cara agar memiliki pendapatan. Suaminya sudah tidak bisa diharapkan lagi sementara ketiga anaknya harus tetap bertahan hisup.
Dengan modal pas-pasan dan keterampilan memasak yang dimilikinya, wanita penyabar itu mencoba berjualan nasi uduk dan gorengan. Nasib baik menaunginya. Usaha kecil-kecilannya berkembang pesat, hingga dia mampu menyewa kios kecil di tempat yang stategis, pinggir jalan.
Sebagai anak sulung, Jovan suka rela berperan ganda untuk kedua adiknya, sebagai kakak sekaligus ayah. Dia pun selalu meluangkan waktu untuk membantu mamanya berjualan di warung. Bahkan tak jarang dia masih tetap membuka warungngnya hingga jam sepuluh malam.
"Andai ayah tidak berubah, tentu mama tidak akan semudah itu menerima si Angel. Apalagi hanya sekadar untuk uang jajan atau dibelikan sepeda anak." Jovan bicara pada dirinya sendiri.
"Apakah ayah sudah punya keluarga baru?" Jovan kembali mempertanyakan apa yang selama ini selalu ditanyakan pada mamanya. Namun tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan.
"Mengapa mama selalu menghindar setiap kali ditanya soal ayah? Ada apa sebenarnya terjadi antara mama dengan ayah? Mengapa mama tidak mengizinkan aku menegur dan mempertanyakannya langsung pada ayah?” Jovan memandangi langit-langit.
"Apa kesalahan mama hingga ayah bersikap demikian? Kurang apalagi lagi. Pengabdian mama sebagai seorang istri tidak diragukan lagi. Apakah kurang cantik? Mau nyari yang bagaimana lagi? Walau dia orang kampung, tapi kecantikannya yang alami masih bisa bersaing dengan ibu-ibu kompleks sini."
Pertanyaan demi pertanyaan terus mengalir tanpa jawab. Hingga akhirnya Jovan terlelap tidur. Besok dia harus memulai lagi sekolah, setelah libur Sabtu dan Minggu.
__ADS_1
Setelah Shalat Subuh, seperti biasa Jovan membantu mamanya menyiapkan masakan yang akan dijualnya hari ini. Dibantu Julia adik perempuannya, dia membawa semua dagangan dan menatanya di warung. Sementara mamanya sibuk mengurus si bungsu yang masih harus serba dirayu dan dilayani, bahkan untuk mandi, sarapan dan berganti pakaian pun harus dilakukan mamanya, termasuk mengantar ke sekolah.
"Waduh!" Jovan berseru dengan mata yang membesar.
"Kenapa, A?" Julia yang sedang tenang menata warungnya ikut terperanjat.
"Teh, Aa pulang duluan ya. soalnya harus berangkat pagi-pagi banget ke sekolah." Mata Jovan tetap tertuju pada jam dinding yang menempel pada dinding warungnya.
"Oh ya, udah, biar ini dibersin sama teteh aja." Julia menjawab seraya menata masakan pada tempatnya.
Julia siswa kelas SMP, dia sangat pandai dan luwes menata barang dagangan. Terlatih karena setiap hari, sebelum berangkat sekolah membantu merapikannya. Dan sepulang sekolah, terkadang dia juga menghabiskan waktu di warung dan ikut melayani bahkan merapikan warung ketika sudah tutup.
Mungkin banyak yang tak menduga, sampai saat ini Julia belum memiliki ponsel seperti teman-temannya. Bukan Bu Anita tidak mau membelikannya, namun Julia masih belum berminat untuk memilikinya.
Dengan berjalan setengah berlari, Jovan pulang ke rumahnya yang berjarak kurang lebih 200 meter dari warung. Setelah berganti pakaian dengan tergesa-gesa, dia segera berpamitan pada mamanya untuk berangkat ke sekolah. Bahkan tanpa sarapan terlebih dulu.
"Tumben, pagi amat?" Bu Anita keheranan saat Jovan meminta izin berangkat lebih dulu dan tak sempat mengantar Julia ke sekolahnya.
"Hari ini Jojo tugas upacara, Ma. Harus pagi-pagi sekali," jawab Jovan seraya memakai helm.
Saat tiba di halaman sekolah, suasana masih sangat sepi. Hanya ada beberapa siswa yang datang lebih pagi.
Jovan berdiri depan kelasnya, mencegat beberapa teman sekelasnya. Meminta tolong pada mereka untuk menggantikan tugasnya sebagai Pemimpin Upacara.
Jovan makin ketar ketir, karena beberapa teman sekelasnya tak ada yang bersedia menggantikan atau bertukar posisi menjadi Pemimpin Upacara.
Wajah dan gerakan tubuhnya gelisah tak menentu. Siswa kelas lain yang kebetulan lewat di sana, mengernyitkan dahi. Memandang aneh pada Jovan yang bertingkah seperti orang linglung.
Cukup banyak cewek yang menatapnya aneh. Mereka saling berbisik, lalu tertawa cekikikan, setelah menjauh.
Jovan tak peduli. Dia sibuk merayu beberapa temannya yang lain agar mau menggantikan dirinya menjadi Pemimpin Upacara.
"Please help me, brother!" Jovan berpacu dengan waktu. Merayu Fadlan yang pagi itu berubah menjadi sahabat yang super jual mahal.
"Jadi pemimpin upacara? Hah! Itu bukan level seorang Fadlan, Bro. Kalau jadi pembina, mungkin masih bisa gua pertimbangkan, hehehe." Fadlan tak acuh.
__ADS_1
"Hah, belagu lu! Bener nih, gak mau dikasih tahu obat pembesar itu?" Jovan mengeluarkan kartu As-nya. Alfin dan Fadlan, dua sahabatnya yang terobsesi dengan ukuran kejantanannya.
"Terlambat kawan. Gua udah dapat yang super mujarab. Beberapa saat lagi, lu bakal terbelalak melihat hasilnya, hahahaha." Fadlan segera beranjak dari bangkunya.
"Si Alfin kemana, Bro?" Jovan bertanya pada Bagas.
"Belum datang, mungkin gak ikut upacara." Bagas menjawab tak acuh.
"Hah, sialan! nyari penyakit aja tuh anak!" Jovan mulai frustasi.
Setelah gagal merayu 16 temannya, dia menggantungkan harapan terakhirnya pada Alfin. Namun celakanya sampai bel berbunyi dan upacara akan dimulai, Alfin yang dia pikir akan bisa jadi dewa penyelamat, masih belum menampakan batang lehernya.
"Benar kata mama. Sesuatu yang dianggap ringan karena sudah terbiasa. Jadi begitu berat saat dilaksanakan pada waktu yang berbeda." Jovan bicara pada diri sendiri sambil menyiapkan mentalnya.
Sejatinya, menjadi petugas upacara bukanlah hal yang asing untuk seorang Jovan. Terlebih lagi menjadi pemimpin upacara.
Sejak masa SMP, Jovan sudah sering didaulat menjadi pemimpin upacara. Bentuk fisik dan penampilannya, dianggap paling ideal dan mumpuni. Jika saat ini tiba-tiba dia parno dan ketakutan menjadi petugas upacara, itu karena tadi malam, dia baru menyadarinya.
Angel yang pernah bermasalah dengan dirinya sebulan lalu. Dan kini tiba-tiba menjadi baik pada keluarganya, bisa jadi akan melaksanakan ancamannya. Balas dendam mempermalukan dirinya saat ini. Itu sangat mengerikan, karena sudah pasti dirinya tak bisa lagi mengelak.
Jantung Jovan makin dag dig dug, setelah sadar bahwa Angel, Alfin, Niken dan Helena tidak terlihat di lapangan upacara. Otaknya gencar menduga-duga drama gila apa lagi yang akan dipersembahkan cewek nekat itu bersama geng gilanya.
'Semoga Angel gak bikin drama lagi. Kalaupun tetep nekat, gua harap dramanya yang normal-normal aja, syukur-syukur gak memalukan.' Jovan membatin dan pasrah.
Upacara Pengibaran Bendera pun dimulai.
Dengan jantung dag dig dug tak keruan, Jovan berusaha konsentrasi menjalankan tugasnya.
Berdiri tegap di tengah lapangan, menjadi pusat perhatian seluruh siswa dan guru yang mengikutinya upacara pagi itu.
Matahari pagi, mulai menunjukan keperkasaannya. Menyinari, menghangatkan dan lambat laun membakar semua benda yang ada di bawahnya. Tidak terkecuali seluruh siswa SMA Garuda yang sedang melaksanakan upacara.
Bersambung - “Terseret Masalah Besar”
__ADS_1