
Antar Pesanan Terakhir
Seperti yang sudah dijanjikan, jam sembilan malam, Jovan mengantarkan pesanan Bunda Fahira dan beberapa pesanan pelanggan lainnya.
Setelah mengantar pesanan Mama Keenan yang kebetulan satu kompleks dengan Bunda Fahira. Jovan segera menuju Blok G-8 Perumahan elite yang asri nan Indah. Dia sudah beberapa kali mengantar pesanan Bunda Fahira ke rumahnya. Bahkan telah diberi izin untuk masuk melalui pintu samping kanan, yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.
Rumah Bunda Fahira sangat menonjol dan mentereng. Berbeda jauh dengan rumah-rumah yang berdiri di kawasan itu. Walau sama-sama megah dan indah, namun jika malam hari, terkesan lebih elegan dan glamour dengan lampu-lampu taman mahal yang bertebaran.
Saat Jovan masuk lewat pintu samping, Bunda Fahira telah menunggunya di teras. Istri kedua anggota DPR-RI itu sudah tiba di rumahnya hampir satu jam yang lalu.
Jovan yang berdandan casual, santai elegan, memarkirkan maticnya depan teras samping yang tak kalah mewah dan megahnya dengan teras utama.
"Maaf Bun, agak telat. Tadi saya ke rumah Bu Keenan dulu. Kebetulan agak lama. Di rumah beliau sedang banyak saudaranya dari Aceh." Jovan bicara setelah mencium tangan Bunda Fahira dengan santun.
"Gak papa, tenang aja, masih sore ini, lagian kue ini juga buat dimakan Bunda aja, hehehe. Duduk dulu, Jo!" jawab Bunda Fahira sambil menerima bungkusan kue yang disodorkan Jovan.
"Terima kasih, Bun. Saya permisi, gak lama," jawab Jovan dengan sikap hormatnya.
"Hmm kenapa buru-buru. Emang lagi sibuk, ya?" tanya Bunda Fahira seraya menatap Jovan yang berbalut kaos hitam ketat serta celana jeans strech hitam yang ketat dan mencetak setiap lekuk tubuhnya yang kekar atletis. Bentuk tubuh yang sangat ideal, indah sempurna untuk ukuran seorang remaja berusia 18-21 tahun.
Mata Bunda Fahira sedikit salah fokus pada bagian tubuh Jovan yang pernah membuat kehebohan di sekolah.
"Gak sih, kalau malam kan gak ada kegiatan. Kebetulan pesanan hari ini sudah diantar semua, terakhir ini punya Bunda." Tangan Jovan, refleks menutupi bagian tubuh depannya. Menghalangi pandangan Bunda Fahira yang sejak tadi tertuju pada celana ketatnya.
"Oh, kalau gitu duduk aja dulu, temani saya ngobrol dan makan kue ini. sengaja pesan banyak, supaya bisa dinikmati bareng-bareng. Nanti gak habis kalau dimakan sendiri." Bunda Fahira bicara seraya membalikkan badan, lalu masuk ke rumahnya.
"Lah, terus ngapain ibu pesan kue banyak-banyak, kalau gak ada yang makannya? Tapi ya kapan lagi punya kesempatan makan kue berdua dengan cewek cantik, seksi, baik hati lagi, hehehe." Jovan bicara sendiri.
Tanpa dipersilakan untuk yang kesekian kalinya. Saat Bunda Fahira masuk rumah, Jovan duduk santai di sofa teras samping. Menunggu tuan Rumah, yang sedang menyimpan kue, atau mungkin membangunkan asisten rumah tangganya.
Entah sudah berapa lama, Jovan duduk sendirian. Matanya jelalatan menyapu pemandangan dan ornamen-ornamen hiasan di sekitar kolam kecil yang dipenuhi ikan koi dan taman bunga yang ditata di pojok halaman samping dengan sangat asri.
__ADS_1
Setiap berkesempatan datang ke rumah Bunda Fahira, Jovan tak pernah berhenti mengagumi keasrian dan keindahan maha karya pembuat taman dan kolam koi berair mancur yang tertata sangat natural dan detail.
Dia belum pernah melihat taman mungil seindah dan seapik itu sebelumnya. Otak pintarnya bahkan tak bisa menduga-duga berapa dana yang dihabiskan Bunda Fahira untuk sebuah karya seni yang sangat menakjubkan itu.
Harga dan nilai seni tergantung selera, sehingga tak pernah memiliki standar harga yang bisa dipatok dengan mata uang secara kaku.
"Anteng amat ngelamunnya, Jo." Kejutan suara Bunda Fahira sontak membuyarkan semua lamunan Jovan.
Deg!
Beberapa saat jantung Jovan berhenti berdetak. Tak lama kemudian berdegup dalam kecepatan lima kali lipat dari normal. Sekujur tubuhnya mendadak tegang, wajah kaku, mata melotot dan mulut sedikit menganga.
Terkesima menatap sosok wanita muda yang paling ditakuti sejagad SMA Garuda, yang kini telah berganti pakaian dan berubah wujud. Dia bukan lagi Bunda Fahira tapi bidadari cantik dan indah dalam balutan baju tidur yang super seksi nan menggoda.
Aroma parfum semerbak menyapu hidung Jovan. Baju tidur merah satin mengkilap setinggi paha, sempurna membalut tubuh kuning langsat yang halus dan licin laksana keramik China.
Postur tubuh langsing padat berisi serta lekukkan dan bentuknya yang hampir mirip dengan gitar Bogor. Menyegarkan dan menggairahkan setiap mata lelaki yang melihatnya. Keindahan dunia yang sempurna nyata di depan mata.
Jovan bahkan menduga, wanita di depannya tidak memakai pakaian dalam. Sama seperti dirinya.
"Hai, kenapa bengong, aja?" tegur Bunda Fahira seraya menyentuh tangan Jovan.
"Eh, ii ii ya, te..te..terima kasih, Bun." Jovan gugup. Selama mengenal Bunda Fahira, baru kali ini dia melihat kaki, betis dan pahanya yang menakjubkan.
Imajinasi Jovan seketika melayang pada beberapa foto model wanita dewasa dari Timur Tengah yang berpakaian dan berpose super seksi pada koleksi foto-foto seksi di laptopnya Bagas.
"Minum dulu Jo, sekalian nyobain kuenya. Kata mama ini buatan Jojo, ya?" Bunda Fahira kembali menyadarkan lamunan Jovan.
Beberapa kali Jovan mengerjap. Sekedar memastikan, wanita super seksi dengan rambut cepol diangkat ke atas itu, benar-benar Bunda Fahira yang selama ini dikenalnya.
'Apakah ini putri siluman Jambu Mede, atau Bunda Fahira? Jangan-jangan ini makhluk jadi-jadian yang disebut hantu.’ Jovan bermonolog dalam hati.
__ADS_1
‘Ya Allah, jika ini yang disebut hantu, hamba mohon sering-seringlah pertemukan hamba dengan hantu yang seperti begini.' Jovan terus bicara dalam hati dengan tenggorokan yang bergerak-gerak menelan ludahnya sendiri.
"Hai, Jovan! kamu kenapa?" Bunda Fahira kembali menyentuh tangan Jovan, "kok bengong aja. Ada hantu bukan? kenapa jadi tegang begini?" Bunda Fahira tersenyum manis. Wajahnya yang dipoles bedak, lipstik dan blouse on serba tipis, sanggup membuat hati Jovan yang masih polos komat kamit membaca segala mantra dan doa-doa pengusir roh jahat.
"Eh i..iya, maaf Bun, Ba..ba..bapak kemana?" Jovan bertanya basa-basi melawan nervous dan salah tingkahnya.
Pertanyaan yang sedikit aneh dan menggelikan, karena dia sudah tahu, suami Bunda Fahira tak pernah datang ke rumah ini pada malam hari, kecuali dalam keadaan mendesak.
"Loh, kok malah nanyain Bapak? Kan Jojo tahu, beliau gak pernah ke sini malam-malam." Bunda Fahira menjawab seraya tersenyum. Matanya nanar menatap Jovan yang duduknya kian gelisah tak karuan.
Deg! Kembali jantung Jovan tersentak keras saat Bunda Fahira duduk bersilang. Kaki kanan bertumpu pada kaki yang lainnya. Sekilas matanya melihat bagian paling pribadi sang bunda.
'Oh My God!’ Jovan berseru dalam hati, ‘mimpi apa gua tadi malam? benar aja dugaan gua. Bunda gak make dalaman. Gila! Indah banget bentuknya kalau terbuka gitu.'
Sekujur tubuh remaja polos itu terasa kaku dan menggigil. Keringat dingin tiba-tiba membasahi punggungnya yang bersandar pada sofa. Isi kepalanya mendadak kosong dan bayangan bagian intim Bunda Fahira yang terlihat sekilas langsung meracuni otaknya.
"Aneh, Jojo kok malah nanyain Bapak, hehehe." Bunda Fahira kembali terkekeh. Untuk mencairkan suasana dan menyadarkan Jovan dari bengong dan shocknya.
"Eh, mak..mak maksud saya Bi Uun dan Mang Sar...Sarr Sarta, kemana, Bu?" Terbata-bata dan bergetar Jovan meralat ucapannya.
"Oh. Mereka cuti. Pulang kampung anaknya mau liburan. Kebetulan rencananya bunda juga mau ke Jepang. Tapi belum pasti. Maklumlah kunjungan kerja suami. Bisa aja yang diajak malah istri pertamanya, hehehe." Bunda Fahira menjawab santai.
Jovan berusaha mengendalikan diri dan pikirannya serta menahan laju juniornya yang tiba-tiba tak bisa dikontrolnya. Bereaksi keras, tegang dan membesar menunjukan kehebatannya.
"Oh gitu," balas Jovan singkat. Wajah melongo dengan tatapan nanar.
Bunda Fahira sengaja membuka seidkit baju dibagian dada dan pahanya. Dia sudah sangat berpengalaman dalam memainkan perasaan kauam lelaki muda, seusia Jovan.
Dia sudah sangat mengerti, apa yang harus dilakukan setelah mangsanya masuk perangkap, menggap-menggap dan tak berdaya...
Bersambung – “Kapal Mulai Oleng”
__ADS_1