Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga

Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga
Bagian Dua Belas


__ADS_3

Mengapa Anggel Keluar


Tanpa terasa, bel istirahat sudah berbunyi. Bunda Fahira pun terpaksan mengakhiri obrolannya serta mempersilakan Jovan untuk kembali ke kelasnya.


"Ini apa, Bunda?" tanya Jovan saat menerima sebuah amplop putih yang disodorkan Bunda Fahira.


"Nanti aja kamu buka kalau sudah sampai di kelas, tapi jangan ada yang tahu." Balas Bunda Fahira seraya tersenyum manis.


"Hah! Saya tidak dipecat kan, Bun?" Jovan menatap amplop berlogo SMA Garuda yang dipegangnya.


"Nanti saja kamu buka suratnya, di situ ada keterangannya, kok." Wajah Bunda Fahira kembali serius.


Muka Jovan kembali pucat pasi. "Saya dikeluarkan bukan, Bun?" tanyanya dengan suara sedikit bergetar.


"Kan tadi sudah dibilang, kali ini dimaafkan. Jadi mulai besok, tolong jangan pakai celana kekecilan, dan biasakan pakai celana dalam.” Bunda Fahira kembali bicara sambil senyum dikulum, menahan geli dalam hati.


Teeer.. Darah Jovan berdesir. Rona wajahnya seketika merah padam, malu semalu malunya. Tak menduga, Bunda Fahira tahu kebiasaan buruknya yang tidak pernah bercelana dalam.


“Kamu tahu gak? Orang keturunan Timur Tengah itu, rata-rata memiliki perkakas yang sedikit berbeda dibanding keturunan asli Indonesia. Karena kamu keturuan sana, maka menutupnya pun harus sedikit berbeda. Jangan sampai terekspose seperti tadi." Ucapan Bunda Fahira makin membuat wajah Jovan memerah, laksana udang rebus.


"Ya sudah, silakan kembali ke kelasmu. Selamat siang!" pungkas Bunda Fahira.


"Selamat siang," balas Jovan seraya beranjak dari kursi.


Dengan memikul rasa malu yang amat berat, Jovan keluar dari ruangan angker itu dengan diiringi tawa kecil Bunda Fahira. Wanita itu sangat senang dan puas bisa ngobrol panjang lebar dengan siswa yang paling gagah dan ganteng di SMA Garuda.


Jovan bergegas ke toilet. Tak sabar ingin segera membuka amplop pemberian Bunda Fahira.


Dengan jantung yang berdebar-debar, dia membuka amplop dengan sangat hati-hati.  Seketika mata Jovan terbelalak. Bibirnya menganga melihat isi amplop. Lima lembar uang merah berjejer rapi dan secarik kertas terselip di antaranya.


"Segera beli celana seragam yang sesuai ukuranmu, sekalian beli segi tiga pengamannya untuk dalaman, supaya tidak terekspose lagi - secret."


Jovan tersenyum geli membaca tulisan yang sepertinya ditulis dengan tergesa-gesa atau mungkin menulis sambil tertawa-tawa geli.


Senyum lebar seketika mengembang dari bibir Jovan. Dia tak menduga, wanita super killer yang sangat ditakutinya memiliki selera humor yang lumayan. Jovan senyum-senyum sendiri. Geli dengan dirinya sendiri. Ternyata kebiasaan yang ditularkan dari ayahnya jadi sangat menggelikan.


Sejak kecil Jovan tidak terbiasa memakai celana dalam ketat berbentuk segi tiga. Ayahnya pun tidak memakainya dan selama ini dalaman yang dia pakai hanya boxer atau kolor sepak bola.


Jovan pernah mencoba memakai dalaman berbentuk segi tiga itu. Namun hanya bertahan beberapa jam karena merasa tidak nyaman, gelisah dan tersiksa. Benda berbentuk segitiga itu, dirasa sangat mengekang kebebasan geraknya.


Jovan memasukan kembali amplop beserta isinya ke dalam kantong celananya. Dia tidak akan menuruti anjuran Bunda Fahira membeli benda sakti, namun akan dia pergunakan untuk membeli sepeda adiknya.


Dengan wajah sedikit dibuat sedih, Jovan kembali masuk ke kelasnya. Pelajaran berikutnya belum dimulai dan sebagian siswa masih bergerombol di kantin.

__ADS_1


"Bro, sekarang lu udah tahu kan kenapa saat upacara tadi ada sedikit kehebohan?" Bagas bertanya sesaat setelah Jovan duduk di sampingnya.


"Taik! Semua gara-gara lu gak solider sama gua!" Jovan membentak kesal, tangan kanannya yang terkepal mendarat lemah di dada kiri sahabatnya yang paling kalem.


"Halooo man! Lu kan tahu, sejak Fir'aun masih nonton Upin Ipin dan Spongebob, gua gak pernah jadi petugas upacara.  Apalagi jadi dijemur di tengah lapangan gitu, bisa-bisa kegantengan gua luntur terbakar matahari." Bagas menjawab dengan wajah yang sangat serius.


"Ah, bacot lu!" Jovan masih berpura-pura kesal, padahal hatinya sedang penuh bunga. Gara-gara upacara, dia mendapatkan uang 500 ribu. Kapan lagi dapat uang sebesar dan semudah itu. Halal lagi.


"Makanya Bro, punya barang yang normal aja. Standar Indonesia tapi menggetarkan. Yang penting bukan ukuran tapi permainannya, iya gak? Daripada gede tapi bikin masalah terus! Hahahaha." Bagas menghangatkan kelas yang sunyi dengan tawa renyahnya. Ini bukan kebiasaan Bagas.


"Eh kunyuk! Lu pikir ini maunya gua? gua orang paling bersyukur sedunia. Apapun pemberian Tuhan, gua terima dengan ikhlas. Masa sih mesti gua kecilin sendiri. Bukankah besar itu anugerah yang tak ternilai? Hahahaha." Jovan tak mau disalahkan lagi.


"Lah anugerah gimana? Buktinya lu kena sial terus. Dulu zaman SMP kena ciduk gara-gara bagian tubuh depan lu juga kan? hahaha." Bagas makin puas mentertawakan wajah Jovan yang tertekuk. Tak bisa membela diri.


"Iya deh gua nyerah. Oh iya si Alfin kemana? Beneran dia gak masuk?" Jovan mengedarkan pandang ke sekeliling kelas, mencari Alfin.


"Si Alfin tadi sebenarnya ada, tapi dia langsung dipanggil ke ruangan si killer, sebelum upacara."


"Modyar lu! Itu karma dari gua, tadi gua telpon bilangnya gak masuk sekolah, eh ternyata ada. Brengsek emang tuh anak!" umpat Jovan seraya tersenyum lebar. Membayangkan betapa mati kutunya Alfin di depan Bunda Fahira.


"Btw, kasus apaan si Alfin sampai dipanggil si Cantik." Jovan nyengir kuda.


"Si Cantik? What happend? apa yang terjadi dengan kalian di ruangan itu?" Bagas melotot.


"Bro, si Alfin kena kasus apa?" Jovan mengembalikan fokus pembicaraan mereka.


"Emang lu gak tahu? Si Angel kan dikeluarin dari sekolah." Bagas meningkatkan keseriusan hingga level tertinggi.


"Tahu, tapi apa hubungannya dengan si Alfin?" Jovan menatap wajah Bagas yang tiba-tiba mendung.


"Oh, kalau gitu berarti lu belum tahu dong?" Bagas menyandarkan punggungny pada bangku.


"Gua udah dikasih tahu sama si killer. Tapi, gak ngasih tahu apa alasannya hingga si Angel dikeluarkan. Makanya gua nanya sama lu, kenapa si Alfin juga dibawa-bawa." Jovan sedikit nyolot.


Bagas membuka mulut membentuk huruf 'O'


"Gini kronologisnya, Bro." Bagas bicara penuh wibawa.


"Taik, bacot lu pake kronologis, segala!" Jovan kembali memukul bahu Bagas.


"Eh, monyong! Lu mau denger gak gosip terpanas hari ini?" Bagas balas membentak.


"Ya udah, to the point' aja, ribet amat maesti pake kronologis segala!"

__ADS_1


"Si Angel hamil, Bro." Bagas bicara dengan wajah yang sangat serius.


"Hah! Serius, lu? Lu gak lagi ngelem kan?" Jovan terperanjat.


"Very serious." Bagas meyakinkan.


"Hamil apaan?" Jovan makin penasaran.


"Ya hamil biasa, ada janin dalam perutnya. Emang lu pikir hamil apaan?"


"Waduh! hamil anak siapa? anak si Alfin bukan?" Mata Jovan masih terbelalak.


Bagas melebarkan kedua tangannya seraya mengedikkan bahu. Lengkap dengan bibirnya yang sedikit mencibir, "Menurut info sih, begitu," lanjutnya.


"Masha Allah!" Mulut Jovan terbuka lebar dan matanya makin membulat.


"Gas, ini bukan April mop kan? Lu serius kan ngomongnya? Jangan fitnah lu. Ini menyangkut harga diri si Angel dan si Alfin, Bro." Jovan menggoyangkan bahu Bagas.


"Lah, kalau gak serius, ngapain mereka di DO!" Bagas tak terima dianggap penyebar gosip dan fitnah.


"Iya juga, ya." Jovan garuk-garuk kepala.


"Noh! pergi ke kantin. Dengerin gosip yang lagi viral. Mereka malah ada yang bilang kalau lu juga ikut andil dalam kehamilan si Angel itu, hehehe." Bagas memonyongkan mulutnya, menunjuk kantin.


"Oh my God!, mit amit gua ngehamilin anak orang! Sialan amat tuh yang gosip!" maki Jovan dengan wajah yang memucat. Kaget.


"Bukan kata gua, kata gosip yang beredar. Ya, wajar kali. Soalnya kan si Angel terobsesi banget sama lu. Mungkin mereka menduga, lu sama si Angel ada main di belakang. Bukankah dia sering main ke rumah lu." Bagas mengklarifikasi.


Deg!


Jantung Jovan seketika berhenti berdetak. Kini dia mulai mengerti, mengapa Angel begitu ngotot ingin cintanya diterima dan akhir-akhir ini rajin datang ke rumahnya.


‘Sialan! rupanya si Angel mau ngejebak gua dengan kehamilannya. Mau ngejadiin gua kambing hitam. Brengsek juga si Alfin, mau lempar batu sembunyi tangan. Ya Allah, terima kasih, Engkau telah melindungi hamba dari fitnah yang sebegitu keji.’


Jovan kembali termenung. Masih tak percaya dengan nasib Angel yang berakhir tragis di SMA Garuda.


Sang Juara Umum itu masih belum menemukan cara yang baik dan benar untuk menyampaikan berita paling mengejutkan itu pada mamanya.


"Gak bisa dibayangkan gimana kecewa dan terkejutnya mama, kalau tahu si Angel hamil di luar nikah dan dikeluarkan dari sekolah.' gumamnya.


 


Bersambung - "Lelaki Berfikir Sempit"

__ADS_1


__ADS_2