Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga

Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga
Bagian Tiga Empat


__ADS_3

Tabir Yang Tersungkap


Hari ini, pertama kalinya Jovan tidak masuk sekolah.


Tadi subuh dia sudah menitipkan surat pada Bagas untuk disampaikan kepada kepala sekolah. Surat pengunduran diri yang dia tulis dengan tangannya sendiri.


Alasannya cukup sederhana. Harus mengurus kedua adiknya karena mama sedang dirawat di Bandung. Sementara ayah tidak ada di rumah.


Jovan sangat yakin, hari ini akan ada sedikit kehebohan di sekolah.


"Peduli setan! Gua emang udah terbiasa digosipin bahkan difitnah. Emang gua pikirin. Urusan ijazah, entar aja ikutan paket C." gumam Jovan


Setelah mengantar kedua adiknya ke sekolah, dia segera kembali ke rumah dan berganti pakaian dengan celana kolor, kaos oblong tanpa lengan dan sepatu boot karet.  Tak ketinggalan perkakas tempurpun disiapkan. Parang, arit, golok, pengki dan sapu lidi.


Hari ini dia akan bekerja keras membersihkan halaman rumahnya yang sudah lama tidak diurus.  Lagu-lagu lawas kegemaran mamanya, sengaja dipasang sedikit keras. Untuk menemaninya bekerja. Seperti yang dilakukan saat gotong royong membersihkan rumah dan halaman, bersama mama dan kedua adiknya.


"Hari ini gua mesti mengeluarkan tenaga ekstra. Biasanya seminggu sekali, ini udah sebulan lebih, gak dibersihin. Gak masalah! Gua siap melakukannya dengan senang hati." Jovan menyemangati dirinya.


Dengan semangat membara, hati riang gembira dan sesekali ikut bersenandung mengikuti suara almarhumah Nike Ardila. Jovan berjibaku seorang diri membersihkan halaman rumah yang dimulai dari halaman depan.


Tenaga ekstra yang dikeluarkan serta terpaan sinar matahari yang mulai meninggi dan menunjukan keperkasaannya, sukses membakar kalori di tubuhnya hingga dia bermandikan keringat


Setelah halaman depan rapi dan bersih, Jovan berpindah ke halaman samping yang terlindung dari pandangan orang luar. Ia pun melepas kaos dan kolor hijaunya.


Dengan bertelanjang dada dan hanya memakai boxer hitam, dia melanjutkan tugas beratnya.


"Mantaaap!!!" serunya seraya mengelap keringat di wajah gantengnya yang memerah. Tubuhnya tampak lebih kekar, gagah, manly coklat mengkilap. Persis binaragawan, kuli atau pekerja berat lainnya.


"Luar biasa! ternyata berkeringat itu sangat nikmat. Pikiran lebih fresh dan tenang." Jovan kembali menyemangati dirinya sambil mengumpulkan ceceran rumput yang tertinggal.  Setelah terkumpul dalam pengki, lalu mengangkat dan membuangnya ke lobang sampah yang tersedia.


Hampir tiga jam,  Jovan berjibaku nyaris tanpa henti. Halaman depan dan sampingnya kini benar-benar rapi dan bersih. Bahkan lebih rapi dari sebelum-sebelumnya.


Tinggal halaman belakang yang rencana akan dia kerjakan besok. Karena satu setengah jam ke depan, harus menjemput Naufal di sekolah.


Sang kuli beristirahat, duduk selonjoran berteduh di bawah pohon Jambu Air yang rindang namun tidak berbuah. Menikmati segelas kopi, sepiring gorengan dan sebatang rokok.


Ditemani angin sepoi-sepoi yang menerpa tubuh setengah telanjangnya, keringat Jovan berangsur-angsur turun dan mengering.


"Jojo kok udah di rumah. Kenapa gak sekolah?" Tiba-tiba suara seorang wanita yang sangat akrab di telinganya, mengejutkan.


Refleks kepala Jovan menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


"Eh.. Bu Surya," balas Jovan sambil merubah duduknya. Bersila dengan kedua tangan menutupi dada, persis maling yang baru tertangkap.


Sejurus kemudian kepalanya celingukan mencari sesuatu.


"Nyari apa, Jo?" tanya Bu Surya yang kini sudah berdiri tepat di depannya.


"Aduh maaf Bu, saya agak begini hehehe," jawab Jovan malu-malu, namun dia malas untuk bergerak apalagi mengambil kaos dan kolornya yang disimpan di dapur.


"Ih, gak papa Jo, udah gitu aja, gak usah pakai baju, biar cepet kering keringatnya," timpal Bu Surya seraya menatap sekujur tubuh Jovan yang mengkilat dengan sisa-sisa keringatnya.


'Aku malah seneng liat kaki, paha, dada dan perut kamu yang penuh dengan bulu, indah sekali, Jo. Coba suamiku punya bulu-bulu seperti kamu, pasti makin sayang, walaupun sudah loyo, hihihi,' lanjut Bu Surya dalam hati.


"Hehehe, maaf Bu, saya keringatan nih, gerah banget soalnya," Jovan kembali beralasan.


"Udah deh, gak usah dibahas, kaya sama orang lain aja. Masa sama ibu harus segitunya, hehehe," ucap Bu Surya.


Matanya sedikit jelalatan memandangi boxer hitam yang menyembul tepat di bagian depannya.


'Kapan lagi coba, bisa melihat tubuhmu yang sangat aduhai ini, Jo. Luar biasa, ada apa dibalik celana hitam itu, Jo, ko menyembul gitu ya, hihihi!' lanjutnya masih dalam hati, kerongkongannya bergerak menelan ludahnya sendiri.


"Mohon maklum ya Bu, hehehe," timpal Jovan cengengesan.


"Jojo kenapa gak sekolah?" Bu Surya mengulang pertanyaannya yang belum dijawab.


"Oh gitu, pantesan. Ibu baru pulang dari pasar. Kaget, denger suara musik. Kirain ada mama atau ada ayah." Bu Surya bicara sambil berjongkok di samping Jovan.


"Oh iya, gimana kabar mama Jojo?" tanya Bu Surya kemudian.


"Alhamdulillah sudah ada sedikit peningkatan, lebih baik. Barusan juga Bi Ratna ngirim video mama yang sedang jalan-jalan ke sawah, ditemani nenek dan kakek."


"Oh udah sembuh, ya?" Wajah Bu Surya sumringah.


"Belum sepenuhnya. Masih belum mau bicara, sekalinya bicara juga ngaco. Masih suka marah-marah gak jelas, tiba-tiba nangis dan histeris. Walau tidak tiap hari." Jovan menjawab lirih, kepalanya mendongak dengan mata terpejam.


"Yang sabar ya, Jo." Bu Surya mengelus-elus pundak Jovan.


"Mohon doanya aja, Bu. Semoga mama segera kembali seperti biasa. Kasihan dia menderita udah hampir sebulan," ucap Jovan lirih seraya menunduk hingga air matanya menetes pada pahanya.


Hati Jovan kembali tersayat. Terbayang wajah mamanya yang datar, tanpa aura dan ekspresi dengan tatapan kedua mata yang kosong tak bernyawa.


Dalam video berdurasi satu menit itu, Bi Ratna berteriak-teriak memberikan arahan, petunjuk dan mengajak bicara pada mamanya, namun sama sekali tak direspon.

__ADS_1


"Menurut Jojo, kenapa mama bisa begitu?" Bu Surya bertanya dengan sangat hati-hati. Tangan kanannya terus mengelus-elus pundak dan kepala belakang Jovan.


"Gak tahu, mungkin terlalu mendalam memikirkan ayah." Jovan masih menjawab lirih.


"Maaf ya, Jo. Kalau menurut ibu, kamu juga jangan terlalu mikirin ayah. Ibu menduga, ayahmu sudah menikah lagi. Sekarang Jojo mendingan fokus ngurus mama dan ade-ade."


"Iya, Bu. Saya juga udah gak terlalu mikirin ayah. Alhamdulillah walau tanpa dia, semua masih bisa diatasi. Saya mau mencari dia, hanya sekedar memastikan dimana dan apa kegiatannya. Sekalian memberitahukan keadaan mama saat ini."


"Jojo gak pernah mendatangi rumah kakek, atau keluarga ayah yang lainnya?" Bu Surya makin lembut bicaranya.


"Kan ibu tahu. Pernikahan mama dengan ayah tidak diakui pihak ayah. Kami juga anak-anaknya tidak diakui cucu. Jadi buat apa ke sana? paling hanya sakit hati diomelin dan dihina nenek seperti yang udah-udah."


"Yang Sabar ya, Jo. Maaf ibu bicara begitu, bukan mau ngungkit-ngungkit. Ibu kira sekarang mereka sudah terbuka hatinya. Kalau memang belum, ya udah. Gak usah terlalu dipikirkan. Ada ibu sama bapak di sini yang bisa kalian jadikan saudara." Bu Surya memeluk kepala Jovan.


"Iya, Bu. Sejak dulu kami memang sudah menganggap bapak dan ibu seperti itu. Lebih dari saudara, kami sudah menganggap bapak dan ibu sendiri," balas Jovan pelan.


Bu Surya melepaskan pelukannya.


"Jo, Maaf ya, boleh ibu berterus terang tentang mama dan ayah Jojo?" Bu Surya bicara hati-hati seraya mengangkat sedikit wajah Jovan agar bisa saling beradu pandang.


"Iya boleh, Bu. Justru saya sangat senang kalau ibu mau terbuka. Ibu kan udah tahu, untuk beberapa hal mama sangat tertutup. Saya yakin sebagai tempat curhatnya, ibu pasti punya banyak info."


"Tapi ibu pesan, Jojo jangan terbawa emosi mendapati kenyataan ini. Anggaplah sebuah ujian. Ibu berharap Jojo lebih dewasa menyikapinya. Percuma marah-marah juga, karena semua telah terjadi."


"Iya Bu."


"Ibu menyampaikan ini, karena sudah menganggap kalian bertiga anak ibu sendiri." Wanita berusia 40 tahun yang masih suka berdandan seksi itu bicara lembut dengan naluri keibuannya.


"Iya, Bu."


"Jo, seminggu sebelum mama sakit. Ayah Jojo pulang. Kira-kira jam segini. Saat kalian semua sedang sekolah. Waktu itu, mama Jojo maksa minta surat cerai. Tapi, ayah tidak mau. Terjadilah keributan. Dan akhirnya ayah Jojo bersedia menceraikan mama, tapi ada syaratnya." Bu Surya mengelus elus kepala Jovan. Tatapannya makin sendu dan nanar.


Bu Surya terdiam beberapa sesaat. Kedua matanya berkaca kaca.


"Syaratnya apa, Bu?" tanya Jovan nyaris tak terdengar.


 


Bersambung – Kehilangan Akal Sehat


 

__ADS_1


 


__ADS_2