
Berpisah Dengan Mama
Lucky dan Aldo sudah sangat jelas posisinya. Mereka kini tak lebih sebagai musuh dalam selimut. Keduanya berpura-pura baik, namun sesungguhnya ada misi jahat yang sedang mereka jalankan. Kini satu lagi wanita yang jago akting datang berpura-pura menjadi iblis berjubah malaikat.
”Angel kenapa lu masih dendam sama gua? Kenapa lu gak pernah puas membuat kekacauan dalam hidup gua?” bisik Jovan saat telentang menatap langit langit.
"Gua sudah tahu, lu sama aja dengan si Fahira, memanfaatkan si Lucky dan si Aldo untuk membalas dendam sama gua." Jovan kembali memandangi foto Angel, Lucky dan Aldo yang berdiri di dekat mamanya yang terbaring di rumah sakit.
"Salah gua sama lu apa? Selama ini gua gak pernah ngusik hidup lu. Kalau lu masih dendam sama gua, jangan libatkan mama atau adik-adik gua. Mereka gak tahu apa-apa." Jovan memandangi Naufal dan Julia yang sedang tertidur pulas di depan televisi.
"Ternyata kalian semua manusia-mausia barbar! Gak punya hati dan perasaan. Kalau kalian dendam sama gua, oke gua layani. Lu pikir gua gak punya nyali buat melawan kalian semua? Mulai sekarang, gua gak akan tinggal diam menghadapi manusia-manusia licik seperti kalian." Jovan mengepalkan tangan dan meninjukannya pada kasur.
"Lebih baik gua mati terhormat, dari pada hidup direndahkan sama kalian! Tunggu aja, gua bakal membuat perhitungan dengan kalian semua!" Kembali Jovan meninju kasur. Wajahnya tegang, mata menyala, napas mendengus dan giginya gemeretak menahan amarah yang hampir meledak tak terkendali.
Senja bersinar cukup terang, lembayung sutra di ufuk mulai bercahaya. Rembulan bahkan telah menampakan wajah pucatnya. Cuaca cerah dari pagi hingga petang, menciptakan lukisan alam maha sempurna. Langit terang benderang, nyaris tak setitik pun awan hitam tersisa di sana.
Suasana yang sedemikan menakjubkan, berbanding terbalik dengan perasaan Jovan. Hati brondong Sunda-Arab yang saat ini sedang duduk di bawah pohon rambutan belakang rumahnya, sedang dilanda galau, duka nestapa dan kelam.
Dia tak pernah menduga suratan takdir hidupnya begitu dramatis dan dinamis. Berubah arah dengan sangat signifikan bahkan hanya dalam hitungan jam, hari dan munggu.
Tiga hari tiga malam mamanya dirawat di rumah sakit. Kondisi fisiknya sehat wal afiat, namun, kestabilan mentalnya terganggu. Dia menjadi mudah menangis, marah-marah gak jelas dan emosional bahkan hingga histeria. Dalam keadaan sadar, dia sama sekali tak mau bicara. Mulutnya terkunci rapat-rapat.
Karena Kakek dan nenek Abdillah tak mungkin terus-terusan menemani di rumah sakit, akhirnya mereka mengambil keputusan untuk membawa Bu Anita ke Bandung. Diarawat disana dan akan dilakukan pengobatan alternatif non medis.
Demi ketenangan jiwa Bu Anita dan keberhasilan terapi pengobatan non medis, Jovan, Julia dan Naufal terpaksa tidak bisa menemaninya.
"Jojo, jaga Teteh dan Dede baik-baik di sini. Kalau mereka tidak sekolah, pastinya sudah bibi ajak tinggal di Bandung. Biarlah mama menjadi tanggung jawab kami di sana. Kamu juga gak perlu nyari ayah. Fokus jaga Julia dan Naufal." Masih terngiang di telinga Jovan ucapan Bi Ratna saat akan membawa mamanya ke Bandung, empat hari yang lalu.
"Bi, tolong jaga dan rawat mama. Kalau ada kekurangan biaya, segera hubungi Jojo. Pasti akan langsung ditransfer." Jovan bicara penuh percaya diri.
Walau tidak tahu milik siapa uang yang ada dalam tabungan mamanya. Dia akan tetap menggunakannya untuk pengobatan mamanya. Sementara untuk kebutuhan sehari-hari, masih ada pegangan. Sumbangan dari teman-temannya, sangat memadai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya satu atau dua bulan ke depan.
Bi Ratna, anak bungsu keluarga kakek Abdillah. Paling dekat secara emosional dengan Bu Anita dan anak-anaknya. Bi Ratna paling mapan dibanding semua kakak-kakaknya. Dia memiliki butik kecil-kecilan dan suaminya sedang merintis usaha yang perkembangannya cukup pesat dan positif.
"Jojo gak usah mikirin mama, itu semua menjadi tanggung jawab bibi dan Kakek. Yang penting utamakan keperluan adik-adikmu. Beri mereka makanan yang sehat dan bergizi secukupnya. Pastikan mereka tetap ceria dan bahagia," pesan Bi Ratna berikutnya.
__ADS_1
"Jangan lupa berdoa, minta petunjuk dari Allah. Ini memang sangat berat. Kakek juga membaca ada sedikit ketidak-wajaran dengan penyakit mamamu. Semoga ada jalan terbaik dari Allah dan semua bisa segera diatasi hingga mama kembali sembuh seperti sedia kala, Amin." Kakek Abdillah menambahkan, seraya memegangi kedua bahu cucu kesayangannya yang selalu menunduk.
Jovan dan Julia hanya pasrah tanpa meneteskan air mata. Si bungsu pun sepertinya sudah mulai lelah menangis. Selama mamanya di rumah sakit, mereka hanya diizinkan menjenguk ketika wanita yang paling dicintainya sedang tertidur pulas. Tidak diizinkan bersuara apalagi menangis.
Naufal menarik tangan kakaknya, meminta untuk berjongkok. "Aa, jangan ke Bandung, jangan tinggalkan Dede sama Teteh?" bisik bocah polos dengan suara terbata-bata. Air matanya kembali berlinang, namun tangisnya tanpa suara. Raut ketakutan dan kecemasan tampak jelas tergambar di wajah menggemaskannya.
"Sampai kapanpun, Aa gak akan meninggalin Dede dan Teteh." Jovan memeluk dan menciumi Julia dan Naufal. Tak sanggup lagi untuk berkata, dadanya bergemuruh dan sesak. Mana mungkin dia tega meninggalkan dua permata hati yang saat ini hanya mengandalkan dirinya.
Tak terasa. Sudah hampir sepuluh hari Bu Anita dirawat di Bandung. Setiap waktu Bi Ratna menyampaikan perkembangan kesehatan Bu Anita yang mulai membaik. Walau terkadang masih sering menangis dan histeris memanggil-manggil Jovan, Julia dan Naufal.
Selama hampir sepuluh hari pula, Jovan menjadi kakak, ayah sekaligus mama untuk kedua adiknya. Dia mencurahkan seluruh perhatian dan kasih sayangnya pada kedua insan yang masih belum sepenuhnya mengerti tentang drama kehidupan.
Jovan sangat bersyukur memiliki tetangga seperti Bapak dan ibu Surya. Mereka senantiasa menjadi ayah dan ibu untuk Julia dan Naufal. Perhatian dan kasih sayang dua malaikat tak bersayap itu laksana osase di tengah gurun pasir.
Setiap hari Jovan harus izin pada guru untuk meninggalkan pelajaran demi menjemput Naufal dari sekolah. Jovan juga mengabaikan dua kali panggilan Bunda Fahira karena waktunya bertepatan dengan waktu menjemput Julia dari sekolah. Jovan bahkan telah menarik seluruh hidupnya dari pergaulan dengan teman-teman sekolahnya.
Hampir 24 jam waktu Jovan didedikasikan untuk adiknya. Dia hanya bersantai manakala adik-adiknya sedang berada di rumah Bu Surya. Atau menghabiskan malam dengan duduk merenung di bawah pohon rambutan, setelah kedua adiknya tidur pulas di kamarnya. Seperti malam ini.
"Jo, gimana kelanjutan rencana mencari ayah lu, itu?" Aldo yang datang tiba-tiba, mengejutkan Jovan dari belakang.
"Lupakan saja, Do. Gua gak peduli ayah masih ada atau sudah tiada. Gua gak punya waktu buat ngurusinnya," balas Jovan setelah Aldo duduk di sampingnya.
"Kok jadi berubah? Terus gimana masalah uang dari Bunda Fahira? sisanya tinggal 7 juta lagi. Yang 3 juta udah gua pakai, Sob." Aldo menatap Jovan yang tak mengalihkan wajahnya. Pandangan yang kosong tetap lurus ke depan.
"Ambil dan nikmati semuanya. Semoga barokah dan berguna buat mencukupi segala kebutuhan hidup lu, Sob." Jovan membalas datar.
"Hah, kenapa lu ngomong giru, Jo?" Aldo memegang lalu menggoyangkan pundak kiri Jovan, seolah menyadarkan dari tidurnya.
Jovan tak membalas. Ekspresi wajahnya tetap tenang, pandangannya tetap kosong. Jiwanya tetap sunyi sama seperti sebelumnya Aldo datang menemaninya.
"Sejujurnya gua masih tak mengerti, mengapa lu jadi iblis buat gua. Sedangkan kedua orang tua lu, benar-benar menjadi malaikat buat keluarga gua." Jovan menolehkan wajah.
"Jadi iblis gimana maksudnya, Sob?" Aldo mencoba menguasai dirinya.
"Tanya aja sama hati lu. Gua gak tahu apa alasan lu berpihak pada si Fahira, si Lucky dan si Angel?" Jovan menatap Aldo dengan tatapan yang benci dan mengintimidasi.
__ADS_1
"Sebenarnya salah gua, hingga kalian berniat menghancurkan gua dan keluarga gua. Bahkan setelah mama gua sakit, lu masih berpura-pura jadi malaikat buat gua. Padahal gua udah tahu, apa hubungan lu sama si Lucky, si Fahira juga si Angel. Gua gak tahu apa yang sedang kalian rencanakan untuk selanjutnya." Jovan mengeluarkan hampir seluruh unek-uneknya yang dia tahan dari sejak masih di rumah sakit.
"Jo, jangan salah paham dulu!." Aldo mencoba membela diri, "boleh gua jelaskan semua?" lanjutnya seraya berdiri, untuk mengimbangi Jovan yang sudah lebih dulu berdiri.
"Gak perlu! Gua sudah tahu semua. Sebaiknya sekarang lu cari kwitansi, tuliskan berapa uang yang diberikan si Fahira sama lu. Gua akan tandatangani sebagai bukti telah menerimanya. Silakan pakai uang itu sesuka lu, lalu jangan pernah mengusik lagi keluarga gua." Jovan bersiap meninggalkan Aldo.
"Jo, dengar penjelasan gua dulu." Aldo menarik dan menahan tangan Jovan.
"Cukup! Gua bukan artis drakor. Gak perlu sok drama kayak gini, lebay! Mendingan lu kirimkan nomor Selvy ke nomor gua." Jovan menepiskan tangan Aldo.
"Selvy? Lu mau apa dengan dia?" Aldo terperanjat.
"Bukankah lu yang bawa dia dalam kehidupan gua? Apa salahnya kalau gua menjalin hubungan dengan dia? Bukankah kalian itu iblis berjubah malaikat. Siapa tahu Selvy justru Malaikat berjubah iblis." Jovan menatap tajam mata Aldo yang terbelalak.
"Jo! Please jangan sama Selvy. Dia wanita iblis yang sangat berbahaya?" Aldo kembali menarik dan menahan tangan Jovan.
"Setahu gua iblis berjubah malaikat jauh lebih berbahaya? Karena dia bisa masuk ke dalam kehiudpan mangsanya dengan berpura-pura baik." Lagi-lagi Jovan menepiskan tangan Aldo dengan kasar.
"Tapi Selvy iblis yang sebenar-benarnya, Jo!" Aldo berusaha meyakinkan.
"Dan gua sudah siap jadi iblis asal dengan Selvy, oke!" Jovan mendekatkan wajahnya ke wajah Aldo.
"Tolong kirimkan nomor Selvy ke nomor gua. Tapi, kalau lu gak mau gak masalah. Gua punya cara lain buat ketemu Selvy. Sorry gua masuk dulu. Takut ade gua bangun dan nyari-nyari gua." pungkas Jovan seraya melangkah meninggalkan Aldo yang melongo.
"Serius lu, siap jadi iblis?" teriak Aldo sesaat sebelum Jovan menutup pintu dapurnya.
"Sangat siap!" balas Jovan dari dalam dapur.
"Gua juga siap!" Aldo balik membalas.
“E.G.P” balas Jovan pelan.
Dan setelah itu mengabaikannya...
Bersambung – Jangan Basa Basi
__ADS_1