
Menjadi Budak nafsu
Sejak mobil sedan Corolla Altis silver itu bergoyang kencang di pinggir jalan perbukitan kaki gunung yang sepi dan dingin, Aldo benar-benar tak bisa melepaskan diri dari perangkap dosa. Dia sudah sangat ketagihan. Bahkan malam itu dengan segala kemampuannya dia menghabiskan waktu di kamar Bunda Fahira, hingga empat putaran.
Aldo bahkan berubah menjadi lelaki yang teramat lemah. Dia tak kuasa menahan hasrat dan godaan dari pengamalan pertamanya itu, hingga akhirnya dia rela mengikuti segala permintaan Bunda Fahira.
Termasuk melakukannya bersama-sama dengan Lucky.
Pada awalnya Aldo sedikit marah dan kecewa. Merasa dibohongi karena ternyata bukan dia satu-satunya lelaki yang menjadi suami simpanan Bunda Fahira. Dia tak lebih hanya bagian dari para brondong pemuas di atas ranjang bersama Lucky, Fadlan, Bagas bahkan mungkin brondong lain yang tidak dia ketahui.
Namun karena candu syahwat dan dosa ternikmat yang sudah menjerat, Aldo tak kuasa menolak dijadikan budak Bunda Fahira untuk segala hal. Termasuk menghancurkan kehidupan Jovan dan keluarganya.
Pada suatu hari sebelum Bu Anita didepak dengan tidak hormat dari kantin sekolah, Bunda Fahira mengajak Aldo dan Lucky ke sebuah kamar hotel bintang lima yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya.
Setelah puas mengarungi samudera dosa dalam balutan surga dunia semu, secara bersama-sama tanpa malu dan risih, Bunda Fahira berucap lirih dan manis pada Aldo yang tergeletak bugil di sisi kirinya. Sementara Lucky di sisi kanannya.
"Sayang, kamu kan paling dekat dengan si Jovan? mulai sekarang sebarkan berita tentang Bu Anita. Katakanlah rumahnya kotor dan jorok, bahkan kalau masak selalu memakai air yang kotor tidak higienis yang sangat membahayakan kesehatan siswa. Semua orang pasti percaya karena kamu tetangganya yang paling dekat. Nanti Bunda ambil tindakan jelas dan terukur berdasarkan fakta cerita dari kamu." Bunda Fahira memiringkan badan, memeluk Aldo dengan segala kehangatan dan kemesraannya.
"Siap, Sayangku," balas Aldo dengan wajah semringah dan mata berbinar.
"Khusus tugas yang ini, kamu akan dapat hadiah spesial dari bunda. Selain tubuh bunda tentu saja, hehehe." Bunda Fahira mencium wajah tirus Aldo yang masih basah dengan keringat.
"Mendapatkan tubuh Bunda aja udah sebuah anugerah, apalagi bila ditambah dengan bonus lain. Berita yang lebih sadis dari itupun siap aku sebarkan, Sayang." Aldo membalas kecupan mesra di kening istri Pak Zulfikar Qurnaefi, SE.M.M.
Gairah muda sang brondong yang baru saja selesai mendayung syahwat pada ronde pertama, seketika bangkit kembali dan menagih untuk melanjutkan perjalanannya pada putaran kedua.
Bunda Fahira yang sudah bertekad untuk menjerat para mangsanya lebih dalam lagi, dengan senang hati memberikan kembali seluruh raganya pada Aldo.
Namun hatinya tidak.
'Hmmm, para kurcaci ini, ternyata jauh lebih bodoh dari keledai sekalipun. Kalian jangan pernah bermimpi dapat segalanya dariku. Dapat tubuhku yang molek aja, kalian semestinya bersyukur. Mana ada wanita secantik aku mau ditiduri sama kalian bocah-bocah ingusan yang tak bermutu. Dasar kurcaci bodoh!' umpat Bunda Fahira dalam hati.
__ADS_1
Lucky yang sedikit kelelahan, terpaksa mundur dan turun dari arena.
Dia memilih duduk di sofa dalam keadaan telanjang bulat. Menikmati kopi dan rokok sambil menonton live show gratis yang belum tentu bisa ditontin di tempat lain.
Fantasi dan pengalaman yang tak akan pernah mereka lupakan. Walau sangat menjijikan bagi sebagian orang-orang yang masih berpikir waras.
Kurang lebih setengah jam kemudian. Aldo kembali telentang bermandikan keringat.
Napasnya turun naik, mulutnya megap-megap mengambil napas dalam dalam untuk mengisi rongga dadanya yang hampir kehabisan udara.
Bunda Fahira yang merasa makin segar bugar dengan asupan vitamin yang melimpah ruah dari Aldo, segera turun dari ranjang.
Dengan masih dalam keadaan bugil, dia pun mendatangi Lucky yang duduk di sofa dengan senyum mesum dan tatapan nanar penuh birahi.
"Lucky segera laksanakan perintah Bunda yang kemarin. Termasuk membuat cerita kalau si Jovan telah melakukan pelecehan pada Bunda." Bunda Fahira duduk manja di pangkuan Lucky seraya memeluk leher brondong berkulit legam itu.
"Dengan senang hati, Sayang. Tak ada kesulitan. Tim kita sudah solid dan besok pun berita itu akan memenuhi seluruh ruang kelas SMA Garuda, hehehe." Lucky menjawab penuh percaya diri. Kedua tangannya memeluk pinggang ramping sang wanita hyper.
"Apa lagi, Cintaku?" tanya Lucky penuh perasaan.
"Bunda ingin secepatnya bertemu dengan Pak Fuad, ayahnya si Jovan. Kalau bisa malam ini ajak ke sini, agar bunda bisa leluasa ngobrol dengannya."
"Siap cantik. Malam ini pun Pak Fuad akan ke sini. Yang penting bunda sudah siap dengan bayarannya." Lucky mencium lembut bibir sintal wanita yang tak pernah puas dengan satu batang laki-laki.
"Hmmm, kenapa mempertanyakan bayaran, Sayang? Apakah selama ini Bunda terlihat kesulitan uang?" Bunda Fahira mulai melebarkan kedua kakinya, memberikan ruang yang cukup untuk senjata andalan Lucky yang sudah berdiri tegak di bawahnya.
"Bukan begitu Sayang. Tapi, Pak Fuad meminta sedikit lebih dari bayaran biasa. Mungkin dia merasa sangat dibutuhkan." Lucky memejamkan mata, pisang ambonnya sudah mulai menelusup pada sarang hangat dan basah yang baru saja jadi tempat bersemayamnya pisang tanduk Aldo.
"Ooooh, sssst berapa dia minta bayaran, Sayaaang?" Bunda Fahira melenting seraya mendongak ke belakang hingga rambut lurusnya yang basah dengan keringat dan panjang sepunggung, tergerai indah ke belakang.
"Minta tiga kali lipat dari biasanya, Baby ooooh sssst." Lucky mulai menggerakkan tubuh bagian bawahnya, mengangkat dan menurunkan tubuh molek basah yang duduk dalam pangkuannya.
__ADS_1
Pisang ambon kebanggaannya keluar masuk dan mendarat sempurna pada sarang kesayangannya.
"Oke honey, aaaah ssst, kamu tawari aja dua kali lipat. Tapi kalau tetap tidak mau, ya sudah lupakan saja. Sombong amat jadi orang. Bukankah ayahnya si Jovan sudah miskin? Katanya dia sudah diusir dari keluarga besarnya yang kaya raya itu?" Bunda Fahira mengalungkan kedua tangannya pada leher Lucky, menyeimbangkan kedudukan tubuhnya yang turun naik di atas pangkuan Lucky, agar tidak terjatuh.
"Betul tapi dia sekarang kerja untuk seseorang yang lumayan besar pengaruhnya. Jadi kalau mau bertemu dia pun kita harus membuat janji. Dia pasti minta bayaran dimuka, sssssst aaaaaah, nikmat Sayangsss." Lucky melenguh panjang.
"Oke setelah ini, kamu bawa uang 5 juta, suruh Pak Fuad malam ini juga ke sini. Nanti kekurangannya aku bayar setelah selesai ngobrol, gimana aaaah Lucky aaaah sssttt, kamu jagoan sekali sayangku... aaah."
"Siap Bunda! Saya jamin Pak Fuad ada di kamar ini, malam ini juga." Aldo yang sejak tadi mendengarkan obrolan dua insan yang sedang memacu birahi, menjawab dengan sigap.
"Thank you honey, ooooh," ucap Bunda Fahira seraya membalas ciuman Aldo yang datang tiba tiba dari belakangnya.
'Hahaha, akhirnya. Anaknya tidak dapat aku nikmati, namun bapaknya yang sudah jadi lelaki pemuas itu tentu saja lebih mudah ditaklukan. Lihat saja Jovan, apa yang bisa aku lakukan pada ayahmu. Kamu terlalu sombong untuk seorang cowok miskin. Ayahmu juga tak kalah gantengnya. Kamu belum tahu siapa aku sebenarnya. Uang bukan masalah bagiku, you know? hahahahah.' Dalam buaian dua brondong yang sedang mabuk kepayang, Bunda Fahira tertawa jahat dalam hati.
Kini semua telah terlanjur, Aldo hanya bisa menyesalinya. Dia bahkan tak tahu lagi bagaimana nasib dirinya di tangan Lucky dan kawan-kawannya para anak jalanan yang terkenal barbar dan bengis tak punya hati nurani.
"Bro, pakai lagi pakaian lu." Suara Lucky tiba-tiba membuyarkan lamunan Aldo.
"Luck, please selamatkan gua, tolong jangan bunuh gua. Gua masih mau hidup, Luck. Gua sangat menyesal ikut ikutan begini." Aldo memelas dengan sisa harapan hidup yang mungkin masih ada. wajahnya pucat pasi dan seluruh nyalinya menciut lebih kecil dari jari kelingkingnya.
"Penyesalan memang selalu datang terlambat, Sob. Sekarang lu tinggal menikmati hasilnya atas segala pengkhianatan yang pernah lu lakukan. Tunggu aja apa yang mungkin akan lu alami selanjutnya." Lucky menyeringai jahat.
"Lucky please, gua ini teman lu, masa lu tega sama gua. Luck ingat kita sama-sama perantau dan gua sudah banyak bantu lu dalam banyak hal." Aldo mencoba meluluhkan hati Lucky yang sudah membatu.
"Aldo, pakai lagi pakaian lalu dan segera keluar dari kamar ini. Tunggu perintah gua selanjutnya atau gua berubah pikiran dan melenyapkan lu sekarang juga. Cepat!" bentak Lucky makin garang.
Tanpa menunda waktu, Aldo yang diberi kesempatan hidup untuk yang kedua kalinya, segera memakai pakaiannya lalu keluar dari kamar hotel itu dengan wajah pucat pasi dan keringat dingin membasahi tubuhnya.
Hati Aldo benar-benar terluka. Bunda Fahira yang pernah memuja-mujanya, kini mentertawakannya dengan sangat keji dan menjijikan.
Bersambung – "Ketika Pembalasan Datang"
__ADS_1