Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga

Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga
Bagian Tiga Dua


__ADS_3

Nakal Tapi Baik


Sambil menikmati mie ayam bakso dan teh botol, Jovan dan Selvy melanjutkan pembicaraan seperti yang sudah mereka bahas dalam chating. Jovan mendapatkan nomor Selvy dari Lukman yang ternyata bertetangga, walau tidak terlalu dekat.


"Sampaikan salam  gue buat ade lu yang perempuan, Jo." Selvy menyedot teh botolnya yang masih tersisa sedikit. "Gue salut sama dia, katanya baru kelas satu SMP tapi udah harus ngurus adenya, kaya mama lu."


"Udah biasa. Waktu mama belum sakit juga, dia sering nyuci sama nyetrika pakaian adenya."


"Gila ya, SMP udah harus bertanggung jawab kaya emak-emak. Gua SMA malah nakal, cari duit karena terbiasa dimanja, pas bokap bangkrut, gua kelabakan, jadilah kerja apa aja yang penting cepet dapat duit, hehehe."


"Ade gua kan gak biasa dimanja, lagian lu wajar aja nakal, soalnya cantik sih. hahaha."


"Gitu ya, kalau yang ganteng atau cantik, wajar kalau nakal. Tapi kok lu, enggak nakal, Jo?"


"Hahaha, belum aja kali, bentar lagi juga nakal. Oh iya, jadi gimana rencana sabtu besok?"


"Ya sesuai yang kita rencanakan, kemarin."


"Oke gak ada lagi kan syaratnya?" Jovan menatap Selvy.


"Hehehe, lu kan udah tahu apa yang gue mau."


"Oke deh gua siap, kalau cuma itu syaratnya."


"Jo tunggu bentar ya, gue kesebelah dulu." Selvy bangkit dari duduknya. Tanpa menunggu jawaban, dia langsung keluar melewati beberapa pengunjung yang baru beberapa menit masuk dan duduk.


Jovan kembali mengisap rokoknya seraya mengeringkan keringat dengan tisu dan kipas angin.


Selang beberapa menit, Selvy meminta Jovan untuk keluar dari kedai bakso.


"Jo, titip ini buat ade-ade lu." Selvy menyerahkan bungkusan plastik bermerk NdraMaret.


"Apaan nih?" Jovan bertanya seraya memeriksa isi bungkusan yang diterimanya.


"Biasalah makanan kecil, bukan buat lu, tapi buat ade-ade lu." Selvy menegaskan kembali.


"Ni apaan? ada amplop segala? Lu main surat-suratan sama ade gua? hehehe." Jovan mengeluarkan sebuah amplop putih besar yang terselip di antara aneka jajanan.


"Jangan diperiksa, itu buat ade lu yang cewek. Jangan bawel jadi kakak. Gak boleh gue berbuat baik pada sesama cewek?" Selvy melotot.


"Masalahnya lu bukan cewek baik-baik, kan gua jadi kaget kalau lu tiba-tiba jadi baik. Gua kan mudah jatuh cinta pada orang yang baik sama ade-ade gua, ntar gimana kalau gua jatuh cinta sama lu, hahaha." Jovan kembali memasukan amplop itu.

__ADS_1


"Dasar kurang asem. Awas, hari Sabtu kalau gak nepatin janji. Soalnya gue udah skip semua janji dengan yang lain., hanya demi lu." Selvy memasang wajah super serius penuh pengharapan.


"Santai. Jovan bukan cowok pengingkar janji. Sekarang gua kaya merpati yang gak pernah ingkar janji, hahahaha."


"Oh iya. Gua denger lu bubaran sama Elva?"


"Hahaha, I don't care. Gua gak punya waktu buat ngurusin cewek manja. Oke Sel, kalau gitu gua pulang duluan, terima kasih atas segalanya. Sampai jumpa Sabtu di Belarosa, oke."


"Jam setengah tujuh, ya."


"Siaaaap cantik!!"


Jovan memasukan belanjaannya ke bagasi motor. Lalu setelah itu kembali berpamitan, bersalaman dengan Selvy lalu pulang.


"Hmmm, Jojo kok jadi beda banget ya. Sepertinya bakalan asik deket sama dia. Udah ganteng, gedong, enjoy lagi diajak ngobrolnya. Gak kaya dulu kaku and jutek. Makin love deh aku sama kamu, Jo. Tiap hari pun gue rela ngasih jajan ade-ade lu, sumpah!" Hati Selvy terus bicara. Bibirnya tak henti-hentinya tersenyum bahagia dan tangannya melambai manja saat motor Jovan keluar dari halaman Ndramart.


Sesampinya di rumah, Jovan tertegun beberapa saat.


Wanita yang paling dia hindari dan tak ingin ditemuinya, telah duduk di kursi tamunya dengan santai dan tenang. Wajahnya semringah, seolah telah mendapatkan lotere bernilai milyaran rupiah.


'Naik apa dia kemari ? Ikut si Bagas atau si Aldo? Terus mau ngapain datang ke sini? Ah dasar emak-emak nekat. Wajahnya doang cantik tapi gak punya urat malu.’


Jovan bicara dalam hati seraya membuka tali sepatu dengan sebelah tangannya. Sementara tangan yang satu lagi, tetap kukuh memegangi plastik belanjaannya, seolah takut direbut oleh wanita yang sedang mesem-mesem merasa paling cantik sedunia.


"Waalaikum salam," balas wanita super cantik, tegas dan seksi itu seraya berdiri, laksana seorang sekretaris yang menyambut seorang direktur muda yang masuk ruangan kerjanya.


Untungnya dia tetap menjaga sikap dengan tidak mengangguk-anggukan kepalanya, selayaknya bawahan yang sedang menjilat atasan.


Dengan tetap menjinjing plastik belanjaan merek dagang paling penomenal di negara Indonesia, Jovan menyalami Bunda Fahira dengan waktu yang teramat singkat.


Dia segera menarik tangannya, seolah takut tertular virus corona yang bercokol di telapak tangan wanita yang sangat rewel dan detail menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitarnya.


"Silakan Bunda duduk lagi, tunggu sebentar, saya mau masuk dulu menemui adik-adik saya dan setelah itu melaksanakan shalat Ashar. Mumpung masih ada waktu." Jovan bicara dengan sangat kaku formil. Dia telah kehilangan rasa persahabatan dan keramahannya yang sangat hangat.


Jovan melirikan mata, menatap meja tamu yang di atasnya telah tersaji segelas air teh dan sepiring oreo. Lalu tersenyum dalam hati, mengagumi Julia yang masih memegang teguh pelajaran mamanya. Tetap menghormati, memuliakan dan memberikan pelayan terbaik pada semua tamu yang datang bersilaturahmi.


Sang tuan rumah, segera berlalu. Masuk ke ruang keluarga yang merangkap dapur. Sama sekali tak mempedulikan ekspresi wajah Bunda Fahira yang sedikit kecewa karena harus menunggunya lebih lama lagi.


Wanita yang biasanya selalu ditunggu banyak orang itu dari kalangan atas, kini harus rela menunggu seorang Jovan dari kalangan rakyat jelata yang bukan siapa-siapa.


Begitu masuk ruang keluarga, Naufal yang sudah tidak sabar menunggu kakaknya, langsung menghambur menyambut dengan wajah semringah dan tawa lebar. Jovan segera berjongkok menyambut adiknya yang setengah meloncat masuk dalam pelukannya.

__ADS_1


"Hmmm, si ganteng Aa, udah keren banget, harum lagi, mau kemana sih?" Jovan membalas pelukan Naufal setelah melepaskan plastik belanjaannya. Ciuman hangat penuh cinta, bertubi tubi mendarat di pipi, kening dan rambut Naufal.


"Tadi, dede ketemu Teh Angel," bisik Naufal dengan nada ceria dan bahagia, melebihi keceriaan mamanya saat menyebut nama Angel.


"Teh Angel?" tanya Jovan setengah tak sadar. Kedua matanya menatap heran jagoan neonnya yang tersenyum lebar sambil mengangguk.


"Dede dibeliin kaos bola Chelsea sama baju renang," lanjut Naufal masih dengan nada berbisik.


"Oh ya? Alhamdulillah," balas Jovan dengan wajah melongo. Tak percaya dengan ucapan Naufal.


Sejurus kemudian dia mendongak, menatap Julia yang berdiri di belakang Naufal. Seolah bertanya 'Teh, ini bener?'


Julia yang wajahnya semringah dan tersenyum manis tak kalah indah dan merekahnya dari Naufal, mengagguk. Membenarkan semua ucapan adiknya.


Gadis yang kecantikannya 89.44 % seperti kembar identik dengan mamanya itu, berjalan ceria mendekati kulkas. Lalu melambaikan tangan meminta Jovan untuk mendekati. Dan  dengan gerakan indah dia membuka pintu kulkas.


"Tarraaaaaa!!" Julia berseru renyah.


Jovan berjalan mendekati kulkas diikuti Naufal yang lengket bergelayut di tangan kekarnya. Sang kakak melongo memandangi kulkas yang penuh sesak. Aneka jajanan, minuman ringan, buah-buahan, sayuran, es cream, ikan segar dan ayam potong telah berbaris indah di tempatnya masing-masing.


"Teh Angel datang ke sini?" Jovan bertanya seraya menatap wajah kedua adiknya bergantian.


"Iya, bawa mobil sendiri. Dede sama Teteh juga diajak naik mobil, belanja ke Ndramart, ini belanjaanya." Julia membuka kedua tangannya menujuk isi kulkas. Persis seorang bintang iklan yang mempresentasikan produk jualannya.


"Teh Angel pakai baju apa?" tanya Jovan sedikit gak nyambung.


"Baju seragam SMA," Naufal menyambar.


"Oh..." Jovan membulatkan mulut dengan wajah mode on melongo.


Ada secangkuk bahagia dan haru yang menyeruak dalam sanubari. Feeling mamanya tidak meleset, Angel masih sekolah, tidak menikah karena hamil di luar nikah seperti yang digosipkan banyak orang.


"Eh, Aa juga beli jajanan buat Dede dan Teteh." Jovan yang sudah sedikit tersadar dari keterkesimaannya segera menyerahkan plastik belanjaan pada Julia.


"Ada uangnya dalam amplop, itu buat Teteh dan Dede, gak tahu berapa jumlahnya. Pemberian teman Aa," lanjut Jovan ketika Julia dan Naufal berebut memeriksa isi belanjaan yang dibelikan Selvy.


'Selvy memang nakal tapi baik hati, daripada cewek munafik yang duduk di ruang tamu itu?' batin Jovan


Bersambung – Tak Ada Tawar Menawar


 

__ADS_1


 


__ADS_2