Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga

Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga
Bagian Tiga Lima


__ADS_3

Hilang Akal Sehat


Bu Surya kembali menatap mata Jovan dengan sangat dalam. Tangan kanannya mengelus wajah dan paha Jovan dengan sangat lembut.


“Sekali lagi ibu harap Jojo bersabar ya.” Bu Surya memeluk kepala Jovan di dadanya.


“Iya, Bu. Apa syarat yang diajukan ayah?” balas Jovan lirih seraya memegangi tangan Bu Surya yang erat memeluknya.


"Ayah minta sertifikat rumah ini untuk digadaikan ke Bank."


"Hah!" Jovan melongo


"Iya. Ayah Jojo terlibat banyak utang. Sertifkat itu mau dijadiin agunan pinjam uang ke Bank, tapi cicilan per bulannya minta bantuan mama juga, karena ayah Jojo tidak punya pekerjaan tetap lagi."


"Masya Allah! Suami model apa begitu?" seru Jovan seraya bangkit dan berdiri, "bukannya menafkahi keluarga! Ini malah mau ngebunuh  pelan-pelan!" lanjutnya seraya meninju pohon jambu.


Bu Surya segera berdiri menjajari Jovan. Lalu memegangi kedua tangganya.


Dengan penuh kelembutan, ibunya Aldo itu menghibur dan merayu Jovan untuk tetap tenang dan mengendalikan emosi.


"Hanya itu aja, Bu?" Jovan balik bertanya setelah tenang dan amarahnya mereda.


"Ada lagi. Mungkin ini yang paling membuat mama Jojo histeris. Tapi kamu harus kuat mental dan sabar menerima kenyataan ini." Bu Surya bicara ragu-ragu.


"Iya Bu, saya sudah siap." Jovan menjawab lemah dan pasrah.


Bu Surya mengeluarkan ponsel dari kantong celana jeans ketatnya. Setelah membuka-buka beberapa saat, dia pun menyodorkan ponselnya pada Jovan.


"Coba Jojo baca dan perhatikan ini!" Suara Bu Surya sedikit bergetar. Jantungnya berdegup kencang dan dada bergemuruh. Pikiran berkecamuk dirasuki iba, pilu dan empati pada nasib Jovan dan adik-adiknya.


Jovan menerima ponsel itu, lalu memperhatikan dan membacanya dengan seksama.


"Allahu Akbar!!!!" Tiba-tiba Jovan berseru sembari mengembalikan ponsel Bu Surya dengan sedikit kasar.


"Itu bener ayah, Bu?" Jovan balik bertanya dengan suara memburu. Dadanya bergemuruh, wajahnya tegang dengan mata terbelalak dan tiba-tiba sekujur tubuhnya menggigil.


Bu Surya mengangguk dan segera dia menarik tubuh brondong setengah telanjang itu dalam pelukannya. "Sabar ya, Jo," bisiknya lirih.


Kedua tangan Bu Surya kembali mengelus pundak dan  punggung Jovan yang sangat dingin. Sedingin salju.

__ADS_1


Kakak kesayangan Naufal itu, tak bersuara. Bibir, lidah serta mulutnya kaku dan kelu. Wajah tegangnya pucat pasi. Kedua bola mata berkaca-kaca dan pandangannya berkunang-kunang. Langit terasa runtuh, bumi seakan berhenti berputar. Isi kepalanya kosong dan dunia seketika sunyi dan gelap gulita.


Untuk beberapa saat, Jovan merasa berada di dunia lain. Dunia yang belum dia kenali. Namun guncangan dan tepukan lembut Bu Surya pada punggungnya telah menyadarkannya dari terkesima.


"Aduh Maaf, Bu!" Jovan segera melepaskan pelukannya dengan sedikit memundurkan badan.


"Gak papa, Jo. Semua juga akan terkesima kalau melihat seperti itu. Jojo yang sabar, ya, Sayang." Bu Surya mengelus lembut pipi kanan Jovan.


"I.ii.. iya Bu. Tapi ma..maaf, dari mana ibu dapat foto-foto itu?" selidik Jovan dengan sedikit mengernyitkan dahi.


"Kan mama Jojo yang ngasih ke ibu. Waktu curhat, beberapa menit sebelum mama histeris dan dibawa ke rumah sakit itu."


"Oh iya. Tapi bu, saya mohon dengan hormat., tolong jangan disebarkan atau diperlihatkan foto itu pada siapapun. Segera hapus semuanya." Jovan memelas.


"Pasti ibu hapus Jo. Ini masih ibu simpan, tujuannya untuk diperlihatkan dulu sama Jojo. Biar tahu dan percaya. Ibu yakin, mama Jojo gak mungkin berani memperlihatkannya sama Jojo." Bu Surya bicara dengan sangat lembut. Kedua tangannya kembali memegangi pipi kiri dan kanan Jovan, untuk lebih meyakinkannya.


Setelah itu, Bu Surya kembali membuka ponselnya, dan dengan disaksikan Jovan, dia menghapus 4 buah foto yang tadi diperlihatkannya. Walau sesungguhnya foto-foto itu sangat tidak layak diperlihatkan kepada Jovan dengan alasan apapun.


"Terima kasih, Bu." Jovan spontan memeluk bahu belakang dan mencium kening Bu Surya. Seperti yang biasa dia lakukan pada mamanya saat mengucapkan terima kasih atau meminta maaf.


"Iya sama-sama, Jo. Pokoknya mulai sekarang, Jojo jangan ragu-ragu atau malu-malu sama Ibu. Sekecil apapun masalah dan kebutuhan Jojo, segeralah bicara sama ibu." Bu Surya melingkarkan tangan kanannya pada pinggang belakang Jovan. Dia bahkan tak peduli dengan bau keringat sang brondong arab itu.


"Ibu sangat senang dan bahagia, kalau Dede dan Teteh nginep di rumah. Jojo tahu sendiri, Pak Surya jarang ada di rumah. Selalu lembur atau dinas luar. Dia sih lebih mementingkan karier daripada istrinya. Sekalinya pulang kadang tengah malam. Hanya weekend ada di rumah." Tangan Bu Surya makin erat memeluk pinggang Jovan yang kekar.


"Iya, Bu. Atas nama keluarga, saya kembali memohon maaf, selama ini Dede dan Teteh selalu ngerepotin ibu sekeluarga."


"Duh, Jo, gak usah ngomong gitu. Jangankan hanya Dede dan Teteh, kalau Jojo mau ikut nginep juga gak masalah. Si Aldo mana pernah tidur di rumah. Dia lebih betah tinggal di rumahnya Bagas. Padahal ibu juga kurang apa? Walau anak tiri, tapi ibu tetap memperlakukan dia seperti anak sendiri."


"Iya, saya percaya, Bu. Jangankan sama Aldo, sama Dede, Teteh dan saya aja, kasih sayang ibu sudah melebihi ibu kandung. Sekali lagi makasih atas segala kebaikan ibu pada kami sekeluarga." Jovan kembali mencium kening Bu Surya dan dia pun memberikan bonus berupa cium pipi kiri dan kanannya.


"Oh iya, Jojo mau ngejemput si Dede, gak? ini udah hampir jam sebelas, sebentar lagi sekolahnya bubar?" Bu Surya mengingatkan Jovan dan mengalihkan pembicaraan seraya menyembunyikan pipinya yang merona.


"Oh iya!" Jovan sedikit tersentak, "maaf Bu, saya berbenah dulu, terus mandi dan langsung ngejemput Dede," lanjut Jovan kemudian.


"Hari ini, Jojo gak usah masak. Nanti ibu bawain buat makan siang dan makan malam kalian bertiga." Bu Surya kembali memegangi dua pipi Jovan dengan penuh kasih sayang.


"Aduh, gak usah repot-repot, Bu. Tenang aja di kulkas masih banyak persediaan bahan makanan, kan Teteh emang seneng masak, hehehe." Jovan sedikit terbelalak. Kebaikan dan perhatian Bu Surya memang tiada duanya.


Tak pernah dia memiliki tetangga sebaik dan seperhatian Bu Surya. Padahal mereka baru 4 tahun bertetangga.

__ADS_1


"Gak papa Jo, kebetulan ibu udah dari pasar. Belanja cukup banyak."


"Ibu memang the best. Beruntung Aldo punya ibu seperti ini. Udah cantik, baik hati lagi."


"Hmmm, lebay ah. Ya udah sekarang ibu mau masak dulu ya, nanti kita makan di sini aja rame-rame. Kan enak tempatnya udah rapi dan bersih."


"Siaaaaap, Ibuku, hehehe." Jovan kembali mencium pipi Bu Surya untuk yang kesekian kalinya. Merasa mamanya ada kembali.


"Ibu sayang sama kalian bertiga, lebih dari apapun. Terutama sama si ganteng, Naufal. Uuuh sehari gak ketemu dia, rasanya gimana gitu. Menggemaskan banget sih anaknya." Bu Surya balas mencium pipi Jovan dengan sangat lembut.


'Kakaknya Naufal jauh lebih ganteng, berbulu, jantan dan perkasa. Bau keringatnya aja udah bikin seger dan bergairah,' batin Bu Surya seraya menyesap pipi Jovan.


Jovan tersenyum seraya mengangguk. Tak mungkin dia menolak keinginan wanita yang sudah menjadi malaikat tak bersayap untuk keluarganya.


Setelah merapikan semua perlengkapan bekas kerjanya, Jovan segera membersihkan badannya di kamar mandi dengan sedikit tergesa-gesa. Khawatir Naufal terlalu lama menunggunya di Kantor Guru.


Guyuran demi guyuran air dari gayung yang membasahi dan menyegarkan tubuhnya, sama sekali tak mampu menghilangkan bayangan foto-foto ayahnya yang sangat menjijikan.


Akal sehatnya bahkan masih belum menerima dan belum percaya dengan apa yang dilihatnya.


Pantas saja jika mamanya sampai demikian.


Setan apa yang merasuki ayah, hingga berani berbuat demikian?


Sudah hilang kah akal sehat dan keimanannya?


Bagaimana kalau Julia dan Naufal melihatnya?


Siapa dua wanita yang sedang melakukan adegan gila itu?


Siapa yang memotretnya?


Dimana dilakukannya?


Dan siapa yang mengirimnya ke nomor mama?


Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggelayut di benak Jovan. Bahkan ketika dia sudah sampai di sekolah. Untung saja, senyuman dan gelayut manja Naufal yang selalu ceria, bisa membuang segala bayangan foto ayahnya, walau hanya untuk sementara.


 

__ADS_1


Bersambung - Like Father Like Son


__ADS_2