Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga

Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga
Bagian Lima Puluh


__ADS_3

Tak disangka tak diduga. Perubahan alur hidup kembali terjadi pada diri Jovan.


Rencana Bu Surya yang akan menjadikan dia sebagai mainan barunya. Gagal total gara-gara Pak Fuad datang mendadak mengacaukan segalanya..


Jovan sangat terkejut sekaligus gembira. Orang yang akan dicarinya, datang dengan sendirinya. Walau banyak keanehan dan kejanggalan dari sikap ayahnya.


Pak Fuad datang dengan aksi tutup mulutnya. Tak banyak bicara bahkan meminta agar Jovan merahasiakan keberadaanya yang mengurung diri di kamar.


Bu Surya yang terlanjur mengetahui kedatangan Pak Fuad pun diminta untuk tutup mulut.


Jovan menduga ayahnya sedang dikejar-kejar pihak berwajib atau seseorang yang mengancam nyawanya. Berbagai praduga buruk menghantui pikiran Jovan. Dia nyaris tidak tidur. Berjaga-jaga takut terjadi hal buruk yang menimpa ayah dan dirinya.


Keterkejutan Jovan ternyata tidak berakhir sampai di situ.


Pagi-pagi, di saat ayahnya masih tertidur dan mengurung diri di kamar. Jovan dikejutkan dengan kedatangan beberapa teman sekolahnya yang memaksa dia untuk masuk sekolah.


Jovan menolak keras. Selain sudah tidak memiliki kepentingan dengan pihak sekolah, dia juga tidak berani meninggalkan rumah. Takut ayahnya kabur atau ada pihak lain yang menyerang dan membawanya.


Namun Bagas memberikan keyakinan jika semua akan baik-baik saja. Dia bahkan menyuruh Akmal dan Lukman untuk bergantian menunggui rumah Jovan.


Sesampainya di sekolah Jovan mendapat kejutan yang luar biasa.


Kepala sekolah, semua guru, staf tata usaha dan siswa sedang melakukan aksi damai. Seluruh kegiatan belajar mengajar pun diliburkan. Para demonstran damai itu menuntut adanya perbaikan sistem manajemen yayasan yang selama ini dinilai sangat merugikan banyak pihak yang berkepentingan.


Lebih jauh, semua elemen praktisi pendidikan SMA Garuda, menuntut agar dilakukan penggantian pengurus yayasan. Jika Bunda Fahira masih bercokol dalam kepengurusan, maka mereka pun mengancam akan mengundurkan diri dari SMA Garuda.


Dalam kesempatan itu, pihak yayasan diwakili Pak Zulfikar selaku owner serta Pak Mubarak, ayahnya Bagas, yang mendadak menjadi juru bicara sekaligus kuasa hukum Yayasan Garuda.


Pihak yayasan dan praktisi pendidikan termasuk pengurus OSIS, mengadakan rapat dengar pendapat secara tertutup. Sementara siswa diminta untuk beristirahat sambil menunggu keputusan rapat.


Ternyata aksi damai itu atas inisiasi Kepala Sekolah, Pak Yudha, Pengurus OSIS dan Bagas selaku penyandang dana.


"Karena gua masih cinta sama SMA Garuda, titik." Bagas menjawab simple saat beberapa orang bertanya mengapa dia rela mengeluarkan dana besar untuk aksi tersebut.


"Gas, lu lihat Bunda Fahira gak?" Jovan bertanya seraya menyandarkan punggungnya pada kursi panjang warung kopi langganan Jovan and geng yang berlokasi di belakang sekolah.


"Kenapa nanyain si Fahira? kangen lu sama dia?" Bagas balik bertanya.


"Otak mesum lu gak sembuh-sembuh, Bro! Najis amat gua mesti ngangenin barang bekas bancakan lu semua, hahahaha." Jovan membalas dengan kalimat menohok.


"Gua kan gak gak sengaja dan terpaksa, Masbro." Bagas mengelak.


"Terpaksa karena doyan kan?" Jovan mencibir.


"Gak juga. Gua cuma penasaran aja. Anak-anak sering ngomong, permainan ranjang si Fahira itu super ajib. Tapi, emang lumayan sih, hehehe." Bagas membelalakkan mata menatap Jovan yang masih mencibir.


"Setelah nyoba dua kali, gua jadi jijik. Ternyata itu lobang milik rame-rame. Gak tahu udah berapa puluhan batang yang bersemayam di sana. Kata si Lucky sih, teman-teman dia yang anak jalanan pun ada yang sudah dipakai cewek mesum itu. Kan jadinya gua ngeri-ngeri gimana gitu. Takut kena penyakit kelamin." Bagas bicara serius.


"Iya terserah lu aja. Kembali ke pertanyaan gua, Bunda Fahira kemana? Kok disaat genting begini dia malah gak ada?" Jovan mengembalikan obrolan pada hal yang dia pertanyakan.


"Sepertinya lagi pingsan atau minimal sedang nangis di rumahnya. Boomerang yang pernah dilemparkan ke segala arah sesuka hatinya, sekarang sedang balik arah menghantam dirinya." Bagas bermajas


"Oh gitu, emang kapan ketahuannya? bukannya baru hari ini suaminya datang?"

__ADS_1


"Sejak lu ngajuin surat pengunduran diri. Kepsek langung mengirim surat ke Pak Zulfikar. Sudah tiga hari dia melakukan pemantauan dari Puncak. Lucky dan Aldo juga ternyata terlibat di dalamnya."


"Terlibat gimana?"


"Gua belum jelas. Kata bokap sih, semua info tentang si Fahira didapat dari si Lucky dan si Aldo. Mereka dibayar sama suaminya si Fahira. Pokonya mulai tadi malam si Fahira sudah dipecat jadi pengurus yayasan, dipecat jadi orang kaya plus dipecat jadi istrinya Pak Zulfikar." Aldo menyemburkan asap rokok ke wajah Jovan.


"Hah,serius lu?" Jovan ternganga.


"Semalam si Fahira keciduk sedang sama laki-laki di hotel. Sayangnya lelakinya itu keburu kabur. Gak tahu nasib mereka selanjutnya, kita tunggu aja. Kalau pun gak diproses secara hukum, ya minimal si Fahira jadi gembel." Bagas menyeringai puas, tampaknya dia sangat menikmati kejatuhan Bunda Fahira.


Jovan tak mampu lagi mengeluarkan kata-kata. Hatinya mulai curiga dengan ayahnya yang semalam datang dengan segala keganjilannya.


"Oh iya gimana besok jadi gak renang." Tanya Bagas.


"Gak tahu." Jovan bingung.


"Hahahaha, lu mulai gak pede ya sama Angel. Sepertinya lu mulai jatuh cinta sama dia. Sudah kuduga, endingnya bakal begitu, preet!" Bagas kembali mencibir.


"Bukan jatuh cinta, tapi gak enak aja. Masa gua berenang sama Elva terus ada Angel juga di sana." Jovan menyangkal gelagapan. Malu, isi hatinya terbaca Bagas.


"Urusannya apa? si Angel juga mau bawa cowoknya. Ngapain gak enak? Angel kan bukan siapa-siapa lu. kenapa lu yang jadi minder?"


"Iya sih, hubungan gua sama Elva juga gak jelas, hehehe." Jovan menjawab gak nyambung.


"Kalau lu gak mau renang bareng Elva gimana? Terus besok lu jadi obat nyamuk? Ngeliatin si Angel berenang sama pacarnya ditemani ade-ade lu?"


"Sepertinya gua gak ikut aja, Sob." Jovan nyengir kuda. Hatinya belum siap jika harus bertemu dengan pacarnya Angel.


"Nah, ketahuan kan! Sekarang lu yang gak punya nyali. Ternyata lu gak ada apa-apa dibanding Angel."


"Yang ngomongin harta siapa? yang kita bahas masalah hati. Disaat Angel udah melupakan elu, sekarang lu yang mulai memikirkan dia. Terlambat Masbro! Angel sudah lama jadian sama si Aldo." Bagas makin mencibir.


"Hah! Si Aldo mana?"


"Cuma ada satu Aldo yang playboy cap kupu-kupu. Terbukti sekarang lu kalah bersaing sama Aldo? Hahahaha." Bagas tertawa puas sementara Jovan hanya melongo.


"Sebenarnya gak terlalu kalah sih, Bro. Soalnya, lu bisa dapetin Bu Surya, ibunya si Aldo. Kalau gitu besok lu bawa Bu Surya aja. Dia pasti seneng banget diajak berenang sama brondongnya, hehehe."


"Brondongnya? Maksud lu apa, Gas?"


"Jo, gua gak tahu. Lu sebenarnya manusia munafik apa gimana. Si Fahira ditolak mentah-mentah, gua kira karena perbedaan usia. Tapi anehnya lu malah menjalin hubungan dengan Bu Surya yang jauh lebih tua dari Bunda Fahira. Yang muda juga lu tolak. Ternyata selera lu hanya sekelas nyokap tirinya si Aldo."


"Hubungan apa maksud lu? Gua udah nganggap Bu Surya itu ibu sendiri."


"Oh pantesan semalam lu berpelukan dan berciuman sama Bu Surya, ternyata itu cara menunjukan kasih sayang anak dan ibu, ya?"


Bagas menyeringai. Sukses membuat mulut Jovan terkunci dengan mata terbelalak.


"Jo, semalam gua, si Akmal sama si Lukman, nyari lu ke rumah. Tapi gak ada. Gua lihat motor lu ada di depan rumah si Aldo. Iseng-iseng si Akmal ngintip ke dalam. Maka apa yang lu lakukan di salam dengan Bu Surya, terlihat jelas oleh kami bertiga, hehehehe."


"Oh my God. Lu salah lihat, Gas!"


"Terserah lu aja, Sob. Yang jelas kami bertiga ngeliat lu lagi pelukan and kiss dengan Busur dekat meja makan. Kan keliatan dari jendela samping dekat pintu kamarnya si Aldo."

__ADS_1


"Gua sih gak kaget. Bu Surya emang penggemar brondong. Gak jauh beda sama si Fahira. Bisa jadi mereka satu geng arisan yang suka nyediain brondong hadiahnya."


Mulut Jovan makin terkunci rapat, wajahnya panas seperti terbakar dan dadanya berdebar tak karuan.


"Kenapa lu diam? Bener kan semalam lu pelukan dan ciuman sama Bu Surya? Tadinya mau gua grebeg sekalian. Tapi gak enak. Kasihan, soalnya kalau Pak Surya sampai tahu, gua yakin lu bakal punya kasus besar. Bisa-bisa diarak sama warga terus dipaksa nikah sama Bu Surya. Wow! apa kata dunia?" Bagas melebarkan kedua tangannya dan sekujur tubuh Jovan seketika bergidik.


"Gak usah dipikirin, Sob. Semua orang udah tahu hubungan kalian, Aldo dan Angel juga udah curiga, kok. Mereka ngedukung hubungan kalian, kok." Lanjut Bagas makin membuat Jovan ingin menangis dan berteriak lantang memaki Bagas. Tapi tak dia lakukan karena malu pada mangkok, gelas, sendok dan poci yang tersenyum mengejeknya.


"Besok buktikan di kolam renang. Siapa yang akan lu bawa, Elva atau Bu Surya. Atau mungkin punya tante-tante yang lain? Kalau saran gua sih, biar lu gak kalah di mata Angel mendingan bawa Bu Surya. Angel berenang sama Aldo, lu berenang mesra sama ibunya Aldo. Kalau perlu pelukan sama ciuman kaya semalam depan mereka, hehehe." Bagas makin menjatuhkan mental Jovan tanpa perasaan.


Tak ada lagi yang bisa Jovan lakukan selain mengutuk dirinya sendiri yang sangat gegabah dan tak menyadari kelainan Bu Surya.


Dunia ini terasa sangat sempit sekali. Kedekatannya dengan Bu Surya bahkan telah banyak yang mengetahuinya dan celakanya, semua salah pengertian.


"Yang jelas, kata ibu-ibu kompleks, Bu Surya sering ngomongin lu. Dia begitu bangga, kagum dan sayang sama lu. Selamat ya, Jo. Lu udah resmi jadi simpanannya Bu Surya. Ayah mudanya Aldo, hehehe."


"Gua ingetin ya. Jangan pernah ngimpi bisa hubungan apalagi sampai merit sama Angel. Kan sesuai dengan janji lu, cerita itu akan berkahir beda. Bakaln seru banget, apalagi kalau endingnya, lu merit sama Bu Surya, hahahaha."


Bagas menutup ejekannya seraya beranjak dan pergi meninggalkan Jovan yang duduk termenung. Sesaat setelah Bagas pergi, Jovan dipanggil Kepala Sekolah yang memintanya untuk kembali masuk sekolah.


Pak Yusuf Efendi, mewakili pihak yayasan dan sekolah, mengucapkan terima kasih karena tindakan Jovan yang mogok sekolah ternyata berdampak sangat baik. memicu keberanian semua pihak untuk melawan segala kearoganan Bunda Fahira. Hingga wanita super sombong itu kini harus menerima kenyataan hidupnya yang berbalik 180 derajat.


Selama menerima wejangan dan ucapan selamat dari pihak yayasan dan sekolah, pikiran Jovan justru sedang kalang kabut. Selesai satu masalah namun masalah lain sudah siap menunggunya.


Sebelum pulang, Jovan merenung beberapa saat di atas motor maticnya seraya berdoa dalam hati.


"Ya, Allah ujian apalagi yang kini harus hamba hadapi. Mengapa Engaku biarkan Angel hubungan dengan si Aldo? Bukankah hamba lebih ganteng dari si Aldo? Masa hamba harus mengalah sama Aldo? Gak asik banget, ya Allah!"


"Ya Allah, mengapa hamba dicurigai ada hubungan dengan Bu Surya, bukankah dia sangat tulus menyayangi dan mencintai hamba serta adik-adik hamba?"


"Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi dengan ayah? Mengapa dia pulang ke rumah seperti orang yang sedang dalam pelarian?"


"Ya Allah mengapa penyakit mama semakin parah dan mengkhawatirkan?"


"Ya Robby, berilah hambaMu petunjuk jalan yang lurus dan benar. Berilah ketabahan dan keikhlasan dalam melanjutkan perjuangan ini sampai tuntas*."


Jovan menarik gas motornya, dan tak lama dia pun melaju di jalan raya, meninggalkan sekolahnya yang sudah sepi.


"Episode selanjutnya gua harus berubah. Menjadi diri sendiri yang gak mudah dilecehkan oleh siapa pun. Gua ini laki-laki. Harus tegas, berani dan terukur. Masa gua kalah sama si Aldo sialan itu? No way!"


Kita buktikan siapa yang lebih baik dan lebih oke untuk jadi cowoknya Angel. Gua, si Saldo brengsek atau cowok lain?"


NB :


Pemirsa, Jangan menyerah. Ikuti terus kisahnya karena ini baru awal kisah yang sesungguhnya.


Masih banyak peristiwa mencengangkan yang akan terjadi dalam kisah ini. Scandal Para Pendosa, baru satu membuka dan menyelesaikan kausu. Masih banyak kasus penuh misteri yang akan timbul berikutnya.


Benarkan Jovan bisa berubah dan berbeda?


Siapa yang yang jadi kekasih sekaligus istri Jovan?


Benarkan ending ceritanya sangat tidak terduga dan di jauh dari tebakan kita semua?

__ADS_1


Mari kita buktikan bersama sampai cerita Tamat pada episode 160. 


__ADS_2