
"Ketika Pembalasan Datang"
Lucky segera berpakaian rapi, setelah Aldo keluar dari kamar hotel dan sepertinya benar-benar menghilang dari lingkungan sekitar hotel.
"Sayang, tugasku sudah selesai, sekarang silakan lunasi seluruh kewajibanmu." Lucky duduk di sofa setelah memakai kembali seluruh pakaiannya dengan rapi.
"Boleh, tapi malam ini kamu harus menemani dulu salah seorang rekan bisnis Bunda." Bunda Fahira yang juga sudah berpakaian lengkap dan rapi, duduk di sofa seraya mengisap rokok putihnya.
"Berapa dia mau bayar?" Lucky menatap wajah wanita yang tak pernah kehabisan akal menjerat dan mengisap sari daun-daun muda yang bertebaran dan tipis iman.
"Lucky, ini bisnis. Dia hanya ingin test drive dulu. Kalau puas, untuk selanjutnya dia akan sering pakai jasa kamu." Bunda Fahira menyemburkan kembali asap dari mulutnya. Wajahnya cerah, arogan dan sangat berkuasa.
"Hahaha, aku sudah tidak minat dengan test drive. Aku gak mau tahu, sekarang juga, Bunda harus mentransfer kekurangan uangnya 20 juta. Kalau mau ditambah bonus, silakan jadi 25 juta." Lucky berdiri.
"Maksud kamu apa?" Bunda Fahira pun ikut berdiri.
"Jangan pura-pura bodoh! Teman-teman arisan Bunda, setor lebih dari itu per orangnya. Selama sebulan ini, aku melayani 10 orang temanmu. Jadi segera lunasi 25 juta, bukan 10 juta." Lucky sedikit menaikan nada suaranya.
"Hah! Kamu gak ngaca? Sadar diri dong, Lucky! Tampang kampungan dan service mengecewakan minta bayaran selangit? Masih ada yang mau bayar aja, semestinya kamu bersyukur, hahahaha." Bunda Fahira mulai menunjukan taringnya.
"Oh gitu? Benar kata si Jovan, Bunda ternyata manusia paling brengsek dan paling bejat otaknya. Terlalu sombong untuk ukuran seorang manusia." Lucky sedikit menggeram.
"Alah, gak usah banyak cingcong kamu. Kalau tampang kamu kaya si Jovan, boleh pasang tarif selangit. kamu pikir aku orang bodoh, apa? kamu sama si Aldo aja jauh kemana-mana. Si Aldo cukup dibayar dua ratus ribu sekali kencan!" Bunda Fahira makin arogan.
Deg! Jantung Lucky berhenti berdetak. Tak terima dengan penghinaan yang sangat merendahkannya harga dirinya sebagai laki-laki.
Namun dia berusaha sedikit mengalah demi mendapatkan sesuatu yang lebih besar.
Beberapa saat Lucky terdiam. Menenangkan jantungnya yg berdegup kencang serta mendinginkan kepalanya yang panas. Sementara Bunda Fahira tersenyum sinis penuh percaya diri seraya mengepul ngepulkan asap rokok ke wajah Lucky.
__ADS_1
"Jadi gimana kelanjutannya, Bun?" Lucky bertanya setelah jantung dan emosinya stabil.
"Ya udah! Kalau kamu gak mau kasih bonus test drive malam ini. Artinya uang yang kamu terima cukup lima juta saja yang sudah Bunda transfer sepuluh hari yang lalu." Bunda Fahira di atas angin. Dia bahkan ikut berdiri berkacak pinggang dengan sangat congkak.
Lucky menatap tajam wajah sombong Bunda Fahira. Bibirnya tersungging sinis. "Kalau begitu, saya akan menemui Pak Zulfikar Qurnaefi, SE,M.M di gedung dewan yang terhormat." Lucky bicara dengan bibir yang masih tetap mencibir.
Seketika Bunda Fahira tersentak. "Heh siapa? sejak kapan kamu kenal suamiku? Hahaha kamu pikir dirimu siapa Lucky? Gak mungkin juga suamiku mau menerima orang sepertimu, Dasar gak punya otak. Mikir!" Bunda Fahira sedikit menurunkan nada suaranya walaupun kandungan ucapannya tetap merendahkan martabat orang lain.
"Dunia ini sangat sempit Bun! Gak perlu tahu kapan dan bagaimana aku bisa kenal dengan Pak Zulfikar, suamimu itu. Silakan buka WA dariku, Bun." Lucky bicara santai seraya tersenyum lebar penuh ejekan dan gurat kebencian.
Bunda Fahira menatap Lucky beberapa saat, lalu membuka hapenya dengan perasaan yang sedikit tak menentu dan jantung dag-dig-dug tak karuan.
Wajah Bunda Fahira tiba-tiba pucat pasi. Di layar hapenya jelas tertera foto Lucky sedang berdiri dengan seseorang di salah satu ruangan yang sangat terhormat.
"Bunda kenal kan orang yang berdiri dengan aku? Benar kan dia suamimu?" Mata Lucky sedikit menyipit.
"Ya! Maksud lu apa dengan dengan berfoto begini di kantor suamiku?" Bunda Fahira tiba-tiba nyolot.
"Heh Lucky!! Maksudnya lu mau apa? mau mengusik kehidupan keluarga gue, gitu maksud lu?" bentak Bunda Fahira tak kalah galaknya.
Lucky tersenyum. "Kalau iya, kenapa?" tantangnya.
"Artinya lu cari mati!" Bunda Fahira berkacak pinggang lebih tinggi. "Lu pikir gua takut dengan gertakan kampungan model itu lu. Hahaha." Bunda fahira tertawa keras namun terdengar hambar dan sumbang.
Lucky berdiri santai seraya melipat kedua tangannya di dada. Kepalanya sedikit miring, menatap kearoganan dan kesombongan Bunda Fahira yang tertawa lebar menyembunyikan perasaanya yang mulai tak menentu.
"Lucky, Lucky! Ternyata lu belum kenal gue seutuhnya. Asal lu tahu, gue bisa memerintah orang kapan pun gue mau, untuk membungkam atau kalau perlu melenyapkan siapa pun yang coba-coba cari masalah dengan gue. Bahkan dalam hitungan detik, PAHAM!" Bunda Fahira balik menyerang. .
"Jadi, Bunda tetap tidak mau transfer yang 20 juta lagi?" Lucky kembali mengingatkan. Tangan kanannya memainkan dagu dan bagian tubuh depannya bergantian.
__ADS_1
"NO!" bentak Bunda Fahira kasar.
"Lu pikir, diri lu siapa? hahahaha." Bunda Fahira kembali tertawa garing. "Sekarang juga gue bisa telpon orang kepercayaan gue. Dan hidup lu kelar! Gua bisa jeblosin lu ke penjara, atas kasus pemerasan dan penghinaan." Bunda Fahira masih arogan dengan ancamannya.
"Hahaha, ternyata lu benar-benar sombong dan arogan, Fahira. Silakan buka lagi WA-nya." Lucky kembali tersenyum sinis, sambil mengetikan sesuatu di ponselnya.
Bunda Fahira kembali membuka ponselnya yang baru saja menerima notif.
"Heh Lucky maksudnya apa ini?" Bunda Fahira terbelalak. Suara sedikit tercekat dan menghilang. Sekujur tubuhnya bergetar sedangkan matanya tetap fokus pada video yang baru dikirimkan Lucky.
"Hehehe, itu video adegan mesum lu dengan ayahnya si Jovan. Lu pasti tidak menduga, anak kampungan model gua bisa membuat video mesum sebersih itu, hahahaha. Lu juga bakal terkejut. Karena koleksi gua masih banyak. Video mesum lu dengan banyak brondong pun ada dalam ponsel gua. lu gak sadar kalau gua telah memasang CCTV di kamar lu, hahahaha." Lucky menahan ucapannya. Matanya tajam menatap wajah Bunda Fahira yang seketika pucat pasi.
"Sekarang lu udah tahu kan siapa si Lucky sebenarnya?" Lucky bicara tenang seraya melingkarkan kembali kedua tangan di dadanya.
"Lucky mak...mak.... maksud kamu a.. a..apa?" Suara Bunda Fahira melemah dan bergetar.
"Maksudnya gua sekedar mengingatkan sama lu. Jadi orang jangan terlalu sombong. Jangan mengaggap diri lu paling hebat dari siapapun. Di atas langit masih ada langit. Semua teman-teman rekan bisnis dan arisan lu, sudah muak dan benci dengan sikap lu. Dan semua guru-guru pun sudah sangat jijik degan kearoganan lu. Cerita lu yang suka melahap brondong bahkan menjualnya, sudah mereka ketahui. Bukan rahasia lagi, hahahaha." Ucapan Lucky makin menohok. Mantap, tegas dan berbobot penuh percaya diri namun sangat tajam menusuk jantung hati lawan bicaranya.
"Oke oke, sekarang Lucky maunya apa?" Bunda Fahira seketika melunak.
"Hahaha, gampang saja. Sekarang juga transfer uang dua puluh juta." Suara Lucky bergetar menahan emosi yang hampir meledak dan sudah dia tahan-tahan sejak Bunda Fahira mulai mengulur ulur waktu tidak mau memberikan hak-haknya. Dia juga sudah teramat muak dengan segala kesombongan dan kearoganan Bunda Fahira yang selama ini dipertontonkannya.
"Oke oke, saya transfer sekarang juga. Tapi saya minta, kamu pergi dari kehidupan saya dan semua video itu segera kamu serahkan sama saya dan buang!" Bunda Fahira membuka kembali hapenya dan mengetikan sesuatu.
Suasana hening beberapa saat. Lucky menyulut sebatang rokok yang terselip di bibinya.
"Saya akan pergi dari kehidupan Bunda, kalau sudah dapat izin dari Bunda," Lucky kembali bicara kalem. "video itu harus saya kirim ke Pak Zulfikar atau ke youtube?" lanjutnya tenang berwibawa setelah melihat notif transfer masuk ke rekeningnya.
"Maksud kamu apa lagi, Lucky? kamu mau ngebunuh saya?" Bunda Fahira berseru lantang. Suaranya parau di antara tangis dan emosi yang mendesak.
__ADS_1
Bersambung "Siapa Ayah Biologisnya?"