Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga

Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga
Bagian Empat Puluh


__ADS_3

Angel Yang Angel


Jika tersisih dan kecewa bentuknya seperti jerawat, niscaya  seluruh wajah Jovan saat ini telah kehilangan tempat aman.


Rasa tersisih dan kecewa benar-benar sedang melanda jiwanya.


Naufal yang biasanya tak pernah mau jauh darinya ketika makan, bahkan terkadang minta disuapi atau setidaknya minta diambilkan air minum. Kini sama sekali tak menggubrisnya.


86.14 % Naufal dan Julia telah menganggap Jovan tak ada.


Sangat menyesakkan dada. Sementara suara gelak tawa, canda riang dan keceriaan dari dapur makin menghirup kupingnya. dan Jovanpun senewen dan bimbang.  Apa sebenarnya yang ada dalam hatinya.


Di sini lain dia teramat bahagia mendengar dan merasakan kebahagiaan dua adiknya. Namun di lain sisi ada sedikit perasaan tak rela mereka bahagianya dengan Angel. Karena dirinya tidak bisa ikut dalam keceriaan itu.


"Gabung dengan mereka? Oh No! si Keong Racun pasti makin besar kepala. Segala pasti dia keluarkan buat ngalah-ngalahin gua di depan ade-ade gua." Jovan melayangkan tendangan kosong ke udara, frustasi.


Dia bahkan tak berani masuk ke dapur hanya sekedar untuk menyimpan piring dan gelas kotor bekasnya. 


"Aa makannya udah beres belum?" Tiba-tiba Naufal berteriak dari depan pintu dapur.


"Udah, Sayang," balas Jovan seraya memandangi si bungsu yang berjalan ke arahnya.


Senyum lebar mengembang di bibir Naufal dan rona wajahnya secerah purnama.


Tangis yang tadi dikumandangkannya  dan membuat matanya sembap, sama sekali sudah tidak ada bekasnya.


"Piring sama gelasnya mau dicuci dulu sama Teh Angel," ujar Naufal seraya mengambil piring kotor dan gelas kosong yang tergeletak di bawah pohon Jambu.


'Angel nyuci piring? gak salah denger? Sejak kapan dia jadi cewek? Setahu gua ngambil minum aja kalau di kantin, harus dilayani kacung-kacungnya." Jovan bertanya dalam hati.


Wajah Jovan tetap dalam mode melongo, dia bahkan tak sempat bertanya pada adiknya yang sudah keburu balik badan membawa piring dan gelas kotor masuk kembali ke dapurnya.


"Oh my God!" Jovan kembali berseru dalam hati.


Sekujur tubuhnya berdiri kaku di daun pintu. Matanya sedikit membesar.  Tak percaya dengan panglihatannya sendiri.


Tepat di depan matanya, Angel sedang  berdiri membelakanginya, menghadap wastafel. Kedua tangannya  ringan  dan luwes mencuci perabotan kotor dan dia pun telah berganti pakaian dengan seragam olah raga sekolahnya, tanpa kerudung.


Sementara di sofa depan tv, Julia dan Naufal tampak sangat asik bermain game pada ponselnya Angel.


Lagi-lagi kedua adiknya itu, sama sekali tak mempedulikan kehadirannya.


'Ternyata si Angel cewek beneran. Siapa yang sudah tega menjadikan dia asisten rumah tangga gua? berapa  mesti gua gaji? Aaagh, kalau gini, modus lu bakal menguras kantong gua, Gel!' batin Jovan sambil membalikan badannya. Lantas kembali ke singgasananya di bawah pohon Jambu air.

__ADS_1


'Ternyata Julia pun sudah menguasai ilmu hipnotis. Seorang Angel bahkan bisa dia suruh-suruh jadi kacungnya. Luar biasa emang ade gua yang satu ini. Pantes aja dia lengket sama Angel, ya asistennya! pantesan." Jovan garuk garuk kepala yang kali ini benar-benar gatal.


Sejumlah semut hitam dari pohon Jambu, nekat berwisata di kepalanya.


"Kalau mama tahu, bakalan makin runyam urusannya. Pasti tiap detik tiap menit tiap saat memuji muji si Keong Racun. Untungnya mama lagi gak ada. Bahaya kalau main lagi ke rumah, pas mama ngeliat dia cuci piring gitu. Gua wajib segera menghentikan semuanya, sebelum makin kacau!" umpat Jovan sambil menggaruk punggung dan pahanya. Sepertinya semut-semut di kepalanya mulai berani menjalar kesana kemari.


Entah berapa lama, Jovan terombang-ambing dalam galaunya.


Sementara canda tawa dari rumahnya, seolah tak ada habisnya.


Naufal sepertinya sedang mandi. Tak pernah Jovan mendengar tawa riang kedua adiknya, selepas dan  semeriah saat ini.


Beberapa menit kemudian, Jovan dihadapan pada situasi yang sangat  dilematis.


Julia dan Naufal berdandan rapi dan cakep. mereka kompak menggendong tas sekolahnya masing-masing. Dan dengan sangat tiba-tiba meminta izin dan berpamitan hendak menginap di rumah Angel.


"Kenapa? takut ade-ade lo diculik sama gue? Gak usah lebay juga kali. Mereka aman 100%. Lagian kalau gue mau nyulik atau berniat jahat sama mereka, ngapain juga datang kemari, samperin aja ke sekolahnya, udah tahu ini."


Jawaban Angel  cukup logis dan sukses membungkam segala kecurigaan dan tuduhan Jovan.


Pilihan yang sangat berat. Antara kedua adiknya ngambek sehari semalam dan kompak mogok makan, atau merelakannya ikut jalan-jalan ke mall dan menginap di rumah Angel.


Akhirnya walau dengan sangat kesal, Jovan harus rela kalah telak 20-0. Dengan wajah ditekuk, dia pun terpaksa membalas lambaikan tangan Julia dan Naufal dari dalam mobil yang dikendarai Angel.


"Terus kenapa gua gak diajak, coba? Jelas kan, kalau si Keong Racun itu bener-bener udah sukses ngeracunin ade-ade gua!" gumam Jovan setalah mobil Angel benar-benar menghilang dari hadapannya.


Perasaan Jovan yang galau, serta hati Bu Surya yang sedang geram dan marah, menyatu dalam perasaan Aldo yang terkena caci maki Bunda Fahira.


Di sebuah kamar hotel. Remaja berpostur tubuh tinggi langsing dan berkulut hitam manis dan hanya memakai celana dalam itu, duduk tertunduk di pinggir tempat tidur yang lumayan besar dan mewah.


BRAK!


Bunda Fahira memukul meja rias yang terbuat dari jati. Meja berbentuk setengah lingkaran yang menempel pada dinding pastel itu bergetar kuat, hingga hampir menjatuhkan seluruh benda di atasnya.


"Kamu tahu kan artinya apa kalau sampai si Jovan keluar dari Garuda?" teriakan Bunda Fahira sedikit ditahan. Walau kamarnya kedap suara, namun dia tetap mengontrol agar tidak ada yang mencurigakan.


Aldo makin dalam menunduk. Sementara Lucky yang sekujur tubuhnya tidak terhalangi selembar benang pun, duduk santai selonjoran di atas kasur. Wajahnya teduh, bibir tebal nan hitamnya, tersungging.


"Si Jovan itu juara umum, mantan Ketua OSIS dan belum pernah melakukan pelanggaran disiplin sekolah. Bahkan belum pernah, tidak masuk sekolah tanpa alasan. Sekarang tiba-tiba berhenti. Itu akan menimbulkan pertanyaan dari banyak orang?" Bunda Fahira yang hanya membungkus tubuhnya dengan bra mini dan g-string, mengangkat wajah tirus Aldo yang pucat.


"Bagaimana kalau ada yang memviralkan? Terus pihak Departemen Pendidikan turun tangan, memanggil pihak yayasan dan si Jovan? Kacau semua. Bisa-bisa yayasan ditutup oleh pihak berwajib!" Bunda Fahira melotot seperti ingin menerkam dan menelan bulat-bulat tubuh Aldo.


"Saya juga sudah berusaha merayu dia, Bun. Tapi tetep aja dia mau berhenti." Aldo membela diri, suaranya bergetar.

__ADS_1


Hatinya mulai sakit, kepalanya panas membara dan darahnya mendidih. Tak terima dengan penistaan yang dilakukan Bunda Fahira.


Setelah diajak berselancar di lautan kenikmatan fantasi bercinta tiga dimensi bersama Lucky, kini didamprat tanpa ampun.


"Terus si Bagas, kerjanya apa aja?" Bunda Fahira makin garang.


"Bagas malah balik badan, dia sekarang berpihak ke si Jovan." Aldo kembali menatap nanar tubuh yang sangat langsung dan super seksi itu. Walau usia Bunda Fahira sudah kepala tiga, namun tak kalah indah dengan postur gadis remaja.


"Hah! emangnya dia udah siap kalau dikeluarkan dari sekolah?" Bunda Fahira berkacak pinggang.


Gunung kembar dan belahan pangkal pahanya menyembul sempurna.


"Dia udah siap, Bun. Bahkan hari ini mau ke SMA Ibnu Akbari, besok mau pindah kesana, katanya." Aldo meringis.


"No! No! No!" Bunda Fahira sedikit histeris. "Ini tidak boleh terjadi.!" lengkingnya.


"Lucky!!" Bunda Fahira mengalihkan pandangannya pada cowok Ambon yang berkulit legam namun super seksi dan jantan.


"Segera susul si Bagas! Jangan sampai dia keluar dari Garuda!" Dada Bunda Fahira turun naik tak beraturan, wajahnya tegang, kedua tangannya mengepal dan bergetar.


"Memang kenapa, Bun? kan masih banyak brondong lain. Masa kehilangan si Bagas aja sampai kalut begitu?" Lucky menjawab santai seraya melebarkan kedua kakinya, mempertontonkan belalai besar dan panjang yang mulai sedikit berdiri.


"Heh! kamu tahu kan, siapa ayahnya Bagas?" Bunda Fahira menatap Lucky dengan sinar kemarahan.


"Ya, kenapa emang?" Lucky melebarkan kedua tangannya.


"Oh my God! Ayahnya si Bagas itu satu partai dengan suamiku. Walau dia bukan anggota legislatif, tapi pejabat teras di Dewan Pimpinan Pusat. Ayahnya si Bagas sangat dekat dan akrab dengan suamiku." Bunda Fahira mulai frustasi dan kalut. Ia lalu naik ke ranjang. Merangkak mendekati Lucky yang masih tenang dan slow.


"Kalau sampai Bagas keluar dan pindah dari Garuda? Sudah pasti ayahnya dan suamiku akan turun tangan. Kamu tahu artinya apa? Yayasan Garuda bisa diambil alih oleh suamiku!" Bunda Fahira bicara mendesah, dalam jarak yang sangat dekat dengan Lucky.


"Terus apa yang harus aku lakukan, Sayang. Siapa yang lebih dulu harus dilenyapkan. Aldo, Bagas atau Jovan?" Lucky memegangi dagu Bunda Fahira dengan penuh nafsu. Sengaja suaranya dikeraskan agar Aldo mendengarnya dengan jelas.


"Segera lenyapkan semuanya! Lakukan dengan hati-hati, gak pake lama dan jangan meninggalkan jejak!"


Deg!


Jantung Aldo seketika berhenti berdetak dan terasa copot.


Sekujur tubuhnya kaku tegang tak sanggup digerakkan.


Seketika itu pula, Aldo merasa mati gaya, mati kutu dan mati rasa. Bahkan mungkin sebentar lagi akan mati segalanya, mati yang sebenar-benarnya wafat.


Bersambung – "Terperangkap Dalam Dosa"

__ADS_1


__ADS_2