Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga

Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga
Bagian Empat Sembilan


__ADS_3

Jovan membuntuti Bu Surya menuju dapur. Melewati ruang tamu dan ruang tengah yang cukup luas. Rumah Bu Surya termasuk yang paling bagus dan besar di komplek sekitar. Baru beberapa bulan yang lalu direnovasi dan diperluas.


Furniture dan perlengkapan rumahnya cukup mewah. Mereka termasuk keluarga yang sangat sejahtera.


Selain Pak Surya memiliki penghasilan tetap sebagai pegawai salah satu perusahaan, Bu Surya pun cukup aktif dan berhasil menjalankan usaha kredit furniture dan alat-alat rumah tangga. Sangat wajar jika dia sering gonta-ganti furniture.


Teeeer.. tiba-tiba Jovan merasakan ada sebuah perasaan aneh saat membuntuti Bu Surya. Matanya tak lepas dari memandangi tubuh belakangnya. Jantung Jovan seketika berdebar menatap bokong Bu Surya yang bergoyang indah saat berjalan.


Aroma parfum yang memenuhi ruangan pun memberikan sensasi yang menggairahkan. Mata Jovan kian fokus memandangi punggung dan tubuh bagian belakang Bu Surya yang meliuk-liuk indah dalam balutan busana yang sangat ketat.


Dengan lancangnya isi kepala Jovan membandingkan kemolekan tubuh Bu Surya dengan Bunda Fahira. Ada perasaan sedikit de javu pada peristiwa beberapa bulan yang lalu saat dirinya hampir terjebak dalam permainan wanita cantik yang kini teramat dibencinya.


Namun anehnya imajinasi Jovan kini mulai sedikit liar. Dia bahkan membayangkan sesuatu yang lebih dibanding yang pernah dia alami dengan Bunda Fahira.


Debaran jantung Jovan kian kencang dan meronta. Langkahnya sedikit gontai karena sekujur tubuhnya menghangat. Darah di sekujur tubuhnya pun berdesir aneh. Dan sang junior di balik celana longgarnya ikut beraksi. Perlahan-lahan tanpa dikomando, benda sakti itu menggeliat dan berdiri.


"Aduh! Maaf Bu, eh ah Bunda, eh Bu!" seru Jovan terkejut.


Wajahnya seketika memucat seraya mundur dua langkah menjauhkan dirinya yang menubruk punggung Bu Surya. Saking fokusnya Jovan bahkan tidak menyadari jika mereka sudah sampai di dapur dekat meja makan.


"Kenapa Jo?" Bu Surya bertanya sambil membalikan badan, menatap Jovan dengan senyuman manis dan menggoda.


"Maaf saya gak sengaja, Bu." Jovan menjawab gelagapan. Tangannya refleks menyilang di bagian tubuhnya yang menonjol. Menghalangi pandangan Bu Surya yang tertuju pada area tersebut.


'Akhirnya dirimu tertarik juga dengan tubuhku yang seksi ini, Jo. Sepertinya tak lama lagi kamu bakal jatuh dalam pelukanku, Sayang.' Bu Surya tersenyum kembali sambil bicara dalam hati.


Kedua mata Bu Surya terus tertuju pada bagian tubuh Jovan yang terhalangi dua tangannya yang menyilang.


Seketika Jovan salah tingkah tak karuna, malu dan takut Bu Surya bisa melihat perubahan pada bagian celananya.


Bu Surya memegangi tangan Jovan yang menyilang. "Jo, ibu boleh meluk Jojo lagi, gak?" tanyanya lirih seraya memandangi wajah Jovan yang tegang dan merah padam.


"Ibu kenapa nangis?" Jovan balik bertanya saat melihat dua bola mata Bu Surya berkaca-kaca.


"Gak tahu Jo. Tiba-tiba aja ibu sedih dan terharu. Ibu sangat bangga dengan Jojo yang sangat baik dan santun memperlakukan ibu, tak ubahnya seperti ibu sendiri. Jojo bahkan mau dan ikhlas memuji-muji ibu." Bu Surya bicara semakin lirih.


"Maksudnya gimana, Bu?" Jovan masih belum mengerti.

__ADS_1


"Jo, sudah hampir lima belas tahun ibu menjadi istrinya Pak Surya dan ibunya Aldo. Tapi mereka sama sekali tidak pernah menghargai ibu. Beda sekali dengan kamu. Sampai hari ini pun, ibu selalu salah di mata mereka. Padahal..." Bu Surya menunduk.


"Padahal apa, Bu?" Jovan bertanya seraya memegangi kedua bahu Bu Surya. Hati Jovan sedikit bergetar tak tega melihat wanita yang selama ini dianggap ibunya sendiri, bersedih hati.


"Padahal ibu sudah berusaha semaksimal mungkin. Segala usaha jalani supaya kehidupan keluarga lebih sejahtera. Ibu pun sudah melayani mereka sebagaimana mestinya." Bu Surya memeluk Jovan dan menyandarkan kepalanya di dada bidang remaja yang masih sedikit melongo.


"Jojo bisa lihat sendiri. Kasih sayang ibu pada Aldo sama sekali tidak pernah berubah. Aldo sudah ibu anggap anak sendiri, tapi dia selalu menganggap ibu ini musuhnya.


"Yang sabar ya, Bu." Jojo bicara lembut seraya memeluk dan mengelus kepala Bu Surya yang terbungkus kerudung.


"Terkadang Aldo berani membentak ibu. Terutama kalau tidak ada bapaknya. Ibu terkadang hanya bisa menangis sendiri. Tak ada tempat mengadu, karena Pak Surya juga lebih memihak anaknya." Bu Surya makin lancar mengarang cerita.


"Sabar, Ibu gak usah bersedih. Kan masih ada Jojo, dede dan teteh yang akan selalu setia menemani ibu. Jojo anak ibu juga. Nanti kalau Aldo nyakitin ibu lagi, ngomong aja sama Jojo. Mudah-mudahan aja dia menyadari kalau kasih sayang ibu melebihi siapapun." Jovan makin hangat memeluk Bu Surya sesekali dia pun menciumi kening ibu tirinya Aldo.


Air mata terus membasahi pipi Bu Surya. Namun sesungguhnya hari wanita yang pandai bersandiwara itu sedang sangat bahagia ditaburi aneka bunga setaman.


Bu Surya memejamkan mata, bibirnya sedikit tersenyum. Gunung kembar di dadanya makin kuat ditekankan pada dada Jovan. sementara jantungnya sendiri sedang meronta-ronta merasakan sensasi nikmat yang tiada tara.


Benda keras dan panas di balik celana Jovan menekan sempurna pada perutnya yang terhalang baju gamis ketat.


'Semalaman pun aku rela berada dalam pelukanmu yang hangat ini, Jo. Aroma tubuh jantanmu sungguh sangat memabukkan. Aku ingin memilikimu dan tak ingin berpisah jauh darimu, Sayang.' Bu Surya kembali bermonolog dalam hati.


"Ya, Bu." Balas Jovan seraya mengusap sudut mata Bu Surya yang berair.


"Terkadang ibu suka ngiri kalau melihat Jojo begitu baik dan sayang pada mama. Ibu juga ingin Aldo berbuat seperti Jojo. Tapi Aldo sama sekali tak peduli."


"Nanti mudah-mudahan Aldo berubah, Bu."


"Ibu sudah capek Jo. Sekarang gak peduli lagi dia maunya apa. Ibu sudah cukup bahagia bisa memiliki Dede, Teteh dan Jojo yang sangat menyayangi Ibu. Kerinduan ibu akan hangatnya pelukan seorang anak, sudah ibu dapatkan dari kalian bertiga."


"Iya Bu. Kami juga merasakan kasih sayang ibu yang tak terhingga. Jojo malah gak bisa membayangkan, dalam keadaan begini, bagaimana kalau tidak ada Ibu." Jovan kembali menciumi pipi Bu Surya dengan penuh kasih sayang.


"Ibu sekarang benar-benar merasa menjadi ibu yang sempurna. Walau ibu tidak bisa merasakan bagaimana melahirkan, tapi kini bisa merasakan nikmatnya menjadi ibu yang  seutuhnya bersama kalian.  Karenamu hidup ibu terasa lebih berarti." Bu Surya sedikit mendongak. Kedua tangannya memegangi kedua sisi wajah Jovan.


"Terima kasih atas segala kasih sayangnya, Bu. Jojo akan mengorbankan apapun untuk orang yang menyayangi Teteh dan Dede." Jovan mencium kening Bu Surya.


"Ibu akan sangat bersyukur dan ikhlas kalau Dede dan Teteh mau tinggal dengan ibu di sini. Ibu menyayangi kalian, lebih dari  apapun." Bu Surya berucap lirih seraya mendaratkan sebuah kecupan mesra di bibir Jovan.

__ADS_1


"Terima kasih, Bu," balas Jovan dengan suara yang sedikit bergetar.


"Di dunia ini jarang sekali, seorang anak yang begitu menyayangi mama dan adik-adiknya seperti Jojo. Sungguh beruntung Bu Anita, Teteh dan Dede memiliki Jojo." Bu Surya kembali mendaratkan ciuman mesra di bibir, hidung, kening dan pipi Jovan.


"Kini ibu juga bisa merasakan bagaimana bahagianya Bu Anita, memiliki kalian bertiga. Ibu juga ingin merasakan memiliki kalian  seutuhnya." Bu Surya bukan hanya bicara namun tangannya mulai sedikit nakal.


Deg! Jantung Jovan seketika berhenti berdetak. Matanya seketika terbelalak dan tak percaya dengan yang baru saja dirasakannya.


Sebuah sentuhan lembut mendarat pada benda pusakanya.


Benarkah Bu Surya sengaja memegang junior Jovan yang masih berdiri tegang.


"Maaf Bu, kita ngopi dulu," ucap Jovan seraya melepaskan pelukannya dan dengan sangat lembut dia pun melepaskan sentuhan nakal Bu Surya pada senjata ajaibnya yang masih berdiri tegak.


"Oh iya ibu hampir lupa." Bu Surya menjawab malu-malu.


Jojo segera duduk di kursi makan, seraya merapikan juniornya yang sedikit menyilang. Sementara Bu Surya berdiri di depan dispenser hendak membuat dua cangkir kopi.


"Jojo udah ngerokok ya?" tanya Bu Surya seraya menyodorkan secangkir kopi ke hadapan Jovan.


"Hehehe, masih coba-coba," balas Jovan seraya mengalihkan pandangan menghindari tatapan Bu Surya yang terasa aneh.


"Kebetulan ibu juga suka merokok. Makanya tadi beli rokok. Kalau gak salah sama loh rokok kita, hehehe. Ibu ambil dulu ya." Bu Surya langsung masuk ke kamarnya tanpa menunggu balasan dari Jovan.


Tok tok tok


'Asalamualaikum'


Tiba-tiba suara ketukan pintu dan ucapan salam dari luar mengejutkan Jovan yang duduk depan meja makan.


Tok tok tok


"Asalamualaikum, Bu Surya."


Suara ketukan dan ucapan salam dari luar kembali terdengar lebih nyaring.


"Waalaikumsalam," balas Jovan dengan suara yang sedikit keras seraya beranjak dari kursi makan. Lalu berjalan mendatangi pintu utama.

__ADS_1


'brengsek! Ada-ada aja pengganggu! Siapa sih yang malam-malam bertamu. Dasar manusia sialan. Gak punya etika!"


Bu Surya yang baru keluar dari kamar,  memaki dalam hatinya seraya berjalan membuntuti Jovan.  


__ADS_2