
Mulai Bisa Dikalahkan
"Teteh udah pulang?" Jovan bertanya pada adiknya yang meraih dan mencium tangannya. Namun matanya tetap memandangi Angel yang sedang menciumi Naufal sambil ngobrol kecil.
"Setengah hari. Kan guru-gurunya mau rapat UN," jawab Julia sambil menarik tangan Jovan, memintanya turun dari motor dan menemui Angel.
Dengan sedikit ragu, Jovan berjalan menemui Angel yang masih asik berpelukan, ngobrol kecil dan sesekali saling berciuman manja dengan Naufal.
"Gel, makasih udah ngejemput, ade gua, si Teteh." Jovan bicara ragu.
"Sama-sama, Jo," balas Angel seraya berdiri. Menggendong dan memeluk Naufal. Tampaknya si bungsu benar-bener tak mau lepas dari kakak angkat kesayangannya.
"Dede, turun dong, kasihan tetehnya, kan dedenya berat!" Jovan basa-basi sambil menggelitik pinggang Naufal.
"Gak mau!!!!" Naufal membalas dengan teriakan keras sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Oh iya, Jo. Gimana kabarnya mama?" tanya Angel.
Jovan masih melongo memandangi Angel yang persis seperti seorang ibu muda, berseragam SMA lengkap dengan kerudung sedang menggendong anaknya yang super manja dan kolokkan.
"Alhamdulillah baik. Angel dan keluarga gimana kabarnya?" balas Jovan seraya mengelus kepala Julia yang masih berkerudung dan berseragam SMP.
"Alhmadulillah baik juga. Oh iya, gue ke sini, cuma mau mastiin, bener gak Teteh sama Dede diizinin buat ikut jalan ke Jungle, nanti hari Sabtu?" Angel melepaskan pelukan dan gendongannya. Naufal turun namun si manja tak mau jauh, tetap menempel dan memeluk Angel sambil berdiri.
"Oh eh iya. Sorry Gel, kayaknya gua gak bisa ngizinin." Jovan menatap Julia dan Naufal bergantian.
"Kenapa?" Julia dan Naufal bertanya hampir berbarengan. Lalu menatap Jovan dan Angel bergantian.
"Eh.. ah.. Kita jalan-jalannya ke tempat lain aja. Kita aja bertiga, Teteh, Dede sama Aa, oke?" Jovan memeluk bahu Julia dan mengacak acak rambut Naufal.
"Hah! Gak mau..!" tolak Julia tiba-tiba seraya menepiskan tangan Jovan dengan kasar.
"Iya kita renang juga, Sayang, tapi gak usah ke Jungle. Ke Ndra Swimming Pool aja, gimana?" Jovan mencoba menenangkan dan menghibur kedua adiknya.
"Gak mauuuuuu airnya juga butek!!!" Julia berteriak seraya berlari menghambur masuk ke rumah. Sedetik kemudian Naufal pun menyusul mengikuti Julia berlari masuk seraya berteriak dan menangis kencang.
Jovan melongo. Ini pertanda buruk. Julia dan Naufal ngambek, sama artinya dengan seharian atau bahkan semalaman dia akan kerepotan merayu habis-habisan kedua adiknya.
Itu kalau berhasil. Kalau gagal, maka Julia dan Naufal akan mengurung diri di kamar sampai besok pagi. Ini bahaya, karena itu artinya juga mereka mogok makan!
Angel tak kalah melongonya. Dia pun tak menduga Julia dan Naufal akan bersikap sereaktif itu.
__ADS_1
"Dasar penyakit, lu!" Jovan memegangi tangan Angel dengan kuat. Lalu menyeretnya dengan kasar menuju halaman belakang.
"Eh, Jovan! Lo mau merkosa gue, bukan?" Angel yang masih bingung mencoba menahan tubuhnya.
"Merkosa, pala lu pecah!" Jovan yang tenaganya lebih kuat, terus menarik Angel hingga sampai di bawah pohon Jambu Air. Dan dengan sangat kasar dia mendudukkan Angel pada bale-bale bambu.
"Oke Angel," Jovan bicara dengan napas yang memburu. Kedua matanya menyala, menatap Angel yang duduk pasrah, "sekarang gua menyerah. Anggap saja gua kalah!" lanjut Jovan dengan dada yang makin kencang turun naik menahan napasnya yang bergejolak.
"Hah! bertarung aja belom. Kok lo udah ngaku kalah sih? hahahaha." Angel mencoba menetralisir dan menguasai keadaan. Walau jantungnya terasa hampir copot. Kaget dengan semua yang terjadi. Serba mendadak, serba cepat dan serba kasar.
"Ya! mulai hari ini, gua terima cinta lu! Kita resmi pacaran. Tapi dengan syarat kita ketemu seminggu sekali, setiap hari jumat. Dan lu gak usah lagi ngedatangin rumah gua atau nemui ade-ade gua, kapan dan dimana pun, paham!" Jovan bicara sesaat setelah duduk di samping Angel.
"Wow! keren banget!" Angel menatap Jovan dengan mata membulat. "Gue salut dengan aturan lo. Tapi, gue mau nanya. Emang lo siapanya gue? Kok bisa-bisanya ngatur hidup gue seenak jidat lo?" lanjut Angel seraya bangkit dari duduknya. Lalu mundur beberapa langkah, kemudian berdiri berkacak pinggang.
"Gua gak ngatur hidup lu, tapi ngelindungi ade-ade gua!" Nada bicara Jovan mulai sedikit naik. Walau posisinya tetap duduk.
"Good! Itu emang udah kewajiban seorang kakak. Tapi, ngelindungi dari apa?" Angel kembali menatap Jovan dengan sinar mata yang mulai ****** dan bengis.
"Ngelindungi dari gangguan Angel Cheria Vasty!" tukas Jovan.
"What?" Angel mencondongkan wajah, meminta Jovan untuk mengulangi kembali pernyataannya.
"Ya, gangguan lu! Cewek aneh dan super nekat!" ketus Jovan.
"I..iya.. iya gak pernah ngadu sih." Jovan gelagapan.
"Terus, kenapa lo bisa menyimpulkan gue ngeganggu hidup ade-ade lo? Sedangkan mereka gak pernah merasa terganggu dengan gue? Dan asal lo tahu. Gua datang kesini karena Julia memaksa. Dia minta gue ngomong langsung sama lo. Kalau lo gak ngizinin, ya udah. Terus salah gue dimana? Ngeganggu gue apa?" Angel melebarkan kedua tangannya, setelah menyibakkan ujung kerudungnya.
"Oh my God! Gua pusing and bingung ngomongnya, Angel!" bentak Jovan frustasi. Sorot matanya penuh kekesalan dan kedua tangannya mengacak acak rambutnya yang sedikit gondrong.
"Hah! ngomong aja bingung. Pantesan hubungan lo sama si Elva, putus nyambung mulu kaya layangan!" Angel mencibir
"Hai! Ngapain lu bawa-bawa Elva. Jangan sok tahu jadi orang!" Jovan berdiri. Sekujur tubuhnya sedikit menggigil menahan amarah.
"Dengar Angel. Maksud gua, semua orang juga tahu. Lu, ngedeketin ade-ade gua, karena lu mau ngerebut hati gua kan? Karena lu tahu, gua pasti jatuh cinta sama siapapun yang sangat baik dan sayang sama ade-ade gua." Jovan menjelaskan panjang lebar.
"Oh ya? Jadi sekarang lo lagi pacaran sama ibunya si Aldo?" Angel membelalakkan mata, bibirnya bergerak-gerak menahan tawa yang hampir meledak.
"Maksud lu?" Jovan kebingungan.
"Lu pasti jatuh cinta sama orang yang baik dan sayang sama ade-ade lo kan?" tanya Angel.
__ADS_1
"Ya! bisa dibilang begitu!" sergah Jovan.
"Gue tadi lihat ibunya si Aldo, sangat sayang banget sama ade lo, Julia. Dia bahkan nyiapin makan dan sebagainya buat kalian bertiga. Lo liat aja di meja makan, udah penuh satu meja dengan menu istimewa! Jadi lo pacaran sama dia? Kan dia sayang banget sama ade-ade lo!" Angel mulai sedikit memenangkan perdebatan.
"Ya gak gitu juga Cheria Vasty! Bu Surya itu udah gua anggap ibu kandung sendiri, bukan pacar. Dasar gak mikir lu!" Jovan nyaris berteriak saking kesalnya.
"Hahaha, atau jangan-jangan dia emang naksir berat sama lo. Gue denger ibunya si Aldo emang penikmat brondong." Angel kembali mencibir, suaranya sedikit diturunkan.
"Woi! Jangan sembarang lu ngomong! Dasar biang gosip ratu fitnah lu!" Jovan menunjuk wajah Angel dengan sorot mata yang makin menyala.
"Hahaha. Gua tahu semua itu dari Bu Anita. Berarti mama lo biang gosip dan ratu fitnah dong!" Angel mengcounter ucapan Jovan.
Jovan menelan ludahnya sendiri. Pahit. Dia sangat menyesali ucapannya yang ternyata jadi bumerang yang sangat menohok jantungnya.
"Oke, lupakan biang gosip dan ratu fitnah. Kasian, beliau sedang sakit di Bandung!" ucap Angel.
Dan seketika wajah Jovan merah padam, menahan malu semalu malunya.
"Makanya, kalau ngomong itu pake dengkul, jangan pake otak, Jovan. Hahaha!" Angel bersatir ria.
Jovan hanya bisa melongo, mati gaya, tak mampu menjawab apapun.
"Sekarang gua mau tanya. Gimana hubungan ade-ade lo sama Elva? Gua perhatikan mereka cuek-cuek aja. Bahkan menurut Julia, dia belum pernah sekalipun ngobrol sama Elva. Tapi kenapa lo bisa hubungan sama dia, padahal dia cuek sama ade-ade lo?" Angel kembali bertanya dan sontak membuat Jovan gelagapan.
"Itu beda Angel! Kan gua yang duluan mencintai Elva." Jovan menjawab ragu. Kali ini dia harus lebih berhati-hati dalam bicara. Jangan sampai terkena KO atau kalah telak 7-0.
"Nah, akhirnya lo jawab sendiri kan? Jadi, gak usah mengada-ada dengan ngejadiin ade-ade lo sebagai alasan. Kalau suka atau cinta sama seseorang, bukan karena dia sayang atau baik sama ade lo, tapi emang lo cinta aja sama orang itu, simpel kan? Jadi mulai sekarang, otak lo segera beresin. Jangan curigaan terus sama orang. Gue ngedeketin ade-ade lo belum tentu pengen jadi pacar lo." Angel semakin memenangkan segalanya.
"Tapi kalau lu emang gitu kan? Lu pura-pura ngedeketin keluarga gua, karena pengen ngedapetin cinta gua. Makanya sekarang gua terima cinta lu, biar lu gak penasaran!" Jovan bela diri.
"Salah besar anak muda, hihihihi." Angel tiba-tiba menjadi Nenek Lampir
"Hiiih, dasar Nenek Lampir lu!" ketus Jovan.
"Gue ngedeketin Julia and Naufal, karena terlanjur sayang sama mereka. Dan gue terlanjur kagum sama Bu Anita. Gue gak peduli mereka adiknya siapa. Mau adiknya elo kek? Adiknya si Bagas kek? Adiknya Hulk kek? Adiknya Superboy kek? Adiknya Rhoma Irama Kek, E.G.P.! You know, EGP?" Angel kembali bicara lantang.
Posisi Jovan kalah telaj 5-0
Bersambung – Tetangga Lebih Menggairahkan
__ADS_1