Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga

Misteri Cinta Jovan - Sebuah Akhir Yang Tak Terduga
Bagian Empat Delapan


__ADS_3

Malam Penuh Kejutan


Secara kasat mata, disadari atau tidak. saat ini Jovan sedang diperebutkan oleh empat orang perempuan dari dua generasi yang berbeda.


Dari generasi kekinian ada Angel dan Elva. Keduanya memiliki cara dan gayanya masing-masing dalam menunjukan rasa cintanya. Bisa jadi persaingan ke depannya makin sengit.


Kedua gadis itu sudah sangat memberikan kesan mendalam di hati sang jejaka.


Namun sampai saat ini, Jovan masih diliputi kebimbangan, untuk menentukan satu yang terbaik di antara keduanya.


Jovan tak mungkin menerima kedua-duanya. Dia bukanlah lelaki yang terbiasa membagi cinta.


Di lingkup generasi kedua, ada Bunda Fahira dan Bu Surya. Keduanya memiliki tujuan yang sama.


Bisa bercinta dan merasakan nikmatnya tidur dengan sanga remaja tampan dengan senjata laras panjangnya.


Kedua wanita dewasa itu memiliki keunikan dan cara yang berbeda untuk mencapai tujuannya.


Ada yang dengan cara yang cukup kasar. Sementara yang satunya memakai jalan yang lebih halus dan berhati-hati.


Kedua wanita dewasa tak tahu diri itu memiliki nilai dan tempat tersendiri di hati Jovan. Namun dalam dimensi yang berbeda.


Yang pasti, Jovan bukan lah remaja penikmat wanita setengah baya yang layak jadi ibunya.


"Gua, gak habis pikir sama si Aldo. Punya nyokap tiri segitu baik and cantiknya, masih aja gak betah di rumah. Malah sering nuduh nyokapnya kasar, pelit dan omongannya nyakitin. Lebih gak habis pikir lagi sekarang malah mau-maunya jadi kacungnya si Fahira."


Jovan bermonolog, saat mengganti celana pendeknya dengan celana panjang berbahan katun.


Perjalanan yang akan ditempuhnya memakan waktu cukup lama.


Agar bisa nyaman harus memakai celana yang longgar.


"Tapi, wajar sih, kalau gak akur sama ibu tirinya. Si Aldo sama gua aja tega berkhianat, padahal udah gua anggap saudara sendiri. Bisa jadi tuh anak sering ganggu atau ngelecehin Bu Surya. Soalnya dia kan brondong penggila emak-emak, hihihi." Jovan terkekeh seraya mengencangkan ikat pinggangnya.


Setelah semua cukup baik dan penampilannya terlihat meyakinkan, Jovan kembali berdiri di depan kaca sambil bermonolog.


Kali ini dia tidak memakai masker dan topinya.


"Tak selamanya air yang mengalir bisa menemukan jalannya dengan lancar. Tanpa ada modifikasi, manuver dan tindakan nyata. Walau gua gak terlalu percaya pada hal mistik, tapi demi kesembuhan mama, apapun akan gua lakuin," lanjutnya sambil mengepalkan kedua tangannya menyemangati diri sendiri.


Ada dua hal yang seketika membuat Jovan tersadar. Pertama lagu Harta Berharga atau yang lebih populer dengan Keluarga Cemara.


Lagu yang sederhana dan sangat melegenda karya emas nan cerdas duo Maestro Indonesia Arswendo Atmowiloto dan Hary Tjahyono.


Harta yang paling berharga adalah Mama.


Istana yang paling indah adalah Teteh.


Puisi yang paling bermakna adalah Dede.


Mutiara tiada tara adalah keluarga.


Selamat malam mama, selamat malam teteh, selamat mama dede. Mentari hari esok akan berseri indah untuk kita bersama.

__ADS_1


Terima kasih mama, telah menjadi wanita perkasa bagi kami putra-putri yang siap berbakti.


Jovan bersenandung lagu yang mampu membuatnya melupakan dunianya sendiri dan fokus untuk menjaga, merawat dan memelihara sekaligus mempertahankan hartanya yang paling berharga, Mama, Julia dan Naufal.


'Ayah? Oh no! Gua belum mau berterima kasih sama ayah! Kecuali udah minta maaf sama mama dan membahagiakannya.'


Sementara di rumah sebelah.


Bu Surya sedang sibuk berdandan, mencari pakaian paling bagus sekaligus paling seksi untuk dikenakannya.


"Aduh, gimana ya alasannya sama Jojo. Mana dia udah mau lagi jalan sama aku. Padahal malam Jum'at, si Mbah gak nerima tamu." Bu Surya kembali mematung di depan kaca cermin setelah berganti baju dengan gamis brukat merah menyala yang agak longgar.


"Malam ini gak boleh gagal. Ini kesempatan emas. Kapan lagi bisa boncengan sama si ganteng dan gedong. Kan lumayan sepanjang jalan bisa meluk dia. Jojo ooooh, kenapa kamu makin ganteng aja sih. Sumpah aku jadi gak nafsu sama brondong lain. Gak bakal bisa tenang jiwa ini sebelum dapatin kamu, Sayang." Bu Surya merapikan kerudung merah yang berbahan sama.


"Atau mending ajakin jalan ke Puncak aja. Pura-pura jalan ke rumah kenalan, terus nyari penginapan. Tapi, nanti dia curiga. Duuuuh gimana ya. Pokoknya malam ini aku harus bisa dapetin Jojo, bagaimanapun caranya."


"Hmmm, apa aku kasih uang aja, sejuta juga mau kali dia, hehehehe. Sekarang dia pasti lagi butuh uang banyak. Mama dan ayahnya kan gak ada. Iya deh mending aku kasih uang aja, terus gitu deh hehehe."


Bu Surya kembali melepas pakaiannya, lalu menggantinya dengan gamis yang berbeda.


Kali ini dia memakai warna merah maroon berbahan spandek.


Tak ayah, seluruh lekuk tubuhnya yang seksi dan padat, terlihat sempurna.


"Jojo sukanya sama cewek yang berjilbab, Hmm sepertinya dengan baju dan jilbab ini aku terlihat lebih seksi dan menggoda. Pokoknya dia harus terkesan dengan penampilanku. Syukur-syukur dia berani nyosor dan pegang-pegang tubuhku duluan, oh my love."


"Hmmm dicium kening aja serasa melayang di surga, gimana kalau Jojo meremas-remas tubuhku yang aduhai ini. Ooooh, bahagianya. Jatuh cinta emang berjuta rasanya."


"Hmmm, yes! gamis ini lebih cocok. Jojo pasti terbelalak lihat bokong dan dadaku ini, hmmmm. I love Jojo forever."


Dengan wajah dipoles make up sedikit lebih tebal dari biasanya, namun terlihat natural dan cantik, Bu Surya duduk manis di ruang tamu menunggu Jovan yang akan menjemputnya.


Beberapa kali dia merapikan kerudungnya. Kaca pada tempat bedak padat, sampai berkali kali keluar masuk tas tangannya.


"Untuk malam ini, sepertinya tak ada yang bisa menandingi kecantikanku, kecuali Bu Anita, hehehe," bisik Bu Surya seraya tersenyum genit percaya diri.


Setelah berdandan rapi, Jovan segera mengunci rumah dan kembali menstarter motornya.


Tak lama kemudian dia memarkirnya di depan rumah Bu Surya.


Tanpa banyak basa-basi dan tanpa ragu, Jovan mendorong pintu rumah setelah mengetuk, mengucapkan salam dan Bu Surya membalasnya dengan lembut dari dalam.


Bu Surya yang berdandan telah spesial, berdiri menyambut Jovan dengan wajah dan senyum semringahnya.


Beberapa saat Jovan tertegun. Sedikit tidak percaya dengan penglihatannya. Selain aroma parfum yang sangat lembut dan seger menggelitik penciumannya, matanya pun disajikan pemandangan yang sedikit berbeda dari biasanya.


"Bu, ini Bu Surya?" tanya Jovan dengan mata yang masih terbelalak.


"Hehehe, kenapa si ganteng? masa gak kenal sama Ibu?" Bu Surya mendekati Jovan yang masih tertegun.


"Subhanallah, Bu. Ibu cantik benget dengan kerudung ini. Pantes saja Pak Surya sampai tergila-gila sama ibu." Jovan memegangi kedua bahu Bu Surya.


Pancaran kekaguman tersirat jelas dari matanya yang berbinar-binar.

__ADS_1


"Hmmm, Jojo bisa aja. Gak ada apa-apanya kalau dibanding Mama Anita." Bu memegangi kedua tangan Jovan, wajahnya mendongak menatap wajah si jangkung.


"Seirus, malam ini, ibu bener-bener tampil sangat beda. Kalau tiap hari berpakaian begini dengan jilbab indahnya, saya jamin Pak Surya gak mau lagi dinas luar atau lembur, hehehe." Jovan mencubit manja pipi yang merah merona.


"Iiih Jojo, ternyata kamu sangat jago bikin wanita tersanjung. Pantesan aja pacarnya dimana-mana." Bu Surya tersipu malu-malu bahagia.


"Hah, Ibu sotoy. Jojo lagi jomblo, Bu. Mana ada cewek zaman sekarang yang mau pacaran sama cowok kere, hehehe." Jovan masih tetap memegangi kedua bahu Bu Surya.


"Serius Jo, Gimana penampilan ibu begini? Gak malu-maluin kan?" Bu Surya berubah manja.


"Oh my God. Siapa yang akan merasa malu dengan dandanan secantik dan seanggun ini. Coba mama, mau dandanan gini, mungkin ayah gak kabur-kaburan." Tak sadar Jovan berucap.


"Maksudnya?" Bu Surya sedikit terkejut.


"Hmmm, maaf. Ayah sering bertengkar dengan mama, lebih sering gara-gara dandanan."


Bu Surya terdiam, penasaran dengan ucapan Jovan yang mulai berani buka-bukaan.


"Ibu tahu sendiri. Kapan pernah ngelihat mama dandan, pakai lispstik apalagi sifat alis. Paling cuma bedak tipis doang." Jovan tersenyum.


"Iya tapi kan mama Anita gak pake apa-apa juga emang bawaanya udah cantik, ayu dan sangat lembut, wajah keibuan. Kurang apa lagi." Bu Surya memancing di air bening.


"Iya sih. Mungkin maksud ayah bukan harus berdandan menor atau gimana-gimana. Tapi pada saat menghadiri acara-acara tertentu yang sedikit resmi, harusnya berdandan sedikit beda. bukan cuma ganti baju doang."


"Coba aja, susah membedakan mama saat di rumah, di warung, pengajian atau mau kondangan. Yang beda, cuma kostumnya aja lebih rapi. Kalau wajah dan lain-lainnya gak pernah berubah."


"Iya padahal Mama Anita gak dandan aja cantik. apalagi kalau dia mau sedikit aja berdandan makin tak terkalahkan, hehehe." Bu Surya tak sadar memeluk Jovan.


"Iya, sekarang udah ayah kabur-kaburan, baru nyesel," ucap Jovan lirih dan sumbang.


"Udah ah, jangan bahas mama, kasihan." Bu Surya memegangi kedua pipi Jovan dengan lembut dan mesra.


"Ya kan ini mah curhat aja Bu. Sekedar membuka wawasan. Laki-laki atau para suami merasa senang atau bangga kalau istrinya bisa tampil lebih baik. Bukan untuk pamer atau menggoda lelaki lain, tapi lebih pada menghargai diri sendiri dan suaminya, hehehe." Jovan sok dewasa.


"Oh gitu, kok tahu sih?" Bu Surya mengernyitkan dahi, namun bibirnya tetap tersenyum bahagia.


Siapa yang tak bangga dapat pujian dari orang yang paling didamba.


"Kan, kalau ayah berantem pasti gitu yang dibahas. Tapi emang bener sih, saya juga gak munafik. Suka merasa bangga dan seneng kalau pacar tampil istimewa dan mempesona di depan teman-teman. Bukan niat menggoda mereka, tapi berasa dihargai aja, hehehe."


"Hmmm, ya udah gak usah dibahas, nanti lain kita bahas ya. Gini Jo, ibu udah nelpon si Mbah. Katanya malam ini, dia bisa nerima tamunya nanti jam dua belas. Jadi kita berangkatnya nanti aja jam sembilan atau sepuluh. Gimana?" Bu Surya memeluk pinggang Jovan dan merapatkan kedua buah dadanya pada dada sang brondong.


"Oh ya terserah ibu aja, Jojo sih ngikutin. Demi mama jangankan jam sepuluh malam, kapan pun siap."


"Iya sekarang kita ngopi aja dulu ya. Jojo lapar gak?"


"Gak, tapi kalau ngopi boleh sih, hehehe."


"Ok deh, mau di ruang keluarga atau di dapur ngopinya."


"Siap ngopi dimana pun kalau sama ibu baik hati, Jojo sih siap-siap aja, hehehe."


'Hmmm berarti diajak ngopi di kamarku juga mau dong, hihihi. Jojo paling bisa bikin geer diriku yang haus belaian mu hehehe'

__ADS_1


Bersambung – Malam Yang Menggetarkan


__ADS_2