
Keluarga Berhati Malaikat
Hati Jovan makin perih, laksana disayat sejuta silet yang tajam. Di telinganya kembali terngiang histeris kesakitan mamanya dan jerit tangis Naufal juga Julia. Jovan merasa ada sesuatu yang tak wajar dengan jeritan dan tawa mamanya yang ganjil. Tawa asing yang keluar dari hilangnya kesadaran diri.
"Yah, jangan ajari anakmu berbuat nekat dan membalas sakit hati dengan cara-cara yang tidak terpuji. Segeralah pulang untuk memperbaiki diri. Jika memang sudah tak sudi menjadikan kami bagian dari keluargamu, segera ceraikan mama. Biarkan kami hidup tenang tanpamu."
Setelah puas menumpahkan segala kepiluan dan air mata. Jovan segera membuka pintu toilet dan keluar setelah air matanya tak lagi meleleh di pipi. Dia langsung mendatangi Aldo yang sedang duduk tak jauh dari toilet. Tampaknya dia sudah cukup lama menunggunya di sana.
"Gimana, Do?" Jovan bertanya seraya duduk di samping Aldo. Suaranya terdengar sedikit berat dan parau.
"Insya Allah semua baik, aman terkendali," jawab Aldo sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya.
"Alhamdulillah," balas Jovan dengan suara yang masih lemah.
"Nyokap lu udah diberi obat penenang. Sekarang sedang tidur dan Naufal sama Julia, sama bokap gua di ruang tunggu umum." Aldo menyodorkan sebungkus rokok pada Jovan.
"Do, gua gak tahu kalau gak ada keluarga lu. Kalian bener-bener keluarga berhati malaikat," balas Jovan seraya mengambil rokok di tangan Aldo, tetapi tidak segera menyulutnya.
"Oh iya, gua barusan dapat pesan dari perawat. Lu sama ade-ade lu, untuk sementara gak diizinkan masuk ruangan." Aldo menatap wajah Jovan yang sembap.
"Hah! Kenapa? Terus siapa yang jagain nyokap gua?" Jovan terperanjat.
"Sepertinya nyokap lu depresi berat. Akibat terlalu mendalam memikirkan bokap sama lu bertiga. Makanya dokter minta kalian jangan dulu menemuinya. Khawatir nyokap lu tersulut lagi emosinya yang masih belum stabil dan histeris. Apalagi kalau ngeliat Julia sama Naufal. Tadi juga nyokap lu manggil-manggil mereka terus dan histeris lebih hebat." Aldo bicara panjang lebar seraya mengepulkan asal dari mulutnya.
"Oh gitu." Jovan terdiam seraya memegangi kepalanya dengan kepala mendongak mentap langit yang ditaburi bintang-bintang. Pemandangan yang semestinya membawa ketenangan dan kedamaian jiwa.
"Sob, menurut lu gua sekarang mesti gimana? Apakah gua mesti nekat nyari bokap dan menyeretnya ke sini? atau..." Jovan bingung.
"Sekarang lu fokus aja ngurusin nyokap. Ade-ade lu biar diurus sama nyokap gua. Yang nyari bokap lu, mending gua aja."
"Iya, tapi masalahnya lu mau nyari kemana? Gua aja anaknya gak tahu. hape dia gak pernah aktif, gak tahu pakai nomor mana.?"
"Ya, namanya juga nyari. Tapi gua yakin, bokap lu masih ada di sekitar sini. Gua punya teman yang sering ngelihat bokap lu di sebuah tempat."
"Dimana, Do?"
"Di sebuah tempat pokoknya. Kayak sejenis tempat perjudian, gitu."
"Masya Allah."
__ADS_1
"Ya, tempatnya sangat tertutup dan gak semua orang bisa masuk sana. Mungkin gua juga harus minta bantuan teman gua itu. Lu tenang aja, fokus urusin nyokap dan ade-ade lu. Gua akan bantu lu semaksimal mungkin."
"Ya makasih Do. Lu sahabat gua yang terbaik. Si Bagas kemana? Gua sampai lupa belum ngucapin terima kasih, udah minjemin mobilnya."
"Dia tadi langsung pulang, mobilnya mau dipake nyokapnya, jadi buru-buru. Insya Allah nanti sama anak-anak mau ke sini lagi . Nemenin kita begadang."
"Oh gitu ya. Do, gua ke mushola dulu. Belum Shalat Isya."
"Yoi, Sob, ini duit gua pegang aja ya. Atau lu mau pegang sebagian?" Aldo kembali mempertanyakan uang yang dia pegang.
"Lu pegang aja semua. Siapa tahu butuh biaya, buat nyari bokap gua."
"Oke, berarti lu udah setuju ya, kalau duit ini kepake sama gua."
Jovan tak menjawab. Dia hanya mengacungkan jempol seraya melanjutkan langkahnya menuju mushola rumah sakit yang ada di belakang.
Sebelum ke mushola, Jovan menemui kedua orang Aldo yang sedang menunggu di ruang tunggu umum. Naufal dan Julia terlihat sedang tiduran sambil ngobrol kecil.
"Pak, Bu, maafkan kami telah merepotkan, bapak dan ibu." Jovan bicara dengan sedikit membungkukan badannya.
"Tenang aja Jo, ini sudah kewajiban kita sesama tetangga." Pak Surya menjawab bijaksana seraya mengelus elus punggung Jovan..
"Udah Bu, tadi bareng sama Dede dan Teteh." Jawab Jovan sambil menunjuk dua adiknya tiduran.
"Oh iya, Dede sama Teteh, mau ibu bawa pulang. Gak mungkin mereka tidur di sini. Jadi ibu sama bapak gak bisa nemenin mama di sini, Jo." Bu Surya memegangi tangan kanan Jovan.
"Iya gak papa, Bu. Biar saya sama Aldo yang di sini. Bagas juga mau pada kesini katanya."
"Oh ya udah, kalau gitu Ibu pulang dulu ya, kasihan Dede udah ngatuk."
"Iya Bu. Sekali lagi terima kasih atas segalanya. Saya gak tahu bagaimana kalau gak ada Bapak, Ibu dan juga Aldo."
"Sudahlah Jo, jangan terlalu banyak pikiran. Kamu fokus ngerawat mama." Pak Surya bicara sambil menarik Jovan, lalu membisikan pesan dokter seperti yang diucapkan Aldo.
Jovan sangat memahami lalu memleuk kedua adiknya.
"Dede sama Teteh jangan nakal ya, Sayang. Malam ini bobo sama Ibu Surya. Aa di sini dulu nemenin mama." Jovan mengelus elus kedua kepala adiknya lalu menciuminya bergantian. Julia dan Naufal yang sudah siap untuk pulang, hanya mengangguk seraya membalas ciuman kakak tercintanya.
Lima belas kemudian, Jovan sudah khusyuk dalam shalatnya. Setelah itu melanjutkan dengan berdzikir dan berdoa. Jiwanya melayang seperti trans antara sadar dan tidak. Menumpahkan duka lara dan segala doa suci, memohon ampunan pada Yang Maha Kuasa.
__ADS_1
"Bro, ada yang nungguin, lu." Sebuah bisikan mengyadarkan Jovan dari duduk tertunduknya.
"Siapa?" tanya Jovan seraya menatap Aldo yang menatapnya semringah.
"Kita liat saja. Lu pasti terkejut." Aldo berteka-teki.
"Siapa, Do?" Jovan bangkit dari duduknya, dan berjalan mengikuti Aldo yang sudah lebih dulu keluar dari mushola.
Jovan mempercepat langkahnya, mengejar Aldo yang sudah kembali ke pelataran parkir.
Deg! Jantung Jovan seketika berhenti berdetak melihat seseorang wanita yang berdiri dan tersenyum ke arahnya...
Beberapa saat Jovan tertegun. Menatap Aldo yang cengengesan tak berdosa seraya berdiri gagah sok kegantengan di samping seorang wanita cantik dengan senyum menawan dan menggoda. Namun pakaiannya sangat tak layak berada di lingkungan rumah sakit.
Wanita yang ber-make up sedikit mencolok serta rambut sepunggung hitam bergelombang yang dibiarkan tergerai lebih cocok berada di diskotik. Apalagi dengan mini blouse V-nek tanpa lengan yang berwarna merah menyala, membungkus ketat tubuh sintalnya dari leher hingga sedikit lebih bawah dari pangkal pahanya.
‘Maksud lu apa, blog? Cewek model begini dibawa ke mari? Lu udah syaraf!’ Jovan bertanya keras namun hanya dalam hati. Kedua matanya mendelik tajam menatap Aldo yang masih merasa tak berdosa.
"Bro, lu masih kenal sama Selvy gak? Alumni tahun lalu." Aldo memperkenalkan wanita seksi di sampingnya.
"Hai Jo, gimana kabarnya?" Wanita yang paha dan kakinya terbungkus stocking hitam itu menyodorkan tangan mengajak bersalaman. Bulu matanya yang lentik serta alisnya hitam tebal, tampak sedikit menyeramkan dalam cahaya remang-remang. Jovan hampir saja tak mengenalinya andai dia tak ingat dengan rambut dan bentuk tubuhnya yang khas.
"Alhamdulillah baik," balas Jovan seraya melepaskan tangannya dari genggaman Selvy.
"Lu masih inget kan, Bro?" Aldo kembali meyakinkan.
Jovan mengangguk. Sejurus kemudian sinar matanya berkelebat tajam menyiratkan kemarahan dan kekesalannya pada Aldo.
"Oh iya Jo, turut bela sungkawa atas mama kamu. Semoga beliau segera disembuhkan, Amin," lanjut Selvy dengan ekspresi yang bersandiwara sedih.
"Amin. Terima kasih doanya. Maaf Sel, darimana mau kemana?" Jovan bertanya basa-basi. Matanya menyapu sekujur tubuh Selvy dari ujung rambut hingga ujung high heel merahnya.
"Baru pulang kerja, kebetulan Aldo nelpon, katanya Jojo mau ada perlu sama aku." Selvy mendekapkan kedua tangannya di bawah dada, seolah ingin lebih menonjolkan dua gunung kembarnya yang membusung.
‘Eh kunyuk, sejak kapan gua perlu sama cewek ini. Ngapain lu bawa-bawa dia kemari? Lu kira gua mau booking PSK. Dasar brengsek lu!" Jovan mengumpat dalam hati, matanya menatap tajam Aldo. Meminta penjelasan atas kekonyolannya.
Bersambung – “Aldo Mulai Ngaco”
__ADS_1