
Aldo Makin Ngaco
"Gini, Bro. Yang gua maksud teman yang tahu keberadaan bokap lu itu, ya Selvy ini. Tadi gua ngehubungi dia, kebetulan dia baru off dari tempat kerja. Ya udah gua ajak ke sini. Kebetulan arah pulangnya kan lewat sini." Aldo sepertinya memahami pertanyaan hati Jovan.
‘Shit! Terus ngapain diajak ketemu gua? lu gak tahu siapa cewek ini? Bukannya elu yang mau nyari bokap gua?’ Lagi dan lagi Jovan memaki dalam hati, yang diterjemahkan dengan sorot mata tajam dan gigi geraham yang sedikit ditekan.
"Jojo serius lagi nyari ayah atau Bang Fuad?' Selvy memegangi tangan kanan Jovan.
"Iya. Selvy tahu dimana ayah gua sekarang?" jawab Jovan seraya melepaskan pegangan Selvy
"Kalau sekarang jujur aja gak tahu. Tapi beberapa hari yang lalu, masih terlihat ada Baracuda, tahu kan Barcud?" Selvy menatap tajam wajah Jovan yang kebingungan.
"Hehehe, gak tahu." Jovan pura-pura bersahabat.
"Gini Vi, seperti yang gua ceritakan tadi. Jovan minta bantuan gua, untuk bertemu ayahnya. Jadi bukan Jovan yang mau ke sana. Nah Selvy kan orang Barcud. Nanti kalau lihat Pak Fuad ada di sana, tolong call gua." Aldo mengklarifikasi. Dia mulai menyadari sikap dan sorot mata sahabatnya mulai mengisyaratkan sesuatu yang tak beres.
"Boleh, atau gini aja deh. Kalau memang Jojo serius mau bertemu ayah dan mau tahu pekerjaannya, mendingan kita ngobrol di kosan aku aja. Gak enak lama-lama di sini. Soalnya aku belum ganti pakaian." Selvy menarik sedikit rok pendeknya, namun tetep aja setelah dilepas, rok itu kembali ke atas, hingga hampir seluruh kaki dan pahanya terekspose.
"Nah, gitu juga boleh. Gimana, Bro?" Aldo menatap Jovan yang masih belum mengeluarkan senyum gantengnya.
"Selvy, ngobrolnya sama Aldo aja, dia nanti yang akan menemui ayah. Kalau gua gak bisa, soalnya gak mungkin ninggalin mama." Jovan menjawab to the point.
"Ya, gak usah malam ini juga kali. Terserah kapan aja Jojo bisanya. Yang penting jangan malam-malam. Soalnya kadang ada job dadakan. Aldo udah tahu kok tempatku." Selvy kembali memegangi tangan Jovan.
"Ya, nanti gua usahakan." Jovan menjawab malas, tangan kirinya refleks melepaskan genggaman Selvy dari tangannya.
"Oke deh, kalau gitu aku pulang dulu. Do, anterin gue ke depan!" Selvy beralih memegangi tangan Aldo.
"Oke cantik.." Aldo menjawab handsome.
"Oke Jo, tetap sabar ya. Jangan bersedih, ingat habis gelap akan terbit terang. Tetap semangat ya, Jo. bye."
"Bye!"
Jovan tertegun beberapa saat. Menatap Selvy dan Aldo yang berjalan santai berpegangan tangan sambil ngobrol. Layaknya seorang kacung yang sedang mengantar penyanyi dangdut hajatan yang baru turun dari panggung dan hendak ke tempat peristirahatan yang disediakan oleh yang punya hajatan.
__ADS_1
Aldo tidak mengetahui, sesungguhnya Jovan sangat mengenal Selvy luar dan dalam.
Saat masih di sekolah, tak banyak yang tahu siapa Selvy sebenarnya. Sebagian besar siswa Garuda mengenal Selvy sebagai siswi yang cantik, kalem, keibuan namun aktif dalam berbagai organisasi, termasuk kepengurusan OSIS. Namun di luar sekolah, Selvy memiliki profesi yang sedikit miris. Selain sebagai penyanyi dangdut panggung, dia juga kerap menerima panggilan dari lelaki hidung belang.
Jovan sempat terkecoh, menduga Selvy siswa baik-baik yang mandiri. Dia bahkan hampir tertipu menerima cinta kakak kelasnya itu. Untung saja topeng Selvy terbongkar saat acara perkemahan serah terima kepengurusan OSIS.
Dalam acara yang diikuti sekitar 60 pengurus OSIS lama dan baru, Selvy mengutarakan perasaan hatinya dan terang-terangan mengajak Jovan untuk cek in di salah satu penginapan terdekat dari lokasi kemping. Sontak saja, Jovan yang baru di lantik menjadi Ketua OSIS terhenyak. Untung saja ada Elva yang bisa dijadikan perisai dan alasan menolak rayuan maut sang penggoda.
Setelah kemping berakhir, Selvy makin penasaran dan terobsesi. Hampir tiap hari menghubungi Jovan melalui chat dan telepon. Tanpa malu-malu berterus terang ingin merasakan nikmatnya berhubungan badan dengan Jovan. Selvy juga sering mengirimkan foto-fotonya dalam pose yang menantang dan seronok.
"Jo, please. Gue rela gak mendapatkan cintamu, tapi izinkan mendapatkan kehangatanmu. Biasanya gue dibayar lelaki, sekarang gue rela ngeluarin uang demi membuka celanamu dan menikmati isinya." Inbox FB terakhir dari Selvy, sebelum Jovan memblokir nomor dan semua sosial medianya.
Tak ada seorang pun yang tahu kenekatan Selvy menggoda Jovan. Sang pejantan yang digilai banyak gadis itu tak pernah membagi cerita memalukan itu pada siapapun.
Dan sejak saat itu, Jovan tak pernah membuka jalur komunikasi dalam bentuk apapun dengan Slevy. Dia tak merasa asing jika sekarang Selvy bergelut dengan dunia hitamnya.
Cukup lama Jovan duduk merenung pada pembatas parkiran. Menunggu Aldo yang sedang mengantar Selvy ke depan. Dia tak sabar ingin segera menumpahkan kekesalannya atas kekonyolan Aldo membawa Selvy kembali dalam kehidupannya.
Tiba-tiba sebuah mobil dengan sangat tenang terparkir di depan Jovan. Sang penunggu segera berdiri sambil mengerjapkan matanya yang silau terkena cahaya lampu mobil yang seketika mati.
Beberapa saat lamanya Jovan memejamkan mata untuk menetralisir keadaan. Saat membuka mata, terlihat Aldo keluar dari mobil. Rupanya sang pemuda idaman itu menumpang mobil dari depan, setelah mengantarkan Selvy.
Jantung Jovan kembali berhenti berdetak. Seorang gadis cantik turun dari mobil menyusul Aldo yang sedang cengar cengir.
"Oh my God!" seru Jovan dalam hati.
Ketika Jovan masih tertegun, Bagas, Lukman dan Akmal pun keluar dari mobil. Semangat Jovan seketika meningkat tajam. Melihat Nadya yang berdiri tersenyum di samping Bagas. Jovan yakin, dimana ada Nadya pasti ada Elva.
Tapi, mengapa si cantik yang sedang sangat dirindukannya itu belum keluar dari mobil. Apakah ini bagian dari surprise?
Dengan sedikit bergegas, Jovan mendatangi teman-temannya. Bersalaman dan berpelukan. Semua mengucapkan bela sungkawa dan memberikan suprort serta dorongan moril agar Jovan tak merasa sendiri dalam menghadapi ujian.
"Hai, Jo, yang sabar ya." Nadya yang terkahir menyalami Jovan.
"Terima kasih Nad," balas Jovan santun.
__ADS_1
"Oh iya, ada salam dari Elva. Dia juga turut belasungkawa buat mamamu," ucap Nadya seraya melepaskan salamannya.
"Terima kasih, Nad udah mau datang malam-malam. Ini sebuah kehormatan yang luar biasa buat Jojo dan keluarga. Bidadari Garuda mau keluar malam-malam, hehehe." Jovan membungkukkan badan.
"Kan sama pangerannya, Bro! jadi aman." Bagas menimpali.
"Aiiis, pangeran rusa, hahahaha." Jovan mengeluarkan tawa renyahnya untuk yang pertama sejak tadi sore.
"Iya, kebetulan Bagas tadi dari rumah, jadi sekalian dia minta izin sama mama. Mungpung papa lagi ada acara di luar daerah, hehehe." Nadya malu-malu, kucing. Ini memang hal yang sedikit langka, Nadya bisa keluar malam-malam tanpa pengawalan ketat dari kakak atau adik lelakinya.
"Bro, gua ajak Akmal and Lukman masuk dulu ya. Mumpung masih ada jam besuk nih." Aldo memotong perbincangan Nadya dan Jovan.
"Oke. Sorry bro, gua gak dapat izin masuk. Untuk sementara sama Aldo aja dulu, oke." Jovan mengangkat kedua tangannya memohon maaf pada Lukman dan Akmal.
"No problem, Aldo udah ngejelasin, santai Sob. Lu sama Bagas and Nadya ngobrol dulu. Gua sama Akmal mau begadang di sini, santai aja." Lukman menimpali.
"Oh iya. Gas. Sorry tadi gua belum ngucapin terima kasih sama lu, maklum gua panik and biasalah lu pasti ngerti." Jovan melanjutkan obrolan setelah Lukman, Akmal dan Aldo berjalan beriringan menuju pintu masuk rumah sakit yang dijaga ketat dua petugas keamanan.
"Alah, sok basa-basi kaya ke orang lain aja, hehehe." Bagas memukul bahu Jovan seraya terkekeh.
"Jo, kok gak nanyain Elva, sih?" Nadya menetap Jovan seraya tersenyum.
"Hmmm, Elva? Nadya kan tahu sendiri, dia lagi benci sama Jojo. Malu mau ngasih kabarnya juga, hehehe." Jovan menyilangkan sebelah tangannya mengelus elus dagu dan 15 lembar janggut tipisnya.
"Hmmm segitunya. Baperan juga ternyata, hehehe." Nadya terkekeh, "Elva inget kok sama mama, terutama sama Jojo-nya. Rencananya dia juga mau ke sini. Tapi besok bareng sama anak-anak yang lain." Nadya menjawab dengan nada semringah. Dia bisa melihat pancaran kebahagian di wajah Jovan ketika membahas Elva.
"Oh ya, emang anak-anak yang lain udah pada tahu?" tanya Jovan kemudian.
"Semua udah tahu! Gua udah pasang pengumuman di GC Garuda. Emang lu gak buka hape? Si Lukman malah udah buka 'Dompet Bersama' dari jam 9. Intinya semua dah oke, sudah dikoordinir sama Elva, Lukman dan Yonas. Pengurus OSIS dan beberapa guru pasti besok datang ke sini." Bagas meyakinkan Jovan.
"Oh iya. Terima kasih atas kehebatan kalian semua." Jovan memegangi punggung dan bahu Bagas.
"Yang hebat itu Jojo. Semua kekompakan anak-anak Garuda kan hasil kerja keras Jojo dan Elva. Ketua OSIS dan Bendahara paling oke sepanjang sejarah Garuda, hehehe." Nadya memuji Jovan dan Elva.
Bersambung – Kedatangan Tamu Istimewa
__ADS_1