
Chan mengantar pak Surat sampai rumahnya. Di depan rumah mereka lebih tepatnya pak Surat sudah di tunggu oleh istrinya yang terlihat wajah cemas.
Mungkin karena sudah malam suaminya juga tidak pulang. "Bapak kenapa?" tanya istri pak Surat yang terlihat dari wajahnya yang sudah tua dan sebaya dengan pak Surat.
"Tadi bapak tidak liat jalan dari tertabrak dan sudah dibawa ke klinik oleh nak Chan" ucap Pak Surat dengan mengarahkan pandangannya kearah Chan membuat istrinya pak Surat mengikutinya.
"Terima kasih ya nak Chan. Sudah menolong bapak" ucap Istri pak surat membuat Chan mengangguk.
Chan merasa iri dengan keluarga pak surat. Dia ingin jika suatu saat memiliki istri akan di tunggu di depan rumah dari pulang kerja dan dikhawatirkan karena telat pulang.
"Eh,,ayo masuk dulu. Maaf ya nak Chan rumahnya kecil. Nak Chan mau minum apa. Kami cuma punya teh sama kopi aja" ucap Istrinya pak surat.
"Tidak usah repot-repot Bu. Saya juga mau pulang. Karena sudah malam." ucap Chan yang menolak diajak masuk kedalam karena sudah malam. "Dan ini uang untuk biaya penyembuhan kaki bapak, dan ganti rugi gerobak bapak" ucap Chan menyerahkan uang sebanyak 2 juta kepada Pak Surat.
"Tidak usah nak. Bapak juga yang salah tidak melihat jalanan." tolak Pak surat namun Chan terus memaksanya. Hingga akhirnya diterima oleh pak surat.
"Terima kasih banyak ya nak Chan. Semoga Tuhan yang membalas kebaikan nak Chan dengan hal yang berharga" ucap Istri pak Surat.
Ketika Chan ingin pamit pulang. Tiba-tiba saja ada seseorang yang berteriak membuat Chan termangu melihat orang itu. "Bapak!!" teriaknya dan langsung menghampiri pak surat.
Chan yakin itu adalah anak dari pak surat terlihat dari sorot matanya yang teduh. "Bapak kenapa?" tanyanya membuat Chan tersenyum melihat raut wajah khawatir orang itu.
"Bapak baik-baik saja. Tadi udah di bawa ke klinik oleh nak Chan" ucap pak surat yang gadis itu memandang Chan.
"Terima kasih karena sudah membawa bapak saya berobat" ucapnya lembut membuat jiwa Chan melayang terbang.
Namun, segera disadarkan oleh terpaan angin " I-Iya" ucap gugup Chan yang ketika mata mereka bertemu. Namun, gadis itu langsung memutuskannya. "Saya permisi pulang dulu, ya pak, Bu" pamit Chan yang diangguki dan dibalas terimakasih oleh keluarga pak Surat.
Chan masuk kedalam mobil dan mengemudikan mobilnya dengan jantung berdetak kencang dan kupu-kupu terbang di perutnya.
"Gadis itu sangat cantik dan lembut" monolog Chan yang memikirkan wajah gadis itu ketika tersenyum dan matanya yang meneduhkan.
__ADS_1
...####...
Pagi terasa panas karena cuaca yang semakin hari semakin berubah bahkan intensitas hujan tidak seperti dulu yang sangat lama dan deras. Hujan seakan enggan untuk turun melihat kawannya yaitu rumput dan pohon. Begitupun dengan manusia dan hewan sudah rindu menghirup bau tanah dan aspal yang terguyur oleh hujan.
"Panas banget sih?" keluh Chan yang saat ini sedang menunggu kliennya di salah satu restoran outdoor.
"Dengan bapak Chan?" tanya seorang dengan pakaian yang serba minim. Hingga seakan pakaian itu ingin melepaskan diri dari tubuhnya.
Chan dibuat kaget akan sapaan wanita itu. "Siapa?" tanya Chan yang merasa tidak kenal wanita tersebut.
"Saya Dea, sekretaris pak Agus. Beliau menyuruh saya untuk datang. Beliau sedikit terlambat karena sedang mengambil pesanan istrinya" ucapnya membuat Chan mengangguk dan mempersilakannya duduk.
Mereka menunggu kedatangan pak Agus untuk membicarakan tentang kerjasama mereka. "Pak Chan,,sudah punya istri?" tanya Dea yang sejak tadi Chan hiraukan karena matanya silau menatap wanita itu.
Bagaimana tidak silau, buah dadanya terlalu terlihat sehingga membuat Chan takut jika nanti dia di apa-apain. Untungnya pak Agus menyarankannya untuk meeting di outdoor. Kalau tidak bisa di seruduk dia oleh banteng bertanduk di dada.
"Sudah" jawab Chan singkat tanpa melihat Dea. Karena pandangan nya pokus pada layar ponsel yang sedang menampilkan deretan foto si kembar.
"Cincinnya sudah tidak muat" ucap Chan asal. Tetapi tidak membuat Dea percaya. Karena tidak adanya berita tentang Sekertaris pak Rey sudah menikah.
Kaki Dea mengeluh kaki Chan dengan sensual membuat Chan menjadi merinding takut. Untungnya pak Agus terlihat membuat Chan bernafas lega.
"Maaf saya terlambat. Baru sampai mana meeting nya?" tanya Pak Agus yang duduk disamping Dea.
"Kami belum bahas apapun. Kami menunggu pak Agus" ucap Chan membuat Pak Agus mengangguk.
Mereka memulai pembicaraan. Walau terkadang tangan dan kaki Dea selalu menggoda Chan. Namun, Chan dengan kekuatan iman mampu menahannya hingga meeting selesai.
Chan masih duduk di restoran tersebut. Karena ia lelah menahan rasa jijik terhadap sekretaris pak Agus yang seperti cewek di club.
Chan memesan sebuah jus dan langsung habis dengan sekali teguk. "Sudah hawa panas ditambah digoda Tante ijo. Makin terbakar rasanya" monolog Chan dengan membuka 2 kancing kemeja nya.
__ADS_1
Namun tiba-tiba pandangan nya terkunci oleh seseorang yang sedang terlihat kesusahan ketika membawa barang belanjaan membuat Chan bangkit dan membantunya.
"Bisa saya bantu?" tanya Chan membuat orang itu mendongak menatap Chan.
"Eh,,tidak usah saya bisa sendiri" ucap nya yang segera menunduk karena tidak kuat menatap mata Chan.
"Kamu anaknya pak Surat kan?" tanya Chan membuat perempuan itu mengangguk "Perkenalkan nama saya Chan" ucap Chan dengan mengulurkan tangannya dan disambut oleh perempuan itu.
"Saya Fiola, sering dipanggil Fio" ucapnya membuat Chan tertawa. Dan mengerjitkan dahinya karena ia merasa tidak ada yang aneh dengan namanya.
"Kenapa tertawa, pak Chan?" tanya Fio membuat Chan seketika berhenti tertawa mendengar panggilan dari Fiola.
"Jangan panggil pak, Mas aja Ola" ucap Chan dengan santainya berjalan membawa barang belanjaan Fiola. Sementara Fiola merasa aneh, dan berjalan mendekati Chan.
Mereka berjalan sejajar. "Mas kita mau kemana?" tanya Fiola membuat Chan tersenyum mendengar panggilan 'mas' dari Fiola.
Mereka berjalan mendekati mobil Chan. Membuat Fiola merasa aneh dengan sikap Chan. "Saya antar kamu" ucap Chan yang memasukan barang-barang Fiola ke dalam mobilnya. "Ayo masuk" ajak Chan membuat Fiola yang melamun tersentak ketika mendengar ucapan Chan.
"Masuk kemana?" gumamnya yang didengar oleh Chan membuat nya tersenyum.
"Masuk ke KUA" bisik Chan membuat Fiola malu dan pipinya memerah. "Mau masuk sendiri atau saya tarik kamu?" ucapnya yang membukakan pintu mobil untuk Fiola yang langsung dimasuki oleh Fiola.
Melihat itu Chan tersenyum senang dan bersenandung kecil memutari mobilnya. Chan masuk ke mobil dan memasang sabuk pengaman nya. Namun, tidak melajukan mobilnya. Membuat Fiola heran dan memandang kearah Chan yang juga sedang memandang nya.
"Kenapa?" tanya Fiola menautkan alisnya.
Chan tanpa bicara melepaskan sabuk pengaman nya dan mendekat kearah Fiola membuat Fiola memundurkan wajahnya.
Melihat wajah Chan yang sangat dekat membuatnya menahan nafas dan menutup matanya. Takut terjadi hal yang tidak diinginkan karena pikirannya melayang jauh.
Detak jantung Chan melaju cepat seperti lari maraton. Wajahnya begitu dekat dengan Fiola sehingga ia bisa melihat bulu mata yang lentik dengan hidung yang minimalis ditambah bibir yang menggoda ingin di cumbu apalagi sekarang Fiola sudah memejamkan matanya.
__ADS_1