
Setelah puas tertawa, akhirnya Chan dan Fiola membantu anak kecil itu dari lumpur. Wajah cemong penuh lumpur membuat Fiola dan Chan berusaha menahan tawanya.
"Kamu ngapain sih, kesini?" tanya Fiola kepada bocah itu yang sekarang malah nyengir. Wajahnya yang penuh lumpur dengan gigi yang putih membuat Chan dan Fiola akhirnya tertawa.
"Disuruh sama Atuk Sur, untuk panggil Mbak Ola" ucapnya mereka berjalan dengan pelan-pelan karena jalan setapak sawah sangat licin.
Beberapa orang yang melihat mereka tertawa. Melihat wajah bocah itu. "Mbak Aku ganteng ya?. Kok, semua orang pada liatin aku sih" Pede bocah itu membuat Chan yang melihatnya hanya bisa menahan diri untuk tidak menguliti kepercayaan diri bocah itu.
"Iya, kamu ganteng kalau udah mandi" ucap Fiola membuat anak itu semakin melebarkan senyumnya.
Sesampainya dirumah mereka ditatap penuh tawa. "iihhh,,,Edan, kamu lagi cosplay jadi apa?" tanya anak perempuan yang genit kepada Chan.
"Ganteng kan aku?" ucapnya kembali dengan tingkat kepercayaan diri yang semakin tinggi.
"Idih,,gantengan juga monyet daripada kamu" ucap bocah perempuan itu mendekati Chan dan memegang tangan Chan.
"Om, ayo kita nikah aja" ajak bocah centil itu membuat Chan terkejut dan reflek melepaskan tangannya dari anak itu lalu berdiri dibelakang Fiola.
"Kamu mau nikah dengan, Om Chan?"tanya Fiola membuat bocah itu mengangguk sangat senang.
"Ini udah punya mbak Ola. Kamu sama Edan aja. Dia ganteng kok, cuma kurang hidungnya aja" ucap Fiola membuat bocah itu mendengus kesal.
"Iya,,sama Edan aja. Nanti anaknya bakalan cantik dan ganteng" ucap Chan yang langsung mendapatkan cubitan oleh Fiola.
"Nggak, mau!. Aku mau sama Om Chan aja. Mbak Ola aja sama Edan" ucap nya tak mau kalah membuat Chan kembali merapatkan tubuhnya kepada Fiola.
"REDANA PUTRA!!" teriak seseorang yang ternyata ibunya Edan membuat Edan ngebirit pergi kerumahnya melalui berlawanan jalur dengan ibunya supaya tidak di marahi.
Sudah biasa teriakan menggema di perumahan Fiola. Karena di lingkungan Fiola masih sangat kental dengan sistem kekeluargaan.
Melihat itu membuat mereka semua tertawa. "Kamu pulang gih,, mandi. Bau!" ucap Chan mengusir bocah perempuan itu yang langsung ngebirit lari untuk mandi.
__ADS_1
Namun, tidak lupa memberikan ciuman jarak jauh untuk Chan. Membuat mereka tertawa. "Dasar bocah" ucap Chan yang keluar dari persembunyiannya.
"Fiola sini makan. Ajak juga nak Chan.!" teriak ibunya membuat Fiola dan Chan menghampiri mereka. Dan masuk kedalam rumah untuk makan.
Mereka makan dengan dengan canda tawa. Walau makan dengan menu seadanya. Namun, karena jiwa bar-bar orang tua Chan membuat mereka semua makan dengan santainya.
Bahkan papanya Chan sampai menambah karena tempe orek buatan besannya itu. Dan jangan lupakan mama Chan yang makan tanpa nasi hanya lauknya saja. Karena saking keenakan menikmati opor ayam buatan besannya yang ditambah kerupuk yang renyah dan gurih.
"Nambah lagi, pak!" ucap pak surat membuat papanya Chan mengangguk.
"Saya sudah lama tidak makan beginian, pak. Karena istri saya tidak bisa masak. Kalau beli suka nggak sesuai rasanya" ucap papanya Chan dengan sesekali menyuapi nasi ke mulutnya.
"Bohong. Dia nggak pernah izinin saya masak. Tapi saya tetap aja masak. Cuma kalau masak tempe orek suka nggak enak" ucapnya dengan santai.
Begitulah suasana makan siang dirumah Fiola bersama calon mertuanya. Mereka pulang membawa buah jambu dan juga sambal rujak buatan sang besan. Jangan lupakan juga satu pohon jambu air karena akan mereka tanam dibelakang rumah mereka.
"Terima kasih ya, besan. Masalah pernikahan nya nanti akan kita kabari lebih lanjut." ucap Mama Chan kepada besannya membuat orang tua Fiola mengangguk.
Orang tua Fiola dan Fiola melambaikan tangannya. Setelah mereka jauh. Kerumunan ibu-ibu datang menanyakan siapa mereka dan bahkan ada yang berbisik tidak suka. Namun, ada juga yang mengucapkan selamat. Stelah mengetahui siapa mereka.
Memang itulah kehidupan selalu ada pro dan kontra yang selaras yang menambahkan berbagai rasa.
Didalam mobil Chan sedang tersenyum lebar "Ngapain kamu senyum lebar gitu?" tanya ibu Chan membuat anaknya memeluknya dan mencium pipinya.
"Terima kasih, mama dan papa. Chan sangat senang. Karena kalian mau menerima Fiola dengan baik" ucap Chan yang kembali menciumi pipi mama dan papanya.
"Iyalah,, kalau kamu tidak bertindak. Mama pasti akan membuat kamu menjauh dari Fiola biar kamu itu peka. Bahwa kamu mencintai Fiola" ucap Mamanya membuat Chan mendengus.
"Tidak ada alasan papa menolak Fiola, Chan. Fiola itu mengingat kan papa terhadap mamamu ini. Dulu papa juga begitu, tapi karena mama mu ini sok jual mahal jadi papa kawin aja dia langsung. Jadi dia tidak akan ada hal untuk menolak" ucap papanya bangga.
Mendengar itu membuat mama Chan menatap papanya malas. "Untung kamu tidak menuruti hal itu" ucap Mama nya Chan. "Kalau sampai,,mati kamu ditangan mama. Mantan kamu yang dulu itu aman kan??" tanya mamanya Chan.
__ADS_1
Chan tersentak dengan ucapan mamanya. "Tenang aja, ma. Tidak ada yang berbekas kok. Lagian anaknya bukan anak Chan." ucap Chan membuat orang tua Chan menghela nafas.
"Mama baru ingat ternyata kamu sama papa kamu sama saja. Udah berkarat" ucap Mamanya Chan "Malangnya mantu ku mendapatkan barang bekas." ucap Mama Chan membuat kedua laki-laki itu mendengus.
"Eh,, mama juga begitu kan?. Karena mama nikah setelah papa jebolin" ucap Papanya Chan membuat Chan tertawa. Karena mamanya kalah telak.
"Tapi itu kan ulah papa. Padahal mama udah tunangan. Tapi papa kamu ini membuat mama mabuk. Dan melakukan nya pun karena papa kamu yang mancing dulu" ucap mamanya tak mau dikalahkan.
"Iya,,,semua ini memang salah papa. Mama memang maha benar. Gini Chan kalau dalam berumah tangga suami akan selalu dibawah istri ketika berdebat. Makanya dari sekarang kamu stok kesabaran" ucap papa Chan menasehati Chan membuat Chan tertawa mendengarnya.
"Kamu bukan anak mama Chan." ucap mamanya yang bersidekap dada.
"Jangan marah dong, ma. Nanti dibeliin tas akhir bulan deh,, kan katanya itu tas incaran mama. Nanti papa pasti beliin. Jadi, Mama jangan marah ya?. Senyum manisnya mana ma?" rayu Chan membuat mamanya tersenyum. Namun, tidak dengan papanya yang meringis menghadapi dompet yang akan kosong.
Keluarga Chan tidak langsung pulang kerumah melainkan ke rumah Rey dan Cira untuk memberi tahukan perihal pertunangan Chan. Sekalian mau liat si kembar.
Sesampainya dirumah Rey. Mereka disambut hangat. Bahkan si kembar dengan riang sampai tangan dan kaki bergerak-gerak lucu. Membuat mereka gemas. Kalau Cia jangan tanyakan anak itu sedang bermain dengan teman di perumahan mereka.
"Jadi tunangannya sama siapa ini?" tanya Rey yang bingung dengan berita mendadak dari sahabat nya.
"Jadi dengan gurunya Cia?" tanya Cira lagi membuat Chan mengangguk. Dan diiringi tawa Cira.
"Kamu ini kak. Cia sampai nggak bisa tidur karena kamu nggak mau sama gurunya Cia. Eh,, sekarang malah langsung tancap gas.. lagi!" ucap Cira membuat Chan malu karena dulu ia menolak untuk dipertemukan.
Jika ditanya maka jawaban Chan mungkin menyesal adalah hal utama. Jika tidak mungkin sekarang mereka sudah menikah. Miris.
"Siapa sih, yang?" tanya Rey yang bingung dengan percakapan istri dan sahabat nya.
"Makanya kalau rapat orang tua itu datang. Kan tau. Alasannya sibuk. Padahal mah,,disana cuma 30 menitan lah" gerutu Cira membuat Rey menggaruk tengkuknya.
"Udah,,nanti kamu juga bakalan tau" lerai papanya Chan hampir melihat perdebatan suami istri.
__ADS_1
Setelah beberapa jam akhirnya keluarga Chan pulang. Tidak dengan Chan yang harus mengurus pekerjaannya. Sedangkan masalah pernikahan akan diurus oleh mamanya dan pihak Fiola.