Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
Duda Muda


__ADS_3

Hari semakin sore kini mereka sedang berada di sebuah tempat makan pinggir jalan yang menyajikan nasi goreng. Walau mereka bisa makan di restoran mewah tapi jiwa mereka tetap sama seperti masyarakat biasa. Makanan pinggir jalan bahkan terkadang memiliki rasa hotel bintang lima sehingga tidak menjamin juga bahwa tempat ternama memiliki rasa yang ternama juga jadi kembali lagi pada lidah setiap orang yang berbeda-beda.


"Cia mau nasi goreng dengan bawang goreng yang banyak dan telur mata sapi dua ya dad?" ucap Cia yang sedang melihat-lihat kursi kosong.


"Iya,,kamu mau makan apa Ra?" ucap Rey membuat Cira yang sedang memantau kondisi tempat makan tersebut untuk mencari tempat duduk yang nyaman.


"Aku samain aja sama Cia, tapi topingnya ayam suwir aja" ucap Cira.


"Yaudah kamu cari tempat duduk, aku akan memesannya dulu" ucap Rey yang sedang menggendong Cia dialihkan ke Cira. "Minumnya air putih aja ya?" ucap Rey yang diangguki Cia dan Cira.


Cira dan Cia berkeliling mencari tempat kosong dan untungnya mereka mendapatkan tempat duduk yang didepannya menampilkan hamparan sawah yang sudah menguning indah.


"Mom, itu apa?" tunjuk Cia pada orang yang berada di tengah sawah.


"Itu orang-orangan sawah yang bertugas menghalau burung agar tidak memakan biji padi" terang Cira membuat Cia mengangguk.


"Hihihi,,, kayak satpam berarti dia ya Mom, soalnya kan satpam berjaga agar tidak ada penjahat yang masuk" ucap Cia terkikik geli membayangkan dirumahnya ada satpam model orang-orangan sawah.


"Nah seperti itu sayang" ucap Cira seraya mengelus rambut Cia.


"Terus, Mom itu padinya bisa dimakan?" tanya Cia lagi dengan wajah yang penuh tanya.


"Tidak sayang, itu nanti padinya dipisah dari tangkainya lalu di pisahkan dari kulitnya jadi beras, Nah.. habis itu dimasak jadi lah nasi sayang" jelas Cira membuat Cia tersenyum bangga.


"Owh...berarti burungnya punya mesin ya Mom buat ngubah padi jadi beras?" tanya Cia lagi membuat Cira pusing karena keingin tahuan Cia yang tinggi.


Sebelum Cira menjawab Rey datang dengan membawa nasi goreng pesenan nya yang dibantu oleh pelayan disana.


"Sudah bertanya, sekarang kita makan dulu"ucap Rey memberikan makanan kepada Cia dan Cira di meja mereka.


Cia dan Cira tergiur untuk segera makan karena aroma dari nasi goreng yang menggoda hidung dan air liurnya yang keluar hingga membuat perutnya bernyanyi ingin mencicipi.


"Wah,,,Terima kasih Daddy"ucap Cia tak sabaran lalu menyendok kan nasi goreng itu. Belum masuk ke mulutnya. Cira mengintruksi untuk berdoa dulu dan akhirnya mereka berdoa dulu sebelum makan.


"Cia pelan-pelan makannya" ucap Rey membuat Cia yang kalap makannya segera menghentikannya gerakannya dan meminum airnya.


"Enak banget dad"ucap Cia seraya kembali memasukkan makanannya.

__ADS_1


"Iya,,,tapi kan bisa pelan-pelan sayang" ucap Cira membuat Cia mengangguk dan makan dengan pelan-pelan.


Rey yang melihat hal tersebut tersenyum senang karena ada yang mau dituruti oleh Cia selain Oma Ida.


"Habis ini mau kemana lagi?" tanya Rey disela makannya.


"Cia mau pulang aja capek" ucap Cia.


"Aku ngikut aja"ucap Cira.


Suasana tempat makan semakin malam semakin ramai karena tempatnya sangat cocok buat tongkrongan anak muda yang memiliki kantong pas-pasan tapi dapat makan dengan rasa enak.


"Wah,,,Keluarga pinang"ucap salah satu bocah yang lagi nongkrong melihat kearah Cia, Cira dan Rey dengan wajah yang berseri kagum.


"Keluarga Cemara Oon" ucap temannya dengan menamplok kepala bocah itu dengan wajah jengah nya.


"Gue pengen dapet bini kayak mbak itu lah cakep, bening bikin adek melayang"ucapnya membuat teman-temannya yang mendengarkannya segera mesumpal mulutnya dengan makannya agar berhenti bicara.


"Kalau lo mau dapet yang begitu juga,, mendingan nyaca dulu Ogeb. Model pantat panci yang digosok sebulan aja bangga" ucap temannya yang lainnya dengan kembali mengeplak kepala bocah tersebut dan tertawa.


Cira dan Rey yang mendengar obrolan mereka hanya tersenyum geli. "Anak muda zaman sekarang" gumam Cira yang di dengarkan oleh Rey.


"Kamu itu bukan anak tua Rey tapi Duda muda hahaha"ucap Cira tertawa akan ucapannya.


Cia sedang asik dengan makan telur yang tinggal kuningnya saja dengan gaya seolah putri raja sedang makan makanan yang berharga dan mahal.


"Iya Duda Muda yang masih orisinil" ucap Rey menimpali candaan Cira.


"Idih jadi duda aja bangga" ucap Cira


"Bangga lah, daripada lo Nenek sihir berkedok tuan putri" ucap Rey dengan seraya minum air.


Brug


Cira memukul bahu Rey "Apaan sih Ra" ucap Rey seraya mengusap bekas pukulan yang dilayangkan oleh Cira "Bener Nenek Sihir lo Ra" ucap Rey lagi dan mendapatkan tatapan tajam dari Cira.


"Udah dibilangin jangan pakai lo-gue di depan Cia. Mau dipotong lidahnya?!" ucap Cira pelan penuh tekanan.

__ADS_1


"Lolos tadi Ra"ucap Rey yang menampilkan cengiran kuda.


"Mommy udah" seru Cia yang sudah menghabiskan telurnya tanpa sisa.


"Wah....hebatnya anak Mommy, minum airnya sayang" ucap Cira membuat Cia segera meminum air.


"Daddy udah, ayo pulang. Cia mau gendong ngantuk" ucap Cia dengan merentangkan tangannya dan ditanggapi oleh Rey.


"Ayo..."Ucap Rey mengajak Cira dengan mengulurkan tangannya membuat Cira memandang cengo akan tindakan Rey "Ayo..." ajak Rey lagi membuat Cira membalas uluran tangan Rey.


Mereka berjalan bergandengan dan beriringan membuat para pengunjung merasa iri terutama mereka anak muda tadi yang membicarakan mereka dan ada juga ibu-ibu dan anak remaja perempuan yang memandang kagum sosok Rey yang tampan.


Karena tempat parkir mereka sangat dekat sehingga mereka segera masuk ke dalam mobil. Saat Rey hendak menaruh Cia dibelakang "Sini biar sama aku aja Cia nya"Ucap Cira membuat Rey memberikan Cira memangku Cia didepan.


Cia yang memang sudah tertidur tidak terusik oleh perpindahan posisi namun justru mencari posisi nyaman dengan wajah menempel ke dada Cira.


"Nanti kalau capek pindahin aja ke belakang" ucap Rey seraya melajukan mobilnya.


"Kamu sekarang kerja dimana Ra?" tanya Rey yang melirik kearah Cira yang sedang menyampir kan anak rambut yang menutupi wajah Cia.


"Kadang bantuin Papa diperusahaannya tapi lebih sering bantuin Mama di butik" ucap Cira tidak mengalihkan pandangannya pada Cia.


"Owh,,,pantes aja nggak pernah ketemu" ucap Rey kearah jalanan.


"Rey,, aku mau nanya boleh nggak?" ucap Cira lagi yang kini sedang memandang Rey dengan waspada.


"Nanya apa?" tanya Rey membuat Cira memberanikan diri bertanya kepada Rey.


"Kemana Mommynya Cia?" ucap Cira pelan dan menunduk takut salah ngomong


Rey yang mendengar hal tersebut tersenyum melihat wajah Cira yang menunduk "masa kamu nggak tau ceritanya?" tanya Rey balik membuat Cira memandang Rey dengan selidik.


"Yah,,,aku cuma taunya kamu duda satu anak hehehehe" ucapnya dengan terkekeh membuat Rey menghela nafas.


"Gini nih kalau mainnya terlalu jauh, sehingga dapat informasi yang di hiperbola kan" ucap Rey gemas dengan mengacak rambut Cira membuat si empu kesal. "Jadi Cia itu sebenarnya adalah adikku dan Andra. Karena jarak kami yang terlalu jauh dan Cia memanggil Daddy membuat orang-orang salah persepsi sama kayak kamu ini" ucap Rey dengan mencuil hidung Cira.


"Owh,,,terus" ucap Cira lagi yang makin penasaran.

__ADS_1


"Terus......kita sudah sampai deh" ucap Rey membuat Cira terperangah akan ucap Rey membuatnya menatap sekelilingnya yang ternyata sudah didepan rumahnya.


Terima Kasih untuk kalian yang setiap menunggu cerita ini. Mohon maaf jika ada kesalahan. 💜💜💜


__ADS_2