Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
Gimana?Manis?


__ADS_3

Dirumah Cira sedang ramai karena Kakaknya Wisnu datang dengan membawa buah-buahan yang banyak dengan berbagai warna, bentuk namun dalam satu rasa yaitu manis.


"Tante Iki mau yang apel Merahnya" ucap Riski. Keponakan Cira.


Cira yang sedang mengupas apel pun segera mengupayakan apel untuk Riski yang sudah dari tadi tidak sabaran ingin memakan apel putri salju.


"Sabar Iki. Nanti tantemu terkena pisau." tegur Wisnu pada anaknya.


"Kamu beli buah sebanyak ini untuk apa?. Dan dalam rangka apa?.Tumben?." ucap Pak Nugraha. Karena tidak biasanya anaknya membawa buah sebanyak ini.


Wisnu hanya tersenyum saja "Ini hadiah dari temen Wisnu. Yang baru pulang dari kampungnya." ucap Wisnu dengan memasukan anggur ke mulutnya.


"Kalau gitu, suruh sering-sering lah. Temen kamu itu pulang kampung agar di bawakan buah-buahan lagi." ucap Pak Nugraha tertawa dan memberikan buah jeruk kepada Riska.


Ketika jeruk masuk ke mulutnya. Riska menampilkan ekspresi yang lucu. Matanya merem melek dan bibir mengerucut.


"Cem" ucap Riska membuat semua orang yang melihatnya tertawa, saking lucunya wajah Riska.


"Masam ya?" tanya Pak Nugraha membuat Riska menyodorkan kembali jeruk yang sudah di lepehkannya kepada Pak Nugraha.


"Manis kok" ucap Pak Nugraha yang mencoba buah jeruk tersebut. Padahal buah jeruk itu masam tapi Pak Nugraha berusaha tidak memperlihatkannya. Sehingga mendapatkan pandangan dari semua orang.


"Masam Pa?" tanya Wisnu kepada Papanya.


"Kamu coba aja sendiri" ucap Papanya.


Akhirnya mereka semua mencoba buah jeruk tersebut secara bersamaan. Pak Nugraha sudah tersenyum jahil. Saat melihat kebodohan keluarga nya yang mau saja di kadalin olehnya.


Hup..


Buah jeruk tersebut masuk kemulut mereka dan ada berbagai ekspresi yang mereka perlihatnya. Seperti matanya yang berkedip menahan masam, ada juga yang sudah memuntahkan semuanya. Yaitu adalah Riski yang memuntah semua berserta air liurnya.


Melihat hal tersebut Pak Nugraha tertawa ngakak bahkan Riska yang melihat ekspresi mereka ikut tertawa.


Pak Nugraha mengajak Riska untuk bertos-ria karena berhasil kadalin mereka. "Gimana? manis?" tanya Pak Nugraha membuat mereka semua teriak mengatakan masam.


"Kakek jahat banget. Udah tau masam masa dibilang manis." Kesal Iki pada Kakeknya.

__ADS_1


"Siapa suruh kamu percaya. Dan mau mencobanya." ucap Pak Nugraha membela dirinya dengan sedikit tertawa. Riski sudah hendak membalas namun segera di tengahi oleh Neneknya.


"Udah-udah kita makan buah yang lain aja" ucap Mamanya menengahi.


"Giiiii" ucap Riska lagi dengan semangat sambil bertepuk tangan. Cira memberikan buah apel kepada Riska agar tidak cerewet lagi.


Mereka makan dengan hikmat walau di hiasi oleh gumaman Riska yang tak jelas.


"Kamu gimana sama Rey, Ra?."Tanya Kakak Iparnya.


Cira yang ditanya sontak terkejut "Bbaik" ucap Cira berusaha menenangkan detak jantungnya.


"Tante jangan mau sama Om, itu. Dia udah punya anak. Nanti kayak temen Iki punya Kakak tiri yang galak suka mukul-mukul dia sampai badannya merah-merah." ucap Riski menimpali.


Mereka semua yang mendengar ucap Riski pun memandangnya dengan tatapan selidik. Karena seusia Riski udah pandai berkomentar dan ngejelekin orang.


"Iki jangan bicara gitu lagi ya!!. Nggak boleh. " ucap Wisnu menasehati anaknya dengan menatapnya tajam. Iki yang di tegur papanya hanya menunduk.


"Iya pa" ucap Riski.


"Iki, sini sama Nenek. Mau buat jus buah nggak?" ajak Neneknya supaya Iki tidak sedih lagi akibat tatapan tajam papanya.


"Setau Cira, Cia itu anaknya Pak Aditama, tapi Cira nggak tau kemana Mamanya. Papa tau dimana Mamanya Cia?" tanya Cira membuat Papanya menghela nafas.


Sementara Wisnu dan Riska masuk ke kamar karena Riska sudah mengantuk. Sementara Istrinya membantu membuat jus.


"Intinya Mamanya Cia meninggal saat melahirkannya. Akibat berbagai faktor. Selain umur ternyata Mamanya Rey mengidap penyakit jantung. Dan saat melahirkan jantungnya melemah dan tidak terselamatkan lagi. Pak Aditama hampir depresi dan setiap melihat Cia dia menjerit pilu, karena wajah Cia mirip sekali dengan Mamanya. Di situ Rey masih umur 20 tahun harus ambil andil dalam mengasuh Cia sambil kuliah. Dan Riyandra sedang hamil besar. " ucap Papanya mengingat bagaimana perjuangan sahabatnya untuk bangkit dari menuju depresi.


Malang sekali nasibnya Cia, batin Cira


"Hamil Pa? umur berapa Yandra menikah pa?" tanya Cira penasaran.


"Mereka menikah karena perjodohan dan atas anjuran Mamanya Rey. Karena beliau merasa tenang ketika sudah menitipkan Yandra kepada Karta. Mereka menikah setelah lulus SMA." ucap Papanya dengan menatap Cira.


"Tapi kenapa Cira, Nggak pernah dengar ya berita ini?" ucapnya membuat Papanya mencubit pipinya.


"Kamu kan saat itu di luar negeri Cira,,Dan kalau pun ada kamu mah bodo amat dengan berita kan" selidik Papanya membuat Cira hanya tersenyum seperti Kuda.

__ADS_1


"Papa dengar dari Papanya Rey. Cia itu paling susah dekat dengan orang. Tapi ketika melihat kamu dia langsung memanggilmu 'Mommy'kan?" ucap Papanya membuat Cira menganggukkan kepalanya.


"Iya Pa, bahkan waktu Cira berkerja bersama Rey, waktu itu umur Cia kalau nggak salah, tiga tahun. Memanggil Cira, Mommy juga. Papa ingat nggak yang waktu itu. Cira ceritain?" tanya Cira mengingat kejadian dulu.


"Iya, Papa ingat!" ucapnya dengan semangat.


"Pa kenapa sih, Rey di bilang duda? apakah karena ada Cia yang selalu menempel padanya?" ucap Cira mengingat salah satu berita yang waktu itu lewat dari ponselnya yang memberitahukan 'Pengusaha Muda tenyata seorang Duda, Di manakah istrinya??' begitulah judul artikel yang dibaca oleh Cira dengan cover wajah Rey dan Cia.


"Kalau itu coba kamu tanya kan sama Rey. Karena Papa taunya sampai disitu saja" ucap Papanya.


Baru hendak bertanya lagi, teriakan dari arah dapur membuat Cira tidak jadi bertanya.


"Jus jambu merah untuk kakek!" ucap Riski dan datang dengan membawa 2 gelas jus jambu merah yang disodorkan untuk Sang Kakek.


"Terima Kasih cucu kakek yang ganteng" ucap Kakek membuat Riski tersenyum bangga.


Setelah dirasa merasa kenyang dan ngantuk membuat mereka memilih untuk tidur dikamar masing- masing.


#####


Pagi ini suara gaduh terdengar mengelilingi perusahaan Aditama, mencari berita untuk dimakan masyarakat. Bagaimana tidak tepat hari ini, pukul 9 pagi nanti akan di adakan peluncuran kartu ATM dengan cover depan Presiden pertama Indonesia dan cover dibelakangnya kepulauan Indonesia yang berjumlah terbatas sebanyak 100 kartu. Salah satu tamunya dan menjadi perwakilan adalah Presiden saat ini yang ikut andil dalam merancang ATM tersebut.


Rey tidak bisa masuk ke kantornya melalui pintu depan sehingga ia masuk melalui jalur pribadi.


Saat memasuki lift, Chan datang dari arah depan gedung dengan membawa sebuah berkas merah.


"Pak, Ini berkas yang berisi nama untuk perwakilannya." ucap Chan menyerahkan berkas tersebut kepada Rey dan mengikutinya.


"Apakah semuanya sudah siap?" ucap Rey seraya membaca berkas tersebut.


"Sudah pak. Tetapi salah satu perwakilan sedang sakit jadi tidak bisa ikut" ucap Chan. "Perwakilan dari Kaum milenial nya, Pak," ucap Chan lagi membuat Rey mengangguk dan berpikir.


"Apakah sudah ada peganti nya?" tanya Rey. Yang kini sudah duduk di kursinya sedangkan Chan berdiri tepat disamping belakang Rey.


"Belum Pak. Karena yang dijadikan cadangan sedang berada di luar negeri" ucap Chan.


Rey berpikir dan bergumam tentang milenial. Hingga pikirannya jatuh kepada ponakannya yang juga seorang milenial berusia 20 tahun.

__ADS_1


Rey segera menekan nomor ponsel Ponakannya. Dan langsung mendapatkan jawaban dari dia "Caca, kamu ke kantor Om sekarang!" ucap Rey kepada disebrang tanpa memperdulikan sibuk tidaknya keponakannya itu dan langsung mematikan ponselnya.


__ADS_2