
Ketika membuka pintu ruangan bertapa terkejutnya Rey melihat Chan berada di sofa sedang menatap mereka tajam.
"Wah,,,pengantin baru. Bebas, mau ngelakuin dimana pun" sidir Chan membuat Rey menggaruk tengkuknya yang memang gatal.
"Halal bro" ucap Rey ke ruangan istirahat nya untuk menidurkan Cira disana.
"Mendingan lho konfirmasi ke seluruh karyawan, penat gue setiap lewat ditanya 'Kapan bosnya menikah, siapa istrinya' dan masih banyak lagi. Gue kan bukan pengacara ataupun manager lho yang setiap ada scandal harus gue jawab" ucap Chan ketika Rey sudah keluar dari ruang istirahat dan duduk di kursi kerjanya.
"Besok bakalan gue publikasikan. Atur saja jamnya" ucap Rey sembari pandangannya memeriksa berkas.
"Okelah. Sudah jamnya meeting" ucap Chan membuat Rey bangkit dan mereka pergi keruang meeting untuk melakukan pertemuan bisnis dengan rekan kerjanya.
Setelah beberapa menit Cira terbangun dan sedikit menggeliat kan tubuhnya untuk mengumpulkan jiwa-jiwa nya.
"Mas?" panggil Cira ketika melihat sekeliling tidak ada Rey.
"Mungkin dia meeting" gumam Cira kembali ke kamar dan membersihkan dirinya.
"Uh, laparnya" ucap Cira ketika sudah selesai mandi dan berpakaian lengkap. "Mendingan aku ke cafe sebelah" ucap Cira kemudian keluar ruangan melalui jalan khusus.
Cira sudah berada di dalam cafe tersebut dan memesan somay dan jus jeruk. "Enak" gumam Cira ketika somay tersebut sudah masuk ke dalam mulutnya.
"Hai" sapa seseorang membuat Cira mendongak.
Cira terkejut dengan orang yang menyapanya. Betapa tidak yang menyapanya adalah mantan. Catat ya MANTAN. Iya, manusia yang pernah ada dalam hidup namun tidak searah.
"Hai juga" sapa Cira karena tidak ingin terlihat sombong ataupun sok tidak kenal. Karena mantan juga makhluk hidup yang perlu dihargai.
Alah, pakai nongol yang ini juga batin Cira mendengus kesal.
"Kamu sendiri?" ucap nya seraya duduk di kursi depan Cira. Membuat Cira risih dan tidak nyaman.
Tidak bersama setan dan tuyul batin Cira ingin menjawab namun terlalu malas untuk mengungkapkannya.
"Iya" jawab Cira singkat sembari berusaha memakan somay nya dengan cepat.
"Pelan-pelan" ucapnya seraya memberikan tisu kepada Cira. Membuat Cira melongo dan gelagapan.
Bisa, dibunuh gue kalau ketahuan oleh Rey batin Cira.
"Terima kasih" ucap Cira mengambil tisu yang ada di mejanya.
__ADS_1
Sok baik Lo, nawarin tisu segala batin Cira.
Laki-laki itu yang uluran tisu nya tidak di tanggapi oleh Cira hanya bisa tersenyum. "Kamu baik-baik saja?" ucap laki-laki tersebut sembari menatap Cira dengan tatapan bersalah.
"Aku baik, bahkan sangat baik" ucap Cira angkuh.
"Aku tidak baik-baik saja. Setelah kau pergi" ucapnya dengan nada penuh penyesalan dan kesedihan. "Nia, apakah masih ada kesempatan?" ucapnya seraya merah tangan Cira namun seger ditepis oleh Cira.
"Jangan pernah panggil aku dengan sebutan itu, karena nama dan orang itu telah mati ketika kau meninggalkannya"ucap Cira bangkit lalu meninggalkan laki-laki tersebut.
Nia, apakah masih ada kesempatan?. Ciih, kesempatan hanya untuk mengulang luka saja lebih baik tidak batin Cira kesal. Kemudian kembali ke perusahaan Rey.
"Akh!!!"teriak Cira ketika seseorang menarik tangannya dan mengukung tubuhnya.
"Mas!" pekik Cira ketika melihat siapa yang menariknya.
Tatapan tajam dan aura hitam mengelilingi Rey membuat Cira yang melihatnya ngeri dan takut. "Mmpptt" ucap Cira terpotong akibat cium dari Rey yang kasar.
"Mas"ucap Cira membuat Rey kembali mencium bibir Cira dan tangannya sudah meremas kuat buah dadanya. Membuat Cira memekik.
"Kamu kenapa sih, mas!" ucap Cira sedikit berteriak.
Karyawan yang melihat mereka tidak berani menyapa tau memberikan senyuman akibat mereka tau bahwa bos mereka sedang marah.
"Aw!" pekik Cira ketika Rey melempar nya di ranjang. "Mas, apa-apaan, sih." ucap Cira kesal.
Melihat Rey yang marah dan membuka semua pakaiannya membuat Cira menelan ludahnya kasar. "Mas, mau ngapain?" ucap Cira yang dengan segera Rey menindihnya dan menciumnya.
Srek!
Dress yang dipakai Cira sudah robek tidak terbentuk akibat ulah Rey. Membuat Cira menangis merasa hina diperlukan seperti itu oleh suaminya.
Rey yang sudah terhalang kabut cemburu dan marah pun tidak melihat Cira yang sudah menangis. Rey kembali menye*sap dan menggigit buah dada Cira dengan kasar membuatnya hanya menangis.
Rey baru tersadar dan terkontrol pun memandang Cira. Dengan tatap sedih penuh penyesalan. "Maaf" lirih Rey dengan menenggelamkan wajahnya di dada Cira.
Cira yang sudah sakit hati diperlakukan dengan kasar hanya bisa diam dengan air mata yang terus mengalir. "Maaf, aku membuatmu menangis, dan tersakiti. Aku dibakar oleh api cemburu" ucap Rey mengusap air mata Cira kemudian menciumi seluruh wajah Cira.
Cira hanya bisa diam tak mampu berkata apa-apa lagi. Terlalu sesak di dadanya akan perbuatan yang di lakukan oleh Rey. "Maaf kan aku, yang" ucap Rey lagi yang masih menindih Cira. Cira masih diam dengan pandangan yang kosong.
"Yang, maaf" ucap Rey lagi ketika melihat Cira hanya diam saja. "Pukul aku, tampar aku, cubit aku. Karena aku tau aku telah salah" ucap Rey sedih melihat Cira yang hanya diam.
__ADS_1
Melihat hal itu semakin membuat Rey menangis "Bun*uh aku, yang. Karena aku telah memperk*osa kamu" ucap Rey memberikan pisau buah kepada Cira ketika Rey sudah bangkit dari tubuh Cira.
Membuat Cira yang terduduk diam melamun tersentak ketika tangannya menyentuh benda dingin. Yaitu pisau. Membuat Cira membelakkan matanya. "Mas" ucap Cira tersadar dan melempar pisau itu sembarangan.
"Kamu ini kenapa sih, mas?" ucap Cira pelan membelai wajah Rey yang tertunduk. Lalu memeluk tubuh Rey.
"Maaf" hanya itu yang keluar dari mulut Rey.
Cira tertawa ketika melihat Rey menggemaskan dengan mata dan hidung memerah ditambah lagi ingusnya ulyang sudah keluar. Beleber kemana-mana.
"Yang,, kenapa ketawa" ucap Rey merengek dengan mengusap ingusnya. Srottt.
"Kamu lucu" ucap Cira yang kembali membuat Rey menangis.
Entah mengapa dirinya menjadi cengeng dan mudah marah. Padahal itu biasa saja.
"Kamu selingkuh, ya, yang?. Aku tau aku tidak romantis makanya kamu pengen cari daun muda kan!" ucap Rey dengan sesenggukan dalam dekapan Cira.
Cira yang tadinya marah dan ingin menyikat Rey membuatnya urung ketika melihat wajah menangis Rey yang seperti bayi.
Selingkuh? Dengan siapa. Ini kenapa lagi batin Cira berpikir tentang siapa selingkuhannya.
"Tadi kamu bilang 'bu*nuh aku karena telah memperk*osa kamu' kan?" tanya Cira membuat Rey mengangguk. "Baiklah, aku akan wujudkan" ucap Cira membuat Rey terkejut dan melepaskan pelukannya dari Cira.
"Sekarang aku akan bun*uh dan memperk*osa kamu" ucap Cira dengan mendorong tubuh Rey agar terlentang di ranjang dan Cira dengan segera menduduki tubuh Rey. Membuat Rey terbengong akan tindakan Cira. "Dengan desahan"ucap Cira lagi di telinga Rey lalu menggigit nya.
"Kamu tidak beneran akan bunuh aku kan?" ucap Rey takut dengan senyuman devil dari Cira.
Cira mendengar perkataan Rey langsung mencium bibir Rey dan melu*matnya dengan lembut membuat Rey hanya bisa mengikuti apa yang dilakukan Cira terhadapnya.
"Ssshh, yang" ucap Rey ketika Cira menggesekkan miliknya pada tubuh Rey membuatnya meremang.
Cira membuat berbagai kissmark di seluruh tubuh Rey. Dan memainkan put*ing Rey seperti apa yang dilakukan Rey kepadanya.
Cira yang sudah tidak sabar pun memasukan milik Rey pada dirinya. Membuat Rey tersenyum melihat Cira yang kesusahan memasukkannya.
Hingga dengan sedikit bantuan dari Rey akhirnya masuk dengan tepat. "Huh" ucap Cira ketika benda tumpul tersebut masuk.
Cira menaik turunkan tubuhnya dengan perlahan membuat Rey dengan segera memegang pinggang Cira agar temponya lebih cepat.
Rey yang melihat dua gundukan itu meloncat-loncat membuat Rey segera melu*matnya seperti buah mangga yang manis.
__ADS_1