Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
Hallo, mas?


__ADS_3

Hari semakin sore dan sesuai dengan rencananya Rey akan segera berangkat pergi keluar kota bersama Chan.


"Bye sayang" ucap Rey yang memasuki mobil. Dan melihat kearah Cira yang sudah menangis melepas kepergian sang suami. Dengan berat hati dan jiwanya dia harus berpisah dengan suaminya tanpa tahu bahwa istrinya tengah hamil.


Cira memang berniat memberitahukan Rey besok. Dan melupakan semua rencana yang Oma usulkan.


"Ingat telpon aku ya, yang" ucap Cira dengan melambaikan tangannya.


Mobil yang di pakai Rey sudah mulai menghilang. Namun, Cira masih tetap berada di sana. Dengan mata yang masih berair. Melihat majikannya menangis membuat Mbak Ijah tidak tega. " Nyonya, ayo masuk. Nanti masuk angin" ucap Mbak Ijah dengan menuntun Cira masuk kedalam rumah.


"Mbak Ijah, apakah salah jika saya menyembunyikan kehamilan ini kepada Rey?" tanya Cira yang kini sedang duduk di ruang keluarga bersama Mbak Ijah.


"Menurut saya, salah. Karena kita kan buatnya bersama. Jadi suami juga harus tau. Nggak baik, lho, Nyonya. Kalau sampai tuan Rey taunya dari orang lain. Nanti dia merasa tidak di perduli kan. Apalagi ini kan anak kalian yang pertama." ucap Mbak Ijah membuat Cira mengangguk setuju.


"Benar juga mbak. Sepulang dari kerja aku kasih tau deh, Rey." ucap Cira membuat Mbak Ijah tersenyum.


Mbak ijah padahal baru bekerja dirumah Rey dan Cira. Namun, Karena majikannya sangat baik membuat dia cepat akrab dan senang bekerja disini. Bahkan mbak Ijah sudah menganggap mereka seperti anaknya sendiri.


"Mbak, kok saya pengen makan sop buntut ya?" tanya Cira membuat Mbak Ijah terkikik.


"Mbak lagi ngidam, ya?" ucap Mbak Ijah membuat Cira tersenyum.


"Mungkin mbak. Ayu mbak. Kita keluar beli sop buntutnya. Sekalian kita ke toko buat ngelihat keadaannya karena saya dari kemarin belum kesana" ucap Cira membuat Mbak Ijah mengangguk.


Cira dan mbak Ijah pergi ke tempat makan yang menyediakan sop buntut. Cira keluar rumah hanya memakai daster dan pleatshoes. Sehingga membuat orang-orang tidak mengenalinya.


"Nyonya duduk saja. Biar saja pesankan" ucap Mbak Ijah ketika mereka sudah sampai di depan rumah makan yang menyediakan sop buntut terenak. Karena pengunjung nya sangat ramai.


"Ini nyonya" ucap Mbak ijah menyerahkan dua mangkok sup buntut. Membuat Cira berbinar dan ngiler memandang sop buntut di depannya. Yang seolah menari-nari agar di makan.


"Ini untuk mbak" ucap Cira menyerahkan satu mangkok sup buntut kepada Mbak Ijah. "Mang, pesan aja makanan. Nanti biar saya aja yang bayar" ucap Cira kepada supirnya yang baru datang setelah mencari parkiran lalu mengangguk.


"Mbak Ijah, saya pengen makan iga bakar deh" ucap Cira membuat Mbak Ijah menganggukan dan memesankan iga bakar untuk Cira.


"Ada lagi, Nya?" tanya Mbak Ijah membuat Cira mengangguk.


"Mau kayak itu" tunjuk Cira pada remaja yang sedang makan mie instan dengan toping diatasnya ada sate telur puyuh.


Mbak Ijah yang melihat kearah pandang Cira pun membulatkan matanya. "Tapi, nyonya. Itu mie instan. Saya dilarang oleh tuan kalau nyonya mau makan mie instan. Yang ada nanti saya dimarahi" ucap Mbak Ijah panik.

__ADS_1


Cira yang mendengarnya menautkan alisnya bingung "Saya mau telurnya itu, mbak. Bukan mie instan nya" ucap Cira membuat Mbak Ijah bernafas lega.


"Nanti kita bikin dirumah sekilo ya nyonya" ucap Mbak Ijah membuat Cira membulatkan matanya. Karena akan dibuatkan sate telur puyuh sekilo. "Beneran, mbak?" tanya Cira membuat Mbak Ijah mengangguk.


Mereka akhirnya memilih pulang. Setelah ke pasar membeli telur puyuh sekilo. Dan disini mereka sekarang di dapur dengan Cira yang sudah mengupas cangkang telur dengan ditemani sebuah kartun dari Rainbow Ruby.


"Mbak, ini lanjutin, ya. Aku mau mandi dulu, gerah." ucap Cira dengan menyerahkan pekerjaan nya kepada Mbak Ijah. Yang diangguki olehnya.


"Hallo mas?" ucap Cira yang sudah dikamar dan nelpon sang suami.


"Hallo, sayang. Mas lagi sibuk nanti aja, ya?" ucap Rey membuat Cira kesal. Karena ia sedang rindu tapi sang suami yang tidak peka ini malah memilih untuk mengabaikannya.


"Sayangi aja kerjaan mu. Lupakan saja istri mu ini" ucap Cira sinis segera mematikan ponselnya. Lalu mematikan ponselnya karena kesal.


Punya suami tidak peka. Begini, awas saja. Pulangnya aku tidak akan kasih jatah! batin Cira kesal.


Sementara Rey baru saja menerima pemutusan telepon secara sepihak oleh sang istri merasa kasihan. Karena ia tahu bahwa istri merindukannya dan ia juga sama merindukannya.


Tapi demi misi ini dia harus rela simpati dan di caci maki oleh sang istri yang pastinya mengatainya tidak peka.


"Rey, cepat pasang itu balonnya!" teriak Oma membuat Rey sadar dari lamunannya memikirkan sang istri.


Rey dkk sedang berada disebuah hotel milik Oma yang sudah salah satu ruangnya disulap menjadi taman. Karena kalau ditamannya langsung takutnya Cira masuk angin. Apalagi sedang hamil.


"Oma, ini kapan selesainya sih?" tanya Bejamin yang sedang meniup balonnya. Karena Oma yang dengan jahatnya menyuruhnya untuk meniup balon.


"Monyong sudah bibir gue niup balon. Kalau cewek sampai dower pun gue bau" gumam nya dengan keras membuat orang yang mendengarnya tertawa.


"Kamu monyong sekalipun tetap ganteng, Beja" ucap Oma membuat Bejamin mendengus.


"Stop panggil Beja, Oma. Mendingan panggil Alex aja lebih keren" ucap Bejamin membuat Rey mendengus mendengar nya.


"Bejamin itu lebih keren dari pada Alex. Karena wajah Lo merakyat" timpal Rey dengan memasang balon yang sudah diikat dan ditiup oleh Bejamin.


"Lah, Lo mending Beja. Lha, gue Chantong." ucap Chan yang kesal karena Oma menamainya dengan yang aneh-aneh.


"Sudah, cepat bereskan. Nanti telat" ucap Oma yang datang dengan membawa bunga mawar. "Rey, hadiahnya sudah siap?" tanya Oma membuat Rey menepuk pelan dahinya karena lupa.


Dengan segera Rey turun dari tangga dan berlari keluar hotel. Membuat merek yang melihatnya melongo karena Rey berlari sangat cepat.

__ADS_1


"Kebiasaan. Ingatnya cuma yang enak-enak aja" ucap Oma membuat yang lainnya tertawa.


"Woy,,Chan itu balonnya jangan lo, letusin. Engap mulut gue nahan bau karet!" protes Bejamin dan memukul Chan karena balon yang dia tiup sengaja dipecahkan.


Hingga waktunya pun tiba. Semua keluarga sudah berkumpul di dalam hotel itu dan bersembunyi di suatu kamar.


Sementara Rey sedang tidur di sebuah kamar. Karena setelah pulang dari membeli hadiah untuk Cira. Tiba-tiba saja kepala nya terasa pusing. Dan dengan cepat dia masuk kedalam sebuah kamar.


Rey yang merasa pusing dan gerah membuatnya dengan cepat melepaskan pakaiannya sehingga tubuhnya telanjang. Dan berbaring di atas ranjang.


"Benarkan ini kamarnya, Mbak?" tanya Cira dengan nada sedikit khawatir.


"Benar, mbak dari informasi yang diberikan oleh si pengirim SMS" ucap Mbak Ijah. Dengan memastikan nya.


Cklek


"Mbak pintunya tidak di kunci" ucap Cira pelan dengan wajah sumbringah karena pintunya tidak terkunci.


Semoga foto itu tidak benar batin mbak Ijah ketika mereka membuka pintu kamar itu.


"Mas?" gumam Cira tak percaya apa yang dilihatnya.


"Reyodra Aditama!" teriak Cira membuat Rey langsung bangun dan menatap Cira yang sedang terdiam di ambang pintu. Bersama Mbak Ijah.


Cira yang melihat sekeliling dan pandangannya jatuh pada pakaian yang berserakan dilantai dan sosok yang berambut panjang sedang tertidur dengan pulas yang berbalut selimut yang menutupi tubuhnya dan hanya terlihat rambutnya saja.


Melihat itu membuat hati Cira sakit. Dan dengan segera Rey menghampiri Cira. Dan air mata Cira luruh sudah melihat suaminya yang bertelan*jang dada.


"Sayang, kamu ngapain kesini." ucap Rey "Sayang, kamu kenapa menangis?" tanya Rey lagi dan segera memeluk Cira namun dengan cepat ditepis oleh Cira.


Membuat Rey bingung "Sayang, kamu kenapa?" tanya Rey lagi dengan berusaha menggapai Cira. Namun, Cira justru mundur.


"Inikah, yang kamu maksud dengan kerja keluar kota dan bahkan tidak memberiku kabar?" tanya Cira dengan menghapus paksa air matanya. "Kamu disini enak-enakan bersama wanita lain. Sementara istrimu dirumah sedang mengkhawatirkan dirimu!" ucap Cira dengan keras membuat. Rey kebingungan.


"Wanita, apa. Aku bersama Chan disini" ucap Rey membuat Cira menamparnya.


"Lalu, siapa dia. Karena aku tau mana cewek dan cowok. Jika kamu sudah bosan dengan aku bilang Rey. Bilang.!" ucap Cira dengan menunjuk wanita yang berbaring di atas tempat tidur Rey.


Rey pun mengikuti arah yang ditunjuk Cira. Dan bertapa terkejutnya Rey melihat sosok wanita yang sedang tidur meringkuk di atas ranjang. "Sayang, ini tidak seperti yang kamu pikirkan!" ucap Rey dengan kembali berusaha menggapai tangan Cira namun segera ditepisnya.

__ADS_1


__ADS_2